Diriwayatkan
bahwa
seorang
utusan datang dari negeri Roma ke Madinah pada masa kekhalifahan Abu Bakar. Di antara mereka terdapat seorang pastor Nasrani. Pastor itu datang ke masjid Rasulullah Saw sambil membawa kantong yang berisi emas dan perak. Di dalam masjid itu dijumpai ada Khalifah Abu Bakar dan beberapa sahabat dari Anshar dan Muhajirin. Pastor itu masuk dan mengucapkan salam serta melihat dengan seksama wajah para sahabat. Lalu dia berkata, “Mana di antara kalian yang menjadi khalifah Rasulullah dan penjaga agama kalian ?” Lalu ditunjuklah Khalifah Abu Bakar. Lalu Pastor itu mendekati Khalifah Abu Bakar dan berkata, “Wahai tuan, siapa namamu?” Khalifah Abu Bakar menjawab, “Atiq. ” Pastor bertanya, “Kemudian apa lagi ?” Khalifah Abu Bakar menjawab, “Shiddiq.” Pastor bertanya, “Kemudian apa lagi ?” Khalifah Abu Bakar menjawab, “Aku tidak mengetahui nama selain itu. ” Pastor berkata, “Anda bukan yang aku tuju.” Khalifah Abu Bakar bertanya, “Apa keperluanmu ?” Pastor menjawab, “Aku dari negeri Roma. Aku datang membawa kantung berisi emas dan perak. Aku ingin bertanya kepada penjaga umat ini tentang beberapa masalah. Jika dia dapat menjawab maka aku akan masuk Islam dan mentaati perintahnya. Dan ini hartaku di hadapan kalian aku berikan. tetapi jika dia tidak mampu menjawabnya maka aku akan kembali dan tidak akan masuk Islam. ” Khalifah Abu Bakar berkata, “Bertanyalah sesukamu. ” Pastor berkata, “Demi Allah. Aku tidak akan berbicara sebelum Anda memberiku keamanan dari kemarahanmu dan kemarahan teman-temanmu.” Khalifah Abu Bakar berkata, “Kamu aman dan tidak apa-apa. Katakanlah apa yang kamu ingin-kan !” Pastor berkata, “Beritahukan kepadaku ten tang sesuatu yang tidak Allah miliki, sesuatu yang tidak ada pada Allah dan sesuatu yang tidak diketahui Allah. ” Khalifah Abu Bakar gemetar dan tidak mampu menjawab. Kemudian pastor itu bangun hendak ke luar. Sebelum pastor itu berlalu, Khalifah Abu Bakar berkata, “Wahai musuh Allah, sekiranya tidak ada janji tadi, niscaya aku basahi tanah ini dengan darahmu.” Kemudian Salman al-Farisi bangun dan pergi menjumpai Ali bin Abi Thalib
yang tengah duduk bersama al-Hasan dan al-Husain di tengah rumah. Salman menceritakan kejadian yang baru saja terjadi kepada Ali. Lalu Ali bin Abi Thalib bangun dan pergi ber sama al-Hasan dan al-Husain sehingga sampai di masjid. Ketika orang-orang melihat Ali mereka bertakbir dan bertahmid. Mereka segera mendekati Ali. Lalu Ali masuk dan duduk. Kemudian Khalifah Abu Bakar berkata, “Wahai pastor, bertanyalah kepadanya. Dialah temanmu dan yang
kamu cari. ” Kemudian pastor itu menghadap Ali dan berkata, “Wahai lelaki, siapa namamu?” Ali menjawab, “Namaku dikalangan Yahudi adalah Ilyan dan dikalangan Nasrani adalah Iliya. Sedangkan menurut ayahku namaku adalah Ali dan menurut ibuku adalah Haidar. ” Pastor bertanya, “Apa hubunganmu dengan nabimu?” Ali menjawab, “Dia adalah saudaraku, mertuaku dan Putra pamanku. ” Pastor herkata, “Kamu adalah temanku demi Tuhannya Isa. Beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang tidak dimiliki Allah, sesuatu yang tidak ada pada Allah dan sesuatu yang tidak diketahui Allah ?” Ali menjawab, “Kamu telah menemui seorang ahli. Yang tidak dimiliki Allah adalah bahwa Allah Mahaesa, tidak memiliki pasangan dan anak. Yang tidak ada pada Allah adalah perbuatan zhalim terhadap siapa pun (apa pun). Dan yang tidak diketahui Allah adalah Allah tidak mengetahui adanya sekutu bagiNya dalam kerajaan-Nya. ” Pastor itu bangun lalu memegang kepala Ali dan menciumi antara kedua matanya, seraya berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah dan engkau adalah pengganti dan penjaga umat ini. Engkau adalah sumber agama dan hikmah. Aku telah membaca dalam Taurat namamu adalah Ilyan, dalam Injil adalah Iliya. Aku yakin bahwa kamu adalah pewaris Nabi dan pemimpin. Kamu lebih pantas di tempat ini dari yang lain. Beritahukan kepadaku bagaimana keadaanmu clan keadaan kaummu ?” Sayyidina All menjawab pertanyaan itu
dengan sebuah penjelasan. Lalu pastor itu bangun dan menyerahkan seluruh hartanya kepada Sayyidina Ali, kemudian kembali ke kaumnya dalam keadaan Muslim. [www.wisdoms4all.com]
Sabtu, 05 Maret 2011
Dua Waktu Tidur YangMakruh dalam ISLAM(sebaiknya jangan tidurdi waktu-waktu ini)
Tidur menjadi sesuatu yang vital dalam kehidupan kita. Karena dengan tidur, kita menjadi segar kembali. Tubuh yang capek, urat-urat yang mengerut, dan otot-otot yang lelah dipakai beraktivitas seharian, bisa meremaja lagi dengan melakukan aktifitas yang namanya tidur. Dalam Islam, semua perbuatan bisa menjadi ibadah. Begitu juga dengan tidur, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dalam Al-Quran, Allah SWT pun menyuruh kita untuk tidur. Namun tidak selamanya tidur itu baik, dalam waktu 24 jam ternyata ada dua waktu tidur yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk tidak dilakukan. 1. Tidur di Pagi Hari Setelah Shalat Shubuh Dari Sakhr bin Wadi’ah Al-Ghamidi radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Ya Allah, berkahilah bagi ummatku pada pagi harinya” (HR. Abu dawud 3/517, Ibnu Majah 2/752, Ath- Thayalisi halaman 175, dan Ibnu Hibban 7/122 dengan sanad shahih). Ibnul-Qayyim telah berkata tentang keutamaan awal hari dan makruhnya menyia-nyiakan waktu dengan tidur, dimana beliau berkata : “Termasuk hal yang makruh bagi mereka – yaitu orang shalih – adalah tidur antara shalat shubuh dengan terbitnya matahari, karena waktu itu adalah waktu yang sangat berharga sekali. Terdapat kebiasaan yang menarik dan agung sekali mengenai pemanfaatan waktu tersebut dari orang-orang shalih, sampai-sampai walaupun mereka berjalan sepanjang malam mereka tidak toleransi untuk istirahat pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Karena ia adalah awal hari dan sekaligus sebagai kuncinya. Ia merupakan waktu turunnya rizki, adanya pembagian, turunnya keberkahan, dan darinya hari itu bergulir dan mengembalikan segala kejadian hari itu atas kejadian saat yang mahal tersebut. Maka seyogyanya tidurnya pada saat seperti
itu seperti tidurnya orang yang terpaksa ” (Madaarijus-Saalikiin 1/459). 2. Tidur Sebelum Shalat Isya ’ Diriwayatkan dari Abu Barzah radlyallaahu ‘anhu : ”Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membenci tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya” (HR. Bukhari 568 dan Muslim 647). Mayoritas hadits-hadits Nabi menerangkan makruhnya tidur sebelum shalat isya’. Oleh sebab itu At- Tirmidzi (1/314) mengatakan : “Mayoritas ahli ilmu menyatakan makruh hukumnya tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya. Dan sebagian ulama’ lainnya memberi keringanan dalam masalah ini. Abdullah bin Mubarak mengatakan : “Kebanyakan hadits- hadits Nabi melarangnya, sebagian ulama membolehkan tidur sebelum shalat isya’ khusus di bulan Ramadlan saja.” Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul-Baari (2/49) : “Di antara para ulama melihat adanya keringanan (yaitu) mengecualikan bila ada orang yang akan membangunkannya untuk shalat, atau diketahui dari kebiasaannya bahwa tidurnya tidak sampai melewatkan waktu shalat. Pendapat ini juga tepat, karena kita katakan bahwa alasan larangan tersebut adalah kekhawatiran terlewatnya waktu shalat. ”
itu seperti tidurnya orang yang terpaksa ” (Madaarijus-Saalikiin 1/459). 2. Tidur Sebelum Shalat Isya ’ Diriwayatkan dari Abu Barzah radlyallaahu ‘anhu : ”Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membenci tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya” (HR. Bukhari 568 dan Muslim 647). Mayoritas hadits-hadits Nabi menerangkan makruhnya tidur sebelum shalat isya’. Oleh sebab itu At- Tirmidzi (1/314) mengatakan : “Mayoritas ahli ilmu menyatakan makruh hukumnya tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya. Dan sebagian ulama’ lainnya memberi keringanan dalam masalah ini. Abdullah bin Mubarak mengatakan : “Kebanyakan hadits- hadits Nabi melarangnya, sebagian ulama membolehkan tidur sebelum shalat isya’ khusus di bulan Ramadlan saja.” Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul-Baari (2/49) : “Di antara para ulama melihat adanya keringanan (yaitu) mengecualikan bila ada orang yang akan membangunkannya untuk shalat, atau diketahui dari kebiasaannya bahwa tidurnya tidak sampai melewatkan waktu shalat. Pendapat ini juga tepat, karena kita katakan bahwa alasan larangan tersebut adalah kekhawatiran terlewatnya waktu shalat. ”
Jumat, 04 Maret 2011
MENUTUP 7 PINTU NERAKA
“Jahannam itu mempunyai 7 pintu. Tiap-tiap pintu (telah
ditetapkan) untuk golongan tertentu
dari mereka ”. (QS Al-Hijr :44). Yazid Ar raqqasyi dari Anas bin Malik
ra. berkata: Jibril datang kepada
rosulullah pada waktu yang ia tidak
biasa datang dalam keadaan berubah
mukanya, maka ditanya oleh
Rosululah saw: “Mengapa aku melihat kau berubah muka ?” Jawabnya: “Ya Muhammad, aku datang kepadamu di
saat Allah menyuruh supaya
dikobarkan penyalaan api neraka,
maka tidak layak bagi orang yang
mengetahui bahwa neraka Jahannam
itu benar, siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk
bersuka- suka sebelum ia merasa
aman daripadanya”. Lalu Rosullulah saw bersabda:
“Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahannam”. Jawabnya: “Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka
dinyalakan selama 1000 tahun
sehingga merah, kemudian
dilanjutkan 1000 tahun sehingga
putih, kemudian 1000 tahun sehingga
hitam, lalu menjadi hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya.
Demi Allah, andaikan terbuka sebesar
lubang jarum niscaya akan dapat
membakar semua penduduk dunia
karena panasnya. Demi Allah,
andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi
niscaya akan mati penduduk bumi
karena panas dan basinya. Demi Allah, andaikan satu
pergelangan dari rantai yang disebut
dalam Al-Quran itu diletakkan di atas
bukit, niscaya akan cair sampai ke
bawah bumi yg ke 7. Demi Allah,
andaikan seorang di ujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang-
orang yang di ujung timur karena
sangat panasnya. Jahannam itu
sangat dalam, perhiasannya besi dan
minumannya air panas bercampur
nanah, dan pakaiannya adalah potongan- potongan api. Api neraka
itu ada 7 pintu, jarak antar pintu
sejauh 70 tahun, dan tiap pintu
panasnya 70 kali dari pintu yg lain ”. MasyaAllah … Dikatakan dalam Hadith Qudsi:
‘Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat sedangkan kamu
tak dapat bertahan dengan panasnya
terik matahariKu. Tahukah kamu
bahwa neraka jahanamKu itu:
mempunyai 7 tingkat.
Setiap tingkat mempunyai 70.000 daerah.
Setiap daerah mempunyai 70.000
kampung.
Setiap kampung mempunyai 70.000
rumah.
Setiap rumah mempunyai 70.000 bilik. Setiap bilik mempunyai 70.000 kotak.
Setiap kotak mempunyai 70.000
batang pokok zaqqum.
Di bawah setiap pokok zaqqum
mempunyai 70.000 ekor ular.
Di dalam mulut setiap ular yang panjangnya 70 hasta mengandung
lautan racun yang hitam pekat. Dan di
bawah setiap pokok zaqqum terdapat
70.000 rantai. Setiap rantai diseret
oleh 70.000 malaikat ’. ‘Api yang ada sekarang ini, yang digunakan bani Adam untuk
membakar hanyalah 1/70 dari api
neraka jahannam ’ (HR. Bukhari- Muslim). "Apabila neraka itu melihat
mereka dari tempat yang jauh, mereka
akan mendengar kegeraman dan
suara nyalanya". (QS. Al-Furqan: 11). "Apabila mereka dilemparkan ke
dalamnya, mereka mendengar suara
neraka yang mengerikan, sedang
neraka itu menggelegak, hampir-
hampir (neraka) itu terpecah lantaran
marah". (QS. Al-Mulk: 7). Air di jahannam adalah hamim (air panas
yang menggelegak), anginnya adalah
samum (angin yang amat panas),
sedang naungannya adalah yahmum
(naungan berupa potongan-
potongan asap hitam yang sangat panas). (Lihat QS. Al-Waqi'ah: 41-44). Rasulullah SAW meminta Jibril untuk
menjelaskan satu per satu mengenai
pintu-pintu neraka tersebut.
"Pintu pertama dinamakan Hawiyah
(arti harfiahnya: jurang), yang
diperuntukkan bagi kaum munafik dan kafir.
Pintu ke 2 dinamakan Jahim, yang
diperuntukkan bagi kaum musyrikin.
Pintu ke 3 dinamakan Saqar, yang
diperuntukkan bagi kaum shobiin
atau penyembah api. Pintu ke 4 dinamakan Ladha,
diperuntukkan bagi iblis dan para
pengikutnya.
Pintu ke 5 dinamakan Huthomah
(artinya: menghancurkan hingga
berkeping-keping), diperuntukkan bagi kaum Yahudi.
Pintu ke 6 dinamakan Sa'ir (arti
harfiahnya: api yang menyala-nyala),
diperuntukkan bagi kaum kafir. Rasulullah bertanya: "Bagaimana
dengan pintu ke 7.?" Sejenak Malaikat
Jibril seperti ragu untuk
menyampaikan siapa yang akan
menghuni pintu ketujuh. Akan tetapi
Rasulullah SAW mendesaknya sehingga akhirnya Malaikat Jibril
mengatakan, "Pintu ke 7
diperuntukkan bagi umatmu yang
berdosa besar dan meninggal
sebelum mereka mengucapkan kata
taubat". Mendengar penjelasan yang
mengagetkan itu, Rasulullah SAW pun
langsung pingsan, Jibril lalu
meletakkan kepala Rosulullah saw di
pangkuannya sehingga sadar kembali
dan sesudah sadar beliau bersabda: “Ya Jibril, sungguh besar kerisauan dan sangat sedihku, apakah ada
seorang dari umat ku yang akan
masuk ke dalam neraka ?” Jawabnya: “Ya, yaitu orang yg berdosa besar dari umatmu.” Nabi Muhammad lalu menangis, Jibrail
pun ikut menangis. Kemudian nabi
saw langsung masuk ke dalam
rumahnya dan tidak keluar kecuali
untuk sembahyang. Setelah kejadian
itu, beliau tidak berbicara dengan siapapun selama beberapa hari, dan
ketika sholat beliau pun menangis
dengan tangisan yang sangat
memilukan. Karena tangisannya ini,
semua sahabat ikut menangis,
kemudian mereka bertanya: “Mengapa beliau begitu berduka ?” Namun beliau tidak menjawab. Sayyidah Fathimah az-Zahra melihat
beliau karena tangisan yang tiada
henti. Wajah Nabi menjadi pucat dan
pipinya menjadi cekung. Sebagaimana
yang diceritakan oleh Kasyfi, bahwa
Bumi tempat beliau duduk telah basah dengan air mata. Sayyidah Fathimah as
berkata kepada ayahnya, semoga
hidupku menjadi tebusanmu,
“Mengapa Ayahanda menangis ?” Nabi saw menjawab: “Ya Fathimah, mengapa aku tidak boleh menangis.?
Karena sesungguhnya Jibril telah
menyampaikan kepadaku sebuah
ayat yang menggambarkan kondisi
neraka. Neraka itu mempunyai 7
pintu, dan pintu- pintunya mempunyai 70.000 celah api. Pada setiap celah
ada 70.000 peti mati dari api, dan
setiap peti berisi 70.000 jenis azab”. Setelah mendengar ucapan tsb, para
sahabat Nabi menangis dan meratap,
“Derita perjalanan alam akhirat sangat jauh, sedangkan perbekalan sangat
sedikit ”. Sementara sebagian lagi menangis dan meratap, “Seandainya ibuku tidak melahirkanku, maka aku
tidak akan mendengar tentang azab
ini”. Ammar bin Yasir berkata, “Andaikan aku seekor burung, tentu aku tidak akan ditahan (di hari
kiamat) untuk di hisab ”. Bilal yang tidak hadir di sana datang kepada
Salman dan bertanya sebab- sebab
duka cita itu. Salman menjawab:
“Celakalah engkau dan aku, Sesungguhnya kita akan mendapat
pakaian dari api, sebagai pengganti
dari pakaian katun ini dan kita akan
diberi makan dengan zaqqum (pohon
beracun di Neraka). MasyaAllah.. Sungguh dialog yang
sangat mengerikan. Para sahabat
meratap dan menangis, bahkan Nabi
dan malaikat Jibril pun menangis saat
mengetahui tentang dasyatnya siksa
di neraka. Bagaimana dengan kita..? Astagfirullah hal ’adzim.. Masihkah kita memandang remeh ancaman siksa
neraka? Atau membiarkan diri kita ini
lalai dan sibuk dengan kesenangan
dunia yang sementara? Semoga artikel ini dapat membuka
tirai kehidupan yang sebenarnya.
Memberikan pandangan lebih luas
kepada kita dalam menyikapi dan
menjalani kehidupan. Membuat kita
menjadi orang- orang cerdas, yang berpikir jauh ke depan. Yang tidak
hanya mengejar Dunia saja, tapi juga
menggapai urusan Akhirat. Amiin
ditetapkan) untuk golongan tertentu
dari mereka ”. (QS Al-Hijr :44). Yazid Ar raqqasyi dari Anas bin Malik
ra. berkata: Jibril datang kepada
rosulullah pada waktu yang ia tidak
biasa datang dalam keadaan berubah
mukanya, maka ditanya oleh
Rosululah saw: “Mengapa aku melihat kau berubah muka ?” Jawabnya: “Ya Muhammad, aku datang kepadamu di
saat Allah menyuruh supaya
dikobarkan penyalaan api neraka,
maka tidak layak bagi orang yang
mengetahui bahwa neraka Jahannam
itu benar, siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk
bersuka- suka sebelum ia merasa
aman daripadanya”. Lalu Rosullulah saw bersabda:
“Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahannam”. Jawabnya: “Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka
dinyalakan selama 1000 tahun
sehingga merah, kemudian
dilanjutkan 1000 tahun sehingga
putih, kemudian 1000 tahun sehingga
hitam, lalu menjadi hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya.
Demi Allah, andaikan terbuka sebesar
lubang jarum niscaya akan dapat
membakar semua penduduk dunia
karena panasnya. Demi Allah,
andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi
niscaya akan mati penduduk bumi
karena panas dan basinya. Demi Allah, andaikan satu
pergelangan dari rantai yang disebut
dalam Al-Quran itu diletakkan di atas
bukit, niscaya akan cair sampai ke
bawah bumi yg ke 7. Demi Allah,
andaikan seorang di ujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang-
orang yang di ujung timur karena
sangat panasnya. Jahannam itu
sangat dalam, perhiasannya besi dan
minumannya air panas bercampur
nanah, dan pakaiannya adalah potongan- potongan api. Api neraka
itu ada 7 pintu, jarak antar pintu
sejauh 70 tahun, dan tiap pintu
panasnya 70 kali dari pintu yg lain ”. MasyaAllah … Dikatakan dalam Hadith Qudsi:
‘Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat sedangkan kamu
tak dapat bertahan dengan panasnya
terik matahariKu. Tahukah kamu
bahwa neraka jahanamKu itu:
mempunyai 7 tingkat.
Setiap tingkat mempunyai 70.000 daerah.
Setiap daerah mempunyai 70.000
kampung.
Setiap kampung mempunyai 70.000
rumah.
Setiap rumah mempunyai 70.000 bilik. Setiap bilik mempunyai 70.000 kotak.
Setiap kotak mempunyai 70.000
batang pokok zaqqum.
Di bawah setiap pokok zaqqum
mempunyai 70.000 ekor ular.
Di dalam mulut setiap ular yang panjangnya 70 hasta mengandung
lautan racun yang hitam pekat. Dan di
bawah setiap pokok zaqqum terdapat
70.000 rantai. Setiap rantai diseret
oleh 70.000 malaikat ’. ‘Api yang ada sekarang ini, yang digunakan bani Adam untuk
membakar hanyalah 1/70 dari api
neraka jahannam ’ (HR. Bukhari- Muslim). "Apabila neraka itu melihat
mereka dari tempat yang jauh, mereka
akan mendengar kegeraman dan
suara nyalanya". (QS. Al-Furqan: 11). "Apabila mereka dilemparkan ke
dalamnya, mereka mendengar suara
neraka yang mengerikan, sedang
neraka itu menggelegak, hampir-
hampir (neraka) itu terpecah lantaran
marah". (QS. Al-Mulk: 7). Air di jahannam adalah hamim (air panas
yang menggelegak), anginnya adalah
samum (angin yang amat panas),
sedang naungannya adalah yahmum
(naungan berupa potongan-
potongan asap hitam yang sangat panas). (Lihat QS. Al-Waqi'ah: 41-44). Rasulullah SAW meminta Jibril untuk
menjelaskan satu per satu mengenai
pintu-pintu neraka tersebut.
"Pintu pertama dinamakan Hawiyah
(arti harfiahnya: jurang), yang
diperuntukkan bagi kaum munafik dan kafir.
Pintu ke 2 dinamakan Jahim, yang
diperuntukkan bagi kaum musyrikin.
Pintu ke 3 dinamakan Saqar, yang
diperuntukkan bagi kaum shobiin
atau penyembah api. Pintu ke 4 dinamakan Ladha,
diperuntukkan bagi iblis dan para
pengikutnya.
Pintu ke 5 dinamakan Huthomah
(artinya: menghancurkan hingga
berkeping-keping), diperuntukkan bagi kaum Yahudi.
Pintu ke 6 dinamakan Sa'ir (arti
harfiahnya: api yang menyala-nyala),
diperuntukkan bagi kaum kafir. Rasulullah bertanya: "Bagaimana
dengan pintu ke 7.?" Sejenak Malaikat
Jibril seperti ragu untuk
menyampaikan siapa yang akan
menghuni pintu ketujuh. Akan tetapi
Rasulullah SAW mendesaknya sehingga akhirnya Malaikat Jibril
mengatakan, "Pintu ke 7
diperuntukkan bagi umatmu yang
berdosa besar dan meninggal
sebelum mereka mengucapkan kata
taubat". Mendengar penjelasan yang
mengagetkan itu, Rasulullah SAW pun
langsung pingsan, Jibril lalu
meletakkan kepala Rosulullah saw di
pangkuannya sehingga sadar kembali
dan sesudah sadar beliau bersabda: “Ya Jibril, sungguh besar kerisauan dan sangat sedihku, apakah ada
seorang dari umat ku yang akan
masuk ke dalam neraka ?” Jawabnya: “Ya, yaitu orang yg berdosa besar dari umatmu.” Nabi Muhammad lalu menangis, Jibrail
pun ikut menangis. Kemudian nabi
saw langsung masuk ke dalam
rumahnya dan tidak keluar kecuali
untuk sembahyang. Setelah kejadian
itu, beliau tidak berbicara dengan siapapun selama beberapa hari, dan
ketika sholat beliau pun menangis
dengan tangisan yang sangat
memilukan. Karena tangisannya ini,
semua sahabat ikut menangis,
kemudian mereka bertanya: “Mengapa beliau begitu berduka ?” Namun beliau tidak menjawab. Sayyidah Fathimah az-Zahra melihat
beliau karena tangisan yang tiada
henti. Wajah Nabi menjadi pucat dan
pipinya menjadi cekung. Sebagaimana
yang diceritakan oleh Kasyfi, bahwa
Bumi tempat beliau duduk telah basah dengan air mata. Sayyidah Fathimah as
berkata kepada ayahnya, semoga
hidupku menjadi tebusanmu,
“Mengapa Ayahanda menangis ?” Nabi saw menjawab: “Ya Fathimah, mengapa aku tidak boleh menangis.?
Karena sesungguhnya Jibril telah
menyampaikan kepadaku sebuah
ayat yang menggambarkan kondisi
neraka. Neraka itu mempunyai 7
pintu, dan pintu- pintunya mempunyai 70.000 celah api. Pada setiap celah
ada 70.000 peti mati dari api, dan
setiap peti berisi 70.000 jenis azab”. Setelah mendengar ucapan tsb, para
sahabat Nabi menangis dan meratap,
“Derita perjalanan alam akhirat sangat jauh, sedangkan perbekalan sangat
sedikit ”. Sementara sebagian lagi menangis dan meratap, “Seandainya ibuku tidak melahirkanku, maka aku
tidak akan mendengar tentang azab
ini”. Ammar bin Yasir berkata, “Andaikan aku seekor burung, tentu aku tidak akan ditahan (di hari
kiamat) untuk di hisab ”. Bilal yang tidak hadir di sana datang kepada
Salman dan bertanya sebab- sebab
duka cita itu. Salman menjawab:
“Celakalah engkau dan aku, Sesungguhnya kita akan mendapat
pakaian dari api, sebagai pengganti
dari pakaian katun ini dan kita akan
diberi makan dengan zaqqum (pohon
beracun di Neraka). MasyaAllah.. Sungguh dialog yang
sangat mengerikan. Para sahabat
meratap dan menangis, bahkan Nabi
dan malaikat Jibril pun menangis saat
mengetahui tentang dasyatnya siksa
di neraka. Bagaimana dengan kita..? Astagfirullah hal ’adzim.. Masihkah kita memandang remeh ancaman siksa
neraka? Atau membiarkan diri kita ini
lalai dan sibuk dengan kesenangan
dunia yang sementara? Semoga artikel ini dapat membuka
tirai kehidupan yang sebenarnya.
Memberikan pandangan lebih luas
kepada kita dalam menyikapi dan
menjalani kehidupan. Membuat kita
menjadi orang- orang cerdas, yang berpikir jauh ke depan. Yang tidak
hanya mengejar Dunia saja, tapi juga
menggapai urusan Akhirat. Amiin
Kamis, 03 Maret 2011
10 HAL
Oleh : Muh.yasin fii sabilillah
Seorang sholihin berkata, “Aku memperhatikan dan memikirkan dari pintu mana
syetan masuk ke dalam diri
manusia. Ternyata ia masuk
melalui sepuluh pintu :
Pertama, Serakah dan buruk
sangka. Maka aku melawannya
dengan sifat qona’ah (merasa cukup dengan apa yang ada) dan
sikap percaya (yakin).
Kedua, cinta kehidupan dan
panjang cita-cita. Maka aku
melawannya dengan rasa takut
maut menjemput secara tiba-tiba.
Ketiga, ingin hidup santai dan serba
nikmat. Maka aku melawannya
dengan hilangnya kenikmatan dan
perhitungan yang pahit.
Keempat, ujub (bangga diri). Maka
aku melawannya dengan
kesadaran bahwa semua yang ada
adalah anugerah dari Allah dan
dengan rasa takut akan akibat
yang akan terjadi.
Kelima, Meremehkan dan kurang
menghormati orang lain. Maka aku
melawannya dengan mengetahui
hak dan kehormatan mereka.
Keenam, dengki. Maka aku
melawannya dengan qona ’ah dan puas dengan apa yang Allah
bagikan kepada makhluk-Nya.
Ketujuh, riya dan senang dipuji
orang. Maka aku melawannya
dengan ikhlas.
Kedelapan, kikir. Maka aku
melawannya dengan kesadaran
akan binasanya apa-apa yang ada
di tangan makhluk dan kekalnya
apa-apa yang ada di sisi Allah swt.
Kesembilan, sombong. Maka aku
melawannya dengan sifat tawadlu
(rendah hati).
Kesepuluh, tamak. Maka aku
melawannya dengan tsiqoh
(yakin) terhadap apa yang ada
pada sisi Allah dan zuhud
(meninggalkan apa yang ada pada
manusia).
Seorang sholihin berkata, “Aku memperhatikan dan memikirkan dari pintu mana
syetan masuk ke dalam diri
manusia. Ternyata ia masuk
melalui sepuluh pintu :
Pertama, Serakah dan buruk
sangka. Maka aku melawannya
dengan sifat qona’ah (merasa cukup dengan apa yang ada) dan
sikap percaya (yakin).
Kedua, cinta kehidupan dan
panjang cita-cita. Maka aku
melawannya dengan rasa takut
maut menjemput secara tiba-tiba.
Ketiga, ingin hidup santai dan serba
nikmat. Maka aku melawannya
dengan hilangnya kenikmatan dan
perhitungan yang pahit.
Keempat, ujub (bangga diri). Maka
aku melawannya dengan
kesadaran bahwa semua yang ada
adalah anugerah dari Allah dan
dengan rasa takut akan akibat
yang akan terjadi.
Kelima, Meremehkan dan kurang
menghormati orang lain. Maka aku
melawannya dengan mengetahui
hak dan kehormatan mereka.
Keenam, dengki. Maka aku
melawannya dengan qona ’ah dan puas dengan apa yang Allah
bagikan kepada makhluk-Nya.
Ketujuh, riya dan senang dipuji
orang. Maka aku melawannya
dengan ikhlas.
Kedelapan, kikir. Maka aku
melawannya dengan kesadaran
akan binasanya apa-apa yang ada
di tangan makhluk dan kekalnya
apa-apa yang ada di sisi Allah swt.
Kesembilan, sombong. Maka aku
melawannya dengan sifat tawadlu
(rendah hati).
Kesepuluh, tamak. Maka aku
melawannya dengan tsiqoh
(yakin) terhadap apa yang ada
pada sisi Allah dan zuhud
(meninggalkan apa yang ada pada
manusia).
BANGKITNYA KEJAYAAN ISLAM DI AKHIR ZAMAN
Secara garis besar periode sejarah
kepemimpinan Islam terbagi ke dalam
lima periode utama berdasarkan
sebuah Hadits Shahih Nabi riwayat
Imam Ahmad:
“Periode an-Nubuwwah (kenabian) akan berlangsung pada kalian dalam
beberapa tahun, kemudian Allah
mengangkatnya, setelah itu datang
periode khilafatun ‘ala minhaj an- Nubuwwah (kekhalifahan atas
manhaj kenabian), selama beberapa
masa hingga Allah ta ’aala mengangkatnya, kemudian datang
periode mulkan aadhdhon
(penguasa-penguasa yang
menggigit) selama beberapa masa,
selanjutnya datang periode mulkan
jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam
beberapa masa hingga waktu yang
ditentukan Allah ta ’aala, setelah itu akan terulang kembali periode
khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw
diam,” (HR Ahmad 17680). Periode pertama adalah
Kepemimpinan langsung Nabi
Muhammad yang disebut sebagai
masa An-Nubuwwah (Kenabian).
Periode kedua merupakan
Kepemimpinan para sahabat utama yakni Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin
Khattb, Utsman bin Affan dan Ali bin
Abi Thalib yang dikenal dengan
julukan Khulafaur Rasyidin. Di dalam
hadits tersebut periode ini dikenal
sebagai periode Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah (Kekhalifahan yang
mengikuti Manhaj/Sistem/Metode/
Cara Kenabian). Sesudah itu, kata Nabi, pada periode
ketiga umat Islam akan mengalami
kepemimpinan para Mulkan
’Aadhdhon (Para Raja/Penguasa yang Menggigit). Ini merupakan periode
dimana umat Islam memiliki para
pemimpin umat yang tetap mengaku
dan dijuluki sebagai Khalifah
(pemimpin umat). Mereka masih
menyebut pemerintahannya sebagai Khilafah Islamiyyah (Kekhalifahan
Islam/Pemerintahan Islam), namun
pola penetapan seorang khalifah
kepada khalifah berikutnya
menggunakan cara pewarisan tahta
laksana sistem kerajaan turun- temurun, tidak berdasarkan cara
musyawarah. Itulah sebabnya mereka
dijuluki oleh Nabi sebagai para Mulkan
atau Raja-raja. Kemudian disebut
sebagai Mulkan ’Aadhdhon (Para Raja/Penguasa yang Menggigit)
karena betapapun keadaannya, para
raja tersebut masih ”menggigit” Al- Qur’an dan As-Sunnah, dua sumber utama nilai-nilai dan hukum-hukum
Islam, kendati tidak sebaik para
Khulafaur Rasyidin yang
”menggenggam” Al-Qur ’an dan As- Sunnah. Pada periode ketiga ini, Dunia
Islam tampak mengalami degradasi
dibandingkan pada periode kedua.
Namun demikian, sebagai sebuah
sistem, maka periode ketiga masih
menyaksikan berlakunya sistem Islam dalam hal pemerintahan. Masalahnya
tinggal apakah khalifah (pemimpin)
yang memimpin merupakan sosok
yang adil ataukah zalim. Ada kalanya
adil seperti Umar bin Abdul Aziz,
namun ada kalanya juga seorang yang zalim. Periode ini merupakan
periode paling lama dalam sejarah
Islam, ia berlangsung sekitar 13 abad,
semenjak Kekhalifahan Bani Umayyah,
lalu dilanjutkan oleh Kekhalifahan
Bani Abbasiyyah, kemudian Kekhalifahan Bani Umayyah di
Spanyol, dan berakhir dengan
Kekhalifahan Turki Utsmani. Lalu bagaimana gerangan nasib umat
Islam selanjutnya? Berdasarkan hadits
Nabi riwayat Imam Ahmad tersebut,
Nabi menyebutkan bahwa periode
keempat disebut sebagai periode
Mulkan Jabbariyyan (Para Raja/ Penguasa yang Memaksakan
Kehendak) alias para penguasa yang
memaksakan kehendak yang berarti
mengabaikan kehendak Allah dan
RasulNya. Saudaraku, periode itulah
yang sedang kita lalui sekarang ini. Suatu periode dimana umat Islam
hidup tanpa seorang khalifah
(pemimpin umat) yang layak
memimpin dan melindungi mereka.
Tidak saja kehilangan seorang
khalifah, namun umat Islam bahkan tidak lagi dinaungi oleh sistem
pemerintahan Islam bernama Khilafah
Islamiyyah (sistem pemerintahan
Islam Al-Khilafah Al-Islamiyyah) yang
tepatnya dimulai sejak tanggal 3 Maret
1924 ketika Mustafa Kemal Pasha di Turki memproklamirkan pembubaran
sistem pemerintahan Islam tersebut.
Suatu pemerintahan yang
sesungguhnya merupakan warisan
ideologis-sosial-politik-b
udaya umat yang bermula sejak kepemimpinan Nabi Muhammad di
kota Madinah 15 abad yang lalu. Pada
periode inilah umat Islam Babak Belur.
Umat Islam terkotak-kotak (terbagi-
bagi) menjadi lebih dari 50 negara.
Tidak menjadi satu kesatuan di bawah satu orang pemimpin (khilafah) lagi
seperti pada ketiga periode terdahulu.
Inilah periode paling kelam dalam
sejarah Islam. Umat Islam menjadi
“santapan” musuh-musuhnya dikarenakan mereka terpecah-pecah.
Bisa kita saksikan sekarang, dimana
kita, umat Islam ini menjadi umat yang
dengan mudahnya “dipermainkan ” oleh orang-orang non-Islam. Saudaraku, betapapun pahitnya
periode keempat ini, tidak selayaknya
kita berputus asa dan kehilangan
harapan bahwa sesungguhnya harga
diri kita sebagai umat terbaik di dunia
dapat dibangun kembali. Sebab berdasarkan hadits periodisasi
di atas kita temukan harapan dimana
Nabi kita menyatakan bahwa periode
keempat ini bukanlah periode terakhir
sejarah umat Islam. Masih ada satu
periode lagi yang akan kita jelang, yaitu periode kelima, suatu periode
berjayanya kembali umat ini dengan
tegaknya kembali Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah (Kekhalifahan
yang mengikuti Manhaj/Sistem/
Metode/Cara Kenabian). Pada periode
ini, Umat Islam akan menyaksikan
munculnya kembali para pemimpin
sekaliber Khulafaur Rasyidin di akhir zaman. Umat Islam akan kembali
menyatu di bawah satu orang
pemimpin (khilafah). Umat Islam akan
memiliki kembali rumah syar ’i mereka, yaitu Al-Khilafah Al-Islamiyyah (sistem
pemerintahan Islam). Umat Islam akan
kembali menjadi “pemimpin dunia” seperti pada masa periode pertama,
kedua, dan ketiga. Umat Islam akan
kembali menjadi umat yang disegani
di dunia.
Insya Allah, periode itu akan kita
songsong. Yang paling penting sekarang ini umat Islam harus
memelihara kesabaran, istiqomah dan
optimisme mereka akan masa
depannya sebagai umat terbaik di
dunia, sebagai umat Rahmatan Lil
’Alamin. Saudaraku, semoga penjelasan
singkat mengenai Hadits Shahih Nabi
Muhammad SAW riwayat Imam Ahmad
ini bisa menjadi penambah semangat
kita di dalam beriman dan beribadah
kepada Allah SWT. Amin.
kepemimpinan Islam terbagi ke dalam
lima periode utama berdasarkan
sebuah Hadits Shahih Nabi riwayat
Imam Ahmad:
“Periode an-Nubuwwah (kenabian) akan berlangsung pada kalian dalam
beberapa tahun, kemudian Allah
mengangkatnya, setelah itu datang
periode khilafatun ‘ala minhaj an- Nubuwwah (kekhalifahan atas
manhaj kenabian), selama beberapa
masa hingga Allah ta ’aala mengangkatnya, kemudian datang
periode mulkan aadhdhon
(penguasa-penguasa yang
menggigit) selama beberapa masa,
selanjutnya datang periode mulkan
jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam
beberapa masa hingga waktu yang
ditentukan Allah ta ’aala, setelah itu akan terulang kembali periode
khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw
diam,” (HR Ahmad 17680). Periode pertama adalah
Kepemimpinan langsung Nabi
Muhammad yang disebut sebagai
masa An-Nubuwwah (Kenabian).
Periode kedua merupakan
Kepemimpinan para sahabat utama yakni Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin
Khattb, Utsman bin Affan dan Ali bin
Abi Thalib yang dikenal dengan
julukan Khulafaur Rasyidin. Di dalam
hadits tersebut periode ini dikenal
sebagai periode Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah (Kekhalifahan yang
mengikuti Manhaj/Sistem/Metode/
Cara Kenabian). Sesudah itu, kata Nabi, pada periode
ketiga umat Islam akan mengalami
kepemimpinan para Mulkan
’Aadhdhon (Para Raja/Penguasa yang Menggigit). Ini merupakan periode
dimana umat Islam memiliki para
pemimpin umat yang tetap mengaku
dan dijuluki sebagai Khalifah
(pemimpin umat). Mereka masih
menyebut pemerintahannya sebagai Khilafah Islamiyyah (Kekhalifahan
Islam/Pemerintahan Islam), namun
pola penetapan seorang khalifah
kepada khalifah berikutnya
menggunakan cara pewarisan tahta
laksana sistem kerajaan turun- temurun, tidak berdasarkan cara
musyawarah. Itulah sebabnya mereka
dijuluki oleh Nabi sebagai para Mulkan
atau Raja-raja. Kemudian disebut
sebagai Mulkan ’Aadhdhon (Para Raja/Penguasa yang Menggigit)
karena betapapun keadaannya, para
raja tersebut masih ”menggigit” Al- Qur’an dan As-Sunnah, dua sumber utama nilai-nilai dan hukum-hukum
Islam, kendati tidak sebaik para
Khulafaur Rasyidin yang
”menggenggam” Al-Qur ’an dan As- Sunnah. Pada periode ketiga ini, Dunia
Islam tampak mengalami degradasi
dibandingkan pada periode kedua.
Namun demikian, sebagai sebuah
sistem, maka periode ketiga masih
menyaksikan berlakunya sistem Islam dalam hal pemerintahan. Masalahnya
tinggal apakah khalifah (pemimpin)
yang memimpin merupakan sosok
yang adil ataukah zalim. Ada kalanya
adil seperti Umar bin Abdul Aziz,
namun ada kalanya juga seorang yang zalim. Periode ini merupakan
periode paling lama dalam sejarah
Islam, ia berlangsung sekitar 13 abad,
semenjak Kekhalifahan Bani Umayyah,
lalu dilanjutkan oleh Kekhalifahan
Bani Abbasiyyah, kemudian Kekhalifahan Bani Umayyah di
Spanyol, dan berakhir dengan
Kekhalifahan Turki Utsmani. Lalu bagaimana gerangan nasib umat
Islam selanjutnya? Berdasarkan hadits
Nabi riwayat Imam Ahmad tersebut,
Nabi menyebutkan bahwa periode
keempat disebut sebagai periode
Mulkan Jabbariyyan (Para Raja/ Penguasa yang Memaksakan
Kehendak) alias para penguasa yang
memaksakan kehendak yang berarti
mengabaikan kehendak Allah dan
RasulNya. Saudaraku, periode itulah
yang sedang kita lalui sekarang ini. Suatu periode dimana umat Islam
hidup tanpa seorang khalifah
(pemimpin umat) yang layak
memimpin dan melindungi mereka.
Tidak saja kehilangan seorang
khalifah, namun umat Islam bahkan tidak lagi dinaungi oleh sistem
pemerintahan Islam bernama Khilafah
Islamiyyah (sistem pemerintahan
Islam Al-Khilafah Al-Islamiyyah) yang
tepatnya dimulai sejak tanggal 3 Maret
1924 ketika Mustafa Kemal Pasha di Turki memproklamirkan pembubaran
sistem pemerintahan Islam tersebut.
Suatu pemerintahan yang
sesungguhnya merupakan warisan
ideologis-sosial-politik-b
udaya umat yang bermula sejak kepemimpinan Nabi Muhammad di
kota Madinah 15 abad yang lalu. Pada
periode inilah umat Islam Babak Belur.
Umat Islam terkotak-kotak (terbagi-
bagi) menjadi lebih dari 50 negara.
Tidak menjadi satu kesatuan di bawah satu orang pemimpin (khilafah) lagi
seperti pada ketiga periode terdahulu.
Inilah periode paling kelam dalam
sejarah Islam. Umat Islam menjadi
“santapan” musuh-musuhnya dikarenakan mereka terpecah-pecah.
Bisa kita saksikan sekarang, dimana
kita, umat Islam ini menjadi umat yang
dengan mudahnya “dipermainkan ” oleh orang-orang non-Islam. Saudaraku, betapapun pahitnya
periode keempat ini, tidak selayaknya
kita berputus asa dan kehilangan
harapan bahwa sesungguhnya harga
diri kita sebagai umat terbaik di dunia
dapat dibangun kembali. Sebab berdasarkan hadits periodisasi
di atas kita temukan harapan dimana
Nabi kita menyatakan bahwa periode
keempat ini bukanlah periode terakhir
sejarah umat Islam. Masih ada satu
periode lagi yang akan kita jelang, yaitu periode kelima, suatu periode
berjayanya kembali umat ini dengan
tegaknya kembali Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah (Kekhalifahan
yang mengikuti Manhaj/Sistem/
Metode/Cara Kenabian). Pada periode
ini, Umat Islam akan menyaksikan
munculnya kembali para pemimpin
sekaliber Khulafaur Rasyidin di akhir zaman. Umat Islam akan kembali
menyatu di bawah satu orang
pemimpin (khilafah). Umat Islam akan
memiliki kembali rumah syar ’i mereka, yaitu Al-Khilafah Al-Islamiyyah (sistem
pemerintahan Islam). Umat Islam akan
kembali menjadi “pemimpin dunia” seperti pada masa periode pertama,
kedua, dan ketiga. Umat Islam akan
kembali menjadi umat yang disegani
di dunia.
Insya Allah, periode itu akan kita
songsong. Yang paling penting sekarang ini umat Islam harus
memelihara kesabaran, istiqomah dan
optimisme mereka akan masa
depannya sebagai umat terbaik di
dunia, sebagai umat Rahmatan Lil
’Alamin. Saudaraku, semoga penjelasan
singkat mengenai Hadits Shahih Nabi
Muhammad SAW riwayat Imam Ahmad
ini bisa menjadi penambah semangat
kita di dalam beriman dan beribadah
kepada Allah SWT. Amin.
Rabu, 02 Maret 2011
11 JENIS MANUSIA SENANTIASA DI DOAKAN OLEH MALAIKAT
Oleh : Muh.yasin fii sabilillah
1. Orang yang tidur dalam keadaan
bersuci.
Rasulullah s.a.w bersabda,
maksudnya: "Sesiapa yang tidur
dalam keadaan suci, malaikat akan
bersamanya di dalam pakaiannya. Dia
tidak akan bangun hingga malaikat
berdoa: "Ya Allah, ampunilah hamba- Mu si fulan kerana tidur dalam
keadaan suci."
2. Orang yang sedang duduk
menunggu waktu solat.
Rasulullah s.a.w bersabda
maksudnya: "Tidaklah salah seorang
antara kalian yang duduk menunggu
solat, selama ia berada dalam keadaan
suci, kecuali kalangan malaikat akan
mendoakannya: 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia.'"
3. Orang yang berada di saf depan
solat berjemaah.
Rasulullah s.a.w bersabda,
maksudnya: "Sesungguhnya Allah
dan kalangan malaikat-Nya
berselawat ke atas (orang) yang
berada pada saf depan."
4. Orang yang menyambung saf
pada solat berjemaah (tidak
membiarkan kekosongan di dalam
saf).
Rasulullah s.a.w bersabda,
maksudnya: "Sesungguhnya Allah
dan kalangan malaikat selalu
berselawat kepada orang yang
menyambung saf."
5. Kalangan malaikat mengucapkan 'amin' ketika
seorang imam selesai membaca al-
Fatihah.
Rasulullah s.a.w bersabda
maksudnya: "Jika seorang imam
membaca...(ayat terakhir al-Fatihah
sehingga selesai), ucapkanlah oleh
kamu 'aamiin' kerana sesiapa yang
ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, dia akan diampuni
dosanya yang lalu."
6. Orang yang duduk di tempat
solatnya selepas melakukan solat.
Rasulullah s.a.w bersabda,
maksudnya: "Kalangan malaikat akan
selalu berselawat kepada satu antara
kalian selama ia ada di dalam tempat
solat, di mana ia melakukan solat."
7. Orang yang melakukan solat
Subuh dan Asar secara berjemaah.
Rasulullah s.a.w bersabda
maksudnya: "Kalangan malaikat
berkumpul pada saat solat Subuh lalu
malaikat (yang menyertai hamba)
pada malam hari (yang sudah
bertugas malam hari hingga Subuh) naik (ke langit) dan malaikat pada
siang hari tetap tinggal. "Kemudian mereka berkumpul lagi
pada waktu solat Asar dan malaikat
yang ditugaskan pada siang hari
(hingga solat Asar) naik (ke langit)
sedangkan malaikat yang bertugas
pada malam hari tetap tinggal lalu Allah bertanya kepada mereka:
"Bagaimana kalian meninggalkan
hamba-Ku?" Mereka menjawab: 'Kami datang
sedangkan mereka sedang
melakukan solat dan kami tinggalkan
mereka sedangkan mereka sedang
melakukan solat, ampunilah mereka
pada hari kiamat.'"
8. Orang yang mendoakan
saudaranya tanpa pengetahuan
orang yang didoakan.
Rasulullah s.a.w bersabda,
maksudnya: "Doa seorang Muslim
untuk saudaranya yang dilakukan
tanpa pengetahuan orang yang
didoakannya adalah doa yang akan
dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil
baginya, setiap kali dia berdoa untuk
saudaranya dengan sebuah kebaikan,
malaikat itu berkata 'aamiin dan
engkau pun mendapatkan apa yang
ia dapatkan.'"
9. Orang yang membelanjakan
harta (infak).
Rasulullah s.a.w bersabda,
maksudnya: "Tidak satu hari pun di
mana pagi harinya seorang hamba
ada padanya kecuali dua malaikat
turun kepadanya, satu antara kedua-
duanya berkata: 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak...' "
10. Orang yang sedang makan
sahur.
Rasulullah s.a.w bersabda
maksudnya: "Sesungguhnya Allah
dan kalangan malaikat-Nya
berselawat kepada orang yang
sedang makan sahur."
11. Orang yang sedang menjenguk
(melawat) orang sakit.
Rasulullah s.a.w bersabda,
maksudnya: "Tidaklah seorang
mukmin menjenguk saudaranya
kecuali Allah akan mengutus 70,000
malaikat untuknya yang akan
berselawat kepadanya di waktu siang hingga petang dan di waktu malam
hingga Subuh."
1. Orang yang tidur dalam keadaan
bersuci.
Rasulullah s.a.w bersabda,
maksudnya: "Sesiapa yang tidur
dalam keadaan suci, malaikat akan
bersamanya di dalam pakaiannya. Dia
tidak akan bangun hingga malaikat
berdoa: "Ya Allah, ampunilah hamba- Mu si fulan kerana tidur dalam
keadaan suci."
2. Orang yang sedang duduk
menunggu waktu solat.
Rasulullah s.a.w bersabda
maksudnya: "Tidaklah salah seorang
antara kalian yang duduk menunggu
solat, selama ia berada dalam keadaan
suci, kecuali kalangan malaikat akan
mendoakannya: 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia.'"
3. Orang yang berada di saf depan
solat berjemaah.
Rasulullah s.a.w bersabda,
maksudnya: "Sesungguhnya Allah
dan kalangan malaikat-Nya
berselawat ke atas (orang) yang
berada pada saf depan."
4. Orang yang menyambung saf
pada solat berjemaah (tidak
membiarkan kekosongan di dalam
saf).
Rasulullah s.a.w bersabda,
maksudnya: "Sesungguhnya Allah
dan kalangan malaikat selalu
berselawat kepada orang yang
menyambung saf."
5. Kalangan malaikat mengucapkan 'amin' ketika
seorang imam selesai membaca al-
Fatihah.
Rasulullah s.a.w bersabda
maksudnya: "Jika seorang imam
membaca...(ayat terakhir al-Fatihah
sehingga selesai), ucapkanlah oleh
kamu 'aamiin' kerana sesiapa yang
ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, dia akan diampuni
dosanya yang lalu."
6. Orang yang duduk di tempat
solatnya selepas melakukan solat.
Rasulullah s.a.w bersabda,
maksudnya: "Kalangan malaikat akan
selalu berselawat kepada satu antara
kalian selama ia ada di dalam tempat
solat, di mana ia melakukan solat."
7. Orang yang melakukan solat
Subuh dan Asar secara berjemaah.
Rasulullah s.a.w bersabda
maksudnya: "Kalangan malaikat
berkumpul pada saat solat Subuh lalu
malaikat (yang menyertai hamba)
pada malam hari (yang sudah
bertugas malam hari hingga Subuh) naik (ke langit) dan malaikat pada
siang hari tetap tinggal. "Kemudian mereka berkumpul lagi
pada waktu solat Asar dan malaikat
yang ditugaskan pada siang hari
(hingga solat Asar) naik (ke langit)
sedangkan malaikat yang bertugas
pada malam hari tetap tinggal lalu Allah bertanya kepada mereka:
"Bagaimana kalian meninggalkan
hamba-Ku?" Mereka menjawab: 'Kami datang
sedangkan mereka sedang
melakukan solat dan kami tinggalkan
mereka sedangkan mereka sedang
melakukan solat, ampunilah mereka
pada hari kiamat.'"
8. Orang yang mendoakan
saudaranya tanpa pengetahuan
orang yang didoakan.
Rasulullah s.a.w bersabda,
maksudnya: "Doa seorang Muslim
untuk saudaranya yang dilakukan
tanpa pengetahuan orang yang
didoakannya adalah doa yang akan
dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil
baginya, setiap kali dia berdoa untuk
saudaranya dengan sebuah kebaikan,
malaikat itu berkata 'aamiin dan
engkau pun mendapatkan apa yang
ia dapatkan.'"
9. Orang yang membelanjakan
harta (infak).
Rasulullah s.a.w bersabda,
maksudnya: "Tidak satu hari pun di
mana pagi harinya seorang hamba
ada padanya kecuali dua malaikat
turun kepadanya, satu antara kedua-
duanya berkata: 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak...' "
10. Orang yang sedang makan
sahur.
Rasulullah s.a.w bersabda
maksudnya: "Sesungguhnya Allah
dan kalangan malaikat-Nya
berselawat kepada orang yang
sedang makan sahur."
11. Orang yang sedang menjenguk
(melawat) orang sakit.
Rasulullah s.a.w bersabda,
maksudnya: "Tidaklah seorang
mukmin menjenguk saudaranya
kecuali Allah akan mengutus 70,000
malaikat untuknya yang akan
berselawat kepadanya di waktu siang hingga petang dan di waktu malam
hingga Subuh."
subhanallah..mari qt ajak teman2 seakidah u mengirimkan konfirmasi pertemanan pd org ini...
http://goo.gl/XyBTC
org ini stiap stts ny sll menghina Rasulullah saw.dlm catatanny yg lbh seribu semua menghina islam dan Rasulullah saw..bhkn Allah swt.
Jumlah temanny hampir 5 ratus,biasanya mencapai angka 5 ratus tman mk fb ny akn trblokir.tlng sebarkn kpd teman2 yg lain.smg usahan teman d ridhoi olh Allah swt.Amin..
http://goo.gl/XyBTC
org ini stiap stts ny sll menghina Rasulullah saw.dlm catatanny yg lbh seribu semua menghina islam dan Rasulullah saw..bhkn Allah swt.
Jumlah temanny hampir 5 ratus,biasanya mencapai angka 5 ratus tman mk fb ny akn trblokir.tlng sebarkn kpd teman2 yg lain.smg usahan teman d ridhoi olh Allah swt.Amin..
Langganan:
Postingan (Atom)