Oleh : Muh.Yasin Fii Sabilillah
1. Mengubah Posisi
- Rasulullah s.a.w bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu marah, dan ketika itu ia
dalam kedudukan berdiri, maka
hendaklah ia duduk. Kerana hal itu
akan menghilangkan marahnya. Dan
kalau tidak, maka hendaklah ia
berbaring.” (Riwayat Muslim)
2. Berwuduk
- Rasulullah s.a.w bersabda: “Marah itu datangnya daripada syaitan, dan syaitan itu
diciptakan daripada api, sedangkan
api itu hanya dipadamkan dengan air.
Oleh itu apabila salah seorang di
antara kamu marah, maka hendaklah
ia berwuduk” (Hadis Riwayat Abi Daud) .
3.Minum air.
4.Mendiamkan diri ketika marah.. banyakkan istighfar di dalam hati.
5.Berlindung kepada Allah daripada syaitan .
6.Meluahkan perasaan dan masalah dalam keadaan masa dan tempat sesuai.
7.Berfikiran positif.
8.Belajar menyampaikan kemarahan secara positif dan
terhormat; elakkan daripada memekik atau bertindak garang.
9.Bawa bertenang seperti menarik nafas.
10.Senyum kerana senyuman mampu meredakan tekanan.
Wallahu'alam.
Selasa, 08 Februari 2011
JENIS JENIS DIAM
Oleh : Muh.Yasin Fii Sabilillah
Dalam upaya mendewasakan diri kita,
salah satu langkah awal yang harus
kita pelajari adalah bagaimana
menjadi peribadi yang
berkemampuan dalam menjaga juga
memelihara lisan dengan baik dan benar. Sebagaimana sabda Rasulullah
saw, : "Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir
hendaklah berkata benar atau
diam." (Riwayat Bukhari) Jenis-jenis Diam Sesungguhnya diam itu sangat
bermacam-macam penyebab dan
kesannya. Ada yang dengan diam jadi
emas, tapi ada pula dengan diam
menjadi masalah. Semuanya
bergantung kepada niat, cara, situasi, juga keadaan pada diri dan
lingkungannya. Berikut merupakan
jenis-jenis diam yang biasa kita lihat:
a. Diam Bodoh Iaitu diam kerana memang tidak tahu
apa yang harus dikatakan. Hal ini
terjadi kerana kekurangan ilmu
pengetahuan dan
ketidakmengertiannya, atau
kelemahan pemahaman dan alasan ketidakmampuan lainnya. Namun
diam ini jauh lebih baik daripada
memaksakan diri bicara yang tidak
diketahui.
b. Diam Malas Diam jenis ini merupakan keburukan,
kerana diam pada saat orang
memerlukan perkataannya, dia
enggan berbicara karena merasa
moodnya tidak baik, tidak berselera
atau malas.
c. Diam Sombong Ini pun termasuk diam negatif karena
dia bersikap diam berdasarkan
anggapan bahwa orang yang diajak
bicara tidak setaraf dengannya.
d. Diam Khianat Ini diamnya orang jahat karena dia
diam untuk menjatuhkan orang lain.
Diam pada saat diperlukan
kesaksiaannya yang dapat
menyelamatkan seseorang yang lain
adalah diam yang keji. e. Diam Marah Diam seperti ini ada baiknya dan
adapula buruknya, baiknya adalah
jauh lebih terpelihara dari perkataan
keji yang akan lebih mengeruhkan
suasana. Namun, buruknya adalah dia
berniat bukan untuk mencari penyelesaian tapi untuk
memperlihatkan kemarahannya,
sehingga boleh jadi diamnya ini juga
menambah masalah.
f. Diam Utama (Diam Aktif) Yang dimaksud diam keutamaan
adalah bersikap diam hasil dari
pemikiran dan perenungan niat yang
membuahkan keyakinan bahawa
dengan bersikap menahan diri (diam)
maka akan menjadi maslahat lebih besar berbanding dengan berbicara.
Keutamaan Diam Aktif a. Hemat Masalah Dengan memilih diam aktif, kita akan
menjaga kata-kata yang berpeluang
menimbulkan masalah.
b. Hemat dari Dosa Dengan diam aktif maka peluang
tergelincir kata menjadi dosa pun
menipis, terhindar dari kesalahan kata
yang menimbulkan kemurkaan Allah.
c. Hati Selalu Terjaga dan Tenang Dengan diam aktif bererti hati akan
terjaga dari riya, ujub, takabbur atau
aneka penyakit hati lainnya yang
akan mengeraskan dan mematikan
hati kita.
d. Lebih Bijak Dengan diam aktif berarti kita menjadi
pendengar dan pemerhati yang baik,
diharapkan dalam menghadapi
sesuatu persoalan, pemahamannya
jauh lebih mendlam sehingga
pengambilan keputusan pun jauh lebih bijak dan arif.
e. Hikmah Akan Muncul Yang tak kurang pentingnya, orang
yang mampu menahan diri dengan
diam aktif adalah bercahayanya
hatinya, memberikan idea dan
gagasan yang cemerlang, hikmah dari
Allah swt akan menyelimuti hati, lisan, sikap dan perilakunya. f. Lebih Berwibawa Tanpa disedari, sikap dan penampilan
orang yang diam aktif akan
menimbulkan kewibawaannya
tersendiri. Orang akan menjadi lebih
segan untuk mempermainkan atau
meremehkan. Selain itu, diam aktif berupaya
menahan diri dari beberapa hal,
seperti:
1. Diam dari perkataan dusta /
bohong
2. Diam dari perkataan sia-sia
3. Diam dari komentar spontan
4. Diam dari kata-kata yang
berlebihan
5. Diam dari keluh kesah
6. Diam dari niat riya dan ujub
7. Diam dari kata yang menyakiti hati
8. Diam dari perkara yang tidak
diketahui Mudah-mudahan kita menjadi terbiasa
berkata benar atau diam. Semoga pula
Allah redha hingga akhir hayat nanti,
saat ajal menjelang, lisan ini
diperkenankan untuk menghantar
ruh kita dengan sebaik-baik perkataan iaitu kalimat tauhid "laa
ilaha illallah" puncak perkataan yang
menghantar kita ke syurga. Aamiin... Beramallah Dengan Ilmu ,insyaAllah
beroleh Berkat . WASSALAM.
Dalam upaya mendewasakan diri kita,
salah satu langkah awal yang harus
kita pelajari adalah bagaimana
menjadi peribadi yang
berkemampuan dalam menjaga juga
memelihara lisan dengan baik dan benar. Sebagaimana sabda Rasulullah
saw, : "Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir
hendaklah berkata benar atau
diam." (Riwayat Bukhari) Jenis-jenis Diam Sesungguhnya diam itu sangat
bermacam-macam penyebab dan
kesannya. Ada yang dengan diam jadi
emas, tapi ada pula dengan diam
menjadi masalah. Semuanya
bergantung kepada niat, cara, situasi, juga keadaan pada diri dan
lingkungannya. Berikut merupakan
jenis-jenis diam yang biasa kita lihat:
a. Diam Bodoh Iaitu diam kerana memang tidak tahu
apa yang harus dikatakan. Hal ini
terjadi kerana kekurangan ilmu
pengetahuan dan
ketidakmengertiannya, atau
kelemahan pemahaman dan alasan ketidakmampuan lainnya. Namun
diam ini jauh lebih baik daripada
memaksakan diri bicara yang tidak
diketahui.
b. Diam Malas Diam jenis ini merupakan keburukan,
kerana diam pada saat orang
memerlukan perkataannya, dia
enggan berbicara karena merasa
moodnya tidak baik, tidak berselera
atau malas.
c. Diam Sombong Ini pun termasuk diam negatif karena
dia bersikap diam berdasarkan
anggapan bahwa orang yang diajak
bicara tidak setaraf dengannya.
d. Diam Khianat Ini diamnya orang jahat karena dia
diam untuk menjatuhkan orang lain.
Diam pada saat diperlukan
kesaksiaannya yang dapat
menyelamatkan seseorang yang lain
adalah diam yang keji. e. Diam Marah Diam seperti ini ada baiknya dan
adapula buruknya, baiknya adalah
jauh lebih terpelihara dari perkataan
keji yang akan lebih mengeruhkan
suasana. Namun, buruknya adalah dia
berniat bukan untuk mencari penyelesaian tapi untuk
memperlihatkan kemarahannya,
sehingga boleh jadi diamnya ini juga
menambah masalah.
f. Diam Utama (Diam Aktif) Yang dimaksud diam keutamaan
adalah bersikap diam hasil dari
pemikiran dan perenungan niat yang
membuahkan keyakinan bahawa
dengan bersikap menahan diri (diam)
maka akan menjadi maslahat lebih besar berbanding dengan berbicara.
Keutamaan Diam Aktif a. Hemat Masalah Dengan memilih diam aktif, kita akan
menjaga kata-kata yang berpeluang
menimbulkan masalah.
b. Hemat dari Dosa Dengan diam aktif maka peluang
tergelincir kata menjadi dosa pun
menipis, terhindar dari kesalahan kata
yang menimbulkan kemurkaan Allah.
c. Hati Selalu Terjaga dan Tenang Dengan diam aktif bererti hati akan
terjaga dari riya, ujub, takabbur atau
aneka penyakit hati lainnya yang
akan mengeraskan dan mematikan
hati kita.
d. Lebih Bijak Dengan diam aktif berarti kita menjadi
pendengar dan pemerhati yang baik,
diharapkan dalam menghadapi
sesuatu persoalan, pemahamannya
jauh lebih mendlam sehingga
pengambilan keputusan pun jauh lebih bijak dan arif.
e. Hikmah Akan Muncul Yang tak kurang pentingnya, orang
yang mampu menahan diri dengan
diam aktif adalah bercahayanya
hatinya, memberikan idea dan
gagasan yang cemerlang, hikmah dari
Allah swt akan menyelimuti hati, lisan, sikap dan perilakunya. f. Lebih Berwibawa Tanpa disedari, sikap dan penampilan
orang yang diam aktif akan
menimbulkan kewibawaannya
tersendiri. Orang akan menjadi lebih
segan untuk mempermainkan atau
meremehkan. Selain itu, diam aktif berupaya
menahan diri dari beberapa hal,
seperti:
1. Diam dari perkataan dusta /
bohong
2. Diam dari perkataan sia-sia
3. Diam dari komentar spontan
4. Diam dari kata-kata yang
berlebihan
5. Diam dari keluh kesah
6. Diam dari niat riya dan ujub
7. Diam dari kata yang menyakiti hati
8. Diam dari perkara yang tidak
diketahui Mudah-mudahan kita menjadi terbiasa
berkata benar atau diam. Semoga pula
Allah redha hingga akhir hayat nanti,
saat ajal menjelang, lisan ini
diperkenankan untuk menghantar
ruh kita dengan sebaik-baik perkataan iaitu kalimat tauhid "laa
ilaha illallah" puncak perkataan yang
menghantar kita ke syurga. Aamiin... Beramallah Dengan Ilmu ,insyaAllah
beroleh Berkat . WASSALAM.
Senin, 07 Februari 2011
10 ORANG YANG MAYATNYA TIDAK BUSUK DAN REPUT
Oleh : Muh.Yasin Fii Sabilillah
Disebutkan didalam satu riwayat,
bahawasanya apabila para
makhluk dibangkitkan dari kubur,
mereka semuanya berdiri tegak di
kubur "masing-masing selama 44 tahun UMUR AKHIRAT dalam keadaan TIDAK MAKAN" dan TIDAK MINUM, TIDAK DUDUK dan TIDAK BERCAKAP. Bertanya orang kepada Rasulullah
saw : "Bagaimana kita dapat mengenali ORANG-ORANG MUKMIN kelak di hari qiamat?" Maka jawabnya Rasulullah saw
"Umat dikenal kerana WAJAH mereka putih disebabkan oleh WUDHU '." Bila qiamat datang maka malaikat datang ke kubur orang
mukmin sambil membersihkan
debu di badan mereka KECUALI pada tempat sujud. Bekas SUJUD tidak dihilangkan. Maka
memanggillah dari zat yang
memanggil. Bukanlah debu "itu dari
debu kubur mereka, akan tetapi
debu itu ialah debu KEIMANAN" mereka. Oleh itu tinggallah debu itu
sehingga mereka melalui titian"
Siratul Mustaqim dan memasuki
alam syurga, sehingga setiap orang
melihat para mukmin itu
mengetahui bahawa mereka adalah pelayan Ku dan hamba-
hamba Ku. Disebutkan oleh hadith Rasulullah
saw bahawa sepuluh orang yang
mayatnya TIDAK BUSUK dan TIDAK REPUT dan akan bangkit dalam tubuh asal diwaktu mati :- 1. Para Nabi 2. Para Ahli Jihad 3. Para Alim Ulama 4. Para Syuhada 5. Para Penghafal Al Quran 6. Imam atau Pemimpin yang Adil 7. Tukang Azan 8. Wanita yang mati kelahiran/ beranak 9. Orang mati dibunuh atau dianiaya 10. Orang yang mati di siang hari atau di malam Jumaat jika mereka
itu dari kalangan orang yang
beriman. Didalam satu riwayat yang lain dari
Jabir bin Abdullah ra sabda
Rasulullah saw: Apabila datang hari
qiamat dan orang orang yang
berada di dalam kubur
dibangkitkan maka Allah swt memberi wahyu kepada Malaikat
Ridhwan: " Wahai Ridhwan , sesungguhnya
Aku telah mengeluarkan hamba-
hamba Ku berpuasa ( ahli puasa )
dari kubur mereka di dalam
keadaan letih dan dahaga.Maka
ambillah dan berikan mereka segala makanan yang digoreng
dan buah buahan syurga. "Maka Malaikat Ridhwan menyeru,
wahai sekelian kawan-kawan dan
semua anak-anak yang belum
baligh, lalu mereka semua datang
dengan membawa dulang dari nur
dan berhimpun dekat Malaikat Ridhwan bersama dulang yang
penuh dengan buahan dan
minuman yang lazat dari syurga
dengan sangat banyak melebihi
daun-daun kayu di bumi. Jika
Malaikat Ridhwan berjumpa mukmin maka dia memberi
makanan itu kepada mereka
sambil mengucap sebagaimana
yang difirman oleh Allah swt di
dalam Surah Al-Haqqah
bermaksud : "Makan dan minumlah dengan
sedap disebabkan AMAL yang telah kamu kerjakan pada HARI yang telah LALU itu." * "Ilmu yang bermanfaat ialah salah satu amal yang berkekalan bagi
orang yang mengajarnya meskipun
dia sudah mati. " Dan (ingatlah ) Allah sentiasa
mengetahui dengan mendalam
akan apa jua yang kamu lakukan ." Surah Al-Baqarah : 237
Untuk renungan dan amalan
bersama . Doa Ikan Nun ========= "LAA ILAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNI KUNTU MINALZHAALIMIIN"
Disebutkan didalam satu riwayat,
bahawasanya apabila para
makhluk dibangkitkan dari kubur,
mereka semuanya berdiri tegak di
kubur "masing-masing selama 44 tahun UMUR AKHIRAT dalam keadaan TIDAK MAKAN" dan TIDAK MINUM, TIDAK DUDUK dan TIDAK BERCAKAP. Bertanya orang kepada Rasulullah
saw : "Bagaimana kita dapat mengenali ORANG-ORANG MUKMIN kelak di hari qiamat?" Maka jawabnya Rasulullah saw
"Umat dikenal kerana WAJAH mereka putih disebabkan oleh WUDHU '." Bila qiamat datang maka malaikat datang ke kubur orang
mukmin sambil membersihkan
debu di badan mereka KECUALI pada tempat sujud. Bekas SUJUD tidak dihilangkan. Maka
memanggillah dari zat yang
memanggil. Bukanlah debu "itu dari
debu kubur mereka, akan tetapi
debu itu ialah debu KEIMANAN" mereka. Oleh itu tinggallah debu itu
sehingga mereka melalui titian"
Siratul Mustaqim dan memasuki
alam syurga, sehingga setiap orang
melihat para mukmin itu
mengetahui bahawa mereka adalah pelayan Ku dan hamba-
hamba Ku. Disebutkan oleh hadith Rasulullah
saw bahawa sepuluh orang yang
mayatnya TIDAK BUSUK dan TIDAK REPUT dan akan bangkit dalam tubuh asal diwaktu mati :- 1. Para Nabi 2. Para Ahli Jihad 3. Para Alim Ulama 4. Para Syuhada 5. Para Penghafal Al Quran 6. Imam atau Pemimpin yang Adil 7. Tukang Azan 8. Wanita yang mati kelahiran/ beranak 9. Orang mati dibunuh atau dianiaya 10. Orang yang mati di siang hari atau di malam Jumaat jika mereka
itu dari kalangan orang yang
beriman. Didalam satu riwayat yang lain dari
Jabir bin Abdullah ra sabda
Rasulullah saw: Apabila datang hari
qiamat dan orang orang yang
berada di dalam kubur
dibangkitkan maka Allah swt memberi wahyu kepada Malaikat
Ridhwan: " Wahai Ridhwan , sesungguhnya
Aku telah mengeluarkan hamba-
hamba Ku berpuasa ( ahli puasa )
dari kubur mereka di dalam
keadaan letih dan dahaga.Maka
ambillah dan berikan mereka segala makanan yang digoreng
dan buah buahan syurga. "Maka Malaikat Ridhwan menyeru,
wahai sekelian kawan-kawan dan
semua anak-anak yang belum
baligh, lalu mereka semua datang
dengan membawa dulang dari nur
dan berhimpun dekat Malaikat Ridhwan bersama dulang yang
penuh dengan buahan dan
minuman yang lazat dari syurga
dengan sangat banyak melebihi
daun-daun kayu di bumi. Jika
Malaikat Ridhwan berjumpa mukmin maka dia memberi
makanan itu kepada mereka
sambil mengucap sebagaimana
yang difirman oleh Allah swt di
dalam Surah Al-Haqqah
bermaksud : "Makan dan minumlah dengan
sedap disebabkan AMAL yang telah kamu kerjakan pada HARI yang telah LALU itu." * "Ilmu yang bermanfaat ialah salah satu amal yang berkekalan bagi
orang yang mengajarnya meskipun
dia sudah mati. " Dan (ingatlah ) Allah sentiasa
mengetahui dengan mendalam
akan apa jua yang kamu lakukan ." Surah Al-Baqarah : 237
Untuk renungan dan amalan
bersama . Doa Ikan Nun ========= "LAA ILAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNI KUNTU MINALZHAALIMIIN"
10 PERINGATAN BUMI
Oleh : Muh.Yasin Fii Sabilillah
Untuk peringatan pada diri yang sering alpa dengan keindahan dunia yang hanya palsu belaka.
Sedarlah bahawa bumi sentiasa
berkata-kata dengan manusia
namun masih ramai lagi manusia
yang lalai dan leka. Berkata Anas Bin Malik r. a; Sesungguhnya setiap hari bumi
menyeru kepada manusia dengan sepuluh perkara .
1. Wahai anak Adam! Berjalanlah di atas perutku, tetapi ingatlah!
Engkau akan dimasukkan ke
dalamnya kelak.
2. Engkau melakukan maksiat di atas belakangku, tetapi ingatlah!
Engkau akan diazab di dalam
perutku.
3. Engkau ketawa di atas perutku, tetapi ingatlah! Engkau akan
menangis di dalam perutku.
4. Engkau bergembira di atas belakangku, tetapi ingatlah!
Engkau akan kecewa di dalam
perutku.
5. Engkau mengumpul harta di atas belakangku, tetapi ingatlah!
Engkau akan menyesal di dalam
perutku.
6. Engkau makan benda yang haram di atas belakangku, tetapi
ingatlah! Engkau akan dimakan
oleh ulat di dalam perutku
7. Engkau angkuh di atas belakangku, tetapi ingatlah!
Engkau akan dihina di dalam
perutku.
8. Engkau berlari dengan riang di atas belakangku, tetapi ingatlah!
Engkau akan jatuh di dalam
perutku dalam keadaan dukacita.
9. Engkau hidup di dunia bersiramkan cahaya matahari,
bulan dan bintang di belakangku,
tetapi ingatlah! Engkau akan
tinggal dalam kegelapan di dalam
perutku.
10. Engkau hidup di atas belakangku beramai-ramai, tetapi
ingatlah! Engkau akan
keseorangan di dalam perutku.
Untuk peringatan pada diri yang sering alpa dengan keindahan dunia yang hanya palsu belaka.
Sedarlah bahawa bumi sentiasa
berkata-kata dengan manusia
namun masih ramai lagi manusia
yang lalai dan leka. Berkata Anas Bin Malik r. a; Sesungguhnya setiap hari bumi
menyeru kepada manusia dengan sepuluh perkara .
1. Wahai anak Adam! Berjalanlah di atas perutku, tetapi ingatlah!
Engkau akan dimasukkan ke
dalamnya kelak.
2. Engkau melakukan maksiat di atas belakangku, tetapi ingatlah!
Engkau akan diazab di dalam
perutku.
3. Engkau ketawa di atas perutku, tetapi ingatlah! Engkau akan
menangis di dalam perutku.
4. Engkau bergembira di atas belakangku, tetapi ingatlah!
Engkau akan kecewa di dalam
perutku.
5. Engkau mengumpul harta di atas belakangku, tetapi ingatlah!
Engkau akan menyesal di dalam
perutku.
6. Engkau makan benda yang haram di atas belakangku, tetapi
ingatlah! Engkau akan dimakan
oleh ulat di dalam perutku
7. Engkau angkuh di atas belakangku, tetapi ingatlah!
Engkau akan dihina di dalam
perutku.
8. Engkau berlari dengan riang di atas belakangku, tetapi ingatlah!
Engkau akan jatuh di dalam
perutku dalam keadaan dukacita.
9. Engkau hidup di dunia bersiramkan cahaya matahari,
bulan dan bintang di belakangku,
tetapi ingatlah! Engkau akan
tinggal dalam kegelapan di dalam
perutku.
10. Engkau hidup di atas belakangku beramai-ramai, tetapi
ingatlah! Engkau akan
keseorangan di dalam perutku.
HADIST TENTANG TAUBAT
Oleh : Muh.Yasin fii sabilillah
1. Abu Hurairah ra. meriwayatkan
bahwa dirinya telah mendengar
Rasulullah SAW bersabda, ”Demi Allah, sesungguhnya saya membaca
istighfar (memohon ampunan) dan
bertobat pada Allah lebih dari tujuh
puluh kali setiap harinya. ” (HR Bukhari) 2. Anas bin Malik ra. meriwayatkan
bahwa Rasulullah SAW bersabda,
”Sesungguhnya Allah lebih suka menerima tobat hambaNYA melebihi
kesenangan seseorang yang
menemukan kembali untanya yang
telah hilang di tengah hutan.” (HR Bukhari dan Muslim) 3. Abu Musa Al-Asy ’ary ra. meriwayatkan bahwa Nabi SAW
bersabda, “Sesungguhnya Allah membentangkan rahmatNYA pada
waktu malam untuk memberi
kesempatan bertobat pada seseorang
yang telah bermaksiat di siang
harinya, juga membentangkan
kemurahanNYA pada waktu siang untuk memberi kesempatan bertobat
pada seseorang yang telah berdosa di
waktu malamnya. Hal ini tetap
dilakukan (Allah SWT) hingga
matahari terbit dari barat.” (HR Muslim) 4. Abu Hurairah ra. meriwayatkan
bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah
menerima tobat dan
memaafkannya. ” (HR Muslim) 5. Abdullah bin ‘Umar ra. meriwayatkan bahwa Nabi SAW
bersabda, “Sesungguhnya Allah senantiasa menerima tobat setiap
hambaNYA selama ruh (nyawanya)
belum sampai di
tenggorokkannya. ” (HR Tirmidzi) 6. Abu Said (Sa ’ad bin Malik bin Sinan) Al-Khudry ra. meriwayatkan bahwa
Nabi SAW bersabda, “Dahulu, di masa umat yang terdahulu, ada seseorang
yang telah membunuh sembilan puluh
sembilan jiwa. Kemudian ia ingin
bertobat, sehingga mencari seorang
alim. Ia lalu ditunjukkan untuk
mendatangi seorang alim. Lalu ia menceritakan bahwa dirinya telah
membunuh sembilan puluh sembilan
jiwa, apakah masih ada jalan untuk
bertobat? Sang alim itu menjawab,
“Tidak ada ”. Mendengar jawaban seperti itu, si pembunuh tadi langsung
membunuh orang alim itu, sehingga
genap seratus orang yang telah
dibunuhnya. Kemudian ia mencari lagi
orang alim lainnya. Ketika telah
ditunjukkan padanya, ia pun pergi menemuinya dan menceritakan
bahwa dirinya telah membunuh
seratus orang, apakah masih ada jalan
untuk bertobat? Sang alim menjawab,
“Masih ada pintu tobat, dan siapakah yang dapat menghalangi seseorang
untuk bertobat? Pergilah kamu ke
daerah itu, karena di sana banyak
orang-orang yang taat kepada Allah.
Dan berbuatlah sebagaimana
perbuatan mereka, dan jangan kembali ke negerimu itu yang
merupakan perkampungan para
penjahat”. Sang pembunuh itu lalu pergi ke daerah atau perkampungan
tobat itu. Ketika masih di tengah
perjalanan, mendadak sang
pembunuh itu meninggal dunia.
Melihat peristiwa itu, Malaikat Rahmat
dan Malaikat Siksa berselisih paham. Malaikat Rahmat berkata, “Ia telah menempuh jalan untuk bertobat
kepada Allah dengan sepenuh
hatinya”. Sedang Malaikat Siksa berkata, “Ia belum pernah berbuat kebaikan sama sekali ”. Maka datanglah satu Malaikat berupa
manusia untuk dijadikan penengah
(hakim) diantara kedua Malaikat
tersebut. Malaikat yang menengahi itu
berkata, “Ukur saja antara dua daerah yang ditinggalkan dan yang dituju, ke
daerah manakah ia lebih dekat,
kampung pertobatan atau kampung
maksiat ?” Setelah diukur, ternyata sang pembunuh lebih dekat ke
perkampungan tobat ketika
meninggal dunia, kira-kira sejengkal
saja. Seketika itu juga, Malaikat Rahmat
membawa ruh sang pembunuh. (HR
Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan, “Allah memerintahkan kepada bumi yang
dituju supaya mendekat, dan
menyuruh bumi yang ditinggalkan
supaya menjauh”. 7. Abdullah bin Abbas ra. dan Anas
bin Malik ra., keduanya meriwayatkan
bahwa Rasulullah SAW brsabda,
“Andaikan seorang anak Adam (manusia) mempunyai suatu lembah
emas, pasti ingin mempunyai dua
lembah. Dan tiada yang dapat
menutup mulutnya (tidak ada yang
dapat menghentikan kerakusannya
pada dunia) kecuali tanah (kematian). Dan Allah berkenan memberi tobat
pada siapa saja yang bertobat. (HR
Bukhari dan Muslim)
1. Abu Hurairah ra. meriwayatkan
bahwa dirinya telah mendengar
Rasulullah SAW bersabda, ”Demi Allah, sesungguhnya saya membaca
istighfar (memohon ampunan) dan
bertobat pada Allah lebih dari tujuh
puluh kali setiap harinya. ” (HR Bukhari) 2. Anas bin Malik ra. meriwayatkan
bahwa Rasulullah SAW bersabda,
”Sesungguhnya Allah lebih suka menerima tobat hambaNYA melebihi
kesenangan seseorang yang
menemukan kembali untanya yang
telah hilang di tengah hutan.” (HR Bukhari dan Muslim) 3. Abu Musa Al-Asy ’ary ra. meriwayatkan bahwa Nabi SAW
bersabda, “Sesungguhnya Allah membentangkan rahmatNYA pada
waktu malam untuk memberi
kesempatan bertobat pada seseorang
yang telah bermaksiat di siang
harinya, juga membentangkan
kemurahanNYA pada waktu siang untuk memberi kesempatan bertobat
pada seseorang yang telah berdosa di
waktu malamnya. Hal ini tetap
dilakukan (Allah SWT) hingga
matahari terbit dari barat.” (HR Muslim) 4. Abu Hurairah ra. meriwayatkan
bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah
menerima tobat dan
memaafkannya. ” (HR Muslim) 5. Abdullah bin ‘Umar ra. meriwayatkan bahwa Nabi SAW
bersabda, “Sesungguhnya Allah senantiasa menerima tobat setiap
hambaNYA selama ruh (nyawanya)
belum sampai di
tenggorokkannya. ” (HR Tirmidzi) 6. Abu Said (Sa ’ad bin Malik bin Sinan) Al-Khudry ra. meriwayatkan bahwa
Nabi SAW bersabda, “Dahulu, di masa umat yang terdahulu, ada seseorang
yang telah membunuh sembilan puluh
sembilan jiwa. Kemudian ia ingin
bertobat, sehingga mencari seorang
alim. Ia lalu ditunjukkan untuk
mendatangi seorang alim. Lalu ia menceritakan bahwa dirinya telah
membunuh sembilan puluh sembilan
jiwa, apakah masih ada jalan untuk
bertobat? Sang alim itu menjawab,
“Tidak ada ”. Mendengar jawaban seperti itu, si pembunuh tadi langsung
membunuh orang alim itu, sehingga
genap seratus orang yang telah
dibunuhnya. Kemudian ia mencari lagi
orang alim lainnya. Ketika telah
ditunjukkan padanya, ia pun pergi menemuinya dan menceritakan
bahwa dirinya telah membunuh
seratus orang, apakah masih ada jalan
untuk bertobat? Sang alim menjawab,
“Masih ada pintu tobat, dan siapakah yang dapat menghalangi seseorang
untuk bertobat? Pergilah kamu ke
daerah itu, karena di sana banyak
orang-orang yang taat kepada Allah.
Dan berbuatlah sebagaimana
perbuatan mereka, dan jangan kembali ke negerimu itu yang
merupakan perkampungan para
penjahat”. Sang pembunuh itu lalu pergi ke daerah atau perkampungan
tobat itu. Ketika masih di tengah
perjalanan, mendadak sang
pembunuh itu meninggal dunia.
Melihat peristiwa itu, Malaikat Rahmat
dan Malaikat Siksa berselisih paham. Malaikat Rahmat berkata, “Ia telah menempuh jalan untuk bertobat
kepada Allah dengan sepenuh
hatinya”. Sedang Malaikat Siksa berkata, “Ia belum pernah berbuat kebaikan sama sekali ”. Maka datanglah satu Malaikat berupa
manusia untuk dijadikan penengah
(hakim) diantara kedua Malaikat
tersebut. Malaikat yang menengahi itu
berkata, “Ukur saja antara dua daerah yang ditinggalkan dan yang dituju, ke
daerah manakah ia lebih dekat,
kampung pertobatan atau kampung
maksiat ?” Setelah diukur, ternyata sang pembunuh lebih dekat ke
perkampungan tobat ketika
meninggal dunia, kira-kira sejengkal
saja. Seketika itu juga, Malaikat Rahmat
membawa ruh sang pembunuh. (HR
Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan, “Allah memerintahkan kepada bumi yang
dituju supaya mendekat, dan
menyuruh bumi yang ditinggalkan
supaya menjauh”. 7. Abdullah bin Abbas ra. dan Anas
bin Malik ra., keduanya meriwayatkan
bahwa Rasulullah SAW brsabda,
“Andaikan seorang anak Adam (manusia) mempunyai suatu lembah
emas, pasti ingin mempunyai dua
lembah. Dan tiada yang dapat
menutup mulutnya (tidak ada yang
dapat menghentikan kerakusannya
pada dunia) kecuali tanah (kematian). Dan Allah berkenan memberi tobat
pada siapa saja yang bertobat. (HR
Bukhari dan Muslim)
Minggu, 06 Februari 2011
KUPAS TUNTAS APA ITU BID'AH ? BID'AH ??
Oleh : Muh.yasin fii sabilillah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah. Perhatikan hadits beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukankah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yg membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yg tidak mencekik ummat, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal-hal yg baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yg tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat : “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM..dst, “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian ”, maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat
lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam. Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yg bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau menghalalkan apa-apa yg sudah diharamkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yg membuat buat hal baru yg berupa keburukan …dst”, inilah yg disebut Bid’ah Dhalalah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yg baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yg ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yg buruk (Bid’ah dhalalah). Mengenai pendapat yg mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yg dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas-jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in. II. Siapakah yg pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ketika terjadi pembunuhan besar- besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (yg hafal) Alqur ’an dan Ahli Alqur ’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra :
“Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur ’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur ’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam..??, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur ’an dan tulislah Alqur ’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung- gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur ’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur ’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768). Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yg baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur ’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah-pisah di hafalan sahabat, ada yg tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yg memulainya. Kita perhatikan hadits yg dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selepas melakukan shalat subuh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kami dan menyampaikan ceramah yg membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan- akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami.. ” maka rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yg berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa ’urrasyidin yg mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati-hatilah dengan hal-hal yg baru, sungguh semua yg Bid’ah itu adalah kesesatan ”. (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329). Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa ’urrasyidin, dan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperbolehkan hal yg baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa ’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yg baru, yg tidak dilakukan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu pembukuan Alqur ’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw. Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa ’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur ’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik-baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur ’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur ’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu. Demikian pula hal yg dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bn Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873). Siapakah yg salah dan tertuduh?, siapakah yg lebih mengerti larangan Bid’ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa ’urrasyidin ini tak faham makna Bid ’ah? III. Bid’ah Dhalalah Jelaslah sudah bahwa mereka yg menolak bid’ah hasanah inilah yg termasuk pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa ’urrasyidin, nah…diantaranya adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa ’urrasyidin, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah jelas-jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa ’urrasyidin, bagaimana Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana sunnah Khulafa ’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas hal inilah yg merupakan Bid’ah dhalalah, hal yg telah diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing, melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membukukannya, tak pula Khulafa ’urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan
lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun Bid’ah Hasanah. Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah,
namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul pula kini Al-Quran yang di
kasetkan, di CD kan, Program Al- Quran di handphone, Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah. Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya. Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila Al- Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan sejarah Islam ? Al-Quran masih bertebaran di tembok-
tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu- ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing- masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits- hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yg telah membolehkannya, beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yg berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti dimunculkan kelak, dan beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang hal-hal baru yg berupa keburukan (Bid ’ah dhalalah). Saudara-saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya adalah Mutiara Alqur ’an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”. Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra :”..bagaimana kalian berdua (Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam??, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra) meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua ”. Maka kuhimbau saudara-saudaraku muslimin yg kumuliakan, hati yg jernih
menerima hal-hal baru yg baik adalah hati yg sehati dengan Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yg dijernihkan Allah swt, Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa ’urrasyidin, gigit dengan geraham yg maksudnya berpeganglah erat-erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka. Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin. IV. Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah 1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah (Imam Syafii) Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yg sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yg tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87) 2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah “Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi : “seburuk- buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yg dimaksud adalah hal- hal yg tidak sejalan dengan Alqur ’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya ” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yg baik dan bid ’ah yg sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87) 3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi) “Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat-buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yg baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yg buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yg baru adalah Bid’ah, dan semua yg Bid’ah adalah sesat”, sungguh yg dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid’ah yg tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105) Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yg wajib, Bid’ah yg mandub, bid’ah yg mubah, bid’ah yg makruh dan bid’ah yg haram. Bid’ah yg wajib contohnya adalah mencantumkan dalil-dalil pada ucapan ucapan yg menentang kemungkaran, contoh bid’ah yg mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yg Mubah adalah bermacam- macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yg umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155) 4. Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy rahimahullah Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush ”, (sesuatu yg umum yg ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yg Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya ” QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna
seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189). Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yg bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati-hati darimanakah
ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yg disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yg tak punya sanad, hanya menukil- menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa-fatwa para Imam?
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah. Perhatikan hadits beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukankah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yg membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yg tidak mencekik ummat, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal-hal yg baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yg tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat : “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM..dst, “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian ”, maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat
lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam. Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yg bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau menghalalkan apa-apa yg sudah diharamkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yg membuat buat hal baru yg berupa keburukan …dst”, inilah yg disebut Bid’ah Dhalalah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yg baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yg ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yg buruk (Bid’ah dhalalah). Mengenai pendapat yg mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yg dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas-jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in. II. Siapakah yg pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ketika terjadi pembunuhan besar- besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (yg hafal) Alqur ’an dan Ahli Alqur ’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra :
“Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur ’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur ’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam..??, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur ’an dan tulislah Alqur ’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung- gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur ’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur ’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768). Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yg baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur ’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah-pisah di hafalan sahabat, ada yg tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yg memulainya. Kita perhatikan hadits yg dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selepas melakukan shalat subuh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kami dan menyampaikan ceramah yg membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan- akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami.. ” maka rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yg berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa ’urrasyidin yg mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati-hatilah dengan hal-hal yg baru, sungguh semua yg Bid’ah itu adalah kesesatan ”. (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329). Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa ’urrasyidin, dan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperbolehkan hal yg baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa ’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yg baru, yg tidak dilakukan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu pembukuan Alqur ’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw. Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa ’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur ’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik-baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur ’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur ’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu. Demikian pula hal yg dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bn Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873). Siapakah yg salah dan tertuduh?, siapakah yg lebih mengerti larangan Bid’ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa ’urrasyidin ini tak faham makna Bid ’ah? III. Bid’ah Dhalalah Jelaslah sudah bahwa mereka yg menolak bid’ah hasanah inilah yg termasuk pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa ’urrasyidin, nah…diantaranya adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa ’urrasyidin, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah jelas-jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa ’urrasyidin, bagaimana Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana sunnah Khulafa ’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas hal inilah yg merupakan Bid’ah dhalalah, hal yg telah diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing, melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membukukannya, tak pula Khulafa ’urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan
lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun Bid’ah Hasanah. Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah,
namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul pula kini Al-Quran yang di
kasetkan, di CD kan, Program Al- Quran di handphone, Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah. Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya. Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila Al- Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan sejarah Islam ? Al-Quran masih bertebaran di tembok-
tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu- ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing- masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits- hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yg telah membolehkannya, beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yg berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti dimunculkan kelak, dan beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang hal-hal baru yg berupa keburukan (Bid ’ah dhalalah). Saudara-saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya adalah Mutiara Alqur ’an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”. Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra :”..bagaimana kalian berdua (Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam??, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra) meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua ”. Maka kuhimbau saudara-saudaraku muslimin yg kumuliakan, hati yg jernih
menerima hal-hal baru yg baik adalah hati yg sehati dengan Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yg dijernihkan Allah swt, Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa ’urrasyidin, gigit dengan geraham yg maksudnya berpeganglah erat-erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka. Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin. IV. Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah 1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah (Imam Syafii) Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yg sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yg tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87) 2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah “Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi : “seburuk- buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yg dimaksud adalah hal- hal yg tidak sejalan dengan Alqur ’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya ” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yg baik dan bid ’ah yg sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87) 3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi) “Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat-buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yg baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yg buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yg baru adalah Bid’ah, dan semua yg Bid’ah adalah sesat”, sungguh yg dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid’ah yg tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105) Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yg wajib, Bid’ah yg mandub, bid’ah yg mubah, bid’ah yg makruh dan bid’ah yg haram. Bid’ah yg wajib contohnya adalah mencantumkan dalil-dalil pada ucapan ucapan yg menentang kemungkaran, contoh bid’ah yg mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yg Mubah adalah bermacam- macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yg umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155) 4. Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy rahimahullah Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush ”, (sesuatu yg umum yg ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yg Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya ” QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna
seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189). Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yg bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati-hati darimanakah
ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yg disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yg tak punya sanad, hanya menukil- menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa-fatwa para Imam?
AZAB BAGI YANG MENINGGALKAN SHOLAT
Oleh : Muh.yasin fii sabilillah
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak
cucuku orang-orang yang tetap
mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.
(QS:Ibrahim:40) Barang siapa melalaikan sholat, Allah
SWT akan menyiksanya dengan 15
siksaan. Enam siksaan di dunia, tiga
siksaan ketika meninggal, tiga siksaan
di alam kubur, tiga siksaan saat
bertemu dengan Allah SWT. Ketika Malaikat Jibril turun dan
berjumpa dengan Rasulullah SAW, ia
berkata, “Wahai Muhammad, Allah tidak akan menerima puasa, zakat, haji,
sedekah, dan amal saleh seseorang
yang meninggalkan sholat. Ia dilaknat
di dalam Taurat, Injil, Zabur, dan Al-
Quran. Demi Allah, yang telah
mengutusmu sebagai nabi pembawa kebenaran, sesungguhnya orang yang
meninggalkan sholat, setiap hari
mendapat 1.000 laknat dan murka.
Para malaikat melaknatnya dari langit
pertama hingga ketujuh. Orang yang meninggalkan sholat tidak
memperoleh minuman dari telaga
surga, tidak mendapat syafaatmu, dan
tidak termasuk dalam umatmu. Ia tidak
berhak dijenguk ketika sakit,
diantarkan jenazahnya, diberi salam, diajak makan dan minum. Ia juga tidak
berhak memperoleh rahmat
Allah.Tempatnya kelak di dasar neraka
bersama orang-orang munafik,
siksanya akan dilipatgandakan, dan di
hari kiamat ketika dipanggil untuk diadili akan datang dengan tangan
terikat di lehernya. Para malaikat
memukulinya, pintu neraka jahanam
akandibukakan baginya, dan ia
melesat bagai anak panah ke
dalamnya, terjun dengan kepala terlebih dulu, menukik ke tempat
Qorun dan Haman di dasar neraka. Ketika ia menyuapkan makanan ke
dalam mulutnya, makanan itu berkata,
‘Wahai musuh Allah, semoga Allah melaknatmu, kamu memakan rezeki
Allah namun tidak menunaikan
kewajiban-kewajiban dari-Nya. ’ Ketahuilah, sesungguhnya bencana
yang paling dahsyat, perbuatan yang
paling buruk, dan aib yang paling nista
adalah kurangnya perhatian terhadap
sholat lima waktu, sholat Jumat, dan
sholat berjemaah. Padahal, semua itu ibadah-ibadah yang oleh Allah SWT
ditinggikan derajatnya, dan
dihapuskan dosa-dosa maksiat bagi
siapa saja yang menjalankannya. Orang yang meninggalkan sholat
karena urusan dunia akan celaka
nasibnya, berat siksanya, merugi
perdagangannya, besar musibahnya,
dan panjang penyesalannya. Ia dibenci
Allah, dan akan mati dalam keadaan tidak Islam, tinggal di neraka Jahim
atau kembali ke neraka Hawiyah. ” Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa meninggalkan sholat hingga
terlewat waktunya, lalu mengadanya,
ia akan disiksa di neraka selama satu
huqub (80 tahun).... Sedangkan
ukuran satu hari di akhirat adalah
1.000 tahun di dunia.” Demikian tertulis dalam kitab Majalisul Akbar.
Sementara dalam kitab Qurratul Uyun,
Abu Laits Samarqandi menulis sebuah
hadis, “Barang siapa meninggalkan sholat fardu dengan sengaja walaupun
satu sholat, namanya akan tertulis di
pintu neraka yang ia masuki. ” Ibnu Abbas berkata, ”Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, ‘Katakanlah, ya Allah, janganlah salah seorang dari
kami menjadi orang-orang yang
sengsara.’ Kemudian Rasulullah SAW bertanya, ‘Tahukah kamu siapakah mereka itu ?’ Para sahabat menjawab, ‘Mereka adalah orang yang meninggalkan sholat. Dalam Islam
mereka tidak akan mendapat bagian
apa pun’. Disebutkan dalam hadis lain, barang
siapa meninggalkan sholat tanpa
alasan yang dibenarkan syariat, pada
hari kiamat Allah SWT tidak akan
memedulikannya, bahkan Allah SWT
akan menyiksanya dengan azab yang pedih. Diriwayatkan, pada suatu hari
Rasulullah SAW berkata, ”Katakanlah, ya Allah, janganlah Engkau jadikan
seorang pun di antara kami celaka dan
diharamkan dari kebaikan. ”“Tahukah kalian siapakah orang yang celaka,
dan diharamkan dari kebaikan ?”“Siapa, ya, Rasulullah?” “Orang yang meninggalkan sholat, ” jawab Rasulullah. Dalam hadis yang
berhubungan dengan peristiwa Isra
Mi'raj, Rasulullah SAW mendapati suatu
kaum yang membenturkan batu ke
kepala mereka. Setiap kali kepala
mereka pecah, Allah memulihkannya seperti sedia kala. Demikianlah mereka
melakukannya berulang kali. Lalu,
beliau bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, siapakah mereka itu ?” “Mereka adalah orang-orang yang kepalanya merasa berat untuk
mengerjakan sholat, ” jawab Jibril. Diriwayatkan pula, di neraka Jahanam
ada suatu lembah bernama Wail.
Andaikan semua gunung di dunia
dijatuhkan ke dalamnya akan meleleh
karena panasnya yang dahsyat. Wail
adalah tempat orang-orang yang meremehkan dan melalaikan sholat,
kecuali jika mereka bertobat. Bagi mereka yang memelihara sholat
secara baik dan benar, Allah SWT akan
memuliakannya dengan lima hal,
dihindarkan dari kesempitan hidup,
diselamatkan dari siksa kubur,
dikaruniai kemampuan untuk menerima kitab catatan amal dengan
tangan kanan, dapat melewati
jembatan shirathal mustaqim secepat
kilat, dan dimasukkan ke dalam surga
tanpa hisab.
Dan barang siapa meremehkan atau melalaikan sholat, Allah SWT akan
menyiksanya dengan 15 siksaan. Enam
siksaan di dunia, tiga siksaan ketika
meninggal, tiga siksaan di alam kubur,
dan tiga siksaan saat bertemu dengan
Allah SAW. Adapun enam siksaan yang
ditimpakan di dunia adalah dicabut
keberkahan umurnya, dihapus tanda
kesalehan dari wajahnya (pancaran
kasih sayang terhadap sesama), tidak
diberi pahala oleh Allah semua amal yang dilakukannya, doanya tidak
diangkat ke langit, tidak memperoleh
bagian doa kaum salihin, dan tidak
beriman ketika roh dicabut dari
tubuhnya. Adapun tiga siksaan yang
ditimpakan saat meninggal dunia ialah mati secara hina, mati dalam keadaan
lapar, dan mati dalam keadaan haus.
Andai kata diberi minum sebanyak
lautan, ia tidak akan merasa puas. Sedangkan tiga siksaan yang didapat
dalam kubur ialah, kubur
mengimpitnya hingga tulang-
belulangnya berantakan, kuburnya
dibakar hingga sepanjang siang dan
malam tubuhnya berkelojotan menahan panas, tubuhnya diserahkan
kepada seekor ular bernama Asy-
Syujaul Aqra. Kedua mata ular itu
berupa api dan kukunya berupa besi,
kukunya sepanjang satu hari
perjalanan. ”Aku diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyiksamu, karena
engkau mengundurkan sholat Subuh
hingga terbit matahari, mengundurkan
sholat Zuhur hingga Asar,
mengundurkan sholat Asar hingga
Magrib, mengundurkan sholat Magrib hingga Isya, dan mengundurkan
sholat Isya hingga Subuh,” kata ular itu. Setiap kali ular itu memukul, tubuh
mayat tersebut melesak 70 hasta,
sekitar 3.000 meter, ke dalam bumi. Ia
disiksa dalam kubur hingga hari
kiamat. Di hari kiamat, di wajahnya
akan tertulis kalimat berikut: Wahai orang yang mengabaikan hak-hak
Allah, wahai orang yang dikhususkan
untuk menerima siksa Allah, di dunia
kau telah mengabaikan hak-hak Allah,
maka hari ini berputus asalah kamu
dari rahmat-Nya. Adapun tiga siksaan yang dilakukan
ketika bertemu dengan Allah SWT
adalah, pertama, ketika langit terbelah,
malaikat menemuinya, membawa
rantai sepanjang 70 hasta untuk
mengikat lehernya. Kemudian memasukkan rantai itu ke dalam mulut
dan mengeluarkannya dari duburnya.
Kadang kala ia mengeluarkannya dari
bagian depan atau belakang tubuhnya.
Malaikat itu berkata, ”Inilah balasan bagi orang yang mengabaikan
kewajiban-kewajiban yang telah
ditetapkan Allah. ” Ibnu Abas berkata, ”Andai kata satu mata rantai itu jatuh ke dunia, niscaya cukup untuk
membakarnya. ” Kedua, Allah tidak memandangnya.
Ketiga, Allah tidak menyucikannya, dan
ia memperoleh siksa yang amat pedih.
Demikianlah ancaman bagi orang-
orang yang sengaja melalaikan sholat.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada
orang yang bersegera menjalankan
segala perintah-Nya dan menjauhi apa
yang dilarang oleh-Nya. Amin..
Rasulullah SAW bersabda, “Sembahlah Allah seakan engkau melihat-Nya.
Apabila engkau tidak dapat melihat-
Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Bukhari dan Muslim)
wallahua'lam bishawab
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak
cucuku orang-orang yang tetap
mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.
(QS:Ibrahim:40) Barang siapa melalaikan sholat, Allah
SWT akan menyiksanya dengan 15
siksaan. Enam siksaan di dunia, tiga
siksaan ketika meninggal, tiga siksaan
di alam kubur, tiga siksaan saat
bertemu dengan Allah SWT. Ketika Malaikat Jibril turun dan
berjumpa dengan Rasulullah SAW, ia
berkata, “Wahai Muhammad, Allah tidak akan menerima puasa, zakat, haji,
sedekah, dan amal saleh seseorang
yang meninggalkan sholat. Ia dilaknat
di dalam Taurat, Injil, Zabur, dan Al-
Quran. Demi Allah, yang telah
mengutusmu sebagai nabi pembawa kebenaran, sesungguhnya orang yang
meninggalkan sholat, setiap hari
mendapat 1.000 laknat dan murka.
Para malaikat melaknatnya dari langit
pertama hingga ketujuh. Orang yang meninggalkan sholat tidak
memperoleh minuman dari telaga
surga, tidak mendapat syafaatmu, dan
tidak termasuk dalam umatmu. Ia tidak
berhak dijenguk ketika sakit,
diantarkan jenazahnya, diberi salam, diajak makan dan minum. Ia juga tidak
berhak memperoleh rahmat
Allah.Tempatnya kelak di dasar neraka
bersama orang-orang munafik,
siksanya akan dilipatgandakan, dan di
hari kiamat ketika dipanggil untuk diadili akan datang dengan tangan
terikat di lehernya. Para malaikat
memukulinya, pintu neraka jahanam
akandibukakan baginya, dan ia
melesat bagai anak panah ke
dalamnya, terjun dengan kepala terlebih dulu, menukik ke tempat
Qorun dan Haman di dasar neraka. Ketika ia menyuapkan makanan ke
dalam mulutnya, makanan itu berkata,
‘Wahai musuh Allah, semoga Allah melaknatmu, kamu memakan rezeki
Allah namun tidak menunaikan
kewajiban-kewajiban dari-Nya. ’ Ketahuilah, sesungguhnya bencana
yang paling dahsyat, perbuatan yang
paling buruk, dan aib yang paling nista
adalah kurangnya perhatian terhadap
sholat lima waktu, sholat Jumat, dan
sholat berjemaah. Padahal, semua itu ibadah-ibadah yang oleh Allah SWT
ditinggikan derajatnya, dan
dihapuskan dosa-dosa maksiat bagi
siapa saja yang menjalankannya. Orang yang meninggalkan sholat
karena urusan dunia akan celaka
nasibnya, berat siksanya, merugi
perdagangannya, besar musibahnya,
dan panjang penyesalannya. Ia dibenci
Allah, dan akan mati dalam keadaan tidak Islam, tinggal di neraka Jahim
atau kembali ke neraka Hawiyah. ” Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa meninggalkan sholat hingga
terlewat waktunya, lalu mengadanya,
ia akan disiksa di neraka selama satu
huqub (80 tahun).... Sedangkan
ukuran satu hari di akhirat adalah
1.000 tahun di dunia.” Demikian tertulis dalam kitab Majalisul Akbar.
Sementara dalam kitab Qurratul Uyun,
Abu Laits Samarqandi menulis sebuah
hadis, “Barang siapa meninggalkan sholat fardu dengan sengaja walaupun
satu sholat, namanya akan tertulis di
pintu neraka yang ia masuki. ” Ibnu Abbas berkata, ”Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, ‘Katakanlah, ya Allah, janganlah salah seorang dari
kami menjadi orang-orang yang
sengsara.’ Kemudian Rasulullah SAW bertanya, ‘Tahukah kamu siapakah mereka itu ?’ Para sahabat menjawab, ‘Mereka adalah orang yang meninggalkan sholat. Dalam Islam
mereka tidak akan mendapat bagian
apa pun’. Disebutkan dalam hadis lain, barang
siapa meninggalkan sholat tanpa
alasan yang dibenarkan syariat, pada
hari kiamat Allah SWT tidak akan
memedulikannya, bahkan Allah SWT
akan menyiksanya dengan azab yang pedih. Diriwayatkan, pada suatu hari
Rasulullah SAW berkata, ”Katakanlah, ya Allah, janganlah Engkau jadikan
seorang pun di antara kami celaka dan
diharamkan dari kebaikan. ”“Tahukah kalian siapakah orang yang celaka,
dan diharamkan dari kebaikan ?”“Siapa, ya, Rasulullah?” “Orang yang meninggalkan sholat, ” jawab Rasulullah. Dalam hadis yang
berhubungan dengan peristiwa Isra
Mi'raj, Rasulullah SAW mendapati suatu
kaum yang membenturkan batu ke
kepala mereka. Setiap kali kepala
mereka pecah, Allah memulihkannya seperti sedia kala. Demikianlah mereka
melakukannya berulang kali. Lalu,
beliau bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, siapakah mereka itu ?” “Mereka adalah orang-orang yang kepalanya merasa berat untuk
mengerjakan sholat, ” jawab Jibril. Diriwayatkan pula, di neraka Jahanam
ada suatu lembah bernama Wail.
Andaikan semua gunung di dunia
dijatuhkan ke dalamnya akan meleleh
karena panasnya yang dahsyat. Wail
adalah tempat orang-orang yang meremehkan dan melalaikan sholat,
kecuali jika mereka bertobat. Bagi mereka yang memelihara sholat
secara baik dan benar, Allah SWT akan
memuliakannya dengan lima hal,
dihindarkan dari kesempitan hidup,
diselamatkan dari siksa kubur,
dikaruniai kemampuan untuk menerima kitab catatan amal dengan
tangan kanan, dapat melewati
jembatan shirathal mustaqim secepat
kilat, dan dimasukkan ke dalam surga
tanpa hisab.
Dan barang siapa meremehkan atau melalaikan sholat, Allah SWT akan
menyiksanya dengan 15 siksaan. Enam
siksaan di dunia, tiga siksaan ketika
meninggal, tiga siksaan di alam kubur,
dan tiga siksaan saat bertemu dengan
Allah SAW. Adapun enam siksaan yang
ditimpakan di dunia adalah dicabut
keberkahan umurnya, dihapus tanda
kesalehan dari wajahnya (pancaran
kasih sayang terhadap sesama), tidak
diberi pahala oleh Allah semua amal yang dilakukannya, doanya tidak
diangkat ke langit, tidak memperoleh
bagian doa kaum salihin, dan tidak
beriman ketika roh dicabut dari
tubuhnya. Adapun tiga siksaan yang
ditimpakan saat meninggal dunia ialah mati secara hina, mati dalam keadaan
lapar, dan mati dalam keadaan haus.
Andai kata diberi minum sebanyak
lautan, ia tidak akan merasa puas. Sedangkan tiga siksaan yang didapat
dalam kubur ialah, kubur
mengimpitnya hingga tulang-
belulangnya berantakan, kuburnya
dibakar hingga sepanjang siang dan
malam tubuhnya berkelojotan menahan panas, tubuhnya diserahkan
kepada seekor ular bernama Asy-
Syujaul Aqra. Kedua mata ular itu
berupa api dan kukunya berupa besi,
kukunya sepanjang satu hari
perjalanan. ”Aku diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyiksamu, karena
engkau mengundurkan sholat Subuh
hingga terbit matahari, mengundurkan
sholat Zuhur hingga Asar,
mengundurkan sholat Asar hingga
Magrib, mengundurkan sholat Magrib hingga Isya, dan mengundurkan
sholat Isya hingga Subuh,” kata ular itu. Setiap kali ular itu memukul, tubuh
mayat tersebut melesak 70 hasta,
sekitar 3.000 meter, ke dalam bumi. Ia
disiksa dalam kubur hingga hari
kiamat. Di hari kiamat, di wajahnya
akan tertulis kalimat berikut: Wahai orang yang mengabaikan hak-hak
Allah, wahai orang yang dikhususkan
untuk menerima siksa Allah, di dunia
kau telah mengabaikan hak-hak Allah,
maka hari ini berputus asalah kamu
dari rahmat-Nya. Adapun tiga siksaan yang dilakukan
ketika bertemu dengan Allah SWT
adalah, pertama, ketika langit terbelah,
malaikat menemuinya, membawa
rantai sepanjang 70 hasta untuk
mengikat lehernya. Kemudian memasukkan rantai itu ke dalam mulut
dan mengeluarkannya dari duburnya.
Kadang kala ia mengeluarkannya dari
bagian depan atau belakang tubuhnya.
Malaikat itu berkata, ”Inilah balasan bagi orang yang mengabaikan
kewajiban-kewajiban yang telah
ditetapkan Allah. ” Ibnu Abas berkata, ”Andai kata satu mata rantai itu jatuh ke dunia, niscaya cukup untuk
membakarnya. ” Kedua, Allah tidak memandangnya.
Ketiga, Allah tidak menyucikannya, dan
ia memperoleh siksa yang amat pedih.
Demikianlah ancaman bagi orang-
orang yang sengaja melalaikan sholat.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada
orang yang bersegera menjalankan
segala perintah-Nya dan menjauhi apa
yang dilarang oleh-Nya. Amin..
Rasulullah SAW bersabda, “Sembahlah Allah seakan engkau melihat-Nya.
Apabila engkau tidak dapat melihat-
Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Bukhari dan Muslim)
wallahua'lam bishawab
Langganan:
Postingan (Atom)