Oleh : Muh.yasin fii sabilillah
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saudara saudariku yang kucintai. Bahasan kita kali ini adalah, saat-saat kapan syaithan menggoda kita. Ini wajib kita ketahui, sehingga kita waspada saat-saat kapan syaithan menggoda kita. Memang, setiap detik, setiap kesempatan, dimana, kapan dan bagaimana pun ia terus menggoda kita. Karena ia musuh bebuyutan kita. Tetapi waspadailah hal-hal yang disampaikan oleh Rasulullah SAW tentang saat-saat mereka yang sangat kuat menggoda kita. Pertama, ketika matahari terbit. Yang kedua, ketika matahari tenggelam. Jadi dimulai waktu fajar, ia sangat kuat
menggoda kita, agar kita tidak shalat subuh, tidak shalat fajar, atau menunda-nunda waktu shalat fajar itu. Atau dibuatnya kita malas shalat di masjid, sehingga senang shalat di rumah. Kemudian waktu matahari tenggelam, waktu maghrib. Karena itu Rasulullah SAW melarang anak-anak kita keluar, berlari-lari ke luar rumah. Rasulullah menganjurkan untuk menutup jendela dan pintu di waktu maghrib itu, kecuali hamba-hamba Allah yang memakmurkan rumah Allah, musholla, masjid. Kemudian yang ketiga, ingat, syaithan menggoda kita sebelum kita tidur, saat kita tidur, dan begitu kita bangun dari tidur. Karena itulah Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita sebelum tidur sebaiknya kita dalam keadaan berwudhu. Bahkan disunnahkan sebelum tidur kita shalat witir, nanti begitu bangun bertahajud tidak perlu witir lagi. Itulah hamba Allah yang berhati-hati, sebagaimana kata sabda Rasulullah SAW. Kemudian saat tidur itu pun digoda juga oleh syaithan, sehingga kita berhayal bermimpi yang buruk- buruk. Karena itu Rasulullah bersabda, mimpi buruk bagian dari syaithan. Sebelum tidur sebaiknya setelah berwudhu kita berdoa, membaca Al Fatihah, ayat kursi, Al Ikhlash tiga kali, Al Falaq dan An Nas, tiupkan ke tangan kita, lalu usapkan ke seluruh tubuh kita. Demikian Rasulullah mengajarkan kepada kita. Bismika Allahumma ahya wabismika amuut. Kemudian begitu bangun segera berdoa, Alhamdulillaahilladzi ahyana ba'da ma amatana wailaihinnusyur. Maka doa sebelum tidur dan sesudah tidur ini membuat syaithan tidak bisa menggoda hamba Allah itu. Kemudian, sebelum dan sesudah makan. Subhanallah, karena itu waspadalah. syaithan datang menggoda kita saat-saat kita mau makan. Setiap kali kita berdoa membaca bismillah sebelum makan, maka syaithan tidak akan bisa ikut makan bersama kita. Kemudian demikian pula selesai makan kita berdoa kepada Allah SWT. Lalu, waktu masuk ke rumah. Rasulullah SAW bersabda, siapa yang masuk ke dalam rumahnya, lalu dia membaca bismillahirrahmaanirrahim, maka syaithan tidak dapat masuk ke rumah hamba Allah itu. Tapi sebaliknya jika ia masuk ke rumah tidak membaca doa bismillahirrahmaanirrahim, maka syaithan akan masuk bersama orang itu di dalam rumah itu. Subhanallah. Ini ilmu dari Rasulullah SAW. Insya Allah kita lanjutkan di bagian kedua. Subhanakallahumma wabihamdika asyhaduallaailaahailla anta astaghfiruka wa atubuilaik. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Jumat, 04 Februari 2011
Kamis, 03 Februari 2011
MEMBUKA PINTU SURGA
Oleh : Muh.yasin fii sabilillah
Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin
Abi Thalib pulang lebih sore
menjelang asar. Fatimah binti
Rasulullah menyabut kedatangan
suaminya yang sehari suntuk mencari
rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena
kebutuhan di rumah makin besar. Sesudah melepas lelah, Ali berkata
kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali
ini aku tidak membawa uang
sepeserpun."Fatimah menyahut
sambil tersenyum, "Memang yang
mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu
adalah Allah Ta'ala." "Terima kasih," jawab Ali.
Matanya memberat lantaran istrinya
begitu tawakal. Padahal persediaan
dapur sudah ludes sama sekali. Toh
Fatimah tidak menunjukan sikap
kecewa atau sedih.Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan salat
berjama'ah.
Sepulang dari sembahyang, di jalan ia
dihentikan oleh seorang tua. "Maaf
anak muda, betulkah engkau Ali
anaknya Abu Thalib?" Áli menjawab heran. "Ya betul. Ada
apa, Tuan?'' Orang tua itu merogoh kantungnya
seraya menjawab, "Dahulu ayahmu
pernah kusuruh menyamak kulit. Aku
belum sempat membayar ongkosnya,
ayahmu sudah meninggal. Jadi,
terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya."Dengan gembira Ali
mengambil haknya dari orang itu
sebanyak 30 dinar.Tentu saja Fatimah
sangat gembira memperoleh rezeki
yang tidak di sangka-sangka ketika
Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua
agar tidak pusing-pusing lagi
merisaukan keperluan sehari-hari.Ali
pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, ia
melihat seorang fakir menadahkan
tangan, "Siapakah yang mau
menghutangkan hartanya untuk
Allah, bersedekahlah kepada saya,
seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan." Tanpa pikir panjang lebar, Ali
memberikan seluruh uangnya kepada
orang itu.Pada waktu ia pulang dan
Fatimah keheranan melihat suaminya
tidak membawa apa-apa, Ali
menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya.Fatimah, masih dalam
senyum, berkata, "Keputusan kanda
adalah yang juga akan saya lakukan
seandainya saya yang mengalaminya.
Lebih baik kita menghutangkan harta
kepada Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan menutup
pintu surga buat kita."
Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin
Abi Thalib pulang lebih sore
menjelang asar. Fatimah binti
Rasulullah menyabut kedatangan
suaminya yang sehari suntuk mencari
rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena
kebutuhan di rumah makin besar. Sesudah melepas lelah, Ali berkata
kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali
ini aku tidak membawa uang
sepeserpun."Fatimah menyahut
sambil tersenyum, "Memang yang
mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu
adalah Allah Ta'ala." "Terima kasih," jawab Ali.
Matanya memberat lantaran istrinya
begitu tawakal. Padahal persediaan
dapur sudah ludes sama sekali. Toh
Fatimah tidak menunjukan sikap
kecewa atau sedih.Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan salat
berjama'ah.
Sepulang dari sembahyang, di jalan ia
dihentikan oleh seorang tua. "Maaf
anak muda, betulkah engkau Ali
anaknya Abu Thalib?" Áli menjawab heran. "Ya betul. Ada
apa, Tuan?'' Orang tua itu merogoh kantungnya
seraya menjawab, "Dahulu ayahmu
pernah kusuruh menyamak kulit. Aku
belum sempat membayar ongkosnya,
ayahmu sudah meninggal. Jadi,
terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya."Dengan gembira Ali
mengambil haknya dari orang itu
sebanyak 30 dinar.Tentu saja Fatimah
sangat gembira memperoleh rezeki
yang tidak di sangka-sangka ketika
Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua
agar tidak pusing-pusing lagi
merisaukan keperluan sehari-hari.Ali
pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, ia
melihat seorang fakir menadahkan
tangan, "Siapakah yang mau
menghutangkan hartanya untuk
Allah, bersedekahlah kepada saya,
seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan." Tanpa pikir panjang lebar, Ali
memberikan seluruh uangnya kepada
orang itu.Pada waktu ia pulang dan
Fatimah keheranan melihat suaminya
tidak membawa apa-apa, Ali
menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya.Fatimah, masih dalam
senyum, berkata, "Keputusan kanda
adalah yang juga akan saya lakukan
seandainya saya yang mengalaminya.
Lebih baik kita menghutangkan harta
kepada Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan menutup
pintu surga buat kita."
Dialog Nabi Musa dgn Iblis(3 perkara yg membuatiblis selalu berhasil)
Oleh : Muh.yasin fii sabilillah
bahwa, pada suatu hari,
Nabi Musa sedang duduk-duduk.
Tiba-tiba Iblis masuk dengan
memakai penutup kepala. Ketika
mendekati Musa, Iblis meletakkan
penutup kepalanya sebagai tanda hormat kepada Nabi Musa a.s dan
memberinya salam. Nabi Musa a.s.
berkata kepadanya,
“Siapakah kamu ?” Iblis menjawab, “Aku Iblis. Aku datang untuk menghormatimu dan
memberimu salam untuk
mendekatkan diri kepada Allah. ” Nabi Musa a.s bertanya, “Apa ini yang ada dikepalamu ?” Iblis menjawab, “Untuk menarik hati (menggoda) Bani Adam. ” Nabi MUsa a.s. bertanya lagi,
“Perbuatan apakah yang dilakukan oleh Bani Adam yang menjadikanmu
paling berhasil menggodanya?” Iblis menjawab, “Jika dia kagum kepada dirinya sendiri, bangga
kepada amalnya, dan lupa akan dosa-
dosanya.” Kemudian Iblis berkata kepada Nabi
Musa, “Wahai Musa, aku peringatkan engkau tentang tiga perkara: Pertama,
janganlah engkau
berkhalwat dengan perempuan asing
(bukan muhrim). Sebab, jika seorang
laki-laki berkhalwat dengan
perempuan asing, maka akulah yang akan menjadi orang ketiganya. Kedua,
jika engkau mengadakan
perjanjian dengan Allah, maka
penuhilah janjimu itu. Ketiga, jika
engkau telah berniat
mengeluarkan sedekah, maka cepat- cepatlah engkau mengeluarkannya
kepada orang yang berhak
menerimanya. Sebab, jika tidak
engkau lakukan segera, maka aku
akan memalingkannya darimu.
bahwa, pada suatu hari,
Nabi Musa sedang duduk-duduk.
Tiba-tiba Iblis masuk dengan
memakai penutup kepala. Ketika
mendekati Musa, Iblis meletakkan
penutup kepalanya sebagai tanda hormat kepada Nabi Musa a.s dan
memberinya salam. Nabi Musa a.s.
berkata kepadanya,
“Siapakah kamu ?” Iblis menjawab, “Aku Iblis. Aku datang untuk menghormatimu dan
memberimu salam untuk
mendekatkan diri kepada Allah. ” Nabi Musa a.s bertanya, “Apa ini yang ada dikepalamu ?” Iblis menjawab, “Untuk menarik hati (menggoda) Bani Adam. ” Nabi MUsa a.s. bertanya lagi,
“Perbuatan apakah yang dilakukan oleh Bani Adam yang menjadikanmu
paling berhasil menggodanya?” Iblis menjawab, “Jika dia kagum kepada dirinya sendiri, bangga
kepada amalnya, dan lupa akan dosa-
dosanya.” Kemudian Iblis berkata kepada Nabi
Musa, “Wahai Musa, aku peringatkan engkau tentang tiga perkara: Pertama,
janganlah engkau
berkhalwat dengan perempuan asing
(bukan muhrim). Sebab, jika seorang
laki-laki berkhalwat dengan
perempuan asing, maka akulah yang akan menjadi orang ketiganya. Kedua,
jika engkau mengadakan
perjanjian dengan Allah, maka
penuhilah janjimu itu. Ketiga, jika
engkau telah berniat
mengeluarkan sedekah, maka cepat- cepatlah engkau mengeluarkannya
kepada orang yang berhak
menerimanya. Sebab, jika tidak
engkau lakukan segera, maka aku
akan memalingkannya darimu.
>> CARA IBLIS MENGODA MANUSIA
Oleh : Muh.yasin fii sabilillah
Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku?
Akulah mahluk pertama yang berdusta.
Pendusta adalah sahabatku. barangsiapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.
Tahukah kau Muhammad?
Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar-benar menasihatinya. Sumpah dusta adalah kegemaranku. Ghibah (gosip) dan Namimah (adu domba) kesenanganku. Kesaksian palsu kegembiraanku. Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata-kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. Jadi semua anak- anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, Cerai. Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur salat. Setiap ia hendak berdiri untuk salat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia melaksanakan salat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya kemukanya. Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia salat. Namun aku bisikkan ke telinganya 'lihat kiri dan kananmu', ia pun menoleh. Pada saat itu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan 'salatmu tidak sah'. Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam salatnya akan dipukul. Jika ia salat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. Ia pun salat seperti ayam yang mematuk beras. Jika ia berhasil mengalahkanku dan ia salat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam.
Kamu tahu bahwa melakukan itu batal
salatnya dan wajahnya akan diubah menjadi wajah keledai. Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam salat.
Jika ia tidak menutup mulutnya ketika menguap, syaithan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia. Dan ia pun semakin taat padaku. Kebahagiaan apa untukmu, sedangan aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan salat. Aku katakan padanya, "kamu tidak wajib salat, salat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. Orang sakit dan miskin tidak. Jika kehidupanmu telah berubah baru kau salat."
Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan salat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan. Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu.
Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam
mereka dari Islam?"
Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku?
Akulah mahluk pertama yang berdusta.
Pendusta adalah sahabatku. barangsiapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.
Tahukah kau Muhammad?
Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar-benar menasihatinya. Sumpah dusta adalah kegemaranku. Ghibah (gosip) dan Namimah (adu domba) kesenanganku. Kesaksian palsu kegembiraanku. Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata-kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. Jadi semua anak- anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, Cerai. Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur salat. Setiap ia hendak berdiri untuk salat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia melaksanakan salat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya kemukanya. Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia salat. Namun aku bisikkan ke telinganya 'lihat kiri dan kananmu', ia pun menoleh. Pada saat itu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan 'salatmu tidak sah'. Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam salatnya akan dipukul. Jika ia salat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. Ia pun salat seperti ayam yang mematuk beras. Jika ia berhasil mengalahkanku dan ia salat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam.
Kamu tahu bahwa melakukan itu batal
salatnya dan wajahnya akan diubah menjadi wajah keledai. Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam salat.
Jika ia tidak menutup mulutnya ketika menguap, syaithan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia. Dan ia pun semakin taat padaku. Kebahagiaan apa untukmu, sedangan aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan salat. Aku katakan padanya, "kamu tidak wajib salat, salat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. Orang sakit dan miskin tidak. Jika kehidupanmu telah berubah baru kau salat."
Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan salat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan. Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu.
Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam
mereka dari Islam?"
ORANG YANG PALING DI BENCI IBLIS
Oleh : Muh.yasin fii sabilillah
Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: "Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?" Iblis segera menjawab: "Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci."
"Siapa selanjutnya?" tanya Rasulullah.
"Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT."
"Lalu siapa lagi?"
"Orang Alim dan wara' (Loyal)"
"Lalu siapa lagi?"
"Orang yang selalu bersuci."
"Siapa lagi?" "Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepada orang lain."
"Apa tanda kesabarannya?"
" Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang-orang yang sabar".
"Selanjutnya apa?"
"Orang kaya yang bersyukur"
"Apa tanda kesyukurannya?"
"Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya."
"Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?"
"Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam."
"Umar bin Khattab?"
"Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur."
"Usman bin Affan?"
"Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya."
"Ali bin Abi Thalib?"
" Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. Tetapi ia tak akan mau melakukan itu." (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah
SWT)
Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: "Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?" Iblis segera menjawab: "Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci."
"Siapa selanjutnya?" tanya Rasulullah.
"Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT."
"Lalu siapa lagi?"
"Orang Alim dan wara' (Loyal)"
"Lalu siapa lagi?"
"Orang yang selalu bersuci."
"Siapa lagi?" "Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepada orang lain."
"Apa tanda kesabarannya?"
" Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang-orang yang sabar".
"Selanjutnya apa?"
"Orang kaya yang bersyukur"
"Apa tanda kesyukurannya?"
"Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya."
"Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?"
"Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam."
"Umar bin Khattab?"
"Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur."
"Usman bin Affan?"
"Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya."
"Ali bin Abi Thalib?"
" Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. Tetapi ia tak akan mau melakukan itu." (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah
SWT)
GOLONGAN YANG TIDAK DI HIZAB MEMASUKI SURGA
Oleh : Muh.yasin fii sabilillah
Diriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W. telah bersabda:
"Apabila telah datang hari
kiamat, maka didatangkan 4
golongan manusia di sisi pintu
syurga tanpa dihisab dan
disiksa, mereka ialah ; 1. Orang alim yang
mengamalkan ilmunya.
2. Seorang haji yang sewaktu
menunaikan haji tidak
melakukan sebarang perkara
yang membatalkan hajinya.
3. Orang yang mati syahid di
dalam peperangan.
4. Dermawan yang
mengusahakan harta yang
halal dan membelanjakannya di jalan Allah
tanpa riya. Keempat-empat golongan ini
berebut-rebut untuk
mendahului memasuki syurga,
kemudian Allah
memerintahkan kepada Jibrail
A.S. menghakimi mereka. Berkata Jibrail A.S. kepada
orang mati syahid, "Apakah
yang telah kamu lakukan
sewaktu di dunia sehingga
kamu hendak masuk ke
syurga?" Berkata orang yang mati
syahid, "Aku telah terbunuh
dalam peperangan kerana
mencari keredhaan Allah." Berkata Jibrail A.S., "Dari siapa
kamu mendapat tahu tentang
pahala orang yang mati
syahid?" Orang yang mati syahid
menjawab,"Aku mendengar
daripada alim ulama." Berkata Jibrail A.S. lagi,
"Jagalah kesopanan, jangan
kamu mendahului guru yang
mengajar kamu." Kemudian Jibrail A.S. bertanya
kepada yang mengerjakan
haji, "Apakah yang kamu telah
lakukan di dunia dahulu
sehingga kamu hendak masuk
ke syurga?" Berkata yang berhaji,"Aku
telah menunaikan haji semata-
mata kerana Allah." Berkata Jibrail A.S., "Siapakah
yang memberitahu kamu
tentang pahala haji?" Berkata yang berhaji, "Aku
mendengar dari alim ulama." Berkata Jibrail A.S. lagi,
"Jagalah kesopananmu, jangan
kamu mendahului guru yang
mengajar kamu." Berkata Jibrail A.S. kepada
penderma pula, "Apakah yang
kamu lakukan sewaktu kamu
di dunia dulu?" Menjawab si penderma, "Aku
telah banyak menderma
semata-mata untuk
mendapatkan keredhaan Allah
S.W.T." Jibrail A.S. berkata lagi,
"Siapakah yang
memberitahumu tentang
pahala orang yang menderma
kerana Allah?" Berkata si perderma, "Aku
mendengarnya dari para alim
ulama." Maka Jibrail A.S. pun berkata,
"Jagalah kesopananmu, jangan
kamu mendahului guru yang
mengajar kamu." Kemudian orang alim berkata,
"Ya Tuhanku, tidaklah boleh
aku menghasilkan ilmu kecuali
dengan sebab sifat kasih
dermawan dan kebaikan
orang yang dermawan itu." Lalu Allah S.W.T. berfirman
yang bermaksud, "Telah benar
kata si alim itu, bukakanlah
pintu syurga supaya si
dermawan masuk dahulu.
Kemudian barulah orang-orang lain masuk." Nabi Muhammad S.A.W. telah bersabda, "Keutamaan orang
alim di atas ahli ibadah itu
seperti keutamaan saya di
atas orang yang paling rendah
di antara kamu." Allah S.W.T. berfirman,
maksudnya, "Aku Maha
Berilmu dan Aku suka kepada
orang yang berilmu." Al Hassan r.a. berkata, "Tinta
para ulama itu ditimbang pada
hari kiamat dengan darah
orang-orang mati syahid, dan
tinta para ulama akan menjadi
lebih berat daripada darah para syuhada." Rasulullah S.A.W. bersabda, "Jadilah engkau orang alim
(yang mengajar) atau orang
yang belajar atau orang yang
mendengar (pelajaran).
Janganlah engkau menjadi
orang yang keempat, akan rosaklah engkau." Orang bertanya kepada Rasulullah S.A.W ., "Amal apakah yang paling utama?" Rasulullah S.A.W. menjawab,
"Berilmu tentang Allah."
Sabda Rasulullah S.A.W. lagi, "Sesungguhnya Allah S.W.T
telah menciptakan kepada
keturunan anak-anak Adam
lapan perkara, dan dari lapan
itu empat perkara bagi
penghuni syurga, iaitu: 1. Wajah yang manis dan
berseri-seri.
2. Tutur kata yang bersopan.
3. Hati yang bertaqwa kepada
Allah.
4. Tangan yang dermawan. Empat perkara bagi penghuni
neraka:
1. Muka yang muram.
2. Tutur kata yang keji.
3. Hati keras yang engkar.
4. Tangan yang kedekut (bakhil). Sabda Rasulullah S.A.W ., "Sendi tegaknya dunia adalah
disebabkan empat perkara: 1. Dengan berilmunya para
ulama.
2. Dengan keadilan orang yang
menjadi pemerintah.
3. Dengan orang kaya yang
dermawan. 4. Dengan doanya orang yang
fakir."
Diriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W. telah bersabda:
"Apabila telah datang hari
kiamat, maka didatangkan 4
golongan manusia di sisi pintu
syurga tanpa dihisab dan
disiksa, mereka ialah ; 1. Orang alim yang
mengamalkan ilmunya.
2. Seorang haji yang sewaktu
menunaikan haji tidak
melakukan sebarang perkara
yang membatalkan hajinya.
3. Orang yang mati syahid di
dalam peperangan.
4. Dermawan yang
mengusahakan harta yang
halal dan membelanjakannya di jalan Allah
tanpa riya. Keempat-empat golongan ini
berebut-rebut untuk
mendahului memasuki syurga,
kemudian Allah
memerintahkan kepada Jibrail
A.S. menghakimi mereka. Berkata Jibrail A.S. kepada
orang mati syahid, "Apakah
yang telah kamu lakukan
sewaktu di dunia sehingga
kamu hendak masuk ke
syurga?" Berkata orang yang mati
syahid, "Aku telah terbunuh
dalam peperangan kerana
mencari keredhaan Allah." Berkata Jibrail A.S., "Dari siapa
kamu mendapat tahu tentang
pahala orang yang mati
syahid?" Orang yang mati syahid
menjawab,"Aku mendengar
daripada alim ulama." Berkata Jibrail A.S. lagi,
"Jagalah kesopanan, jangan
kamu mendahului guru yang
mengajar kamu." Kemudian Jibrail A.S. bertanya
kepada yang mengerjakan
haji, "Apakah yang kamu telah
lakukan di dunia dahulu
sehingga kamu hendak masuk
ke syurga?" Berkata yang berhaji,"Aku
telah menunaikan haji semata-
mata kerana Allah." Berkata Jibrail A.S., "Siapakah
yang memberitahu kamu
tentang pahala haji?" Berkata yang berhaji, "Aku
mendengar dari alim ulama." Berkata Jibrail A.S. lagi,
"Jagalah kesopananmu, jangan
kamu mendahului guru yang
mengajar kamu." Berkata Jibrail A.S. kepada
penderma pula, "Apakah yang
kamu lakukan sewaktu kamu
di dunia dulu?" Menjawab si penderma, "Aku
telah banyak menderma
semata-mata untuk
mendapatkan keredhaan Allah
S.W.T." Jibrail A.S. berkata lagi,
"Siapakah yang
memberitahumu tentang
pahala orang yang menderma
kerana Allah?" Berkata si perderma, "Aku
mendengarnya dari para alim
ulama." Maka Jibrail A.S. pun berkata,
"Jagalah kesopananmu, jangan
kamu mendahului guru yang
mengajar kamu." Kemudian orang alim berkata,
"Ya Tuhanku, tidaklah boleh
aku menghasilkan ilmu kecuali
dengan sebab sifat kasih
dermawan dan kebaikan
orang yang dermawan itu." Lalu Allah S.W.T. berfirman
yang bermaksud, "Telah benar
kata si alim itu, bukakanlah
pintu syurga supaya si
dermawan masuk dahulu.
Kemudian barulah orang-orang lain masuk." Nabi Muhammad S.A.W. telah bersabda, "Keutamaan orang
alim di atas ahli ibadah itu
seperti keutamaan saya di
atas orang yang paling rendah
di antara kamu." Allah S.W.T. berfirman,
maksudnya, "Aku Maha
Berilmu dan Aku suka kepada
orang yang berilmu." Al Hassan r.a. berkata, "Tinta
para ulama itu ditimbang pada
hari kiamat dengan darah
orang-orang mati syahid, dan
tinta para ulama akan menjadi
lebih berat daripada darah para syuhada." Rasulullah S.A.W. bersabda, "Jadilah engkau orang alim
(yang mengajar) atau orang
yang belajar atau orang yang
mendengar (pelajaran).
Janganlah engkau menjadi
orang yang keempat, akan rosaklah engkau." Orang bertanya kepada Rasulullah S.A.W ., "Amal apakah yang paling utama?" Rasulullah S.A.W. menjawab,
"Berilmu tentang Allah."
Sabda Rasulullah S.A.W. lagi, "Sesungguhnya Allah S.W.T
telah menciptakan kepada
keturunan anak-anak Adam
lapan perkara, dan dari lapan
itu empat perkara bagi
penghuni syurga, iaitu: 1. Wajah yang manis dan
berseri-seri.
2. Tutur kata yang bersopan.
3. Hati yang bertaqwa kepada
Allah.
4. Tangan yang dermawan. Empat perkara bagi penghuni
neraka:
1. Muka yang muram.
2. Tutur kata yang keji.
3. Hati keras yang engkar.
4. Tangan yang kedekut (bakhil). Sabda Rasulullah S.A.W ., "Sendi tegaknya dunia adalah
disebabkan empat perkara: 1. Dengan berilmunya para
ulama.
2. Dengan keadilan orang yang
menjadi pemerintah.
3. Dengan orang kaya yang
dermawan. 4. Dengan doanya orang yang
fakir."
Rabu, 02 Februari 2011
SEBAB DO'A TAK DIIJABAH
Oleh : Muh.yasin fii sabilillah
Pada suatu hari Sayidina Ali
Karamallaahu Wajhah,
berkhutbah di hadapan kaum
Muslimin. Ketika beliau hendak
mengakhiri khutbahnya, tiba-
tiba berdirilah seseorang ditengah-tengah jamaah sambil
berkata, “Ya Amirul Mu ’minin, mengapa do’a kami tidak diijabah? Padahal Allah berfirman
dalam Al Qur ’an, “Ud’uuni astajiblakum ” (berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku
perkenankan bagimu) .” Sayidina Ali menjawab,
“Sesungguhnya hatimu telah berkhianat kepada Allah dengan
delapan hal, yaitu : 1. Engkau beriman kepada Allah,
mengetahui Allah, tetapi tidak
melaksanakan kewajibanmu
kepada-Nya. Maka, tidak ada
manfaatnya keimananmu itu. 2. Engkau mengatakan beriman
kepada Rasul-Nya, tetapi engkau
menentang sunnahnya dan
mematikan syari ’atnya. Maka, apalagi buah dari keimananmu
itu? 3. Engkau membaca Al Qur ’an yang diturunkan melalui Rasul-
Nya, tetapi tidak kau amalkan. 4. Engkau berkata, “Sami’na wa aththa’na (Kami mendengar dan kami patuh) , tetapi kau tentang ayat-ayatnya. 5. Engkau menginginkan syurga,
tetapi setiap waktu melakukan
hal-hal yang dapat
menjauhkanmu dari syurga.
Maka, mana bukti keinginanmu
itu? 6. Setiap saat sengkau
merasakan kenikmatan yang
diberikan oleh Allah, tetapi tetap
engkau tidak bersyukur kepada-
Nya. 7. Allah memerintahkanmu agar
memusuhi syetan seraya berkata,
“Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah
ia musuh bagi(mu) karena
sesungguhnya syetan-syetan itu
hanya mengajak golongan
supaya mereka menjadi
penghuni neraka yang nyala- nyala” (QS. Al Faathir [35] : 6). Tetapi kau musuhi syetan dan
bersahabat dengannya. 8. Engkau jadikan cacat atau
kejelekkan orang lain di depan
mata, tetapi kau sendiri orang
yang sebenarnya lebih berhak
dicela daripada dia. Nah, bagaimana mungkin
do’amu diterima, padahal engkau telah menutup seluruh
pintu dan jalan do’a tersebut. Bertaqwalah kepada Allah,
shalihkan amalmu, bersihkan
batinmu, dan lakukan amar
ma’ruf nahi munkar. Nanti Allah akan mengijabah do ’amu itu. Dalam riwayat lain, ada seorang
laki-laki datang kepada Imam
Ja’far Ash Shiddiq, lalu berkata, “Ada dua ayat dalam Al Qur ’an yang aku paham apa
maksudmu ?” “Bagaimana dua bunyi ayat itu?” Tanya Imam Ja’far. Yang pertama berbunyi “Ud’uuni astajib lakum ” (Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan
bagimu), (QS. Al Mu ’min [40] : 60). Lalu aku berdo ’a dan aku tidak melihat do ’aku diijabah, ” ujarnya. “Apakah engkau berpikir bahwa Allah akan melanggar janji-
Nya?”, tanya Imam Ja’far. “Tidak”, jawab orang itu. “Lalu ayat yang kedua apa ?”, Tanya Imam Ja’far lagi. “Ayat yang kedua berbunyi “Wamaa anfaqtum min syai in fahuwa yukhlifuhuu, wahuwa
khairun raaziqin ” (Dan barang apa saja yang kamu
nafkahkan, maka Allah akan
menggantinya dan Dialah
pemberi rizki yang sebaik-
baiknya) , (QS. Saba [34] : 39). Aku telah berinfak tetapi aku
tidak melihat penggantinya. ”, ujarnya. “Apakah kamu berpikir Allah melanggar janji-Nya?”, tanya Imam Ja’far lagi. “Tidak, ” jawabnya. “Lalu mengapa?”, Tanya imam Ja’far. “Aku tidak tahu, ” jawabnya. Imam Ja’far kemudian menjelaskan, “Akan kukabarkan kepadamu, Insya Allah
seandainya engkau menaati
Allah atas apa yang
diperintahkan-Nya kepadamu,
kemudian engkau berdo ’a kepada-Nya, maka Allah akan
mengijabah do’amu. Adapun engkau berinfak tidak melihat
hasilnya, kalau engkau mencari
harta yang halal, kemudian
engkau infakkan harta itu di
jalan yang benar, maka tidaklah
infak satu dirham pun, niscaya Allah menggantinya dengan
yang lebih banyak. Kalau engkau
berdo’a kepada Allah, maka berdo’alah kepada-Nya dengan Jihad Do’a. Tentu Alah akan menjawab do’amu walaupun engkau orang yang berdosa. ” “Apa yang dimaksud Jihad Do’a?” sela orang itu. Apabila engkau melakukan yang
fardhu maka agungkanlah Allah
dan limpahkanlah Dia atas segala
apa yang telah ditentukan-Nya
bagimu. Kemudian, bacalah
shalawat kepada Nabi SAW dan bersungguh-sungguh dalam
membacanya. Sampaikan pula
salam kepada imammu yang
memberi petunjuk. Setelah
engkau membaca shalawat
kepada Nabi, kenanglah nikmat Allah yang telah dicurahkan-Nya
kepadamu. Lalu bersyukurlah
kepada-Nya atas segala nikmat
yang telah engkau peroleh. ” “Kemudian engkau ingat-ingat sekarang dosa-dosamu satu
demi satu kalau bisa. Akuilah
dosa itu dihadapan Allah.
Akuilah apa yang engkau ingat
dan minta ampun kepada-Nya
atas dosa-dosa yang tak kau ingat. Bertaubatlah kepada Allah
dari seluruh maksiat yang kau
perbuat dan niatkan bahwa
engkau tidak akan kembali
melakukannya. Beristighfarlah
dengan seluruh penyesalan dengan penuh keikhlasan serta
rasa takut tetapi juga dipenuhi
harapan.” Kemudian bacalah, “Ya Allah, aku meminta maaf kepada-Mu atas
seluruh dosaku. Aku meminta
ampun dan taubat kepada-Mu.
Bantulah aku untuk mentaati-Mu
dan bimbinglah aku untuk
melakukan apa yang Engkau wajibkan kepadaku segala hal
yang engkau ridhai. Karena aku
tidak melihat seseorang bisa
menaklukkan kekuatan kepada-
Mu, kecuali dengan kenikmatan
yang Engkau berikan. Setelah itu, ucapkanlah hajatmu. Aku
berharap Allah tidak akan
menyiakan do ’amu,” papar Imam Ja’far.
Pada suatu hari Sayidina Ali
Karamallaahu Wajhah,
berkhutbah di hadapan kaum
Muslimin. Ketika beliau hendak
mengakhiri khutbahnya, tiba-
tiba berdirilah seseorang ditengah-tengah jamaah sambil
berkata, “Ya Amirul Mu ’minin, mengapa do’a kami tidak diijabah? Padahal Allah berfirman
dalam Al Qur ’an, “Ud’uuni astajiblakum ” (berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku
perkenankan bagimu) .” Sayidina Ali menjawab,
“Sesungguhnya hatimu telah berkhianat kepada Allah dengan
delapan hal, yaitu : 1. Engkau beriman kepada Allah,
mengetahui Allah, tetapi tidak
melaksanakan kewajibanmu
kepada-Nya. Maka, tidak ada
manfaatnya keimananmu itu. 2. Engkau mengatakan beriman
kepada Rasul-Nya, tetapi engkau
menentang sunnahnya dan
mematikan syari ’atnya. Maka, apalagi buah dari keimananmu
itu? 3. Engkau membaca Al Qur ’an yang diturunkan melalui Rasul-
Nya, tetapi tidak kau amalkan. 4. Engkau berkata, “Sami’na wa aththa’na (Kami mendengar dan kami patuh) , tetapi kau tentang ayat-ayatnya. 5. Engkau menginginkan syurga,
tetapi setiap waktu melakukan
hal-hal yang dapat
menjauhkanmu dari syurga.
Maka, mana bukti keinginanmu
itu? 6. Setiap saat sengkau
merasakan kenikmatan yang
diberikan oleh Allah, tetapi tetap
engkau tidak bersyukur kepada-
Nya. 7. Allah memerintahkanmu agar
memusuhi syetan seraya berkata,
“Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah
ia musuh bagi(mu) karena
sesungguhnya syetan-syetan itu
hanya mengajak golongan
supaya mereka menjadi
penghuni neraka yang nyala- nyala” (QS. Al Faathir [35] : 6). Tetapi kau musuhi syetan dan
bersahabat dengannya. 8. Engkau jadikan cacat atau
kejelekkan orang lain di depan
mata, tetapi kau sendiri orang
yang sebenarnya lebih berhak
dicela daripada dia. Nah, bagaimana mungkin
do’amu diterima, padahal engkau telah menutup seluruh
pintu dan jalan do’a tersebut. Bertaqwalah kepada Allah,
shalihkan amalmu, bersihkan
batinmu, dan lakukan amar
ma’ruf nahi munkar. Nanti Allah akan mengijabah do ’amu itu. Dalam riwayat lain, ada seorang
laki-laki datang kepada Imam
Ja’far Ash Shiddiq, lalu berkata, “Ada dua ayat dalam Al Qur ’an yang aku paham apa
maksudmu ?” “Bagaimana dua bunyi ayat itu?” Tanya Imam Ja’far. Yang pertama berbunyi “Ud’uuni astajib lakum ” (Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan
bagimu), (QS. Al Mu ’min [40] : 60). Lalu aku berdo ’a dan aku tidak melihat do ’aku diijabah, ” ujarnya. “Apakah engkau berpikir bahwa Allah akan melanggar janji-
Nya?”, tanya Imam Ja’far. “Tidak”, jawab orang itu. “Lalu ayat yang kedua apa ?”, Tanya Imam Ja’far lagi. “Ayat yang kedua berbunyi “Wamaa anfaqtum min syai in fahuwa yukhlifuhuu, wahuwa
khairun raaziqin ” (Dan barang apa saja yang kamu
nafkahkan, maka Allah akan
menggantinya dan Dialah
pemberi rizki yang sebaik-
baiknya) , (QS. Saba [34] : 39). Aku telah berinfak tetapi aku
tidak melihat penggantinya. ”, ujarnya. “Apakah kamu berpikir Allah melanggar janji-Nya?”, tanya Imam Ja’far lagi. “Tidak, ” jawabnya. “Lalu mengapa?”, Tanya imam Ja’far. “Aku tidak tahu, ” jawabnya. Imam Ja’far kemudian menjelaskan, “Akan kukabarkan kepadamu, Insya Allah
seandainya engkau menaati
Allah atas apa yang
diperintahkan-Nya kepadamu,
kemudian engkau berdo ’a kepada-Nya, maka Allah akan
mengijabah do’amu. Adapun engkau berinfak tidak melihat
hasilnya, kalau engkau mencari
harta yang halal, kemudian
engkau infakkan harta itu di
jalan yang benar, maka tidaklah
infak satu dirham pun, niscaya Allah menggantinya dengan
yang lebih banyak. Kalau engkau
berdo’a kepada Allah, maka berdo’alah kepada-Nya dengan Jihad Do’a. Tentu Alah akan menjawab do’amu walaupun engkau orang yang berdosa. ” “Apa yang dimaksud Jihad Do’a?” sela orang itu. Apabila engkau melakukan yang
fardhu maka agungkanlah Allah
dan limpahkanlah Dia atas segala
apa yang telah ditentukan-Nya
bagimu. Kemudian, bacalah
shalawat kepada Nabi SAW dan bersungguh-sungguh dalam
membacanya. Sampaikan pula
salam kepada imammu yang
memberi petunjuk. Setelah
engkau membaca shalawat
kepada Nabi, kenanglah nikmat Allah yang telah dicurahkan-Nya
kepadamu. Lalu bersyukurlah
kepada-Nya atas segala nikmat
yang telah engkau peroleh. ” “Kemudian engkau ingat-ingat sekarang dosa-dosamu satu
demi satu kalau bisa. Akuilah
dosa itu dihadapan Allah.
Akuilah apa yang engkau ingat
dan minta ampun kepada-Nya
atas dosa-dosa yang tak kau ingat. Bertaubatlah kepada Allah
dari seluruh maksiat yang kau
perbuat dan niatkan bahwa
engkau tidak akan kembali
melakukannya. Beristighfarlah
dengan seluruh penyesalan dengan penuh keikhlasan serta
rasa takut tetapi juga dipenuhi
harapan.” Kemudian bacalah, “Ya Allah, aku meminta maaf kepada-Mu atas
seluruh dosaku. Aku meminta
ampun dan taubat kepada-Mu.
Bantulah aku untuk mentaati-Mu
dan bimbinglah aku untuk
melakukan apa yang Engkau wajibkan kepadaku segala hal
yang engkau ridhai. Karena aku
tidak melihat seseorang bisa
menaklukkan kekuatan kepada-
Mu, kecuali dengan kenikmatan
yang Engkau berikan. Setelah itu, ucapkanlah hajatmu. Aku
berharap Allah tidak akan
menyiakan do ’amu,” papar Imam Ja’far.
Langganan:
Postingan (Atom)