Minggu, 06 Februari 2011

Penjelasan tentang " JAZAKUMULLAH KHAER "

Oleh : Muh.yasin fii sabilillah


jazakallah (semoga Allah membalas
kebaikanmu untuk orang kedua
tunggal / kamu)atau berarti pula terima
kasih. jazakumullah (semoga Allah membalas
kebaikan kalian) untuk orang kedua
jamak (lebih dari satu)berarti juga
terima kasih.
ka atau kum di atas diistilahkan adalah
dhamir maf’ul lil mukhathab (kata ganti obyek untuk orang yang diajak
bicara). jazakumullah atau jazakallah artinya
hanya “semoga Allah membalas kalian/ anda”. Makanya pengucapan jazakallah dan
jazakumullah butuh pada penambahan
kata khair. Tidak cukup hanya
mengatakan jazakallah atau
jazakumullah.
Tapi, jazakallah khairan atau jazakumullah khairan. ﻦﻣ َﻊِﻨُﺻ ﻪﻴﻟﺇ ٌﻑﻭُﺮْﻌَﻣ ﻝﺎﻘﻓ ِﻪِﻠِﻋﺎَﻔِﻟ َﻙﺍَﺰَﺟ ﻪﻠﻟﺍ ﺍًﺮْﻴَﺧ ْﺪَﻘَﻓ َﻎَﻠْﺑَﺃ ﻲﻓ ِﺀﺎَﻨَّﺜﻟﺍ
“Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu
dia membalasnya dengan
mengatakan : jazaakallahu khaer
(semoga Allah membalasmu dengan
kebaikan), maka sungguh hal itu telah
mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya. ” (HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-kubra (6/53), Al-
Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321,
Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar dalam
musnadnya:7/54. Hadits ini shahih
dalam shahih Tirmidzi) Jadi, kalau ada yang mengatakan cuma
jazakallah saja, berarti itu salah. Karena
maksudnya, semoga Allah membalas … dengan apa? Dengan kebaikan atau
dengan apa?
khair dan khairan sama saja yaitu baik.
Cuma cara bacanya saja. Kenapa mengucapkannya jazakallah
khairan atau jazakumullah khairan?
Hal ini dikarenakan kedudukan kata
khair pada kalimat di atas sehingga
harus dibaca khairan. Dalam istilah
nahwu, khair dalam kedudukan nashab, makanya harus dibaca fathah.
Kalau mau selamat, supaya tidak salah
baca,
biasanya huruf akhir dimatikan.

Sabtu, 05 Februari 2011

CARA MELIHAT TUHAN

Oleh : Muh.yasin fii sabilillah


Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Sahabat bertanya kepada
Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, apakah kami dapat
melihat Tuhan kami pada hari kiamat? Rasulullah saw. bersabda: Apakah
kalian terhalang melihat bulan di
malam purnama? Para sahabat menjawab: Tidak, wahai
Rasulullah. Rasulullah saw. bersabda: Apakah
kalian terhalang melihat matahari
yang tidak tertutup awan? Mereka menjawab: Tidak, wahai
Rasulullah. Rasulullah saw. bersabda: Seperti
itulah kalian akan melihat Allah.
Barang siapa yang menyembah
sesuatu, maka ia mengikuti
sembahannya itu. Orang yang
menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah
bulan mengikuti bulan, orang yang
menyembah berhala mengikuti
berhala. Tinggallah umat ini, termasuk di
antaranya yang munafik. Kemudian
Allah datang kepada mereka dalam
bentuk selain bentuk-Nya yang
mereka kenal, seraya berfirman: Akulah Tuhan
kalian. Mereka (umat ini) berkata: Kami
berlindung kepada Allah darimu. Ini
adalah tempat kami, sampai Tuhan
kami datang kepada kami. Apabila
Tuhan datang, kami tentu mengenal-
Nya. Lalu Allah Taala datang kepada mereka dalam bentuk-Nya yang telah
mereka kenal. Allah berfirman: Akulah
Tuhan kalian. Mereka pun berkata:
Engkau Tuhan kami. Mereka
mengikuti-Nya. Dan Allah
membentangkan jembatan di atas neraka Jahanam. Aku (Rasulullah
saw.) dan umatkulah yang pertama
kali melintas. Pada saat itu, yang berbicara hanyalah
para rasul. Doa para rasul saat itu
adalah: Ya Allah, selamatkanlah,
selamatkanlah. Di dalam neraka
Jahanam terdapat besi berkait seperti
duri Sakdan (nama tumbuhan yang berduri besar di setiap sisinya). Pernahkah kalian melihat Sakdan?
Para sahabat menjawab: Ya, wahai
Rasulullah. Rasulullah saw.
melanjutkan: Besi berkait itu seperti
duri Sakdan, tetapi hanya Allah yang
tahu seberapa besarnya. Besi berkait itu merenggut manusia dengan amal-
amal mereka. Di antara mereka ada
orang yang beriman, maka tetaplah
amalnya. Dan di antara mereka ada
yang dapat melintas, hingga selamat. Setelah Allah selesai memberikan
keputusan untuk para hamba dan
dengan rahmat-Nya Dia ingin
mengeluarkan orang-orang di antara
ahli neraka yang Dia kehendaki, maka
Dia memerintah para malaikat untuk mengeluarkan orang-orang yang
tidak pernah menyekutukan Allah.
Itulah orang-orang yang dikehendaki
Allah untuk mendapatkan rahmat-
Nya, yang mengucap: “Laa ilaaha illallah”. Para malaikat mengenali mereka di neraka dengan adanya
bekas sujud. Api neraka memakan
tubuh anak keturunan Adam, kecuali
bekas sujud. Allah melarang neraka
memakan bekas sujud. Mereka
dikeluarkan dari neraka, dalam keadaan hangus. Lalu mereka disiram
dengan air kehidupan, sehingga
mereka menjadi tumbuh seperti biji-
bijian tumbuh dalam kandungan
banjir (lumpur). Kemudian selesailah Allah Taala
memberi keputusan di antara para
hamba. Tinggal seorang lelaki yang
menghadapkan wajahnya ke neraka.
Dia adalah ahli surga yang terakhir
masuk. Dia berkata: Ya Tuhanku, palingkanlah
wajahku dari neraka, anginnya benar-
benar menamparku dan nyala apinya
membakarku. Dia terus memohon apa
yang dibolehkan kepada Allah. Kemudian Allah Taala berfirman:
Mungkin, jika Aku mengabulkan
permintaanmu, engkau akan meminta
yang lain. Orang itu menjawab: Aku tidak akan
minta yang lain kepada-Mu. Maka ia
pun berjanji kepada Allah. Lalu Allah
memalingkan wajahnya dari neraka. Ketika ia telah menghadap dan
melihat surga, ia pun diam tertegun,
kemudian berkata: Ya Tuhanku,
majukanlah aku ke pintu surga. Allah berfirman: Bukankah engkau
telah berjanji untuk tidak meminta
kepada-Ku selain apa yang sudah
Kuberikan, celaka engkau, hai anak-
cucu Adam, ternyata engkau tidak
menepati janji. Orang itu berkata: Ya Tuhanku! Dia
memohon terus kepada Allah, hingga
Allah berfirman kepadanya: Mungkin
jika Aku memberimu apa yang
engkau pinta, engkau akan meminta
yang lain lagi. Orang itu berkata: Tidak, demi
Keagungan-Mu. Dan ia berjanji lagi
kepada Tuhannya. Lalu Allah
mendekatkannya ke pintu surga.
Setelah ia berdiri di ambang pintu
surga, ternyata pintu surga terbuka lebar baginya, sehingga ia dapat
melihat dengan jelas keindahan dan
kesenangan yang ada di dalamnya.
Dia pun diam tertegun. Kemudian
berkata: Ya Tuhanku, masukkanlah
aku ke dalam surga. Allah Taala berfirman kepadanya:
Bukankah engkau telah berjanji tidak
akan meminta selain apa yang telah
Aku berikan? Celaka engkau, hai anak
cucu Adam, betapa engkau tidak
dapat menepati janji! Orang itu berkata: Ya Tuhanku, aku
tidak ingin menjadi makhluk-Mu yang paling malang. Dia terus memohon kepada Allah,
sehingga membuat Allah Taala
tertawa (rida). Ketika Allah Taala
tertawa Dia berfirman: Masuklah
engkau ke surga. Setelah orang itu masuk surga, Allah
berfirman kepadanya: Inginkanlah
sesuatu! Orang itu meminta kepada
Tuhannya, sampai Allah
mengingatkannya tentang ini dan itu.
Ketika telah habis keinginan- keinginannya, Allah Taala berfirman:
Itu semua untukmu, begitu pula yang
semisalnya.

10 PINTU TERBESAR YANG DI MASUKI SYETAN

Oleh : Muh.yasin fii sabilillah


Pintu-pintu tersebut tidak bisa terjaga kecuali jika seseorang mengetahui pintu-pintu tadi. Setan tidak bisa terusir dari pintu tersebut kecuali jika seseorang mengetahui cara setan memasukinya. Cara setan untuk masuk dan apa saja pintu-pintu tadi adalah sifat seorang hamba dan jumlahnya amatlah banyak. Pada saat ini kami akan menunjukkan pintu- pintu tersebut yang merupakan pintu terbesar yang setan biasa memasukinya. Semoga Allah memberikan kita pemahaman dalam permasalah ini. Pintu pertama: Ini adalah pintu terbesar yang akan
dimasuki setan yaitu hasad (dengki)
dan tamak. Jika seseorang begitu
tamak pada sesuatu, ketamakan
tersebut akan membutakan, membuat
tuli dan menggelapkan cahaya kebenaran, sehingga orang seperti ini
tidak lagi mengenal jalan masuknya
setan. Begitu pula jika seseorang
memiliki sifat hasad, setan akan
menghias-hiasi sesuatu seolah-olah
menjadi baik sehingga disukai oleh syahwat padahal hal tersebut adalah
sesuatu yang mungkar. Pintu kedua: Ini juga adalah pintu terbesar yaitu
marah. Ketahuilah, marah dapat
merusak akal. Jika akal lemah, pada
saat ini tentara setan akan melakukan
serangan dan mereka akan
menertawakan manusia. Jika kondisi kita seperti ini, minta perlindunganlah
pada Allah. Pintu ketiga: Yaitu sangat suka menghias-hiasi
tempat tinggal, pakaian dan segala
perabot yang ada. Orang seperti ini
sungguh akan sangat merugi karena
umurnya hanya dihabiskan untuk
tujuan ini. Pintu keempat: Yaitu kenyang karena telah
menyantap banyak makanan.
Keadaan seperti ini akan menguatkan
syahwat dan melemahkan untuk
melakukan ketaatan pada Allah.
Kerugian lainnya akan dia dapatkan di akhirat. Pintu kelima: Yaitu tamak pada orang lain. Jika
seseorang memiliki sifat seperti ini,
maka dia akan berlebih-lebihan
memuji orang tersebut padahal orang
itu tidak memiliki sifat seperti yang ada
pada pujiannya. Akhirnya, dia akan mencari muka di hadapannya, tidak
mau memerintahkan orang yang
disanjung tadi pada kebajikan dan
tidak mau melarangnya dari
kemungkaran. Pinta keenam: Yaitu sifat selalu tergesa-gesa dan
tidak mau bersabar untuk perlahan-
lahan. Padahal terdapat sebuah hadits
dari Anas, di mana Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin
tergesa-gesa itu berasal dari
setan.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya ’la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Sunanul Qubro. Syaikh
Al Albani dalam Al Jami ’ Ash Shoghir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Pintu ketujuh: Yaitu cinta harta. Sifat seperti ini akan
membuat berusaha mencari harta
bagaimana pun caranya. Sifat ini akan
membuat seseorang menjadi bakhil
(kikir), takut miskin dan tidak mau
melakukan kewajiban yang berkaitan dengan harta. Pintu kedelapan: Yaitu mengajak orang awam supaya
ta’ashub (fanatik) pada madzhab atau golongan tertentu, tidak mau beramal
selain dari yang diajarkan dalam
madzhab atau golongannya. Pintu kesembilan: Yaitu mengajak orang awam untuk
memikirkan hakekat (kaifiyah) dzat
dan sifat Allah yang sulit digapai oleh
akal mereka sehingga membuat
mereka menjadi ragu dalam masalah
paling urgen dalam agama ini yaitu masalah aqidah. Pintu kesepuluh: Yaitu selalu berburuk sangka
terhadap muslim lainnya. Jika
seseorang selalu berburuk sangka
(bersu’uzhon) pada muslim lainnya, pasti dia akan selalu merendahkannya
dan selalu merasa lebih baik darinya.
Seharusnya seorang mukmin selalu
mencari udzur dari saudaranya.
Berbeda dengan orang munafik yang
selalu mencari-cari ‘aib orang lain. Semoga kita dapat mengetahui pintu- pintu ini dan semoga kita diberi taufik oleh Allah untuk menjauhinya.

KETIKA ALI TELAT SHOLAT SUBUH

Oleh : Muh.yasin fii sabilillah


Dini hari itu Ali bin ABi Thalib bergegas bangun untuk mengerjakan shalat Subuh berjamaah di masjid bersama Rasulullah. Rasulullah tentulah sudah berada di sana. Rasanya, hampir tidak pernah Rasulullah keduluan orang lain dalam berbuat kebaikan. Tidak ada yang istimewa karena memang itulah aktivitas yang sempurna untuk memulai hari, dan bertahun-tahun lamanya Ali bin Abi Thalib sudah sangat terbiasa. Langit masih gelap, cuaca masihlah dingin, dan jalanan masih pula diselimuti kabut pagi yang turun bersama embun. Ali melangkahkan kakinya menuju masjid. Dari kejauhan,
lamat-lamat sudah terdengar suara Bilal memanggil-manggil dengan adzannya yang berkumandang merdu ke segenap penjuru Kota Madinah. Namun belumlah begitu banyak melangkah, di jalan menuju masjid, di hadapannya ada sesosok orang. Ali mengenalinya sebagai seorang kakek tua yang beragama Yahudi. Kakek tua itu melangkahkan kakinya teramat pelan sekali. Itu mungkin karena usianya yang telah lanjut. Tampak sekali ia sangat berhati-hati menyusuri
jalan. Ali sebenarnya sangat tergesa-gesa. Ia tidak ingin tertinggal mengerjakan shalat tahyatul masjid dan qabliyah Subuh sebelum melaksanakan shalat Subuh berjamaah bersama Rasulullah dan para sahabat lainnya. Ali paham benar bahwa Rasulullah mengajarkan supaya setiap umat muslim menghormati orang tua. Siapapun itu dan apapun agamanya. Maka, Ali pun terpaksa berjalan di belakang kakek itu. Tapi apa daya, si kakek berjalan amat lamban, dan karena itu pulalah langkah Ali jadi melambat. Kakek itu lemah sekali, dan Ali tidak sampai hati untuk mendahuluinya. Ia khawatir kalau- kalau kakek Yahudi itu terjatuh atau kena celaka. Setelah sekian lamanya berjalan, akhirnya waktu mendekati masjid, langit sudah mulai terang. Kakek itu melanjutkan perjalanannya, melewati masjid. Ketika memasuki masjid, Ali menyangka shalat Subuh berjamaah sudah usai. Ia bergegas. Ali terkejut sekaligus gembira, Rasulullah dan para sahabat masih rukuk pada rakaat yang kedua. Berarti Ali masih punya kesempatan untuk memperoleh shalat berjamaah. Jika masih bisa menjalankan rukuk bersama, berarti ia masih mendapat satu rakaat shalat berjamaah. Sesudah Rasulullah mengakhiri shalatnya dengan salam, Umar bin Khattab memberanikan diri untuk bertanya. “Wahai Rasulullah, mengapa hari ini shalat Subuhmu tidak seperti biasanya? Ada apakah gerangan ?” Rasulullah balik bertanya, “Kenapakah, ya Umar? Apa yang berbeda?” “Kurasa sangat lain, ya Rasulullah. Biasanya engaku rukuk dalam rakaat yang kedua tidak sepanjang pagi ini. Tapi tadi itu engkau rukuk lama sekali.
Kenapa ?” Rasulullah menjawab, “Aku juga tidak tahu. Hanya tadi, pada saat aku sedang rukuk dalam rakaat yang kedua, Malaikat Jibril tiba-tiba saja turun lalu menekan punggungku sehingga aku tidak dapat bangun iktidal. Dan itu berlangsung lama, seperti yang kau ketahui juga. ” Umar makin heran. “Mengapa Jibril berbuat seperti itu, ya Rasulullah?” Nabi berkata, “Aku juga belum tahu. Jibril belum menceritakannya kepadaku. ” Dengan perkenaan Allah, beberapa waktu kemudian Malaikat Jibril pun turun. Ia berkata kepada Nabi saw., “Muhammad, aku tadi diperintahkan oleh Allah untuk menekan punggunmu dalam rakaat yang kedua. Sengaja agar Ali mendapatkan kesempatan shalat berjamaah denganmu, karena Allah sangat suka kepadanya bahwa ia telah menjalani ajaran agamaNya secara bertanggung jawab. Ali menghormati seorang kakek tua Yahudi. Dari pegnhormatannya itu sampai ia terpaksa berjalan pelan sekali karena kakek itupun berjalan pelan pula. Jika punggungmu tidak kutekan tadi, pasti
Ali akan terlambat dan tidak akan memperoleh peluang untuk mengerjakan shalat Subuh berjamaah denganmu hari ini.” Mendengar penjelasan Jibril itu, mengertilah kini Rasulullah. Beliau sangat menyukai perbuatan Ali karena apa yang dilakukannya itu tentunya menunjukkan betapa tinggi penghormatan umat Islam kepada orang lain. Satu hal lagi, Ali tidak pernah ingin bersengaja terlambat atau meninggalkan amalan shalat berjamaah. Rasulullah menjelaskan kabar itu kepada para sahabat.

Jumat, 04 Februari 2011

AWAN YANG MENGIKUTI ORANG YANG BERTOBAT

Oleh : Muh.yasin fii sabilillah


Diriwayatkan bahwa seorang tukang jagal (penyembelih binatang) terpesona kepada budak tetangganya. Suatu saat gadis itu mendapat tugas menyelesaikan urusan keluarganya di desa lain. Si tukang jagal lalu mengikutinya dari belakang sampai akhirnya berhasil mendapatkannya. Si tukang jagal lalu memanggil gadis itu dan mengajaknya menikmati kesempatan langka dan indah itu. Tetapi gadis itu menjawab, "Jangan lakukan. Meskipun aku sangat mencintaimu, tetapi aku sangat takut kepada Allah". Mendengar jawaban itu, si tukang jagal merasa dunia berputar. Karena menyesal dan sadar, hatinya gemetar, tenggorokannya kering dan hatinya semakin berdebar, dia lalu berkata, "Kau takut kepada Allah sedangkan aku tidak". Dia pulang sambil bertaubat. Ketika berada di jalan ia diserang rasa haus dan nyaris mati. Ia kemudian bertemu dengan seorang yang sholeh dan mereka berjalan bersama. Mereka melihat gumpalan awan berjalan menaungi mereka berdua, sampai mereka masuk ke sebuah desa. Mereka berdua yakin bahwa awan itu untuk orang yang sholeh. Kemudian mereka berpisah di desa tersebut. Awan itu ternyata condong dan terus menaungi si tukang jagal sampai dia tiba di rumahnya. Orang sholeh tadi heran melihat kenyataan ini. Dia lalu mengikuti tukang jagal tadi lantas bertanya kepadanya dan dijawabnya pula di tempat itu. Maka laki-laki sholeh itu berkata, "Janganlah heran terhadap apa yang kau lihat, karena orang yang bertaubat kepada Allah itu berada di suatu tempat yang tak seorang pun berada di situ".

AWAN YANG MENGIKUTI ORANG YANG BERTOBAT

Oleh : Muh.yasin fii sabilillah


Diriwayatkan bahwa seorang tukang jagal (penyembelih binatang) terpesona kepada budak tetangganya. Suatu saat gadis itu mendapat tugas menyelesaikan urusan keluarganya di desa lain. Si tukang jagal lalu mengikutinya dari belakang sampai akhirnya berhasil mendapatkannya. Si tukang jagal lalu memanggil gadis itu dan mengajaknya menikmati kesempatan langka dan indah itu. Tetapi gadis itu menjawab, "Jangan lakukan. Meskipun aku sangat mencintaimu, tetapi aku sangat takut kepada Allah". Mendengar jawaban itu, si tukang jagal merasa dunia berputar. Karena menyesal dan sadar, hatinya gemetar, tenggorokannya kering dan hatinya semakin berdebar, dia lalu berkata, "Kau takut kepada Allah sedangkan aku tidak". Dia pulang sambil bertaubat. Ketika berada di jalan ia diserang rasa haus dan nyaris mati. Ia kemudian bertemu dengan seorang yang sholeh dan mereka berjalan bersama. Mereka melihat gumpalan awan berjalan menaungi mereka berdua, sampai mereka masuk ke sebuah desa. Mereka berdua yakin bahwa awan itu untuk orang yang sholeh. Kemudian mereka berpisah di desa tersebut. Awan itu ternyata condong dan terus menaungi si tukang jagal sampai dia tiba di rumahnya. Orang sholeh tadi heran melihat kenyataan ini. Dia lalu mengikuti tukang jagal tadi lantas bertanya kepadanya dan dijawabnya pula di tempat itu. Maka laki-laki sholeh itu berkata, "Janganlah heran terhadap apa yang kau lihat, karena orang yang bertaubat kepada Allah itu berada di suatu tempat yang tak seorang pun berada di situ".

AWAN YANG MENGIKUTI ORANG YANG BERTOBAT

Oleh : Muh.yasin fii sabilillah


Diriwayatkan bahwa seorang tukang jagal (penyembelih binatang) terpesona kepada budak tetangganya. Suatu saat gadis itu mendapat tugas menyelesaikan urusan keluarganya di desa lain. Si tukang jagal lalu mengikutinya dari belakang sampai akhirnya berhasil mendapatkannya. Si tukang jagal lalu memanggil gadis itu dan mengajaknya menikmati kesempatan langka dan indah itu. Tetapi gadis itu menjawab, "Jangan lakukan. Meskipun aku sangat mencintaimu, tetapi aku sangat takut kepada Allah". Mendengar jawaban itu, si tukang jagal merasa dunia berputar. Karena menyesal dan sadar, hatinya gemetar, tenggorokannya kering dan hatinya semakin berdebar, dia lalu berkata, "Kau takut kepada Allah sedangkan aku tidak". Dia pulang sambil bertaubat. Ketika berada di jalan ia diserang rasa haus dan nyaris mati. Ia kemudian bertemu dengan seorang yang sholeh dan mereka berjalan bersama. Mereka melihat gumpalan awan berjalan menaungi mereka berdua, sampai mereka masuk ke sebuah desa. Mereka berdua yakin bahwa awan itu untuk orang yang sholeh. Kemudian mereka berpisah di desa tersebut. Awan itu ternyata condong dan terus menaungi si tukang jagal sampai dia tiba di rumahnya. Orang sholeh tadi heran melihat kenyataan ini. Dia lalu mengikuti tukang jagal tadi lantas bertanya kepadanya dan dijawabnya pula di tempat itu. Maka laki-laki sholeh itu berkata, "Janganlah heran terhadap apa yang kau lihat, karena orang yang bertaubat kepada Allah itu berada di suatu tempat yang tak seorang pun berada di situ".