Dalam aqidah ahlusunnah wal jamaah diyakini bahwa Rasulullah adalah manusia yang sempurna secara lahiriyah maupun batiniyah. Beliau bukan sembarang manusia biasa. Tidak boleh mengatakan bahwa Nabi hanya seorang manusia biasa seperti manusia lain. Wajib dalam aqidah ahlusunnah wal jamaah meng-itikad- kan dan mengucapkan bahwa Nabi adalah manusia yang sempurna yang berbeda jauh dengan manusia biasa. Betapa tidak! Selain Beliau diutus oleh Allah subhanahu wa ta ’ala ke dunia ini sebagai seorang Rasul, beliau juga diutus untuk memberikan dan mengajarkan agama kepada seluruh manusia dan jin yang tinggal di dunia ini. Lebih dari pada itu, Nabi juga diutus ke dunia ini sekaligus sebagai pembawa rahmat untuk seluruh alam semesta. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: “Dan tidaklah kami utuskan engkau (wahai Rasulullah), kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.” (Al-Qur’an surat al-Anbiya ayat 107 ). Para sahabat radhiyallahu ‘anhum sangat mengetahui dan meyakini akan kemuliaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, terlebih setelah di dalam Al-Qur ’an ada disebutkan oleh Allah bahwasanya Allah tidak akan mengadzab kaum muslimin selagi Rasulullah ada bersama dengan mereka sebagaimana termaktub dalam al- Qur’an surat al-Anfal ayat 33: “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. ” Mungkin diantara kita ada yang beranggapan bahwa yang dimaksud ‘Rasul bersama mereka ’, yaitu kaum muslimin, hanya berlaku pada saat Nabi masih hidup saja, dan ketetapan itu akan berubah seiring dengan wafatnya Nabi yang mulia. Anggapan ini adalah sebuah anggapan yang keliru! Kata-kata “wa anta fihim”, ‘selagi engkau (yakni Nabi Muhammad) masih bersama mereka ’, adalah memiliki makna yaitu ketika Nabi masih hidup maupun ketika Nabi sudah wafat. Tegasnya, di mana ada jasad Rasulullah yang mulia bersama- sama dengan orang-orang mukmin, maka dengan kekeramatan dan keberkatan jasad Nabi itu, kaum muslimin yang bersama dengan jasad Rasul tersebut akan terselamat dari adzab Allah juga. Dalam hal ini, Madinah al-Munawarah adalah negeri yang beruntung. Dan, kaum muslimin yang tinggal disana ikut menjadi orang yang sangat beruntung pula, sebab mereka akan terbebas sepanjang dunia terbentang, dari adzab Allah dengan berkat jasad Rasul yang mulia ada di bumi Madinah
itu. Kalau tidak begitu adanya, tidak akan kaum kuffar, musuh Islam, sampai bersusah payah mengutuskan dua orang musuh Allah untuk menggali dan mencuri jasad Nabi kita yang tercinta itu, beberapa ratus tahun yang lalu….! Apalagi Nabi sudah menegaskan dalam hadis-hadis shahih bahwa Dajjal laknatullah ‘alaih saja tidak diizinkan dan tidak akan mampu memasuki kota Madinah serta membuat kerusakan di dalamnya. Kenapa bisa demikian? Tidak lain adalah karena adanya kemuliaan pada jasad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang ada di sana. Bukti lain terhadap kemuliaan jasad Nabi di kota itu adalah sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’i bahwa guru beliau tabi’in besar Imam Maliki, tidak pernah berani memijak bumi bersama dengan kuku kudanya, hanya karena sangat menghormati keberadaan jasad Nabi tercinta di bumi Madinah itu. Subhanallah….. Walhamdulillah….! Kisah Perang Hunain Abu Hamzah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan satu kisah berbunyi : Suatu hari pada saat peperangan Hunain, di mana ketika itu kaum muslimin berperang melawan Kabilah Hawazin, Ghatafan, dan sekutunya, yang datang dengan membawa ternak dan keluarga mereka yang banyak. Kabilah Hawazin ini, adalah kelompok Arab Badui yang sangat keras melawan Rasulullah dan kaum muslimin. Bahkan sampai saat ketika Mekkah telah dikuasai oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Badui Hawazin ini tetap keras kepala berperang melawan Rasul dan pasukan kaum muslimin. Saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang memerangi kaum Hawazin ini dengan 10 ribu tentara yang terdiri dari orang-orang thulaqa’ (yakni orang-orang yang baru masuk Islam dan dibebaskan dari tawanan perang oleh Rasul pada saat Fathul Makkah), yakni ketika Mekkah diduduki oleh kaum muslimin. Pada peperangan yang dahsyat itu, Badui Hawazin memberikan perlawanan yang sangat sengit. Ratusan anak panah telah mereka lepaskan ke arah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga seperti belalang banyaknya anak panah yang menerpa tubuh Rasulullah yang mulia. Saat itu, Rasul sedang menaiki seekor baghal berwarna putih sebagai kendaraan Beliau. Alhamdulillah, dengan kemukjizatan dari Allah, ratusan anak panah yang menerjang tubuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semuanya meleset ke kanan dan ke kiri tubuh Baginda yang mulia, sehingga tidak ada sebatang anak panah pun yang mampu melukai tubuh Rasulullah. Pada saat itu kaum thulaqa’ yang berjumlah 10 ribu orang lari lintang pukang, porak poranda, serta meninggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beserta beberapa orang Sahabat yang mulia yang masih tetap bertahan dari terjangan panah Badui Hawazin itu. Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat itu memanggil dua kali ke arah kanan dan arah ke kiri. Nabi saat itu berseru, “Wahai sekalian kaum Anshar …….!” Seruan itu dijawab oleh kaum Anshar dengan gairah, “Labbaik, ya Rasulallah…..! Bergembiralah, sesungguhnya kami tetap bersama engkau, wahai Rasul….!” Rasul menyeru sekali lagi ke arah kiri, “Wahai sekalian kaum Anshar …….!” Kaum Anshar yang saat itu ada di posisi kiri Nabi menjawab dengan gairah, “Labbaik, ya Rasulallah……! Bergembiralah sesungguhnya kami tetap bersama engkau, wahai Rasul…..!” Kaum Anshar tetap setia berperang bersama Rasul, dan ridak ada satupun dari mereka yang melarikan diri. Kemudian Rasulullah turun dari baghal putih tunggangannya seraya bersabda, “Aku adalah hamba dan pesuruh Allah. ” Dengan izin Allah, akhirnya orang- orang musyrik Badui Hawazin, berhasil dikalahkan dan mujahid muslimin memperoleh harta rampasan perang yang banyak sekali. Tak lama kemudian Rasulullah membagi- bagikan harta rampasan perang tersebut kepada orang-orang Muhajirin dan kaum thulaqa’, yaitu orang Mekkah yang baru masuk Islam, sehingga seluruh harta rampasan perang itu habis terbagi semua itu. Tinggallah kaum Anshar yang merupakan penduduk Madinah, yang tidak menerima sedikit pun pembagian dari harta rampasan perang itu. Melihat hal ini, sabahagian para sahabat dari golongan Anshar, mulai saling berbisik sesama mereka satu dengan yang lainnya. Kata mereka, “Apabila terjadi keadaan sulit dan genting kita dipanggil oleh Rasulullah, akan tetapi apabila kemenangan telah diperoleh, Beliau membagi-bagikan harta rampasan perang itu kepada kaum kerabatnya dan bukan kepada kita. ” Sikap bersungut-sungut, saling bisik, dan ketidaksenangan sebagian Sahabat dari golongan Anshar ini akhirnya sampai juga ke telinga Rasul. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan mereka dalam sebuah kemah besar, seraya bersabda, “Wahai para Sahabatku kaum Anshar. Berita apakah yang telah sampai kepada ku ini?” Saat itu tidak ada seorang pun dari kaum Anshar yang menjawab pertanyaan Nabi. Kemudian Rasulullah bersabda lagi, “Wahai kaum Anshar, apakah kalian tidak ridha apabila melihat orang-orang banyak, pulang ke rumah mereka dengan membawa harta dunia yang berlimpah, sementara kalian semua pulang ke Madinah dengan membawa utusan Allah bersama-sama dengan kamu di rumah-rumah kalian ?” Saat itu kaum Anshar menjawab, “Sudah tentu kami ridha, ya Rasulallah.” Selanjutnya Rasulullah bersabda, “Sekiranya manusia melalui satu lembah, dan orang-orang Anshar melalui satu jalan
yang lain dari dua bukit itu, niscaya aku Rasulullah akan mengikuti jalan yang telah dilalui orang-orang Anshar ….!” Hisyam radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Apakah engkau menyaksikan semua itu wahai Abu Hamzah?” Abu Hamzah menjawab, “Kemanakah aku akan pergi meninggalkan Baginda Nabi?” (H.R. Bukhari, lihat kitab al al- Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, Jilid 4 halaman 357). Di dalam riwayat lain, Imam Ahmad menambahkan pada kisah diatas melalui jalur Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, antara lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah diri kamu merasa marah wahai Sahabat-sahabatku kaum Anshar, hanya karena harta dunia yang akan musnah itu, yang mana telah aku bagi-bagikan untuk melembutkan hati mereka orang- orang yang baru masuk Islam itu? Sementara kepada kamu aku serahkan Islam yang telah dibagikan Allah kepadaku? Apakah kamu tidak ridha……? Wahai Sahabat Anshar, sekiranya manusia semuanya pulang ke rumah masing-masing dengan membawa kambing, unta, dan harta benda dunia, sedangkan kamu pulang ke rumah dengan membawa Rasul Allah, tidakkah kamu merasa ridha…? Demi Allah yang menguasai jiwaku, sekiranya manusia mengikuti satu jalan diantara dua gunung, dan orang Anshar melalui jalan lain, pasti aku akan mengikuti jalan yang telah dilalui oleh orang-orang Anshar itu. Jika bukan karena hijrah, pastilah aku menjadi salah seorang dari kalangan kaum Anshar. Ya Allah, rahmatilah para Sahabat Anshar, anak-anak orang Anshor, cucu-cucu orang Anshor dan cucu-cicit orang Anshar. ” Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu melanjutkan kisahnya, “Maka orang- orang Anshar menangis tersedu-sedu sampai air mata mereka membasahi janggut-janggut mereka. ” Kemudian kaum Anshar berkata: “Kami telah ridha Allah sebagai Tuhan kami, dan kami telah ridha dengan pembagian Rasul-Nya.” Mereka pun menangis dan Rasulullah pun menangis bersama- sama mereka. Kemudian mereka pun berbalik dan kembali ke kemah mereka masing-masing.” (H.R. Imam Ahmad, dari Abu Ishaq. Lihat dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah, jilid 4 halaman 358). Dari keterangan ini dapat kita lihat betapa para Sahabat lebih menghargai
adanya Rasulullah beserta jasad Rasulullah yang mulia bersama mereka, daripada memilih harta dunia yang berlimpah. Harta dunia terlepas dari tangan mereka, namun bagi mereka diri Rasulullah jauh lebih utama dari semua itu. Nah, di akhir zaman ini, dimana sudah muncul sekelompok kecil umat Islam yang sudah berani mengatakan bahwa tongkat kepunyaannya lebih bermanfaat dari Rasulullah setelah wafat…..! Padahal Sahabat Nabi dan para tabi’in begitu menghargai keberadaan Rasulullah, baik di saat Beliau masih hidup maupun setelah Beliau wafat dan bersemayam di bumi Madinah yang mulia. Tidakkah kita semua menyadari kemuliaan Rasulullah dan kemuliaan jasad Rasul itu….? Wahai Allah yang membolak-balikkan hati, balikkanlah hati kami kepada kefahaman agama yang benar, sehingga kami dapat menghargai Rasulullah dan jasad Beliau yang mulia hingga dunia kiamat nanti. Amin ……! Wallahu a’lam bishowab
Jumat, 11 Maret 2011
Kamis, 10 Maret 2011
AGAR HARI ESOK TAK MENYESAL
Suatu hari, Rasulullah saw
menggambar di tanah. Sederhana.
Hanya goresan garis-garis. Tapi
makna gambar itu yang luar biasa.
Dengan gambar itu sebuah aksioma
tentang perjalanan hidup menjadi sangat jelas. Mengundang renungan,
sekaligus menggugah kesadaran
siapa saja yang mau sadar Pertama
Rasulullah saw menggambar garis
lurus. Sesudah itu beliau menggambar
garis membentuk kotak, yang salah satu sisinya memotong garis
membentuk kotak tersebut. Sehingga,
setengah garis lurus itu ada yang di
dalam kotak, sisanya lagi di luar. Rasulullah saw menjelaskan, garis
lurus itu ibarat keinginan manusia,
harapannya, cita-citanya, juga
mungkin obsesi-obsesinya. Sedang
gambar kotak yang memotong garis
lurus tersebut adalah ajal manusia yang telah ditetapkan. Ya, manusia
memang berjalan di antara harapan
yang bisa mengular panjang dan ajal
yang mengintai siap menerkam.
Mengejar keinginan dan cita-cita
adalah perjalanan yang sangat melelahkan. Meninggalkan deretan
jejak-jejak yang sangat melelahkan.
Meninggalkan deretan jejak-jejak
kehidupan. Tujuan pendeknya adalah
hari esok di dunia. Sedang tujuan
panjangnya adalah hari esok di akhirat. Pada kedua tujuan pendek
dan panjang itu diperlukan bekal
yang tidak sedikit. Dan, siapapun,
yang ingin perjalanannya selamat
sampai tujuan, harus punya bekal
yang memadai, memiliki kehendak yang besar, kemauan yang teguh,
untuk mengejar cita-cita luhur yang
ingin dicapainya. Seperti dilukiskan dalam gambar
garis-garis Rasulullah di atas. Sedang
harapan-harapan bahagia di akhirat
bisa pupus bila kelak ternyata
seseorang itu dilemparkan ke dasar
neraka. Lantaran ia tak punya amal, atau amal-amalnya ditolak Allah SWT.
Sebuah kerugian yang tak ada
sesudahnya kerugian yang lebih
besar darinya. Perjalanan hidup
mengejar bahagia di dunia, dengan
segala suka atau dukanya, sedih dan gembiranya, sengsara maupun
bahagianya, tak jarang melenakan.
Manusia banyak yang lupa bahwa di
sela keinginannya yang panjang itu
terselip detik-detik kematiannya.
neraka. Lantaran ia tak punya amal, atau amal-amalnya ditolak Allah SWT. Sebuah kerugian yang tak ada
sesudahnya kerugian yang lebih
besar darinya. Perjalanan hidup
mengejar bahagia di dunia, dengan
segala suka atau dukanya, sedih dan
gembiranya, sengsara maupun bahagianya, tak jarang melenakan.
Manusia banyak yang lupa bahwa di
sela keinginannya yang panjang itu
terselip detik-detik kematiannya.
Seringkali manusia terpedaya, seakan
hari-harinya masih sangat panjang. Serasa segala kemauannya masih
punya rentang ruang yang tak
terbatas. Padahal akan ada ajal yang
memenggal segala mimpi-mimpi itu.
Karenanya, Rasulullah saw
mengistilahkan kematian dengan pemupus kenikmatan. “Perbanyaklah mengingat-ingat pemupus
kenikmatan, yaitu kematian. ” (HR. Tirmidzi). Namun, bagi orang-orang yang telah
mengumpulkan bekal, lalu dengan
ikhlas menyerahkan bekal itu kepada
Allah, kelak ia tidak akan terguncang,
bila kematian datang memutus nafas-
nafasnya. Ia tidak akan tercengang, bila ajal tiba memenggal segala
harapan-harapannya. Yang telah
menanam dengna baik tak akan
takut, bila kelak tiba saatnya orang
hanya bisa memakan hasil
tanamannya sendiri. Yang telah beramal dengan tulus tak akan
khawatir, bila tiba saatnya orang
hanya bisa selamat karena amalnya
sendiri. Dalam Islam, proses mencari
bekal itu dibangun di atas dua prinsip
utama yang sangat mendasar : Pertama, membekali diri untuk hari
esok – dunia maupun akhirat – merupakan kerangka utama dari
keseluruhan ajaran Islam. Dengan kata lain, seluruh aturan
Islam, perintah-perintahnya,
larangan-larangannya, terbingkai
dalam satu kepentingan utama : agar
manusia bertakwa. Sementara, Al-
Qur’an menegaskan, bahwa sebaik- baik bekal adalah takwa. Maka,
menjalankan ajaran Islam artinya
mengambil bekal sebaik-baiknya.
Berpuasa misalnya, juga punya tujuan
akhir untuk bertakwa. Allah
berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar
kamu bertakwa. ” (QS. Al-Baqarah[2] : 183). Selain itu, Allah juga
menjelaskan bahwa tujuan
penciptaan manusia adalah untuk
menyembah dan beribadah kepada
Allah. ”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku. ” (QS. Adz-Dzariyaat [51] : 56) Sementara tujuan dari penyembahan
dan ibadah tersebut juga agar
manusia bertakwa. Allah swt
berfirman : “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu
dan orang-orang yang sebelummu,
agar kamu bertakwa ” (QS. Al-Baqarah [2] : 21) Maka, inti ajaran Islam adalah
“berbekal ”. Dan sebaik-baik bekal adalah taqwa. Dalam tataran
kehidupan duniawi, ajaran Islam juga
sangat padat dengan spirit
pembekalan diri dalam makna ibadah
dan taqwa tersebut. Menikah,
misalnya, disebut sebagai penyempurna setengah agama.
Mencari nafkah misalnya, tidak saja
sekedar untuk menyambung nyawa,
tetapi lebih dari itu, ia juga merupakan
penghapus dosa. Bahkan Rasulullah
saw menegaskan, ada dosa-dosa yang tidak bisa dihapus kecuali
dengan berlelah-lelah mencari nafkah. Rasulullah saw bahkan menyuruh kita
untuk terus berkarya, berusaha, dan
mengejar harapan-harapan yang
bermanfaat. Tetapi pada saat yang
sama juga harus menyandarkan
usaha itu kepada Allah. Agar dengan begitu seluruh proses pencarian
manfaat hidup itu bermakna
pembekalan diri. ”Kejarlah apa-apa yang bermanfaat untuk dirimu.
Mintalah pertolongan kepada Allah.
Janganlah kamu merasa lemah.., ” begitu pesan Rasulullah dalam hadits
riwayat Muslim. Seluruh nilai Islam
mengajarkan kepada kita untuk
berbekal. Karena hidup ini tempat
menanam dan mencari bekal. Prinsip kedua, bahwa berbekal artinya
kita menyiapkan diri untuk
menghadapi segala sesuatu yang
tidak pasti, hari ini, lusa, terlebih masa
yang akan datang. Yang tak biasa
bersusah-susah tidak akan bisa tegar menghadapi kesusahan. Yang lahir
dan tumbuh di atas hamparan
kemewahan, mungkin akan menjadi
yang pertama tenggelam ketika badai
kesulitan mengguncang. Sementara
yang lahir dan tumbuh di tengah ujian tak akan goyah oleh sedikit kesulitan.
Yang lahir dan tumbuh di tengah
angin topan, tak akan masuk angin
oleh semilir angin yang ogah-ogahan.
Manusia, umumnya, bergantung
bagaimana kebiasannya. Berbekal merupakan keharusan, karena
perjalanan hidup itu tidak datar.
Tantangan demi tantangan akan
semakin berat. Dalam hitungan zaman, Rasulullah
saw menggambarkan, ”Tidaklah datang sebuah zaman kepada kalian,
kecuali zaman yang sesudahnya lebih
buruk dari sebelumnya, hingga kalian
semua menghadap kepada Tuhan
kalian ”. (HR. Bukhari). Sementara, manusia tidak ada yang tahu apa
yang akan terjadi esok hari, apa yang
diusahakannya esok hari, tidak tahu
juga di mana ia akan dipanggil oleh
Allah. ” Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan
tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang
menurunkan hujan, dan mengetahui
apa yang ada dalam rahim. dan tiada
seorangpun yang dapat mengetahui
(dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada
seorangpun yang dapat mengetahui
di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS.
Lukman [31] : 34) Karenanya, dalam
nasehatnya kepada Abu Dzar,
Rasulullah saw berkata, ”Wahai Abu Dzar, perkokohlah bahteramu, karena
samudera itu dalam. Perbanyaklah
belakmu karena perjalananmu itu
panjang. Ikhlaskanlah amalmu,
karena pengintaimu itu sangat jeli. ” Rasulullah saw juga menganjurkan kepada ummatnya untuk
membiasakan diri bersusah-susah,
agar kelak tidak kaget untuk
menghadapi kesulitan yang bisa
datang sewaktu-waktu. ”Berkeras- keraslah karena nikmat dan karunia
itu tidak kekal, ” begitu pesan Rasulullah. Seluruh usaha membekali
diri, dengan niat yang ikhlas dengan
jerih payah yang baik tak lain
merupakan modal utama manusia,
untuk menghadap Allah kelak. Hari
ini, kala kita masih bertemu matahari pagi, saat kita masih bebas menarik
nafas, adalah saat-saat termahal untuk
kita mengais bekal, untuk menabung
dengna tekun bekal menyongsong
hari esok yang masih kelam. Saatnya
membuang rasa malas dan kebiasaan menunda-nunda amal. Saatnya kita
berbuat. Saatnya kita berbekal. Agar
esok tak sampai menyesal.
menggambar di tanah. Sederhana.
Hanya goresan garis-garis. Tapi
makna gambar itu yang luar biasa.
Dengan gambar itu sebuah aksioma
tentang perjalanan hidup menjadi sangat jelas. Mengundang renungan,
sekaligus menggugah kesadaran
siapa saja yang mau sadar Pertama
Rasulullah saw menggambar garis
lurus. Sesudah itu beliau menggambar
garis membentuk kotak, yang salah satu sisinya memotong garis
membentuk kotak tersebut. Sehingga,
setengah garis lurus itu ada yang di
dalam kotak, sisanya lagi di luar. Rasulullah saw menjelaskan, garis
lurus itu ibarat keinginan manusia,
harapannya, cita-citanya, juga
mungkin obsesi-obsesinya. Sedang
gambar kotak yang memotong garis
lurus tersebut adalah ajal manusia yang telah ditetapkan. Ya, manusia
memang berjalan di antara harapan
yang bisa mengular panjang dan ajal
yang mengintai siap menerkam.
Mengejar keinginan dan cita-cita
adalah perjalanan yang sangat melelahkan. Meninggalkan deretan
jejak-jejak yang sangat melelahkan.
Meninggalkan deretan jejak-jejak
kehidupan. Tujuan pendeknya adalah
hari esok di dunia. Sedang tujuan
panjangnya adalah hari esok di akhirat. Pada kedua tujuan pendek
dan panjang itu diperlukan bekal
yang tidak sedikit. Dan, siapapun,
yang ingin perjalanannya selamat
sampai tujuan, harus punya bekal
yang memadai, memiliki kehendak yang besar, kemauan yang teguh,
untuk mengejar cita-cita luhur yang
ingin dicapainya. Seperti dilukiskan dalam gambar
garis-garis Rasulullah di atas. Sedang
harapan-harapan bahagia di akhirat
bisa pupus bila kelak ternyata
seseorang itu dilemparkan ke dasar
neraka. Lantaran ia tak punya amal, atau amal-amalnya ditolak Allah SWT.
Sebuah kerugian yang tak ada
sesudahnya kerugian yang lebih
besar darinya. Perjalanan hidup
mengejar bahagia di dunia, dengan
segala suka atau dukanya, sedih dan gembiranya, sengsara maupun
bahagianya, tak jarang melenakan.
Manusia banyak yang lupa bahwa di
sela keinginannya yang panjang itu
terselip detik-detik kematiannya.
neraka. Lantaran ia tak punya amal, atau amal-amalnya ditolak Allah SWT. Sebuah kerugian yang tak ada
sesudahnya kerugian yang lebih
besar darinya. Perjalanan hidup
mengejar bahagia di dunia, dengan
segala suka atau dukanya, sedih dan
gembiranya, sengsara maupun bahagianya, tak jarang melenakan.
Manusia banyak yang lupa bahwa di
sela keinginannya yang panjang itu
terselip detik-detik kematiannya.
Seringkali manusia terpedaya, seakan
hari-harinya masih sangat panjang. Serasa segala kemauannya masih
punya rentang ruang yang tak
terbatas. Padahal akan ada ajal yang
memenggal segala mimpi-mimpi itu.
Karenanya, Rasulullah saw
mengistilahkan kematian dengan pemupus kenikmatan. “Perbanyaklah mengingat-ingat pemupus
kenikmatan, yaitu kematian. ” (HR. Tirmidzi). Namun, bagi orang-orang yang telah
mengumpulkan bekal, lalu dengan
ikhlas menyerahkan bekal itu kepada
Allah, kelak ia tidak akan terguncang,
bila kematian datang memutus nafas-
nafasnya. Ia tidak akan tercengang, bila ajal tiba memenggal segala
harapan-harapannya. Yang telah
menanam dengna baik tak akan
takut, bila kelak tiba saatnya orang
hanya bisa memakan hasil
tanamannya sendiri. Yang telah beramal dengan tulus tak akan
khawatir, bila tiba saatnya orang
hanya bisa selamat karena amalnya
sendiri. Dalam Islam, proses mencari
bekal itu dibangun di atas dua prinsip
utama yang sangat mendasar : Pertama, membekali diri untuk hari
esok – dunia maupun akhirat – merupakan kerangka utama dari
keseluruhan ajaran Islam. Dengan kata lain, seluruh aturan
Islam, perintah-perintahnya,
larangan-larangannya, terbingkai
dalam satu kepentingan utama : agar
manusia bertakwa. Sementara, Al-
Qur’an menegaskan, bahwa sebaik- baik bekal adalah takwa. Maka,
menjalankan ajaran Islam artinya
mengambil bekal sebaik-baiknya.
Berpuasa misalnya, juga punya tujuan
akhir untuk bertakwa. Allah
berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar
kamu bertakwa. ” (QS. Al-Baqarah[2] : 183). Selain itu, Allah juga
menjelaskan bahwa tujuan
penciptaan manusia adalah untuk
menyembah dan beribadah kepada
Allah. ”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku. ” (QS. Adz-Dzariyaat [51] : 56) Sementara tujuan dari penyembahan
dan ibadah tersebut juga agar
manusia bertakwa. Allah swt
berfirman : “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu
dan orang-orang yang sebelummu,
agar kamu bertakwa ” (QS. Al-Baqarah [2] : 21) Maka, inti ajaran Islam adalah
“berbekal ”. Dan sebaik-baik bekal adalah taqwa. Dalam tataran
kehidupan duniawi, ajaran Islam juga
sangat padat dengan spirit
pembekalan diri dalam makna ibadah
dan taqwa tersebut. Menikah,
misalnya, disebut sebagai penyempurna setengah agama.
Mencari nafkah misalnya, tidak saja
sekedar untuk menyambung nyawa,
tetapi lebih dari itu, ia juga merupakan
penghapus dosa. Bahkan Rasulullah
saw menegaskan, ada dosa-dosa yang tidak bisa dihapus kecuali
dengan berlelah-lelah mencari nafkah. Rasulullah saw bahkan menyuruh kita
untuk terus berkarya, berusaha, dan
mengejar harapan-harapan yang
bermanfaat. Tetapi pada saat yang
sama juga harus menyandarkan
usaha itu kepada Allah. Agar dengan begitu seluruh proses pencarian
manfaat hidup itu bermakna
pembekalan diri. ”Kejarlah apa-apa yang bermanfaat untuk dirimu.
Mintalah pertolongan kepada Allah.
Janganlah kamu merasa lemah.., ” begitu pesan Rasulullah dalam hadits
riwayat Muslim. Seluruh nilai Islam
mengajarkan kepada kita untuk
berbekal. Karena hidup ini tempat
menanam dan mencari bekal. Prinsip kedua, bahwa berbekal artinya
kita menyiapkan diri untuk
menghadapi segala sesuatu yang
tidak pasti, hari ini, lusa, terlebih masa
yang akan datang. Yang tak biasa
bersusah-susah tidak akan bisa tegar menghadapi kesusahan. Yang lahir
dan tumbuh di atas hamparan
kemewahan, mungkin akan menjadi
yang pertama tenggelam ketika badai
kesulitan mengguncang. Sementara
yang lahir dan tumbuh di tengah ujian tak akan goyah oleh sedikit kesulitan.
Yang lahir dan tumbuh di tengah
angin topan, tak akan masuk angin
oleh semilir angin yang ogah-ogahan.
Manusia, umumnya, bergantung
bagaimana kebiasannya. Berbekal merupakan keharusan, karena
perjalanan hidup itu tidak datar.
Tantangan demi tantangan akan
semakin berat. Dalam hitungan zaman, Rasulullah
saw menggambarkan, ”Tidaklah datang sebuah zaman kepada kalian,
kecuali zaman yang sesudahnya lebih
buruk dari sebelumnya, hingga kalian
semua menghadap kepada Tuhan
kalian ”. (HR. Bukhari). Sementara, manusia tidak ada yang tahu apa
yang akan terjadi esok hari, apa yang
diusahakannya esok hari, tidak tahu
juga di mana ia akan dipanggil oleh
Allah. ” Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan
tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang
menurunkan hujan, dan mengetahui
apa yang ada dalam rahim. dan tiada
seorangpun yang dapat mengetahui
(dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada
seorangpun yang dapat mengetahui
di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS.
Lukman [31] : 34) Karenanya, dalam
nasehatnya kepada Abu Dzar,
Rasulullah saw berkata, ”Wahai Abu Dzar, perkokohlah bahteramu, karena
samudera itu dalam. Perbanyaklah
belakmu karena perjalananmu itu
panjang. Ikhlaskanlah amalmu,
karena pengintaimu itu sangat jeli. ” Rasulullah saw juga menganjurkan kepada ummatnya untuk
membiasakan diri bersusah-susah,
agar kelak tidak kaget untuk
menghadapi kesulitan yang bisa
datang sewaktu-waktu. ”Berkeras- keraslah karena nikmat dan karunia
itu tidak kekal, ” begitu pesan Rasulullah. Seluruh usaha membekali
diri, dengan niat yang ikhlas dengan
jerih payah yang baik tak lain
merupakan modal utama manusia,
untuk menghadap Allah kelak. Hari
ini, kala kita masih bertemu matahari pagi, saat kita masih bebas menarik
nafas, adalah saat-saat termahal untuk
kita mengais bekal, untuk menabung
dengna tekun bekal menyongsong
hari esok yang masih kelam. Saatnya
membuang rasa malas dan kebiasaan menunda-nunda amal. Saatnya kita
berbuat. Saatnya kita berbekal. Agar
esok tak sampai menyesal.
5 NASEHAT KUBUR
1. Aku adalah tempat paling gelap,
maka terangilah aku dengan tahajjud.
2. Aku adalah tempat yang paling
sempit, maka luaskanlah aku dengan
bersilaturrahmi.
3. Aku adalah tempat yang paling
sepi, maka ramaikanlah aku dengan
perbanyak membaca Al-Qur ’an.
4. Aku adalah tempatnya binatang-
binatang yang menjijikkan, maka
racunilah ia dengan amal sedekah.
5. Aku adalah tempat munkar dan
nakir bertanya, maka persiapkanlah
jawabanmu dengan mengucap
kalimat “LAAILAHAILLALLAH ”.
maka terangilah aku dengan tahajjud.
2. Aku adalah tempat yang paling
sempit, maka luaskanlah aku dengan
bersilaturrahmi.
3. Aku adalah tempat yang paling
sepi, maka ramaikanlah aku dengan
perbanyak membaca Al-Qur ’an.
4. Aku adalah tempatnya binatang-
binatang yang menjijikkan, maka
racunilah ia dengan amal sedekah.
5. Aku adalah tempat munkar dan
nakir bertanya, maka persiapkanlah
jawabanmu dengan mengucap
kalimat “LAAILAHAILLALLAH ”.
Senin, 07 Maret 2011
HADIST TENTANG ZIKIR BERJAMAAH
riwayat yang menerangkan tentang zikir berjamaah. Di antaranya adalah: Abu Said al-Khudzri meriwayatkan bahwa suatu ketika Muawiyah keluar rumah. Tiba-tiba ia menjumpai sebuah halaqah di masjid. Iapun bertanya, “Apa gerangan yang membuat kalian duduk di sini?” Mereka menjawab, “Kami duduk mengingat Allah. ” Benarkan kalian duduk di sini hanya untuk berzikir mengingat Allah, ” Tanya Muawiyah kembali. Mereka menjawab, “Demi Allah, kami duduk hanya untuk berzikir mengingat Allah. ” Mendengar hal tersebut, Muawiyah lalu berujar, “Sebenarnya saya tidak meminta kalian bersumpah karena ragu. Namun, pada suatu ketika Rasulullah saw. keluar dan mendapati para sahabat sedang duduk dalam sebuah halaqah. Rasulullah bertanya, ‘Apa yang mendorong kalian duduk semacam itu?’ Jawab mereka, ‘Kami duduk berzikir dan memuji Allah karena Dia telah membimbing kami menuju Islam.’ Lantas Nabi bertanya lagi, ‘Demi Allah apakah kalian duduk hanya untuk itu ?’ ‘Ya, demi Allah kami duduk hanya untuk itu,’ jawab mereka. Setelah itu, beliau berkata, ‘Sesungguhnya aku bertanya bukan karena ragu. Tetapi, Jibril datang kepadaku seraya memberitahukan bahwa Allah membanggakan kalian di
hadapan para malaikat. ” (HR Muslim, al-Tirmidzî, dan al-Nasa’i). Rasul Saw. bersabda, “Tidaklah satu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah di mana mereka membaca, mempelajari dan berzikir kepada Allah, melainkan ketenangan turun kepada mereka, rahmat Allah menaungi mereka, serta para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat-Nya. ” Menurut Abu Muslim al-Aghar, Abu Hurairah dan Abu Said mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum duduk dalam majlis zikir, melainkan mereka dikelilingi oleh malaikat, diliputi oleh rahmat Allah, diberi ketenangan, serta disebut- sebut di hadapan para malaikat- Nya.” (HR Muslim dan al-Tirmidzi). Selanjutnya, hadis dhaif menurut ijma para ulama tidak bisa dijadikan sebagai landasan amal. Hadis dhaif hanya diperbolehkan dalam sejumlah hal yang terkait dengan fadha’il al- amal (tentang keutamaan amal) serta dalam rangka targhib (memberi rangsangan) dan al-Tarhib (memberikan ancaman). Itupun dengan syarat-syarat yang harus diperhatikan. Wallahu a’lam bish-shawab.
hadapan para malaikat. ” (HR Muslim, al-Tirmidzî, dan al-Nasa’i). Rasul Saw. bersabda, “Tidaklah satu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah di mana mereka membaca, mempelajari dan berzikir kepada Allah, melainkan ketenangan turun kepada mereka, rahmat Allah menaungi mereka, serta para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat-Nya. ” Menurut Abu Muslim al-Aghar, Abu Hurairah dan Abu Said mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum duduk dalam majlis zikir, melainkan mereka dikelilingi oleh malaikat, diliputi oleh rahmat Allah, diberi ketenangan, serta disebut- sebut di hadapan para malaikat- Nya.” (HR Muslim dan al-Tirmidzi). Selanjutnya, hadis dhaif menurut ijma para ulama tidak bisa dijadikan sebagai landasan amal. Hadis dhaif hanya diperbolehkan dalam sejumlah hal yang terkait dengan fadha’il al- amal (tentang keutamaan amal) serta dalam rangka targhib (memberi rangsangan) dan al-Tarhib (memberikan ancaman). Itupun dengan syarat-syarat yang harus diperhatikan. Wallahu a’lam bish-shawab.
RAHASIA SURAH YUSUF
Oleh: Muh.yasin fii sabilillah
Surah Yusuf Ayat 4
“Idz Qaala Yuusufu Li Abiihi Yaa Abati Inni Ra Aitu Ahada’ Asyara Kaukabauw Wasy syamsa Wal
Qamara Ra aituhum Lii Sajidin”
“Ingatlah ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, ” Wahai Ayahku, sesungguhnya aku bermimpi
melihat sebelas buah bintang,
matahari dan bulan kelihatan
semuanya sujud kepadaku …”
Kemudian sambung Surah Thaahaa
Ayat 39 ُﺕ
“Wa-alqaytu ‘alayka mahabbatan minnii
walitushna’a'laa ‘ainii”
Dan aku telah melimpahkan
kepadamu kasih sayang yang
datang dariku, dan supaya kamu di
asuh di bawah
pengawasanku. ”(Qs.thaahaa:39)
Jika dibaca setia kali bertemu dengan
suami/istri/pacar atau siapa saja yang
kita kehendaki bacalah kedua ayat
tersebut di hadapannya. Tentu saja
baca dalam hati saja Insya Allah Anda
akan mendapatkan kesan yang baik dari mereka. Jika ingin disayang
dalam masyarakat, bacalah kedua
ayat ini sehabis sholat sebanyak 3 kali.
Wallahualam.
Surah Yusuf Ayat 4
“Idz Qaala Yuusufu Li Abiihi Yaa Abati Inni Ra Aitu Ahada’ Asyara Kaukabauw Wasy syamsa Wal
Qamara Ra aituhum Lii Sajidin”
“Ingatlah ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, ” Wahai Ayahku, sesungguhnya aku bermimpi
melihat sebelas buah bintang,
matahari dan bulan kelihatan
semuanya sujud kepadaku …”
Kemudian sambung Surah Thaahaa
Ayat 39 ُﺕ
“Wa-alqaytu ‘alayka mahabbatan minnii
walitushna’a'laa ‘ainii”
Dan aku telah melimpahkan
kepadamu kasih sayang yang
datang dariku, dan supaya kamu di
asuh di bawah
pengawasanku. ”(Qs.thaahaa:39)
Jika dibaca setia kali bertemu dengan
suami/istri/pacar atau siapa saja yang
kita kehendaki bacalah kedua ayat
tersebut di hadapannya. Tentu saja
baca dalam hati saja Insya Allah Anda
akan mendapatkan kesan yang baik dari mereka. Jika ingin disayang
dalam masyarakat, bacalah kedua
ayat ini sehabis sholat sebanyak 3 kali.
Wallahualam.
SHOLAT AJARAN PARA NABI
Sebagaimana keterangan surah Al-
Muzammil [73] ayat 1-20,
sesungguhnya shalat pertama yang
diwajibkan bagi Rasulullah SAW dan
umat Islam adalah shalat malam.
Namun, ketika ayat ke-20 diturunkan, shalat malam menjadi sunah.
Sebagaimana banyak dijelaskan oleh
para ulama, termasuk dalam berbagai
kitab klasik, pada malam hari saat
melaksanakan Isra, atau sesampainya
di Baitul Maqdis atau Al-Aqsha, Rasul SAW melaksanakan shalat dua rakaat.
Ketika itu. Rasul SAW bertindak
sebagai imam, sedangkan
makmumnya adalah para malaikat-
malaikat Allah, termasuk Jibril. Dengan
berlandaskan surah Muzammil [73] 1-19, shalat yang dikerjakan itu
adalah shalat malam yang diwajibkan
atas Rasul SAW. Lalu, ketika turun ayat ke-20 surah Al-
Muzammil, shalat yang diwajibkan
adalah shalat lima waktu yang
diterima oleh Rasul SAW ketika
melaksanakan Isra dan Miraj pada 27
Rajab tahun ke-2 sebelum hijrah atau tahun 11 kenabian Nabi Muhammad
SAW atau tepatnya tahun 622 M.
Ketika itu Rasul SAW berusia sekitar 51
tahun. Sebab, beliau lahir tahun 571 M,
kemudian diangkat menjadi Nabi
pada usia 40 tahun, dan berdakwah di Makkah selama 13 tahun dan
sekitar 10 tahun di Madinah. Namun, sewaktu di Makkah, dua
tahun sebelum hijrah, Allah
mewajibkan umat Islam untuk
mendirikan shalat lima waktu. Dan,
empat tahun kemudian, Allah
mewajibkan umat Islam berpuasa di bulan Ramadhan (2 Hijriyah). Namun,
tidak diketahui bagaimana saat itu
cara Rasul SAW melaksanakan shalat.
Hanya saja, dalam sejumlah riwayat,
beliau melaksanakan shalat seperti
yang dikerjakan umat Islam saat ini berdasarkan penjelasan dari Jibril.
Jibril mengajarkan Rasul SAW untuk
mendirikan shalat secara benar
sebagaimana yang diperintahkan oleh
Allah. Dan umat Islam, melaksanakan
shalat sebagaimana diajarkan oleh Rasul SAW. "Shalatlah kamu,
sebagaimana kalian melihat aku
shalat." (Muttafaq Alaih, disepakati ahli
hadis). Shalat orang terdahulu Sesungguhnya, shalat dalam Islam
tidaklah tiba-tiba [ujug-ujug Jawa),
tapi telah lama dilakukan. Bahkan,
shalat juga dilaksanakan oleh para
nabi-nabi terdahulu. Dr Jawwad Ali,
seorang pemikir kritis sekaligus sejarawan Muslim asal Baghdad,
dalam karyanya berjudul Sejarah
Shalat atau Tarikh as-Shalahfi al-Islam,
menjelaskan, shalat sudah dikerjakan
sebelum Islam datang. Artinya, shalat
juga dikerjakan oleh orang-orang terdahulu, termasuk dalam ajaran
agama terdahulu. Dalam sejarah agama Samawi atau
langit, shalat juga pernah dikerjakan
oleh para nabi-nabi mereka.
Sebagaimana dijelaskan oleh Sami bin
Abdullah al-Maghluts dalam kitabnya
Athlas Tarikh al-Anbiya wa ar-Rusul, agama Samawi itu adalah Islam,
Yahudi, Nasrani, Hanif, dan Shabiyah
Mandaiyah. Agama Islam, nabinya
adalah Muhammad SAW, Yahudi
(Musa), Nasrani (Isa), Hanif (Ibrahim),
OAYLIFE COMdan Shabiyah Mandaiyah (Yahya). Dan, para nabi tersebut juga
diperintahkan oleh Allah SWT untuk
mendirikan shalat sebagai suatu
kewajiban atas diri mereka dan
umatnya. Nabi Ibrahim, Ismail, dan
Ishak juga diperintahkan shalat. "Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah
menempatkan sebagian keturunanku
di lembah yang tidak mempunyai
tanam-tanaman di dekat rumah
Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya
Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka
jadikanlah hati sebagian manusia
cenderung kepada mereka dan beri
rezekilah mereka dari buah-buahan,
mudah-mudahan mereka
bersyukur." (Ibrahim [14] 37). Lihat juga dalam ayat ke-40. Nabi Musa dan Harun pun demikian.
"Dan Kami wahyukan kepada Musa
dan saudaranya Ambillah olehmu
berdua beberapa buah rumah di Mesir
untuk tempat tinggal bagi kaummu
dan jadikanlah olehmu rumah- rumahmu itu tempat shalat dan
dirikanlah olehmu shalat serta
gembirakanlah orang-orang yang
beriman." (Yunus [10] 87). Nabi Daud
juga mendirikan shalat, sebagaimana
tertera dalam Mazmur 119 ayat 62. "Di tengah malam aku bangun untuk
memuji-Mu ...." Nabi Zakaria juga mendirikan shalat,
sebagaimana terdapat dalam surah Ali
Imran [3] 39. "Kemudian Malaikat
(Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia
tengah berdiri melakukan shalat di
mihrab." Nabi Isa juga shalat. "Berkata Isa Sesungguhnya aku ini hamba
Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil)
dan Dia menjadikan aku seorang nabi,
dan Dia menjadikan aku seorang yang
diberkati di mana saja aku berada,
dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan
(menunaikan) zakat selama aku
hidup; dan berbakti kepada ibuku,
dan Dia tidak menjadikan aku seorang
yang sombong lagi celaka. Dan
kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan,
pada hari aku meninggal dan pada
hari aku dibangkitkan hidup
kembali." (QS Maryam [19] 30-33). Bahkan, Luqman juga memerintahkan
shalat kepada anak atau
keturunannya. (QS Luqman [31] 17).
Dan kaum bani Israil, Yahudi dan
Nasrani, juga diperintahkan untuk
shalat. "Padahal, mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan)
agama yang lurus, dan supaya
mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS
Al-Bayyinah (98J 5). Shalat Nasrani dan Yahudi Menurut Jawwad Ali, kata shalat
berasal dari bahasa Aramaic-bahasa
ibu Yesus Kristus dan bahasa ash
sebagian besar Kitab Daniel dan Ezra
serta bahasa utama Talmud-dari suku
kata shad-lam-alif; shala yang memiliki arti rukuk, atau merunduk (inhina).
Istilah "shalat" digunakan untuk
merepresentasikan praktik ritual
keagamaan, dan kata "shalat" ini
kemudian digunakan oleh kalangan
Yahudi sehingga sejak saat itu kata "shalat" menjadi bahasa Aramaic-
Ibrani. Umat Yahudi menggunakan
kata "shalutah" pada masa akhir
periode Taurat. Hal ini dikuatkan oleh pendapat
seorang sahabat terkemuka, Ibnu
Abbas, yang menyatakan bahwa kata
"shala" berasal dari bahasa Ibrani
"shaluta" yang bermakna "tempat
ibadah Yahudi". Istilah "shaluta" sendiri pada perkembangannya
masuk ke dalam bahasa Arab melalui
tradisi Judeo-Kristiani dan kontak
interaktif dengan komunitas Yahudi
Ahli Kitab. Begitulah pemaparan awal
Dr Jawwad Ali tentang shalat yang ditelaahnya secara filologis. Dikemukakan pula bahwa
berdasarkan syair Jahiliyah, terdapat
keterangan yang mengisyaratkan
adanya informasi perihal ibadah kaum
Yahudi dan Nasrani, yang mencakup
gerakan rukuk, sujud, dan membaca tasbih. Shalat-shalat kaum Yahudi dan
Nasrani pada umumnya tidaklah
dikenal oleh kaum Jahiliyah-pagan.
Namun, bagi sebagian kaum Jahiliyah
yang pernah berinteraksi dengan
orang-orang Yahudi dan Nasrani pada masa itu, ritual shalat orang-orang
Yahudi dan Nasrani betul-betul
mereka ketahui. Kaum pagan yang selalu
melaksanakan haji pada musim-
musim tertentu dan pada saat itu pun
memiliki tata cara tersendiri untuk
mendekatkan diri kepada berhala-
berhala mereka. Ini menandakan bahwa aktivitas penyem-bahan
bernama ritual dikenal oleh komunitas
paling primitif sekalipun. Dengan
demikian, shalat adalah hal yang
bersifat integral dengan semua
doktrin agama. Tentu, konsep ritual shalat dalam setiap agama adalah
berbeda-beda, pun tata-caranya
variatif. Hal ini menjadi concern para pakar
studi agama, bahwa suku-suku kuno,
bahkan suku Barbar sekalipun,
memiliki ritual khusus yang mereka
sebut "shalat". Di antara penemuan
arkeologadalah teks-teks kuno yang dahulu dibaca oleh orang-orang
Assyiria dan Babilonia dalam ritual
shalat mereka. Indikasi yang
menyebutkan adanya praktik ritual
shalat di kalangan pagan Makkah,
misalnya tertera dalam salah satu ayat Alquran, surah al-Anfal [8] ayat 35
"Doa-doa mereka di sekitar Baitullah
itu tak lain hanya sekadar siulan dan
tepukan tangan". Hal ini dijelaskan pula oleh para ahli
tafsir bahwa kaum Quraisy pagan juga
melakukan thawaf dengan telanjang,
bersiul, dan bertepuk tangan. Frasa
"shalatuhum" dalam ayat di atas
artinya "doa-doa mereka"; mereka bersiul dan bertepuk tangan sebagai
doa dan tasbih. Bentuk-bentuk shalat Setiap agama menentukan bentuk
khusus ritual shalat yang sesuai
dengan konsep agama masing-
masing dan kaidah-kaidahyang
memanifestasikan pengagungan
kepada Tuhan. Sebagian agama menetapkan tata cara shalat berupa
diam berkontemplasi dan menghadap
kepada Tuhan (bagi agama
monotheis) atau tuhan-tuhan (bagi
agama politheis). Sebagian agama lain menetapkan tata
cara berupa gerakan kemudian diam
dengan tenang diiringi bacaan-
bacaan khusus yang dihafal. Dan,
masih ada bentuk-bentuk ritual yang
lain. Hanya saja, diam dengan tenang ketika berkomunikasi dengan Tuhan
hampir menjadi tiang pokok ritual
kebanyakan agama, kemudian
diteruskan dengan gerakan rukuk
dan sujud. Pada umumnya, sujud dilakukan di
depan berhala-berhala. Dan, sujud
merupakan ungkapan pengagungan
terhadap objek yang disembah.
Agama Yahudi menilai sujud yang
benar adalah yang semata-mata ditujukan kepada Tuhan Pencipta,
sedangkan sujud kepada manusia
adalah sujud paganis-tik. Orang Arab
(pagan) menolak rukuk dan sujud
lantaran dua gerakan tersebut dinilai
sebagai simbol kerendahan dan kehinaan. Dalam beberapa tayangan yang ada di
Youtube tentang shalat orang Yahudi
(Jewish Prayers), shalatnya mereka
hampir mirip dengan shalat umat
Islam. Mereka mengangkat kedua
tangan, kemudian bersedekap, latu rukuk dan sujud. Hanya saja,
sujudnya mereka ada perbedaan.
Demikian juga dengan orang-orang
Nasrani. Karena itu, menurut Dr
Jawwad Ali, walaupun shalat
merupakan ajaran agama-agama dahulu, bukan berarti Islam meng-
copy paste praktik shalat itu secara
mentah-mentah.
Muzammil [73] ayat 1-20,
sesungguhnya shalat pertama yang
diwajibkan bagi Rasulullah SAW dan
umat Islam adalah shalat malam.
Namun, ketika ayat ke-20 diturunkan, shalat malam menjadi sunah.
Sebagaimana banyak dijelaskan oleh
para ulama, termasuk dalam berbagai
kitab klasik, pada malam hari saat
melaksanakan Isra, atau sesampainya
di Baitul Maqdis atau Al-Aqsha, Rasul SAW melaksanakan shalat dua rakaat.
Ketika itu. Rasul SAW bertindak
sebagai imam, sedangkan
makmumnya adalah para malaikat-
malaikat Allah, termasuk Jibril. Dengan
berlandaskan surah Muzammil [73] 1-19, shalat yang dikerjakan itu
adalah shalat malam yang diwajibkan
atas Rasul SAW. Lalu, ketika turun ayat ke-20 surah Al-
Muzammil, shalat yang diwajibkan
adalah shalat lima waktu yang
diterima oleh Rasul SAW ketika
melaksanakan Isra dan Miraj pada 27
Rajab tahun ke-2 sebelum hijrah atau tahun 11 kenabian Nabi Muhammad
SAW atau tepatnya tahun 622 M.
Ketika itu Rasul SAW berusia sekitar 51
tahun. Sebab, beliau lahir tahun 571 M,
kemudian diangkat menjadi Nabi
pada usia 40 tahun, dan berdakwah di Makkah selama 13 tahun dan
sekitar 10 tahun di Madinah. Namun, sewaktu di Makkah, dua
tahun sebelum hijrah, Allah
mewajibkan umat Islam untuk
mendirikan shalat lima waktu. Dan,
empat tahun kemudian, Allah
mewajibkan umat Islam berpuasa di bulan Ramadhan (2 Hijriyah). Namun,
tidak diketahui bagaimana saat itu
cara Rasul SAW melaksanakan shalat.
Hanya saja, dalam sejumlah riwayat,
beliau melaksanakan shalat seperti
yang dikerjakan umat Islam saat ini berdasarkan penjelasan dari Jibril.
Jibril mengajarkan Rasul SAW untuk
mendirikan shalat secara benar
sebagaimana yang diperintahkan oleh
Allah. Dan umat Islam, melaksanakan
shalat sebagaimana diajarkan oleh Rasul SAW. "Shalatlah kamu,
sebagaimana kalian melihat aku
shalat." (Muttafaq Alaih, disepakati ahli
hadis). Shalat orang terdahulu Sesungguhnya, shalat dalam Islam
tidaklah tiba-tiba [ujug-ujug Jawa),
tapi telah lama dilakukan. Bahkan,
shalat juga dilaksanakan oleh para
nabi-nabi terdahulu. Dr Jawwad Ali,
seorang pemikir kritis sekaligus sejarawan Muslim asal Baghdad,
dalam karyanya berjudul Sejarah
Shalat atau Tarikh as-Shalahfi al-Islam,
menjelaskan, shalat sudah dikerjakan
sebelum Islam datang. Artinya, shalat
juga dikerjakan oleh orang-orang terdahulu, termasuk dalam ajaran
agama terdahulu. Dalam sejarah agama Samawi atau
langit, shalat juga pernah dikerjakan
oleh para nabi-nabi mereka.
Sebagaimana dijelaskan oleh Sami bin
Abdullah al-Maghluts dalam kitabnya
Athlas Tarikh al-Anbiya wa ar-Rusul, agama Samawi itu adalah Islam,
Yahudi, Nasrani, Hanif, dan Shabiyah
Mandaiyah. Agama Islam, nabinya
adalah Muhammad SAW, Yahudi
(Musa), Nasrani (Isa), Hanif (Ibrahim),
OAYLIFE COMdan Shabiyah Mandaiyah (Yahya). Dan, para nabi tersebut juga
diperintahkan oleh Allah SWT untuk
mendirikan shalat sebagai suatu
kewajiban atas diri mereka dan
umatnya. Nabi Ibrahim, Ismail, dan
Ishak juga diperintahkan shalat. "Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah
menempatkan sebagian keturunanku
di lembah yang tidak mempunyai
tanam-tanaman di dekat rumah
Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya
Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka
jadikanlah hati sebagian manusia
cenderung kepada mereka dan beri
rezekilah mereka dari buah-buahan,
mudah-mudahan mereka
bersyukur." (Ibrahim [14] 37). Lihat juga dalam ayat ke-40. Nabi Musa dan Harun pun demikian.
"Dan Kami wahyukan kepada Musa
dan saudaranya Ambillah olehmu
berdua beberapa buah rumah di Mesir
untuk tempat tinggal bagi kaummu
dan jadikanlah olehmu rumah- rumahmu itu tempat shalat dan
dirikanlah olehmu shalat serta
gembirakanlah orang-orang yang
beriman." (Yunus [10] 87). Nabi Daud
juga mendirikan shalat, sebagaimana
tertera dalam Mazmur 119 ayat 62. "Di tengah malam aku bangun untuk
memuji-Mu ...." Nabi Zakaria juga mendirikan shalat,
sebagaimana terdapat dalam surah Ali
Imran [3] 39. "Kemudian Malaikat
(Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia
tengah berdiri melakukan shalat di
mihrab." Nabi Isa juga shalat. "Berkata Isa Sesungguhnya aku ini hamba
Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil)
dan Dia menjadikan aku seorang nabi,
dan Dia menjadikan aku seorang yang
diberkati di mana saja aku berada,
dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan
(menunaikan) zakat selama aku
hidup; dan berbakti kepada ibuku,
dan Dia tidak menjadikan aku seorang
yang sombong lagi celaka. Dan
kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan,
pada hari aku meninggal dan pada
hari aku dibangkitkan hidup
kembali." (QS Maryam [19] 30-33). Bahkan, Luqman juga memerintahkan
shalat kepada anak atau
keturunannya. (QS Luqman [31] 17).
Dan kaum bani Israil, Yahudi dan
Nasrani, juga diperintahkan untuk
shalat. "Padahal, mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan)
agama yang lurus, dan supaya
mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS
Al-Bayyinah (98J 5). Shalat Nasrani dan Yahudi Menurut Jawwad Ali, kata shalat
berasal dari bahasa Aramaic-bahasa
ibu Yesus Kristus dan bahasa ash
sebagian besar Kitab Daniel dan Ezra
serta bahasa utama Talmud-dari suku
kata shad-lam-alif; shala yang memiliki arti rukuk, atau merunduk (inhina).
Istilah "shalat" digunakan untuk
merepresentasikan praktik ritual
keagamaan, dan kata "shalat" ini
kemudian digunakan oleh kalangan
Yahudi sehingga sejak saat itu kata "shalat" menjadi bahasa Aramaic-
Ibrani. Umat Yahudi menggunakan
kata "shalutah" pada masa akhir
periode Taurat. Hal ini dikuatkan oleh pendapat
seorang sahabat terkemuka, Ibnu
Abbas, yang menyatakan bahwa kata
"shala" berasal dari bahasa Ibrani
"shaluta" yang bermakna "tempat
ibadah Yahudi". Istilah "shaluta" sendiri pada perkembangannya
masuk ke dalam bahasa Arab melalui
tradisi Judeo-Kristiani dan kontak
interaktif dengan komunitas Yahudi
Ahli Kitab. Begitulah pemaparan awal
Dr Jawwad Ali tentang shalat yang ditelaahnya secara filologis. Dikemukakan pula bahwa
berdasarkan syair Jahiliyah, terdapat
keterangan yang mengisyaratkan
adanya informasi perihal ibadah kaum
Yahudi dan Nasrani, yang mencakup
gerakan rukuk, sujud, dan membaca tasbih. Shalat-shalat kaum Yahudi dan
Nasrani pada umumnya tidaklah
dikenal oleh kaum Jahiliyah-pagan.
Namun, bagi sebagian kaum Jahiliyah
yang pernah berinteraksi dengan
orang-orang Yahudi dan Nasrani pada masa itu, ritual shalat orang-orang
Yahudi dan Nasrani betul-betul
mereka ketahui. Kaum pagan yang selalu
melaksanakan haji pada musim-
musim tertentu dan pada saat itu pun
memiliki tata cara tersendiri untuk
mendekatkan diri kepada berhala-
berhala mereka. Ini menandakan bahwa aktivitas penyem-bahan
bernama ritual dikenal oleh komunitas
paling primitif sekalipun. Dengan
demikian, shalat adalah hal yang
bersifat integral dengan semua
doktrin agama. Tentu, konsep ritual shalat dalam setiap agama adalah
berbeda-beda, pun tata-caranya
variatif. Hal ini menjadi concern para pakar
studi agama, bahwa suku-suku kuno,
bahkan suku Barbar sekalipun,
memiliki ritual khusus yang mereka
sebut "shalat". Di antara penemuan
arkeologadalah teks-teks kuno yang dahulu dibaca oleh orang-orang
Assyiria dan Babilonia dalam ritual
shalat mereka. Indikasi yang
menyebutkan adanya praktik ritual
shalat di kalangan pagan Makkah,
misalnya tertera dalam salah satu ayat Alquran, surah al-Anfal [8] ayat 35
"Doa-doa mereka di sekitar Baitullah
itu tak lain hanya sekadar siulan dan
tepukan tangan". Hal ini dijelaskan pula oleh para ahli
tafsir bahwa kaum Quraisy pagan juga
melakukan thawaf dengan telanjang,
bersiul, dan bertepuk tangan. Frasa
"shalatuhum" dalam ayat di atas
artinya "doa-doa mereka"; mereka bersiul dan bertepuk tangan sebagai
doa dan tasbih. Bentuk-bentuk shalat Setiap agama menentukan bentuk
khusus ritual shalat yang sesuai
dengan konsep agama masing-
masing dan kaidah-kaidahyang
memanifestasikan pengagungan
kepada Tuhan. Sebagian agama menetapkan tata cara shalat berupa
diam berkontemplasi dan menghadap
kepada Tuhan (bagi agama
monotheis) atau tuhan-tuhan (bagi
agama politheis). Sebagian agama lain menetapkan tata
cara berupa gerakan kemudian diam
dengan tenang diiringi bacaan-
bacaan khusus yang dihafal. Dan,
masih ada bentuk-bentuk ritual yang
lain. Hanya saja, diam dengan tenang ketika berkomunikasi dengan Tuhan
hampir menjadi tiang pokok ritual
kebanyakan agama, kemudian
diteruskan dengan gerakan rukuk
dan sujud. Pada umumnya, sujud dilakukan di
depan berhala-berhala. Dan, sujud
merupakan ungkapan pengagungan
terhadap objek yang disembah.
Agama Yahudi menilai sujud yang
benar adalah yang semata-mata ditujukan kepada Tuhan Pencipta,
sedangkan sujud kepada manusia
adalah sujud paganis-tik. Orang Arab
(pagan) menolak rukuk dan sujud
lantaran dua gerakan tersebut dinilai
sebagai simbol kerendahan dan kehinaan. Dalam beberapa tayangan yang ada di
Youtube tentang shalat orang Yahudi
(Jewish Prayers), shalatnya mereka
hampir mirip dengan shalat umat
Islam. Mereka mengangkat kedua
tangan, kemudian bersedekap, latu rukuk dan sujud. Hanya saja,
sujudnya mereka ada perbedaan.
Demikian juga dengan orang-orang
Nasrani. Karena itu, menurut Dr
Jawwad Ali, walaupun shalat
merupakan ajaran agama-agama dahulu, bukan berarti Islam meng-
copy paste praktik shalat itu secara
mentah-mentah.
Sabtu, 05 Maret 2011
TANDA TANDA KEMATIAN
Tanda-tanda kematian
1. 100 hari : Seluruh badan
rasa bergegar.
2. 60 hari : Pusat rasa
bergerak-gerak.
3. 40 hari : Daun dengan nama orang yang akan mati di arash
akan jatuh dan malaikat maut
pun datang kepada orang
dengan nama tersebut lalu
mendampinginya sehingga
saat kematiannya. Kadang- kadang orang yang akan mati
itu akan merasa atau nampak
kehadiran malaikat maut
tersebut dan akan sering
kelihatan seperti sedang
rungsing.
4. 7 hari : Mengidam makanan.
5. 5 hari : Anak lidah bergerak-
gerak.
6. 3 hari : Bahagian tengah di
dahi bergerak-gerak.
7. 2 hari : Seluruh dahi rasa bergerak-gerak.
8. 1 hari : Terasa bahagian
ubun bergerak-gerak di antara
waktu subuh dan ashar.
9. Saat akhir : Terasa sejuk dari
bahagian pusat hingga ke tulang solbi (di bahagian
belakang badan) Seelok-
eloknya bila sudah merasa
tanda yang akhir sekali,
mengucap dalam keadaan
qiam and jangan lagi bercakap-cakap.
******Bila Malaikat Mencabut
Nyawa******
Baginda Rasullullah S.A.W
bersabda :
“ Apabila telah sampai ajal seseorang itu maka akan
masuklah satu kumpulan
malaikat ke dalam lubang-
lubang kecil dalam badan dan
kemudian mereka menarik
rohnya melalui kedua-dua telapak kakinya sehingga
sampai ke lutut. Setelah itu
datang pula sekumpulan
malaikat yang lain masuk
menarik roh dari lutut hingga
sampai ke perut dan kemudiannya mereka keluar.
Datang lagi satu kumpulan
malaikat yang lain masuk dan
menarik rohnya dari perut
hingga sampai ke dada dan
kemudiannya mereka keluar. Dan akhir sekali datang lagi
satu kumpulan malaikat
masuk dan menarik roh dari
dadanya hingga sampai ke
kerongkong dan itulah yang
dikatakan saat nazak orang itu.” Sambung Rasullullah S.A.W.
lagi:
“ Kalau orang yang nazak itu orang yang beriman, maka
malaikat Jibril A.S. akan
menebarkan sayapnya yang
disebelah kanan sehingga
orang yang nazak itu dapat
melihat kedudukannya di syurga. Apabila orang yang
beriman itu melihat syurga,
maka dia akan lupa kepada
orang yang berada
disekelilinginya. Ini adalah
kerana sangat rindunya pada syurga dan melihat terus
pandangannya kepada sayap
Jibril A.S. ” Kalau orang yang nazak itu
orang munafik, maka Jibril A.S.
akan menebarkan sayap
disebelah kiri. Maka orang
yang nazak tu dapat melihat
kedudukannya di neraka dan dalam masa itu orang itu tidak
lagi melihat orang di
sekelilinginya. Ini adalah
kerana terlalu takutnya
apabila melihat neraka yang
akan menjadi tempat tinggalnya.
Dari sebuah hadis bahwa
apabila Allah S.W.T.
menghendaki seorang
mukmin itu dicabut nyawanya
maka datanglah malaikat maut. Apabila malaikat maut
hendak mencabut roh orang
mukmin itu dari arah mulut
maka keluarlah zikir dari
mulut orang mukmin itu
dengan berkata: “ Tidak ada jalan bagimu mencabut roh orang ini melalui
jalan ini kerana orang ini
sentiasa menjadikan lidahnya
berzikir kepada Allah S.W.T. ” Setelah malaikat maut
mendengar penjelasan itu,
maka dia pun kembali kepada
Allah S.W.T. dan menjelaskan
apa yang diucapkan oleh lidah
orang mukmin itu. Lalu Allah S.W.T. berfirman yang
bermaksud:
“ Wahai malaikat maut, kamu cabutlah ruhnya dari arah
lain. ” Sebaik saja malaikat maut
mendapat perintah Allah S.W.T.
maka malaikat maut pun cuba
mencabut roh orang mukmin
dari arah tangan. Tapi
keluarlah sedekah dari arah tangan orang mukmin itu,
keluarlah usapan kepala anak-
anak yatim dan keluar
penulisan ilmu.
Maka berkata tangan : Tidak
ada jalan bagimu untuk mencabut roh orang mukmin
dari arah ini, tangan ini telah
mengeluarkan sedekah,
tangan ini mengusap kepala
anak-anak yatim dan tangan
ini menulis ilmu pengetahuan.” Oleh kerana malaikat maut
gagal untuk mencabut roh
orang mukmin dari arah
tangan maka malaikat maut
cuba pula dari arah kaki.
Malangnya malaikat maut juga gagal melakukan sebab
kaki berkata: “Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana
kaki ini sentiasa berjalan
berulang alik mengerjakan
solat dengan berjemaah dan
kaki ini juga berjalan
menghadiri majlis-majlis ilmu.” Apabila gagal malaikat maut,
mencabut roh orang mukmin
dari arah kaki, maka malaikat
maut cuba pula dari arah
telinga. Sebaik saja malaikat
maut menghampiri telinga maka telinga pun
berkata: ”Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana
telinga ini sentiasa mendengar
bacaan Al-Quran dan zikir. ” Akhir sekali malaikat maut
cuba mencabut orang mukmin
dari arah mata tetapi baru saja
hendak menghampiri mata
maka berkata mata: ”Tidak ada jalan bagimu dari arah ini
sebab mata ini sentiasa
melihat beberapa mushaf dan
kitab-kitab dan mata ini
sentiasa menangis kerana
takutkan Allah. ”Setelah gagal maka malaikat maut kembali
kepada Allah S.W.T.
Kemudian Allah S.W.T.
berfirman yang bermaksud :
“ Wahai malaikatKu, tulis AsmaKu ditelapak tanganmu
dan tunjukkan kepada roh
orang yang beriman itu. ” Sebaik saja mendapat perintah
Allah S.W.T. maka malaikat
maut menghampiri roh orang
itu dan menunjukkan Asma
Allah S.W.T. Sebaik saja melihat
Asma Allah dan cintanya kepada Allah S.W.T maka
keluarlah roh tersebut dari
arah mulut dengan tenang.
Abu Bakar R.A. telah ditanya
tentang kemana roh pergi
setelah ia keluar dari jasad. Maka berkata Abu Bakar
R.A: ”Roh itu menuju ketujuh tempat :
1. Roh para Nabi dan utusan
menuju ke Syurga Adnin.
2. Roh para ulama menuju ke
Syurga Firdaus.
3. Roh mereka yang berbahagia menuju ke Syurga
Illiyyina.
4. Roh para shuhada
berterbangan seperti burung di
syurga mengikut kehendak
mereka. 5. Roh para mukmin yang
berdosa akan tergantung di
udara tidak di bumi dan tidak
di langit sampai hari kiamat.
6. Roh anak-anak orang yang
beriman akan berada di gunung dari minyak misik.
7. Roh orang-orang kafir akan
berada dalam neraka Sijjin,
mereka diseksa berserta
jasadnya hingga sampai hari
Kiamat. ” Telah bersabda Rasullullah
S.A.W: Tiga kelompok manusia
yang akan dijabat tangannya
oleh para malaikat pada hari
mereka keluar dari kuburnya:
1. Orang-orang yang mati syahid.
2. Orang-orang yang
mengerjakan solat malam
dalam bulan ramadhan.
3. Orang berpuasa di hari
Arafah. Sekian untuk ingatan kita
bersama.
Wassallam
1. 100 hari : Seluruh badan
rasa bergegar.
2. 60 hari : Pusat rasa
bergerak-gerak.
3. 40 hari : Daun dengan nama orang yang akan mati di arash
akan jatuh dan malaikat maut
pun datang kepada orang
dengan nama tersebut lalu
mendampinginya sehingga
saat kematiannya. Kadang- kadang orang yang akan mati
itu akan merasa atau nampak
kehadiran malaikat maut
tersebut dan akan sering
kelihatan seperti sedang
rungsing.
4. 7 hari : Mengidam makanan.
5. 5 hari : Anak lidah bergerak-
gerak.
6. 3 hari : Bahagian tengah di
dahi bergerak-gerak.
7. 2 hari : Seluruh dahi rasa bergerak-gerak.
8. 1 hari : Terasa bahagian
ubun bergerak-gerak di antara
waktu subuh dan ashar.
9. Saat akhir : Terasa sejuk dari
bahagian pusat hingga ke tulang solbi (di bahagian
belakang badan) Seelok-
eloknya bila sudah merasa
tanda yang akhir sekali,
mengucap dalam keadaan
qiam and jangan lagi bercakap-cakap.
******Bila Malaikat Mencabut
Nyawa******
Baginda Rasullullah S.A.W
bersabda :
“ Apabila telah sampai ajal seseorang itu maka akan
masuklah satu kumpulan
malaikat ke dalam lubang-
lubang kecil dalam badan dan
kemudian mereka menarik
rohnya melalui kedua-dua telapak kakinya sehingga
sampai ke lutut. Setelah itu
datang pula sekumpulan
malaikat yang lain masuk
menarik roh dari lutut hingga
sampai ke perut dan kemudiannya mereka keluar.
Datang lagi satu kumpulan
malaikat yang lain masuk dan
menarik rohnya dari perut
hingga sampai ke dada dan
kemudiannya mereka keluar. Dan akhir sekali datang lagi
satu kumpulan malaikat
masuk dan menarik roh dari
dadanya hingga sampai ke
kerongkong dan itulah yang
dikatakan saat nazak orang itu.” Sambung Rasullullah S.A.W.
lagi:
“ Kalau orang yang nazak itu orang yang beriman, maka
malaikat Jibril A.S. akan
menebarkan sayapnya yang
disebelah kanan sehingga
orang yang nazak itu dapat
melihat kedudukannya di syurga. Apabila orang yang
beriman itu melihat syurga,
maka dia akan lupa kepada
orang yang berada
disekelilinginya. Ini adalah
kerana sangat rindunya pada syurga dan melihat terus
pandangannya kepada sayap
Jibril A.S. ” Kalau orang yang nazak itu
orang munafik, maka Jibril A.S.
akan menebarkan sayap
disebelah kiri. Maka orang
yang nazak tu dapat melihat
kedudukannya di neraka dan dalam masa itu orang itu tidak
lagi melihat orang di
sekelilinginya. Ini adalah
kerana terlalu takutnya
apabila melihat neraka yang
akan menjadi tempat tinggalnya.
Dari sebuah hadis bahwa
apabila Allah S.W.T.
menghendaki seorang
mukmin itu dicabut nyawanya
maka datanglah malaikat maut. Apabila malaikat maut
hendak mencabut roh orang
mukmin itu dari arah mulut
maka keluarlah zikir dari
mulut orang mukmin itu
dengan berkata: “ Tidak ada jalan bagimu mencabut roh orang ini melalui
jalan ini kerana orang ini
sentiasa menjadikan lidahnya
berzikir kepada Allah S.W.T. ” Setelah malaikat maut
mendengar penjelasan itu,
maka dia pun kembali kepada
Allah S.W.T. dan menjelaskan
apa yang diucapkan oleh lidah
orang mukmin itu. Lalu Allah S.W.T. berfirman yang
bermaksud:
“ Wahai malaikat maut, kamu cabutlah ruhnya dari arah
lain. ” Sebaik saja malaikat maut
mendapat perintah Allah S.W.T.
maka malaikat maut pun cuba
mencabut roh orang mukmin
dari arah tangan. Tapi
keluarlah sedekah dari arah tangan orang mukmin itu,
keluarlah usapan kepala anak-
anak yatim dan keluar
penulisan ilmu.
Maka berkata tangan : Tidak
ada jalan bagimu untuk mencabut roh orang mukmin
dari arah ini, tangan ini telah
mengeluarkan sedekah,
tangan ini mengusap kepala
anak-anak yatim dan tangan
ini menulis ilmu pengetahuan.” Oleh kerana malaikat maut
gagal untuk mencabut roh
orang mukmin dari arah
tangan maka malaikat maut
cuba pula dari arah kaki.
Malangnya malaikat maut juga gagal melakukan sebab
kaki berkata: “Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana
kaki ini sentiasa berjalan
berulang alik mengerjakan
solat dengan berjemaah dan
kaki ini juga berjalan
menghadiri majlis-majlis ilmu.” Apabila gagal malaikat maut,
mencabut roh orang mukmin
dari arah kaki, maka malaikat
maut cuba pula dari arah
telinga. Sebaik saja malaikat
maut menghampiri telinga maka telinga pun
berkata: ”Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana
telinga ini sentiasa mendengar
bacaan Al-Quran dan zikir. ” Akhir sekali malaikat maut
cuba mencabut orang mukmin
dari arah mata tetapi baru saja
hendak menghampiri mata
maka berkata mata: ”Tidak ada jalan bagimu dari arah ini
sebab mata ini sentiasa
melihat beberapa mushaf dan
kitab-kitab dan mata ini
sentiasa menangis kerana
takutkan Allah. ”Setelah gagal maka malaikat maut kembali
kepada Allah S.W.T.
Kemudian Allah S.W.T.
berfirman yang bermaksud :
“ Wahai malaikatKu, tulis AsmaKu ditelapak tanganmu
dan tunjukkan kepada roh
orang yang beriman itu. ” Sebaik saja mendapat perintah
Allah S.W.T. maka malaikat
maut menghampiri roh orang
itu dan menunjukkan Asma
Allah S.W.T. Sebaik saja melihat
Asma Allah dan cintanya kepada Allah S.W.T maka
keluarlah roh tersebut dari
arah mulut dengan tenang.
Abu Bakar R.A. telah ditanya
tentang kemana roh pergi
setelah ia keluar dari jasad. Maka berkata Abu Bakar
R.A: ”Roh itu menuju ketujuh tempat :
1. Roh para Nabi dan utusan
menuju ke Syurga Adnin.
2. Roh para ulama menuju ke
Syurga Firdaus.
3. Roh mereka yang berbahagia menuju ke Syurga
Illiyyina.
4. Roh para shuhada
berterbangan seperti burung di
syurga mengikut kehendak
mereka. 5. Roh para mukmin yang
berdosa akan tergantung di
udara tidak di bumi dan tidak
di langit sampai hari kiamat.
6. Roh anak-anak orang yang
beriman akan berada di gunung dari minyak misik.
7. Roh orang-orang kafir akan
berada dalam neraka Sijjin,
mereka diseksa berserta
jasadnya hingga sampai hari
Kiamat. ” Telah bersabda Rasullullah
S.A.W: Tiga kelompok manusia
yang akan dijabat tangannya
oleh para malaikat pada hari
mereka keluar dari kuburnya:
1. Orang-orang yang mati syahid.
2. Orang-orang yang
mengerjakan solat malam
dalam bulan ramadhan.
3. Orang berpuasa di hari
Arafah. Sekian untuk ingatan kita
bersama.
Wassallam
Langganan:
Postingan (Atom)