Manusia pasti berbuat dosa dan pasti
butuh ampunan Allah. Oleh karena itu
Allah memberikan keutamaan dan
kemurahan kepada hambaNya dengan
mensyariatkan amalan-amalan yang
dapat menghapus dosa disamping taubat. Sebagiannya dijelaskan dalam
Al Qur ’an dan sebagiannya lagi dalam Sunnah Rasululloh. Diantaranya
sebagai berikut:
1. Menyempurnakan wudhu dan
berjalan kemasjid, sebagaimana
disampaikan Rasululloh: Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu
yang dapat menghapus dosa dan
mengangkat derajat. Mereka
menjawab: ya wahai rasululloh. Beliau
berkata: menyempurnakan wudhu
ketika masa sulit dan memperbanyak langkah kemasjid serta menunggu
sholat satu ke sholat yang lain, karena
hal itu adalah ribath. (HR Muslim dan Al
Tirmidzi) Juga dalam sabda beliau yang lain:
Jika seseorang berwudhu lalu
menyempurnakan wudhunya
kemudian berangkat sholat dengan
niatan hanya untuk sholat, maka tidak
melangkah satu langkah kecuali Allah angkat satu derajat dan hapus satu
dosa. (HR Al Tirmidzi)
2. Puasa hari Arofah dan A ’syura’
Nabi Bersabda: Puasa hari Arafah saya
berharap dari Allah untuk menghapus
setahun yangsebelumnya dan setahun
setelahnya dan Puasa hari A ’syura saya berharap dari Allah menghapus
setahun yang telah lalu. (HR Al Tirmidzi
dan dishohihkan Al Albani dalam
Shohih Al Jaami ’ no. 3853)
3. Sholat tarawih di bulan Romadhon,
sabda Rasululloh: Siapa yang menegakkan ramadhan
(sholat tarawih) dengan iman dan
mengharap pahala Allah maka
diampunilah dosanya yang telah lalu.
(Muttafaqun ‘Alaihi)
4. Haji yang mabrur,
Siapa yang berhaji lalu tidak berkata
keji dan berbuat kefasikan maka
kembali seperti hari ibunya
melahirkannya (HR Al Bukhori) dan
sabda beliau:
Haji mabrur balasannya hanya syurga. (HR Ahmad)
5. Memaafkan hutang orang yang sulit membayar
Dari Hudzaifah beliau berkata Allah
memanggil seorang hambaNya yang
Allah karuniai harta. Maka Allah
berkata kepadanya: Apa yang kamu
kerjakan didunia? Ia menjawab: Wahai
Rabb kamu telah menganugerahkanku hartaMu lalu aku bermuamalah dengan
orang-orang. Dan dahulu akhlakku
adalah memaafkan, sehingga aku
dahulu mempermudah orang yang
mampu dan menunda pembayaran
hutang orang yang sulit membayar. Maka Allah berfirman: Aku lebih berhak
darimu maka maafkanlah hambaKu ini.
(HR Muslim)
6. Melakukan kebaikan setelah berbuat dosa
Bertakwalah kepada Allah dimanapun
kamu berada, ikutilah kejelekan
dengan kebaikan yang menghapusnya
dan pergauli manusia dengan etika
yang mulia. (HR Al Tirmidzi dan Ahmad
dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami ’ no. 97)
7. Memberi salam dan berkata baik,
sabda Rasululloh: Sesungguhnya termasuk sebab
mendapatkan ampunan adalah
memberikan salam dan berkata baik.
(HR Al Kharaithi dalam Makarim Al
Akhlak dan dishohihkan Al Albani
dalam Silsilah Al Ahadits Al Shohihah no. 1035)
8. Sabar atas musibah
sabda Rasululloh: Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla
berfirman: Sungguh Aku bila menguji
seorang hambaKu yang mukmin, lalu ia
memujiku atas ujian yang aku
timpakan kepadanya, maka ia bangkit
dari tempat tidurnya tersebut bersih dari dosa seperti hari ibunya
melahirkannya (HR Ahmad dan
dihasankan Al Albani dalam Silsilah Al
Ahadits Al Shohihah no. 144)
9. Menjaga sholat lima waktu dan
jum’at serta puasa Ramadhan,
sabda Rasululloh: Sholat lima waktu dan jum ’at ke jum ’at dan Romadhon ke Romadhon adalah
penghapus dosa diantara keduanya
selama menjauhi dosa besar (HR.
Muslim)
10. Adzaan,
sabda Rasululloh: Seorang Muadzin diampuni dosanya
sepanjang (gema) suaranya. (HR
Ahmad dan dishohihkan Al Albani
dalam Shohih AL Jaami ’ no. 1929)
11. Sholat,
sabda Rasululloh: Bagaimana pendapat kalian
seandainya ada sungai di pintu yang
digunakan untuk mandi setiap hari
lima kali, apa yang kalian katakan
apakah tersisa kotorannya? Mereka
menjawab: Tidak sisa sedikitpun kotorannya. Beliau bersabda: sholat
lima waktu menjadi sebab Allah hapus
dosa-dosa. (HR Al Bukhori)
12. Memperbanyak sujud,
sabda Rasululloh: Hendaklah kamu memperbanyak sujud
kepada Allah, karena tidaklah kamu
sekali sujud kepada Allah kecuali Allah
mengangkatmu satu derajat dan
menghapus satu kesalahanmu (dosa).
(HR. Muslim)
13. Sholat malam, dengan dalil:
Hendaklah kalian sholat malam, karena
ia adalah adat orang yang sholeh
sebelum kalian dan amalan yang
mendekatkan diri kepada Robb kalian
serta penghapus kesalahan dan
mencegah dosa-dosa. (HR Al Haakim dan dihasankan Al Albani dalam Irwa ’ AL Gholil 2/199)
14. Berjihad dijalan Allah, dengan dalil:
Semua dosa orang yang mati syahid
diampuni kecuali hutang. (HR Muslim)
15. Mengiringi haji dengan umroh,
Iringi antara haji dan umroh, karena
mengiringi antara keduanya dapat
menghilangkan kefakiran dan dosa
sebagaimana AL Kier (alat pembakar
besi) menghilangkan karat besai. (HR
Ibnu Majah dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami ’ no. 2899)
16. Shodaqah,
Jika kamu menampakkan sedekah
(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan
jika kamu menyembunyikannya dan
kamu berikan kepada orang-orang
fakir, maka menyembunyikan itu lebih
baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian
kesalahan-kesalahanmu; dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. 2: 271) Rasululloh pun bersabda:
Shodaqah menghapus dosa seperti air
memadamkan api. (HR Ahmad, Al
Tirmidzi dan selainnya dan
dishohihkan Al Al Bani dalam Takhrij
Musykilat Al faqr no. 117)
17. Menegakkan hukum pidana,
dengan dalil: Siapa saja yang melanggar larangan
Allah kemudian ditegakkan padanya
hukum pidana maka dihapus dosa
tersebut. (HR Al Haakim dan
dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al
Jaami’ no,2732) Demikian sebagian 17 Amalan
penghapus dosa, mudah-mudahan
bermanfaat.
Selasa, 15 Maret 2011
Senin, 14 Maret 2011
ILMU ALLAH
Allah Maha Pencipta menjadikan
segala sesuatu, apapun yang
diciptakan Allah sudah mempunyai
aturan2 sendiri
sejak didalam kandungan.
Allah Menciptakan segala sesuatu
sesuai dengan kadarnya, seperti
oksigen dan karbondioksida, semua
diciptakan
sesuai kadarnya. Juga hal2 lain
seperti tata surya, adanya
atmosfir, yang melindungi bumi
dari meteor.
Subhanallah, Allah yang mengatur
semuanya sehingga semua
seimbang dan tidak ada yang
membahayakan.
Surat 59 ayat 22
(22) Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan
[yang berhak disembah] selain Dia,
Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha
Sejahtera, Yang Mengaruniakan
keamanan, Yang Maha
Memelihara, Yang Maha Perkasa,
Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki
segala keagungan, Maha Suci Allah
dari apa yang mereka
persekutukan.
Al Mulk ayat 13-14
(13) Apakah Allah Yang
menciptakan itu tidak mengetahui
[yang kamu lahirkan dan
rahasiakan]; dan Dia Maha Halus
lagi Maha Mengetahui? (14) Dialah
Yang menjadikan bumi itu mudah
bagi kamu, maka berjalanlah di
segala penjurunya dan makanlah
sebahagian dari rezki-Nya. Dan
hanya kepada-Nya-lah kamu
[kembali setelah] dibangkitkan.
Rahasiakanlah perkataanmu atau
katakanlah, karena Allah
mengetahui isi hati.
Allah menantang kita bahwa tidak
ada bedanya kita rahasiakan atau
kita tampakkan karena Allah akan
mengetahui apa yang tampak dan
rahasia, Tidak mungkin Allah yang
menciptakan itu semua tidak
mengetahui isi hati kita.
Maka ditekankan Niat yang Ikhlas
dan Hati yang bersih.
Ilmu Allah diturunkan melalui dua :
A. Ilmu yang turun melalui jalan
non formal
Melalui jalan formal adalah wahyu
yang diturunkan Allah melalui
rasul2nya.
Dari Rasulullah ini lah ilmu ini
disebarkan seluruh umat manusia.
Surat 42 Asy Syura ayat 51
“ Tidak ada bagi seorang manusia
pun bahwa Allah berkata-kata
dengan dia kecuali dengan
perantaraan wahyu atau di
belakang tabir atau dengan
mengutus seseorang (malaikat)
lalu diwahyukan kepadaNya apa
yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi
maha Bijaksana ” (QS. Asy Syura:
51)
Wahyu itu diturunkan tidak
langsung kepada manusia, ada
suatu Hadist dari Aisyah
Rasulullah bersabda, bila ada yang
melihat Rasulullah melihat
Tuhannya maka itu adalah
kebohongan besar
Melalui wahyu dan melalui tabir,
para Nabi melihat Allah tidak
secara langsung tetap ada tabir
Wahyu itu diturunkan :
1.Melalui malaikat jibril yang
berbisik didalam kalbu rasulullah.
2.Melalui malaikat dengan wujud
laki-lagi.
3.Diterima seperti gemerincing
lonceng, dan ini ditampakkan
dengan keringat rasulullah, dan
untanya jatuh ketanah
4.Rasullah melihat wujud malaikat
Jibril dalam sosok asli sebanyak 2
kali. Hal ini dikisahkan dalam surat
An Najm
(Dalam tafsir ibnu Katsir Surat An
Najm dijelaskan wujut Malaikat
Jibril.
Dalam Al Quran itu banyak sekali
ilmu2 yang diperlukan bagi kita
untuk hidup di dunia ini.
Ayat2 yang diturunkan melalui
Rasulullah, ayat Qauliyah dapat
mengetahui besarnya tanda2
kemuliaan allah swt.
Ayat Qauliyah: hukum islam,
ketetapan Allah yang ada dalam Al
Quran, kebenarannya mutlak.
Banyak Ilmu yang berkembang
dari AlQuran seperti perkembangan
Janin, fisika, kimia tatasurya, etc.
Ilmu yang ada dalam al Quran
sifatnya adalah Universal, dan ilmu
itu mutlak tidak berubah.
karena Al Quran itu tetap sampai
akhir jaman. .
Ayat2 Qauliyah fungsinya sebagai
pedoman hidup manusia, jika kita
mengikuti apa yang ditetapkan Al
Quran
hidup kita akan selamat dunia
akhirat, karena diataur visi, misi
dan fungsi kehidupan Allah swt.
(Ali Imran:19)
“ Sesungguhnya agama (yang
diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.
Tiada berselisih orang-orang yang
telah diberi Al Kitab kecuali sesudah
datang pengetahuan kepada
mereka, karena kedengkian (yang
ada) di antara mereka.
Barangsiapa yang kafir terhadap
ayat-ayat Allah maka
sesungguhnya Allah sangat cepat
hisab-Nya. ”
( QS Ali Imron : 85 )
" Barang siapa mencari agama
selain agama islam, maka sekali -
kali tidaklah akan diterima
( agamanya itu ) daripadanya, dan
dia di akhirat termasuk orang -
orang yang rugi ."
( QS Al Maidah : 3 )
" Pada hari ini telah Aku
sempurnakan agamamu untukmu,
dan telah Aku cukupkan nikmat-
Ku bagimu, dan telah Aku ridhoi
islam sebagai agamamu"
B. Ilmu diturunkan melalui jalan
Non Formal:
Ilmu yang bisa dipelajari dengan
akal manusia, disebut Ilham.
Ayat Kauniyah : Yang dapat dilihat
alam semesta, yang diciptakan
Allah swt.Fungsinya sebagai sarana
hidup, harus dilakukan analisa
untuk mendapatkannya.
Surat 3 ayat 190
“ Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-
orang yang berakal. Yaitu orang-
orang yang mengingat Allah sambil
berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi (seraya berkata):
Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia.
Mahasuci Engkau, maka peliharalah
kami dari siksa neraka.” (QS. Ali
Imran: 190-191)
Siapa saja yang bisa berfikir berhak
mendapatkan ilmu Allah .
Allah telah menciptakan bumi
tanah dan menjadikan kamu
memakmurkannya.
Allah memberikan manusia
kemampuan untuk
mengembangkan ilmu Allah
Ilmu yang turun dengan cara non
formal bisa berubah disesuaikan
dengan kebutuhan manusia itu
sendiri.
Hadist: kamu sekalian lebih
mengetahui dengan urusan
duniamu.
Ilmu yang diberikan Allah melalui
jalan formal dan non formal dapat
dimanfaatkan manusia.
Ilmu yang kita dapat secara formal
bisa dijadikan sebagai pedoman
hidup, sedangkan yang didapat
secara non formal bisa dijadikan
sarana atau fasilitas hidup.
Mencari ilmu dan mengembangkan
ilmu adalah rangkaian ibadah kita
kepada allah swt.
Surat Al Hajj ayat 70.
“ Katakanlah, kalau sekiranya
lautan menjadi tinta untuk menulis
kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh
habislah lautan itu sebelum habis
ditulis kalimat-kalimat Tuhanku,
meskipun kami datangkan
tambahan sebanyak itu pula. ” (QS.
Al Kahfi: 109)
“ Dan seandainya pohon-pohon di
muka bumi menjadi pena dan laut
(menjadi tinta), ditambahkan
kepadanya tujuh lautan lagi,
niscaya tidak akan habis-habisnya
(dituliskan) kalimat Allah.
Sesungguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS.
Luqman: 27).
Hikmah mempelajari ilmu Allah
1. Ilmu yang kita miliki sedikit
sekali, untuk itu manusia tidak ada
alasan untuk menyombongkan diri
Pertama, membuat manusia sadar
bahwa betapa tidak berarti dirinya
dihadapan Allah swt., sebab seluruh
ilmu yang dimiliki manusia adalah
ibarat setitik air laut dibandingkan
dengan air laut secara keseluruhan.
Oleh karena itu manusia tidak ada
alasan untuk sombong dan
menjadikan ilmu menjadi
penyebab kekufuran dan
kedurhakaan kepada Yang Maha
Mengetahui segalanya.
Ilmu non formal yang
dikembangkan manusia tidak
boleh bertentangan dengan ilmu
Allah.
2. Ilmu Allah yang sangat luas tidak
ada satupun yang luput dari
pengawasan Allah, sehingga kita
lebih mengontrol amal dan
perbuatan kita.
membuat kita lebih bertakwa
kepada Allah swt. Dengan demikian
kita lebih berusahan mencari Ridho
Allah.
3. Ilmu Allah yang luas akan
menjadi terapi yang ampuh bagi
penyelewengan dan penipuan.
Kita tidak lagi terpengaruh dengan
“ diketahui” atau “tidak diketahui”
oleh orang lain untuk melakukan
atau meninggalkan sesuatu.
Karena kita menyadari betapa
Allah swt. Maha Mengetahui yang
pasti selalu melihat, mendengar,
memperhatikan apa yang kita
lakukan di mana dan kapan saja.
Di zaman salafus saleh, kita masih
ingat kisah seorang gadis shalihah
dengan ibunya menjual susu. Suatu
saat ibunya menyuruh
dagangannya untuk dicampur
dengan air, agar mendapatkan
untung yang lebih. Namun putrinya
menolak. “Bukankah Khalifah Umar
tidak melihat?” kata sang ibu. “Tapi
Tuhannya Umar mengetahui, Bu!”
kata putrinya. Tak disangka
percakapan itu didengar Umar bin
Khaththab. Maka gadis shalihah
tersebut dipinang untuk putra
Umar sang Khalifah. Dan kita pun
tahu persis bahwa dari seorang
wanita shalihah ini, akhirnya
menurunkan seorang cucu yang
menjadi tokoh besar dalam
sejarah: Umar Bin Abdul ‘Aziz yang
legendaris.
Juga kisah seorang anak gembala
dengan sekian banyak gembalaan
milik tuannya. Suatu saat Umar bin
Khaththab menguji kekuatan
muraqabatullah-nya. Dikatakan
kepada anak itu bahwa
kambingnya akan dibeli dengan
harga yang lebih. Namun anak itu
menolak. “Kamu bisa mengatakan
kepada tuanmu kambingnya
dimakan binatang buas, ” kata
Umar r.a. “Lantas di mana Allah?”
tanya anak tersebut. Subhanallah..!.
“Dan katakanlah; bekerjalah kamu
maka Allah dan Rasul-Nya serta
orang-orang mukmin akan melihat
pekerjaanmu itu, dan kamu akan
dikembalikan kepada (Allah) Yang
Mengetahui akan yang ghaib dan
yang nyata, lalu diberitakan-Nya
kepada kamu apa yang telah
kamu kerjakan. ” (QS. At-Taubah:
105)
segala sesuatu, apapun yang
diciptakan Allah sudah mempunyai
aturan2 sendiri
sejak didalam kandungan.
Allah Menciptakan segala sesuatu
sesuai dengan kadarnya, seperti
oksigen dan karbondioksida, semua
diciptakan
sesuai kadarnya. Juga hal2 lain
seperti tata surya, adanya
atmosfir, yang melindungi bumi
dari meteor.
Subhanallah, Allah yang mengatur
semuanya sehingga semua
seimbang dan tidak ada yang
membahayakan.
Surat 59 ayat 22
(22) Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan
[yang berhak disembah] selain Dia,
Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha
Sejahtera, Yang Mengaruniakan
keamanan, Yang Maha
Memelihara, Yang Maha Perkasa,
Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki
segala keagungan, Maha Suci Allah
dari apa yang mereka
persekutukan.
Al Mulk ayat 13-14
(13) Apakah Allah Yang
menciptakan itu tidak mengetahui
[yang kamu lahirkan dan
rahasiakan]; dan Dia Maha Halus
lagi Maha Mengetahui? (14) Dialah
Yang menjadikan bumi itu mudah
bagi kamu, maka berjalanlah di
segala penjurunya dan makanlah
sebahagian dari rezki-Nya. Dan
hanya kepada-Nya-lah kamu
[kembali setelah] dibangkitkan.
Rahasiakanlah perkataanmu atau
katakanlah, karena Allah
mengetahui isi hati.
Allah menantang kita bahwa tidak
ada bedanya kita rahasiakan atau
kita tampakkan karena Allah akan
mengetahui apa yang tampak dan
rahasia, Tidak mungkin Allah yang
menciptakan itu semua tidak
mengetahui isi hati kita.
Maka ditekankan Niat yang Ikhlas
dan Hati yang bersih.
Ilmu Allah diturunkan melalui dua :
A. Ilmu yang turun melalui jalan
non formal
Melalui jalan formal adalah wahyu
yang diturunkan Allah melalui
rasul2nya.
Dari Rasulullah ini lah ilmu ini
disebarkan seluruh umat manusia.
Surat 42 Asy Syura ayat 51
“ Tidak ada bagi seorang manusia
pun bahwa Allah berkata-kata
dengan dia kecuali dengan
perantaraan wahyu atau di
belakang tabir atau dengan
mengutus seseorang (malaikat)
lalu diwahyukan kepadaNya apa
yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi
maha Bijaksana ” (QS. Asy Syura:
51)
Wahyu itu diturunkan tidak
langsung kepada manusia, ada
suatu Hadist dari Aisyah
Rasulullah bersabda, bila ada yang
melihat Rasulullah melihat
Tuhannya maka itu adalah
kebohongan besar
Melalui wahyu dan melalui tabir,
para Nabi melihat Allah tidak
secara langsung tetap ada tabir
Wahyu itu diturunkan :
1.Melalui malaikat jibril yang
berbisik didalam kalbu rasulullah.
2.Melalui malaikat dengan wujud
laki-lagi.
3.Diterima seperti gemerincing
lonceng, dan ini ditampakkan
dengan keringat rasulullah, dan
untanya jatuh ketanah
4.Rasullah melihat wujud malaikat
Jibril dalam sosok asli sebanyak 2
kali. Hal ini dikisahkan dalam surat
An Najm
(Dalam tafsir ibnu Katsir Surat An
Najm dijelaskan wujut Malaikat
Jibril.
Dalam Al Quran itu banyak sekali
ilmu2 yang diperlukan bagi kita
untuk hidup di dunia ini.
Ayat2 yang diturunkan melalui
Rasulullah, ayat Qauliyah dapat
mengetahui besarnya tanda2
kemuliaan allah swt.
Ayat Qauliyah: hukum islam,
ketetapan Allah yang ada dalam Al
Quran, kebenarannya mutlak.
Banyak Ilmu yang berkembang
dari AlQuran seperti perkembangan
Janin, fisika, kimia tatasurya, etc.
Ilmu yang ada dalam al Quran
sifatnya adalah Universal, dan ilmu
itu mutlak tidak berubah.
karena Al Quran itu tetap sampai
akhir jaman. .
Ayat2 Qauliyah fungsinya sebagai
pedoman hidup manusia, jika kita
mengikuti apa yang ditetapkan Al
Quran
hidup kita akan selamat dunia
akhirat, karena diataur visi, misi
dan fungsi kehidupan Allah swt.
(Ali Imran:19)
“ Sesungguhnya agama (yang
diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.
Tiada berselisih orang-orang yang
telah diberi Al Kitab kecuali sesudah
datang pengetahuan kepada
mereka, karena kedengkian (yang
ada) di antara mereka.
Barangsiapa yang kafir terhadap
ayat-ayat Allah maka
sesungguhnya Allah sangat cepat
hisab-Nya. ”
( QS Ali Imron : 85 )
" Barang siapa mencari agama
selain agama islam, maka sekali -
kali tidaklah akan diterima
( agamanya itu ) daripadanya, dan
dia di akhirat termasuk orang -
orang yang rugi ."
( QS Al Maidah : 3 )
" Pada hari ini telah Aku
sempurnakan agamamu untukmu,
dan telah Aku cukupkan nikmat-
Ku bagimu, dan telah Aku ridhoi
islam sebagai agamamu"
B. Ilmu diturunkan melalui jalan
Non Formal:
Ilmu yang bisa dipelajari dengan
akal manusia, disebut Ilham.
Ayat Kauniyah : Yang dapat dilihat
alam semesta, yang diciptakan
Allah swt.Fungsinya sebagai sarana
hidup, harus dilakukan analisa
untuk mendapatkannya.
Surat 3 ayat 190
“ Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-
orang yang berakal. Yaitu orang-
orang yang mengingat Allah sambil
berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi (seraya berkata):
Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia.
Mahasuci Engkau, maka peliharalah
kami dari siksa neraka.” (QS. Ali
Imran: 190-191)
Siapa saja yang bisa berfikir berhak
mendapatkan ilmu Allah .
Allah telah menciptakan bumi
tanah dan menjadikan kamu
memakmurkannya.
Allah memberikan manusia
kemampuan untuk
mengembangkan ilmu Allah
Ilmu yang turun dengan cara non
formal bisa berubah disesuaikan
dengan kebutuhan manusia itu
sendiri.
Hadist: kamu sekalian lebih
mengetahui dengan urusan
duniamu.
Ilmu yang diberikan Allah melalui
jalan formal dan non formal dapat
dimanfaatkan manusia.
Ilmu yang kita dapat secara formal
bisa dijadikan sebagai pedoman
hidup, sedangkan yang didapat
secara non formal bisa dijadikan
sarana atau fasilitas hidup.
Mencari ilmu dan mengembangkan
ilmu adalah rangkaian ibadah kita
kepada allah swt.
Surat Al Hajj ayat 70.
“ Katakanlah, kalau sekiranya
lautan menjadi tinta untuk menulis
kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh
habislah lautan itu sebelum habis
ditulis kalimat-kalimat Tuhanku,
meskipun kami datangkan
tambahan sebanyak itu pula. ” (QS.
Al Kahfi: 109)
“ Dan seandainya pohon-pohon di
muka bumi menjadi pena dan laut
(menjadi tinta), ditambahkan
kepadanya tujuh lautan lagi,
niscaya tidak akan habis-habisnya
(dituliskan) kalimat Allah.
Sesungguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS.
Luqman: 27).
Hikmah mempelajari ilmu Allah
1. Ilmu yang kita miliki sedikit
sekali, untuk itu manusia tidak ada
alasan untuk menyombongkan diri
Pertama, membuat manusia sadar
bahwa betapa tidak berarti dirinya
dihadapan Allah swt., sebab seluruh
ilmu yang dimiliki manusia adalah
ibarat setitik air laut dibandingkan
dengan air laut secara keseluruhan.
Oleh karena itu manusia tidak ada
alasan untuk sombong dan
menjadikan ilmu menjadi
penyebab kekufuran dan
kedurhakaan kepada Yang Maha
Mengetahui segalanya.
Ilmu non formal yang
dikembangkan manusia tidak
boleh bertentangan dengan ilmu
Allah.
2. Ilmu Allah yang sangat luas tidak
ada satupun yang luput dari
pengawasan Allah, sehingga kita
lebih mengontrol amal dan
perbuatan kita.
membuat kita lebih bertakwa
kepada Allah swt. Dengan demikian
kita lebih berusahan mencari Ridho
Allah.
3. Ilmu Allah yang luas akan
menjadi terapi yang ampuh bagi
penyelewengan dan penipuan.
Kita tidak lagi terpengaruh dengan
“ diketahui” atau “tidak diketahui”
oleh orang lain untuk melakukan
atau meninggalkan sesuatu.
Karena kita menyadari betapa
Allah swt. Maha Mengetahui yang
pasti selalu melihat, mendengar,
memperhatikan apa yang kita
lakukan di mana dan kapan saja.
Di zaman salafus saleh, kita masih
ingat kisah seorang gadis shalihah
dengan ibunya menjual susu. Suatu
saat ibunya menyuruh
dagangannya untuk dicampur
dengan air, agar mendapatkan
untung yang lebih. Namun putrinya
menolak. “Bukankah Khalifah Umar
tidak melihat?” kata sang ibu. “Tapi
Tuhannya Umar mengetahui, Bu!”
kata putrinya. Tak disangka
percakapan itu didengar Umar bin
Khaththab. Maka gadis shalihah
tersebut dipinang untuk putra
Umar sang Khalifah. Dan kita pun
tahu persis bahwa dari seorang
wanita shalihah ini, akhirnya
menurunkan seorang cucu yang
menjadi tokoh besar dalam
sejarah: Umar Bin Abdul ‘Aziz yang
legendaris.
Juga kisah seorang anak gembala
dengan sekian banyak gembalaan
milik tuannya. Suatu saat Umar bin
Khaththab menguji kekuatan
muraqabatullah-nya. Dikatakan
kepada anak itu bahwa
kambingnya akan dibeli dengan
harga yang lebih. Namun anak itu
menolak. “Kamu bisa mengatakan
kepada tuanmu kambingnya
dimakan binatang buas, ” kata
Umar r.a. “Lantas di mana Allah?”
tanya anak tersebut. Subhanallah..!.
“Dan katakanlah; bekerjalah kamu
maka Allah dan Rasul-Nya serta
orang-orang mukmin akan melihat
pekerjaanmu itu, dan kamu akan
dikembalikan kepada (Allah) Yang
Mengetahui akan yang ghaib dan
yang nyata, lalu diberitakan-Nya
kepada kamu apa yang telah
kamu kerjakan. ” (QS. At-Taubah:
105)
ILMU ALLAH
Allah Maha Pencipta menjadikan
segala sesuatu, apapun yang
diciptakan Allah sudah mempunyai
aturan2 sendiri
sejak didalam kandungan.
Allah Menciptakan segala sesuatu
sesuai dengan kadarnya, seperti
oksigen dan karbondioksida, semua
diciptakan
sesuai kadarnya. Juga hal2 lain
seperti tata surya, adanya
atmosfir, yang melindungi bumi
dari meteor.
Subhanallah, Allah yang mengatur
semuanya sehingga semua
seimbang dan tidak ada yang
membahayakan.
Surat 59 ayat 22
(22) Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan
[yang berhak disembah] selain Dia,
Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha
Sejahtera, Yang Mengaruniakan
keamanan, Yang Maha
Memelihara, Yang Maha Perkasa,
Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki
segala keagungan, Maha Suci Allah
dari apa yang mereka
persekutukan.
Al Mulk ayat 13-14
(13) Apakah Allah Yang
menciptakan itu tidak mengetahui
[yang kamu lahirkan dan
rahasiakan]; dan Dia Maha Halus
lagi Maha Mengetahui? (14) Dialah
Yang menjadikan bumi itu mudah
bagi kamu, maka berjalanlah di
segala penjurunya dan makanlah
sebahagian dari rezki-Nya. Dan
hanya kepada-Nya-lah kamu
[kembali setelah] dibangkitkan.
Rahasiakanlah perkataanmu atau
katakanlah, karena Allah
mengetahui isi hati.
Allah menantang kita bahwa tidak
ada bedanya kita rahasiakan atau
kita tampakkan karena Allah akan
mengetahui apa yang tampak dan
rahasia, Tidak mungkin Allah yang
menciptakan itu semua tidak
mengetahui isi hati kita.
Maka ditekankan Niat yang Ikhlas
dan Hati yang bersih.
Ilmu Allah diturunkan melalui dua :
A. Ilmu yang turun melalui jalan
non formal
Melalui jalan formal adalah wahyu
yang diturunkan Allah melalui
rasul2nya.
Dari Rasulullah ini lah ilmu ini
disebarkan seluruh umat manusia.
Surat 42 Asy Syura ayat 51
“ Tidak ada bagi seorang manusia
pun bahwa Allah berkata-kata
dengan dia kecuali dengan
perantaraan wahyu atau di
belakang tabir atau dengan
mengutus seseorang (malaikat)
lalu diwahyukan kepadaNya apa
yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi
maha Bijaksana ” (QS. Asy Syura:
51)
Wahyu itu diturunkan tidak
langsung kepada manusia, ada
suatu Hadist dari Aisyah
Rasulullah bersabda, bila ada yang
melihat Rasulullah melihat
Tuhannya maka itu adalah
kebohongan besar
Melalui wahyu dan melalui tabir,
para Nabi melihat Allah tidak
secara langsung tetap ada tabir
Wahyu itu diturunkan :
1.Melalui malaikat jibril yang
berbisik didalam kalbu rasulullah.
2.Melalui malaikat dengan wujud
laki-lagi.
3.Diterima seperti gemerincing
lonceng, dan ini ditampakkan
dengan keringat rasulullah, dan
untanya jatuh ketanah
4.Rasullah melihat wujud malaikat
Jibril dalam sosok asli sebanyak 2
kali. Hal ini dikisahkan dalam surat
An Najm
(Dalam tafsir ibnu Katsir Surat An
Najm dijelaskan wujut Malaikat
Jibril.
Dalam Al Quran itu banyak sekali
ilmu2 yang diperlukan bagi kita
untuk hidup di dunia ini.
Ayat2 yang diturunkan melalui
Rasulullah, ayat Qauliyah dapat
mengetahui besarnya tanda2
kemuliaan allah swt.
Ayat Qauliyah: hukum islam,
ketetapan Allah yang ada dalam Al
Quran, kebenarannya mutlak.
Banyak Ilmu yang berkembang
dari AlQuran seperti perkembangan
Janin, fisika, kimia tatasurya, etc.
Ilmu yang ada dalam al Quran
sifatnya adalah Universal, dan ilmu
itu mutlak tidak berubah.
karena Al Quran itu tetap sampai
akhir jaman. .
Ayat2 Qauliyah fungsinya sebagai
pedoman hidup manusia, jika kita
mengikuti apa yang ditetapkan Al
Quran
hidup kita akan selamat dunia
akhirat, karena diataur visi, misi
dan fungsi kehidupan Allah swt.
(Ali Imran:19)
“ Sesungguhnya agama (yang
diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.
Tiada berselisih orang-orang yang
telah diberi Al Kitab kecuali sesudah
datang pengetahuan kepada
mereka, karena kedengkian (yang
ada) di antara mereka.
Barangsiapa yang kafir terhadap
ayat-ayat Allah maka
sesungguhnya Allah sangat cepat
hisab-Nya. ”
( QS Ali Imron : 85 )
" Barang siapa mencari agama
selain agama islam, maka sekali -
kali tidaklah akan diterima
( agamanya itu ) daripadanya, dan
dia di akhirat termasuk orang -
orang yang rugi ."
( QS Al Maidah : 3 )
" Pada hari ini telah Aku
sempurnakan agamamu untukmu,
dan telah Aku cukupkan nikmat-
Ku bagimu, dan telah Aku ridhoi
islam sebagai agamamu"
B. Ilmu diturunkan melalui jalan
Non Formal:
Ilmu yang bisa dipelajari dengan
akal manusia, disebut Ilham.
Ayat Kauniyah : Yang dapat dilihat
alam semesta, yang diciptakan
Allah swt.Fungsinya sebagai sarana
hidup, harus dilakukan analisa
untuk mendapatkannya.
Surat 3 ayat 190
“ Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-
orang yang berakal. Yaitu orang-
orang yang mengingat Allah sambil
berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi (seraya berkata):
Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia.
Mahasuci Engkau, maka peliharalah
kami dari siksa neraka.” (QS. Ali
Imran: 190-191)
Siapa saja yang bisa berfikir berhak
mendapatkan ilmu Allah .
Allah telah menciptakan bumi
tanah dan menjadikan kamu
memakmurkannya.
Allah memberikan manusia
kemampuan untuk
mengembangkan ilmu Allah
Ilmu yang turun dengan cara non
formal bisa berubah disesuaikan
dengan kebutuhan manusia itu
sendiri.
Hadist: kamu sekalian lebih
mengetahui dengan urusan
duniamu.
Ilmu yang diberikan Allah melalui
jalan formal dan non formal dapat
dimanfaatkan manusia.
Ilmu yang kita dapat secara formal
bisa dijadikan sebagai pedoman
hidup, sedangkan yang didapat
secara non formal bisa dijadikan
sarana atau fasilitas hidup.
Mencari ilmu dan mengembangkan
ilmu adalah rangkaian ibadah kita
kepada allah swt.
Surat Al Hajj ayat 70.
“ Katakanlah, kalau sekiranya
lautan menjadi tinta untuk menulis
kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh
habislah lautan itu sebelum habis
ditulis kalimat-kalimat Tuhanku,
meskipun kami datangkan
tambahan sebanyak itu pula. ” (QS.
Al Kahfi: 109)
“ Dan seandainya pohon-pohon di
muka bumi menjadi pena dan laut
(menjadi tinta), ditambahkan
kepadanya tujuh lautan lagi,
niscaya tidak akan habis-habisnya
(dituliskan) kalimat Allah.
Sesungguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS.
Luqman: 27).
Hikmah mempelajari ilmu Allah
1. Ilmu yang kita miliki sedikit
sekali, untuk itu manusia tidak ada
alasan untuk menyombongkan diri
Pertama, membuat manusia sadar
bahwa betapa tidak berarti dirinya
dihadapan Allah swt., sebab seluruh
ilmu yang dimiliki manusia adalah
ibarat setitik air laut dibandingkan
dengan air laut secara keseluruhan.
Oleh karena itu manusia tidak ada
alasan untuk sombong dan
menjadikan ilmu menjadi
penyebab kekufuran dan
kedurhakaan kepada Yang Maha
Mengetahui segalanya.
Ilmu non formal yang
dikembangkan manusia tidak
boleh bertentangan dengan ilmu
Allah.
2. Ilmu Allah yang sangat luas tidak
ada satupun yang luput dari
pengawasan Allah, sehingga kita
lebih mengontrol amal dan
perbuatan kita.
membuat kita lebih bertakwa
kepada Allah swt. Dengan demikian
kita lebih berusahan mencari Ridho
Allah.
3. Ilmu Allah yang luas akan
menjadi terapi yang ampuh bagi
penyelewengan dan penipuan.
Kita tidak lagi terpengaruh dengan
“ diketahui” atau “tidak diketahui”
oleh orang lain untuk melakukan
atau meninggalkan sesuatu.
Karena kita menyadari betapa
Allah swt. Maha Mengetahui yang
pasti selalu melihat, mendengar,
memperhatikan apa yang kita
lakukan di mana dan kapan saja.
Di zaman salafus saleh, kita masih
ingat kisah seorang gadis shalihah
dengan ibunya menjual susu. Suatu
saat ibunya menyuruh
dagangannya untuk dicampur
dengan air, agar mendapatkan
untung yang lebih. Namun putrinya
menolak. “Bukankah Khalifah Umar
tidak melihat?” kata sang ibu. “Tapi
Tuhannya Umar mengetahui, Bu!”
kata putrinya. Tak disangka
percakapan itu didengar Umar bin
Khaththab. Maka gadis shalihah
tersebut dipinang untuk putra
Umar sang Khalifah. Dan kita pun
tahu persis bahwa dari seorang
wanita shalihah ini, akhirnya
menurunkan seorang cucu yang
menjadi tokoh besar dalam
sejarah: Umar Bin Abdul ‘Aziz yang
legendaris.
Juga kisah seorang anak gembala
dengan sekian banyak gembalaan
milik tuannya. Suatu saat Umar bin
Khaththab menguji kekuatan
muraqabatullah-nya. Dikatakan
kepada anak itu bahwa
kambingnya akan dibeli dengan
harga yang lebih. Namun anak itu
menolak. “Kamu bisa mengatakan
kepada tuanmu kambingnya
dimakan binatang buas, ” kata
Umar r.a. “Lantas di mana Allah?”
tanya anak tersebut. Subhanallah..!.
“Dan katakanlah; bekerjalah kamu
maka Allah dan Rasul-Nya serta
orang-orang mukmin akan melihat
pekerjaanmu itu, dan kamu akan
dikembalikan kepada (Allah) Yang
Mengetahui akan yang ghaib dan
yang nyata, lalu diberitakan-Nya
kepada kamu apa yang telah
kamu kerjakan. ” (QS. At-Taubah:
105)
segala sesuatu, apapun yang
diciptakan Allah sudah mempunyai
aturan2 sendiri
sejak didalam kandungan.
Allah Menciptakan segala sesuatu
sesuai dengan kadarnya, seperti
oksigen dan karbondioksida, semua
diciptakan
sesuai kadarnya. Juga hal2 lain
seperti tata surya, adanya
atmosfir, yang melindungi bumi
dari meteor.
Subhanallah, Allah yang mengatur
semuanya sehingga semua
seimbang dan tidak ada yang
membahayakan.
Surat 59 ayat 22
(22) Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan
[yang berhak disembah] selain Dia,
Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha
Sejahtera, Yang Mengaruniakan
keamanan, Yang Maha
Memelihara, Yang Maha Perkasa,
Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki
segala keagungan, Maha Suci Allah
dari apa yang mereka
persekutukan.
Al Mulk ayat 13-14
(13) Apakah Allah Yang
menciptakan itu tidak mengetahui
[yang kamu lahirkan dan
rahasiakan]; dan Dia Maha Halus
lagi Maha Mengetahui? (14) Dialah
Yang menjadikan bumi itu mudah
bagi kamu, maka berjalanlah di
segala penjurunya dan makanlah
sebahagian dari rezki-Nya. Dan
hanya kepada-Nya-lah kamu
[kembali setelah] dibangkitkan.
Rahasiakanlah perkataanmu atau
katakanlah, karena Allah
mengetahui isi hati.
Allah menantang kita bahwa tidak
ada bedanya kita rahasiakan atau
kita tampakkan karena Allah akan
mengetahui apa yang tampak dan
rahasia, Tidak mungkin Allah yang
menciptakan itu semua tidak
mengetahui isi hati kita.
Maka ditekankan Niat yang Ikhlas
dan Hati yang bersih.
Ilmu Allah diturunkan melalui dua :
A. Ilmu yang turun melalui jalan
non formal
Melalui jalan formal adalah wahyu
yang diturunkan Allah melalui
rasul2nya.
Dari Rasulullah ini lah ilmu ini
disebarkan seluruh umat manusia.
Surat 42 Asy Syura ayat 51
“ Tidak ada bagi seorang manusia
pun bahwa Allah berkata-kata
dengan dia kecuali dengan
perantaraan wahyu atau di
belakang tabir atau dengan
mengutus seseorang (malaikat)
lalu diwahyukan kepadaNya apa
yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi
maha Bijaksana ” (QS. Asy Syura:
51)
Wahyu itu diturunkan tidak
langsung kepada manusia, ada
suatu Hadist dari Aisyah
Rasulullah bersabda, bila ada yang
melihat Rasulullah melihat
Tuhannya maka itu adalah
kebohongan besar
Melalui wahyu dan melalui tabir,
para Nabi melihat Allah tidak
secara langsung tetap ada tabir
Wahyu itu diturunkan :
1.Melalui malaikat jibril yang
berbisik didalam kalbu rasulullah.
2.Melalui malaikat dengan wujud
laki-lagi.
3.Diterima seperti gemerincing
lonceng, dan ini ditampakkan
dengan keringat rasulullah, dan
untanya jatuh ketanah
4.Rasullah melihat wujud malaikat
Jibril dalam sosok asli sebanyak 2
kali. Hal ini dikisahkan dalam surat
An Najm
(Dalam tafsir ibnu Katsir Surat An
Najm dijelaskan wujut Malaikat
Jibril.
Dalam Al Quran itu banyak sekali
ilmu2 yang diperlukan bagi kita
untuk hidup di dunia ini.
Ayat2 yang diturunkan melalui
Rasulullah, ayat Qauliyah dapat
mengetahui besarnya tanda2
kemuliaan allah swt.
Ayat Qauliyah: hukum islam,
ketetapan Allah yang ada dalam Al
Quran, kebenarannya mutlak.
Banyak Ilmu yang berkembang
dari AlQuran seperti perkembangan
Janin, fisika, kimia tatasurya, etc.
Ilmu yang ada dalam al Quran
sifatnya adalah Universal, dan ilmu
itu mutlak tidak berubah.
karena Al Quran itu tetap sampai
akhir jaman. .
Ayat2 Qauliyah fungsinya sebagai
pedoman hidup manusia, jika kita
mengikuti apa yang ditetapkan Al
Quran
hidup kita akan selamat dunia
akhirat, karena diataur visi, misi
dan fungsi kehidupan Allah swt.
(Ali Imran:19)
“ Sesungguhnya agama (yang
diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.
Tiada berselisih orang-orang yang
telah diberi Al Kitab kecuali sesudah
datang pengetahuan kepada
mereka, karena kedengkian (yang
ada) di antara mereka.
Barangsiapa yang kafir terhadap
ayat-ayat Allah maka
sesungguhnya Allah sangat cepat
hisab-Nya. ”
( QS Ali Imron : 85 )
" Barang siapa mencari agama
selain agama islam, maka sekali -
kali tidaklah akan diterima
( agamanya itu ) daripadanya, dan
dia di akhirat termasuk orang -
orang yang rugi ."
( QS Al Maidah : 3 )
" Pada hari ini telah Aku
sempurnakan agamamu untukmu,
dan telah Aku cukupkan nikmat-
Ku bagimu, dan telah Aku ridhoi
islam sebagai agamamu"
B. Ilmu diturunkan melalui jalan
Non Formal:
Ilmu yang bisa dipelajari dengan
akal manusia, disebut Ilham.
Ayat Kauniyah : Yang dapat dilihat
alam semesta, yang diciptakan
Allah swt.Fungsinya sebagai sarana
hidup, harus dilakukan analisa
untuk mendapatkannya.
Surat 3 ayat 190
“ Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-
orang yang berakal. Yaitu orang-
orang yang mengingat Allah sambil
berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi (seraya berkata):
Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia.
Mahasuci Engkau, maka peliharalah
kami dari siksa neraka.” (QS. Ali
Imran: 190-191)
Siapa saja yang bisa berfikir berhak
mendapatkan ilmu Allah .
Allah telah menciptakan bumi
tanah dan menjadikan kamu
memakmurkannya.
Allah memberikan manusia
kemampuan untuk
mengembangkan ilmu Allah
Ilmu yang turun dengan cara non
formal bisa berubah disesuaikan
dengan kebutuhan manusia itu
sendiri.
Hadist: kamu sekalian lebih
mengetahui dengan urusan
duniamu.
Ilmu yang diberikan Allah melalui
jalan formal dan non formal dapat
dimanfaatkan manusia.
Ilmu yang kita dapat secara formal
bisa dijadikan sebagai pedoman
hidup, sedangkan yang didapat
secara non formal bisa dijadikan
sarana atau fasilitas hidup.
Mencari ilmu dan mengembangkan
ilmu adalah rangkaian ibadah kita
kepada allah swt.
Surat Al Hajj ayat 70.
“ Katakanlah, kalau sekiranya
lautan menjadi tinta untuk menulis
kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh
habislah lautan itu sebelum habis
ditulis kalimat-kalimat Tuhanku,
meskipun kami datangkan
tambahan sebanyak itu pula. ” (QS.
Al Kahfi: 109)
“ Dan seandainya pohon-pohon di
muka bumi menjadi pena dan laut
(menjadi tinta), ditambahkan
kepadanya tujuh lautan lagi,
niscaya tidak akan habis-habisnya
(dituliskan) kalimat Allah.
Sesungguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS.
Luqman: 27).
Hikmah mempelajari ilmu Allah
1. Ilmu yang kita miliki sedikit
sekali, untuk itu manusia tidak ada
alasan untuk menyombongkan diri
Pertama, membuat manusia sadar
bahwa betapa tidak berarti dirinya
dihadapan Allah swt., sebab seluruh
ilmu yang dimiliki manusia adalah
ibarat setitik air laut dibandingkan
dengan air laut secara keseluruhan.
Oleh karena itu manusia tidak ada
alasan untuk sombong dan
menjadikan ilmu menjadi
penyebab kekufuran dan
kedurhakaan kepada Yang Maha
Mengetahui segalanya.
Ilmu non formal yang
dikembangkan manusia tidak
boleh bertentangan dengan ilmu
Allah.
2. Ilmu Allah yang sangat luas tidak
ada satupun yang luput dari
pengawasan Allah, sehingga kita
lebih mengontrol amal dan
perbuatan kita.
membuat kita lebih bertakwa
kepada Allah swt. Dengan demikian
kita lebih berusahan mencari Ridho
Allah.
3. Ilmu Allah yang luas akan
menjadi terapi yang ampuh bagi
penyelewengan dan penipuan.
Kita tidak lagi terpengaruh dengan
“ diketahui” atau “tidak diketahui”
oleh orang lain untuk melakukan
atau meninggalkan sesuatu.
Karena kita menyadari betapa
Allah swt. Maha Mengetahui yang
pasti selalu melihat, mendengar,
memperhatikan apa yang kita
lakukan di mana dan kapan saja.
Di zaman salafus saleh, kita masih
ingat kisah seorang gadis shalihah
dengan ibunya menjual susu. Suatu
saat ibunya menyuruh
dagangannya untuk dicampur
dengan air, agar mendapatkan
untung yang lebih. Namun putrinya
menolak. “Bukankah Khalifah Umar
tidak melihat?” kata sang ibu. “Tapi
Tuhannya Umar mengetahui, Bu!”
kata putrinya. Tak disangka
percakapan itu didengar Umar bin
Khaththab. Maka gadis shalihah
tersebut dipinang untuk putra
Umar sang Khalifah. Dan kita pun
tahu persis bahwa dari seorang
wanita shalihah ini, akhirnya
menurunkan seorang cucu yang
menjadi tokoh besar dalam
sejarah: Umar Bin Abdul ‘Aziz yang
legendaris.
Juga kisah seorang anak gembala
dengan sekian banyak gembalaan
milik tuannya. Suatu saat Umar bin
Khaththab menguji kekuatan
muraqabatullah-nya. Dikatakan
kepada anak itu bahwa
kambingnya akan dibeli dengan
harga yang lebih. Namun anak itu
menolak. “Kamu bisa mengatakan
kepada tuanmu kambingnya
dimakan binatang buas, ” kata
Umar r.a. “Lantas di mana Allah?”
tanya anak tersebut. Subhanallah..!.
“Dan katakanlah; bekerjalah kamu
maka Allah dan Rasul-Nya serta
orang-orang mukmin akan melihat
pekerjaanmu itu, dan kamu akan
dikembalikan kepada (Allah) Yang
Mengetahui akan yang ghaib dan
yang nyata, lalu diberitakan-Nya
kepada kamu apa yang telah
kamu kerjakan. ” (QS. At-Taubah:
105)
MELIHAT SURGA DI DEPAN MATA
Surga adalah suatu pembalasan
yang agung dan pahala tertinggi
bagi para hamba Allah yang taat.
Penggambaran surga yang
difirmankan oleh Allah swt. dan
disabdakan oleh Nabi saw.,
memang hampir tak mampu kita
gambarkan dengan otak dan
imajinasi kita yang terbatas ini. Kita
coba untuk memvisualisasikan
dalam hadits Qudsi yang
menceritakan tentang Surga.
Gambaran surga
ﺃﻋﺪﺩﺕ ﻟﻌﺒﺎﺩﻱ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﻣﺎ ﻻ ﻋﻴﻦ ﺭﺃﺕ
ﻭﻻ ﺃﺫﻥ ﺳﻤﻌﺖ ﻭﻻ ﺧﻄﺮ ﻋﻠﻰ ﻗﻠﺐ ﺑﺸﺮ
“ Kami sediakan bagi hamba-
hamba-Ku yang shalih sesuatu,
yang tak pernah terlihat oleh mata,
tak pernah terdengar oleh telinga
dan tak pernah terlintas oleh hati
manusia …”
“Seorang pun tak mengetahui apa
yang disembunyikan untuk
mereka yaitu
(bermacam-macam nikmat) yang
menyedapkan pandangan mata
sebagai balasan terhadap apa
yang telah mereka kerjakan. (As-
sajdah 17)
Allah swt. menentukan hari
masuknya ke surga pada waktu
tertentu dan memutuskan jatah
hidup di dunia pada batas waktu
tertentu serta menyiapkan di
dalam surga berbagai kenikmatan
yang tidak pernah dilihat oleh
mata, didengar oleh telinga, dan
terlintas dalam hati. Dia
memperlihatkan dengan jelas
surga kepada mereka agar dapat
melihatnya dengan mata hatinya
karena penglihatan mata hati lebih
tajam daripada pandangan mata
kepala.
“Sesungguhnya jika salah seorang
dari kalian meninggal dunia, maka
kursinya diperlihatkan kepadanya
setiap pagi dan petang. Jika ia
penghuni surga, maka ia adalah
penghuni surga. Jika ia penghuni
neraka, maka ia adalah penghuni
neraka. Kemudian dikatakan, Inilah
kursimu hingga Allah Ta ’ala
membangkitkanmu pada hari
kiamat nanti. ” Bukhari-Muslim
“Jibril berjalan terus hingga tiba di
Sidratul Muntaha dan ternyata
Sidratul Muntaha ditutup dengan
warna yang tidak aku ketahui. ”
kata Rasulullah saw. lebih lanjut,
“ Kemudian aku masuk ke dalam
surga dan ternyata di dalamnya
terdapat kubah dari mutiara dan
tanahnya beraroma kesturi.
Bukhari-Muslim
Orang masuk Surga dengan
berkelompok
“Dan orang-orang yang bertaqwa
kepada Rabbnya dibawa ke dalam
surga berombong-rombongan.
Sehingga apabila mereka sampai
ke surga itu sedang pintu-pintunya
telah terbuka dan berkatalah
kepada mereka penjaga-
penjaganya, “Kesejahteraan
(dilimpahkan) atas kalian,
berbahagialah kalian! Maka
masukilah surga ini, sedang kalian
kekal di dalamnya. ” Az-Zumar
39:73
“( Yaitu) Surga Aden yang pintu-
pintunya terbuka bagi mereka. Di
dalamnya mereka bertelekan (di
atas dipan-dipan) sambil meminta
buah-buahan yang banyak dan
minuman di surga tersebut. ” Shaad:
50-51
Anda perhatikan bahwa ada
makna indah pada ayat di atas
ketika mereka telah masuk ke
dalam surga, maka pintu-pintu itu
tidak tertutup bagi mereka dan
dibiarkan terbuka lebar untuk
mereka. Sedangkan neraka, jika
para penghuninya telah masuk ke
dalamnya, maka pintu-pintu
langsung ditutup rapat bagi
mereka.
“Sesungguhnya api itu ditutup
rapat atas mereka.” Al-Humazah:8
Dibiarkannya pintu-pintu surga
terbuka untuk para penghuninya
adalah isyarat bahwa mereka
dapat bergerak secara leluasa bagi
mereka. Serta masuknya para
malaikat masuk setiap waktu
kepada mereka dengan membawa
hadiah-hadiah dan rizki untuk
mereka dari Rabb mereka serta
apa saja yang menggembirakan
mereka dalam setiap waktu.
Pintu-pintu Surga
“Di surga terdapat delapan pintu.
Ada pintu yang namanya Ar-
Rayyan yang hanya dimasuki oleh
orang-orang yang puasa. ” Bukhari
dan Muslim
“ Barang Siapa yang berinfak
dengan sepasang unta atau kuda
atau lainnya di jalan Allah swt.,
maka ia dipanggil dari pintu-pintu
surga. “Wahai hamba Allah, pintu
ini lebih baik. Barang Siapa yang
rajin shalat, maka ia dipanggil di
pintu shalat. Barang Siapa berjihad,
maka ia dipanggil di pintu jihad.
Barang Siapa rajin bershadaqah,
maka ia masuk dari pintu
shadaqah. Dan barang siapa puasa,
maka ia dipanggil dari Ar-
rayyan. ”Abu Bakar berkata,”Wahai
Rasulullah, apakah setiap orang
dipanggil dari pintu-pintu tersebut?
Adakah orang dipanggil dari semua
pintu tersebut? Rasulullah saw.
menjawab, ”Ya, dan aku berharap
engkau termasuk dari mereka.”
“Siapa di antara kalian yang
berwudhu kemudian
menyempurnakan wudhunya lalu
membaca Asyhadu an laa ilaaha
illallahu wahdahulaa syarikalahu
wa asyhadu anna Muhammadan
abduhu warasuluhu, maka
dibukakan baginya pintu-pintu
surga yang berjumlah delapan dan
ia masuk dari mana saja yang ia
sukai. ” Imam Muslim
“Jika seorang muslim mempunyai
tiga orang anak yang belum baligh
kemudian meninggal dunia, maka
mereka menjumpainya di pintu-
pintu surga yang delapan dan ia
bebas masuk dari pintu mana saja
yang ia sukai. ” k
“Demi Muhammad yang jiwanya
ada di Tangan-Nya, jarak antara
dua daun pintu surga adalah
seperti Makkah dan Hajar atau
Hajar dan Makkah. ” Imam Bukhari
Dalam redaksi lain,
“ Antara Makkah dan Hajar atau
Makkah dengan Bushra.” (Hadits ini
keshahihannya disepakati pakar
hadits).
“ Kalian adalah penyempurna tujuh
puluh umat. Kalian adalah umat
yang terbaik dan termulia di sisi
Allah. Jarak di antara dua daun
pintu surga adalah empat puluh
tahun. Pada suatu hari ia akan
penuh sesak. ” Imam Ahmad
“Pintu yang dimasuki oleh
penghuni surga jaraknya adalah
sejauh perjalanan pengembara
dunia yang ahli, tiga kali lipat.
Kemudian penghuni surga
memenuhinya hingga pundak
mereka nyaris lengkap. ” Abu
Nu’aim
Gambaran Para Penghuni Surga
“Allah Azza wajalla menciptakan
Adam mirip dengan wajah-Nya.
Postur tubuh Adam adalah enam
puluh hasta. Usai menciptakan
Adam Allah berfirman, “Pergilah
dan ucapkan salam kepada
sekumpulan tersebut. Mereka
adalah para malaikat yang sedang
duduk-duduk dan mendengarkan
salam yang mereka sampaikan
kepadamu, karena salam tersebut
adalah salammu dan salam anak
keturunanmu. ”
Kata Rasulullah saw., “Lalu Adam
pergi ke tempat mereka dan
berkata, “Salam sejahtera atas
kalian.” Mereka menjawab, “Salam
sejahtera juga atasmu dan begitu
juga rahmat Allah. ” Kata Rasulullah
saw. lebih lanjut, “Maka setiap
orang yang masuk ke dalam surga
wajahnya seperti wajah Adam dan
postur tubuhnya adalah enam
puluh hasta. Setelah Adam,
manusia mengecil hingga
sekarang. ” Ahmad, Bukhari dan
Muslim
“ Penghuni surga masuk ke dalam
surga dengan rambut pendek,
belum berjenggot, matanya
bercelak dan usianya tiga puluh
tiga tahun. ” Imam Tirmidzi
“Jika penghuni surga meninggal
dunia, baik pada saat kecil atau
tua, maka mereka dikembalikan
dengan usia tiga puluh tahun di
surga dan usianya tidak bertambah
selama-lamanya. Begitu juga
penghuni neraka. ” Imam Tirmidzi
“Penghuni surga masuk surga
dengan ketinggian Adam, enam
puluh hasta dengan ukuran orang
besar, dengan wajah tampan
setampan Nabi Yusuf, Seusia Nabi
Isa, tiga puluh tiga tahun, lidahnya
fasih sefasih Nabi Muhammad,
belum berjenggot dan berambut
pendek. ” Ibnu Abu Dunya
Dalam riwayat yang lain,
“ Sesungguhnya derajat penghuni
surga yang paling rendah yang
berada di tingkat keenam dan
ketujuh. Disediakan baginya tiga
ratus pelayan yang setiap pagi dan
sore melayaninya dengan
memberikan tiga ratus piring. Yang
saya ketahui piring tersebut
terbuat dari emas. ”
“Setiap piring mempunyai warna
tersendiri yang tidak dimiliki oleh
piring yang lain. Ia menikmati dari
piring yang pertama hingga piring
terakhir. Pelayan-pelayan juga
memberikan tiga ratus minuman di
mana setiap minuman mempunyai
warna tersendiri yang tidak dimiliki
oleh tempat minum yang lain. Ia
menikmati tempat minum pertama
hingga tempat minum terakhir. ”
Ia berkata,” Rabbku, jika Engkau
mengizinkan, maka aku akan
memberi makan dan minum
kepada penghuni surga dengan
tidak mengurangi jatah yang
diberikan kepadaku.
“ Sesungguhnya ia mempunyai istri
sebanyak tujuh puluh dua orang
yang berasal dari wanita-wanita
surgawi yang matanya cantik jelita
belum temasuk istri-istrinya dari
wanita dunia. Salah seorang dari
istri-istri mereka mengambil
tempat duduknya yang
panjangnya satu mil ukuran
dunia. ”(HR Ahmad)
“Dan penghuni surga yang paling
tinggi atau mulia di sisi Allah adalah
orang yang melihat wajah Allah
setiap pagi dan petang. Kemudian
Rasulullah saw. membaca ayat,
“ Wajah-wajah (orang-orang
Mukmin) pada saat itu berseri-seri.
Kepada Rabbnyalah mereka
melihat. ” HR Tirmidzi
“Saya datang ke pintu surga, lalu
saya buka. Sang penjaga bertanya,
“ Siapakah Anda?” Saya menjawab,
“Saya Muhammad.” Penjaga pintu
lalu berkata, “Saya memang
diperintah agar pintu surga ini tidak
saya buka sebelum Anda terlebih
dulu masuk. ” Imam Muslim
Orang-orang yang dijanjikan Masuk
Surga
Rasulullah bersabda, “Jibril datang
kepada saya dan memberi
informasi tentang pintu surga yang
akan dimasuki oleh umatku. ”
Mendengar itu, Abu Bakar
bertanya, “Ya Rasulullah saw. aku
ingin bersamamu hingga dapat
melihat pintu surga. ” Rasulullah
menjawab, “Engkau wahai Abu
bakar, adalah orang pertama dari
umatku yang memasuki surga. ”
Imam Bukhari-Muslim
Pertama kali dari golongan umat
yang masuk surga tanpa melalui
proses hisab ialah mereka yang
berderajat tinggi dan agung dalam
iman dan taqwanya, beramal
shaleh dan istiqamah.
“ Mereka berbaris dalam satu regu,
wajah mereka memancarkan
kepuasan seperti rembulan saat
pertama. Tubuh mereka bersih dari
kotoran. Tidak meludah, tidak
berdahak dan tidak pula buang air.
Tempat-tempat singgahnya
terbuat dari emas, sisirnya terbuat
juga dari emas dan perak. Tempat
apinya adalah kayud, keringatnya
berupa minyak misyk, setiap lelaki
memiliki pasangan istri yang
kulitnya cemerlang seolah-olah
sumsumnya tampak dari balik
daging. Mereka tidak pernah
berselisih, tidak saling membenci
sebab mereka sehati. Bacaannya
tiap kali adalah tasbih, setiap pagi
maupun sore. ” Imam Bukhari
Rasulullah saw. Bersabda:
“ Pasti masuk surga di antara
umatku yang berjumlah tujuh
puluh ribu orang tanpa hisab atau
tujuh ratus ribu orang. Mereka
saling bergandeng hingga masuk
surga semuanya. Wajah mereka
seperti rembulan pada saat
pertama.” Imam Bukhari dan
Muslim
Ibnu Abas ra berkata bahwa
Rasulullah saw. Bersabda:
“Semua umat diperlihatkan
kepadaku kemudian aku lihat ada
nabi yang diikuti oleh sekelompok
orang pengikutnya. Ada nabi yang
diikuti oleh satu dan dua orang.
Ada nabi yang tidak diikuti oleh
sorangpun. Diangkat kepadaku
kumpulan manusia yang sangat
banyak lalu aku mengira bahwa
mereka adalah umatku lalu
dikatakan kepadaku, “Ini adalah
Musa dan kaumnya. Lihatlah ke
ufuk langit !” Lalu aku melihat ke
ufuk langit dan ternyata di sana
ada kumpulan manusia yang
sangat banyak. Dikatakan
kepadaku, “Ini adalah umatmu dan
di antara mereka ada tujuh puluh
ribu orang yang masuk surga
tanpa dihisab dan disiksa. Setelah
itu Rasulullah masuk ke dalam
rumah.
“ Sementara orang-orang sibuk
membicarakan siapa sebenarnya
mereka yang masuk ke dalam
surga tanpa hisab dan tanpa
disiksa. Sebagian mereka berkata,
“ Barangkali mereka adalah mereka
yang menemani Rasulullah saw.”
Sebagian yang lain berkata,
“ Barangkali mereka adalah yang
dilahirkan dalam keadaan Islam
dan tidak menyekutukan Allah
dengan sesuatupun. ” Mereka juga
menafsirkan dengan berbagai
macam tafsiran.
Lalu Rasulullah ke luar menemui
mereka dan bertanya, “Apa yang
kalian bicarakan?” Mereka pun
menceritakan hasil
pembicaraannya. Lantas Rasulullah
saw. bersabda, ” Mereka adalah
orang-orang yang meruqyah dan
tidak minta diruqyah, tidak jatuh
dalam tathayyur (mengaitkan
nasib dengan burung atau lainnya)
dan hanya kepada Allah mereka
bertawakkal. ”
Ukasyah bin Mihshan berdiri lalu
berkata, “Berdoalah kepada Allah
agar Ia menjadikan aku di antara
mereka. “Rasulullah saw.
menjawab, “Anda termasuk di
antara mereka!” Orang laki-laki
yang lain berdiri dan berkata,
“ Berdoalah kepada Allah agar Allah
menjadikanku di antara mereka!”
Rasulullah saw. menjawab, “Anda
kalah cepat dengan ‘Ukasyah.”
Orang Yang Terakhir Masuk Surga
Ibnul Atsir telah mengumpulkan
perawi-perawi hadits ini di dalam
Yamiil Ushul, dan di antara hadits
itu menceritakan bahwa Abdullah
bin Mas ’ud ra menyampaikan
bahwa Rasulullah saw. Bersabda:
“ Aku tahu orang terakhir yang ke
luar dari neraka dan terakhir
masuk surga. Ia ke luar dari neraka
sambil merangkak, lalu Allah
berfirman kepadanya, ” Pergi dan
masuklah ke surga!” Orang itu
kemudian pergi menuju surga,
namun terbayang olehnya bahwa
surga telah penuh, lalu ia kembali
kepada Allah dan berkata, ” Ya
Allah, surga sudah penuh.” Allah
berfirman kepadanya,
“ Pergilah dan masuklah ke dalam
surga, sebab di sana tidak seperti di
dunia melainkan sepuluh kali dunia.
Lalu ia berkata, “Apakah Engkau
ejek aku, atau Engkau tertawakan
aku, sedang Engkau adalah Raja ?”
Sebuah hadits riwayat Muslim
menyampaikan hal serupa.
Dikisahkan, Nabi bercerita tentang
laki-laki yang masuk ke surga
yang terakhir. Laki-laki itu berjalan
pelan-pelan. Allah menyuruhnya
segera masuk ke surga. Ia pun
berjalan ke arah surga dengan hati
yang bimbang. Ia angankan, setiap
orang di surga itu telah memiliki
rumah sendiri-sendiri. Dalam
hatinya ia bertanya, dengan
apakah ia akan bertempat
tinggal ?”
Maka untuk memastikan hatinya,
Allah bertanya, “Apakah engkau
masih ingat, setiap orang berada di
rumahnya sendiri-sendiri ?” Ingat
ya Allah…”jawabnya penuh dengan
angan harapan. “Sepuluh kali lipat
rumah dunia?” tanya Allah. Apakah
Engkau menghinaku ya Allah,
sedangkan Engkau adalah Raja?”
Dalam menceritakan itu Nabi
tertawa hingga terlihat gigi
gerahamnya. ”
Mudah-mudahan kita semua
diizinkan oleh Allah Ta ’ala menjadi
orang-orang yang senantiasa
istiqamah di dalam meniti hidup
dan kehidupan ini, sehingga ketika
ruh ini dicabut oleh-Nya kita
menerima anugerah husnul
khatimah. Sehingga kita termasuk
dan dimasukkan oleh Allah Ta’ala
ke dalam golongan hamba-hamba-
Nya yang dipanggil dengan penuh
kelembutan:
“ Yaa ayyathuna-nafsul muthma
innah, irji-i ila Rabbiki raadhiatan
mardhiyyah, fadkhulii fi ibadi
wadkhuli jannati. ”
Wassalam Wr.Wb.
yang agung dan pahala tertinggi
bagi para hamba Allah yang taat.
Penggambaran surga yang
difirmankan oleh Allah swt. dan
disabdakan oleh Nabi saw.,
memang hampir tak mampu kita
gambarkan dengan otak dan
imajinasi kita yang terbatas ini. Kita
coba untuk memvisualisasikan
dalam hadits Qudsi yang
menceritakan tentang Surga.
Gambaran surga
ﺃﻋﺪﺩﺕ ﻟﻌﺒﺎﺩﻱ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﻣﺎ ﻻ ﻋﻴﻦ ﺭﺃﺕ
ﻭﻻ ﺃﺫﻥ ﺳﻤﻌﺖ ﻭﻻ ﺧﻄﺮ ﻋﻠﻰ ﻗﻠﺐ ﺑﺸﺮ
“ Kami sediakan bagi hamba-
hamba-Ku yang shalih sesuatu,
yang tak pernah terlihat oleh mata,
tak pernah terdengar oleh telinga
dan tak pernah terlintas oleh hati
manusia …”
“Seorang pun tak mengetahui apa
yang disembunyikan untuk
mereka yaitu
(bermacam-macam nikmat) yang
menyedapkan pandangan mata
sebagai balasan terhadap apa
yang telah mereka kerjakan. (As-
sajdah 17)
Allah swt. menentukan hari
masuknya ke surga pada waktu
tertentu dan memutuskan jatah
hidup di dunia pada batas waktu
tertentu serta menyiapkan di
dalam surga berbagai kenikmatan
yang tidak pernah dilihat oleh
mata, didengar oleh telinga, dan
terlintas dalam hati. Dia
memperlihatkan dengan jelas
surga kepada mereka agar dapat
melihatnya dengan mata hatinya
karena penglihatan mata hati lebih
tajam daripada pandangan mata
kepala.
“Sesungguhnya jika salah seorang
dari kalian meninggal dunia, maka
kursinya diperlihatkan kepadanya
setiap pagi dan petang. Jika ia
penghuni surga, maka ia adalah
penghuni surga. Jika ia penghuni
neraka, maka ia adalah penghuni
neraka. Kemudian dikatakan, Inilah
kursimu hingga Allah Ta ’ala
membangkitkanmu pada hari
kiamat nanti. ” Bukhari-Muslim
“Jibril berjalan terus hingga tiba di
Sidratul Muntaha dan ternyata
Sidratul Muntaha ditutup dengan
warna yang tidak aku ketahui. ”
kata Rasulullah saw. lebih lanjut,
“ Kemudian aku masuk ke dalam
surga dan ternyata di dalamnya
terdapat kubah dari mutiara dan
tanahnya beraroma kesturi.
Bukhari-Muslim
Orang masuk Surga dengan
berkelompok
“Dan orang-orang yang bertaqwa
kepada Rabbnya dibawa ke dalam
surga berombong-rombongan.
Sehingga apabila mereka sampai
ke surga itu sedang pintu-pintunya
telah terbuka dan berkatalah
kepada mereka penjaga-
penjaganya, “Kesejahteraan
(dilimpahkan) atas kalian,
berbahagialah kalian! Maka
masukilah surga ini, sedang kalian
kekal di dalamnya. ” Az-Zumar
39:73
“( Yaitu) Surga Aden yang pintu-
pintunya terbuka bagi mereka. Di
dalamnya mereka bertelekan (di
atas dipan-dipan) sambil meminta
buah-buahan yang banyak dan
minuman di surga tersebut. ” Shaad:
50-51
Anda perhatikan bahwa ada
makna indah pada ayat di atas
ketika mereka telah masuk ke
dalam surga, maka pintu-pintu itu
tidak tertutup bagi mereka dan
dibiarkan terbuka lebar untuk
mereka. Sedangkan neraka, jika
para penghuninya telah masuk ke
dalamnya, maka pintu-pintu
langsung ditutup rapat bagi
mereka.
“Sesungguhnya api itu ditutup
rapat atas mereka.” Al-Humazah:8
Dibiarkannya pintu-pintu surga
terbuka untuk para penghuninya
adalah isyarat bahwa mereka
dapat bergerak secara leluasa bagi
mereka. Serta masuknya para
malaikat masuk setiap waktu
kepada mereka dengan membawa
hadiah-hadiah dan rizki untuk
mereka dari Rabb mereka serta
apa saja yang menggembirakan
mereka dalam setiap waktu.
Pintu-pintu Surga
“Di surga terdapat delapan pintu.
Ada pintu yang namanya Ar-
Rayyan yang hanya dimasuki oleh
orang-orang yang puasa. ” Bukhari
dan Muslim
“ Barang Siapa yang berinfak
dengan sepasang unta atau kuda
atau lainnya di jalan Allah swt.,
maka ia dipanggil dari pintu-pintu
surga. “Wahai hamba Allah, pintu
ini lebih baik. Barang Siapa yang
rajin shalat, maka ia dipanggil di
pintu shalat. Barang Siapa berjihad,
maka ia dipanggil di pintu jihad.
Barang Siapa rajin bershadaqah,
maka ia masuk dari pintu
shadaqah. Dan barang siapa puasa,
maka ia dipanggil dari Ar-
rayyan. ”Abu Bakar berkata,”Wahai
Rasulullah, apakah setiap orang
dipanggil dari pintu-pintu tersebut?
Adakah orang dipanggil dari semua
pintu tersebut? Rasulullah saw.
menjawab, ”Ya, dan aku berharap
engkau termasuk dari mereka.”
“Siapa di antara kalian yang
berwudhu kemudian
menyempurnakan wudhunya lalu
membaca Asyhadu an laa ilaaha
illallahu wahdahulaa syarikalahu
wa asyhadu anna Muhammadan
abduhu warasuluhu, maka
dibukakan baginya pintu-pintu
surga yang berjumlah delapan dan
ia masuk dari mana saja yang ia
sukai. ” Imam Muslim
“Jika seorang muslim mempunyai
tiga orang anak yang belum baligh
kemudian meninggal dunia, maka
mereka menjumpainya di pintu-
pintu surga yang delapan dan ia
bebas masuk dari pintu mana saja
yang ia sukai. ” k
“Demi Muhammad yang jiwanya
ada di Tangan-Nya, jarak antara
dua daun pintu surga adalah
seperti Makkah dan Hajar atau
Hajar dan Makkah. ” Imam Bukhari
Dalam redaksi lain,
“ Antara Makkah dan Hajar atau
Makkah dengan Bushra.” (Hadits ini
keshahihannya disepakati pakar
hadits).
“ Kalian adalah penyempurna tujuh
puluh umat. Kalian adalah umat
yang terbaik dan termulia di sisi
Allah. Jarak di antara dua daun
pintu surga adalah empat puluh
tahun. Pada suatu hari ia akan
penuh sesak. ” Imam Ahmad
“Pintu yang dimasuki oleh
penghuni surga jaraknya adalah
sejauh perjalanan pengembara
dunia yang ahli, tiga kali lipat.
Kemudian penghuni surga
memenuhinya hingga pundak
mereka nyaris lengkap. ” Abu
Nu’aim
Gambaran Para Penghuni Surga
“Allah Azza wajalla menciptakan
Adam mirip dengan wajah-Nya.
Postur tubuh Adam adalah enam
puluh hasta. Usai menciptakan
Adam Allah berfirman, “Pergilah
dan ucapkan salam kepada
sekumpulan tersebut. Mereka
adalah para malaikat yang sedang
duduk-duduk dan mendengarkan
salam yang mereka sampaikan
kepadamu, karena salam tersebut
adalah salammu dan salam anak
keturunanmu. ”
Kata Rasulullah saw., “Lalu Adam
pergi ke tempat mereka dan
berkata, “Salam sejahtera atas
kalian.” Mereka menjawab, “Salam
sejahtera juga atasmu dan begitu
juga rahmat Allah. ” Kata Rasulullah
saw. lebih lanjut, “Maka setiap
orang yang masuk ke dalam surga
wajahnya seperti wajah Adam dan
postur tubuhnya adalah enam
puluh hasta. Setelah Adam,
manusia mengecil hingga
sekarang. ” Ahmad, Bukhari dan
Muslim
“ Penghuni surga masuk ke dalam
surga dengan rambut pendek,
belum berjenggot, matanya
bercelak dan usianya tiga puluh
tiga tahun. ” Imam Tirmidzi
“Jika penghuni surga meninggal
dunia, baik pada saat kecil atau
tua, maka mereka dikembalikan
dengan usia tiga puluh tahun di
surga dan usianya tidak bertambah
selama-lamanya. Begitu juga
penghuni neraka. ” Imam Tirmidzi
“Penghuni surga masuk surga
dengan ketinggian Adam, enam
puluh hasta dengan ukuran orang
besar, dengan wajah tampan
setampan Nabi Yusuf, Seusia Nabi
Isa, tiga puluh tiga tahun, lidahnya
fasih sefasih Nabi Muhammad,
belum berjenggot dan berambut
pendek. ” Ibnu Abu Dunya
Dalam riwayat yang lain,
“ Sesungguhnya derajat penghuni
surga yang paling rendah yang
berada di tingkat keenam dan
ketujuh. Disediakan baginya tiga
ratus pelayan yang setiap pagi dan
sore melayaninya dengan
memberikan tiga ratus piring. Yang
saya ketahui piring tersebut
terbuat dari emas. ”
“Setiap piring mempunyai warna
tersendiri yang tidak dimiliki oleh
piring yang lain. Ia menikmati dari
piring yang pertama hingga piring
terakhir. Pelayan-pelayan juga
memberikan tiga ratus minuman di
mana setiap minuman mempunyai
warna tersendiri yang tidak dimiliki
oleh tempat minum yang lain. Ia
menikmati tempat minum pertama
hingga tempat minum terakhir. ”
Ia berkata,” Rabbku, jika Engkau
mengizinkan, maka aku akan
memberi makan dan minum
kepada penghuni surga dengan
tidak mengurangi jatah yang
diberikan kepadaku.
“ Sesungguhnya ia mempunyai istri
sebanyak tujuh puluh dua orang
yang berasal dari wanita-wanita
surgawi yang matanya cantik jelita
belum temasuk istri-istrinya dari
wanita dunia. Salah seorang dari
istri-istri mereka mengambil
tempat duduknya yang
panjangnya satu mil ukuran
dunia. ”(HR Ahmad)
“Dan penghuni surga yang paling
tinggi atau mulia di sisi Allah adalah
orang yang melihat wajah Allah
setiap pagi dan petang. Kemudian
Rasulullah saw. membaca ayat,
“ Wajah-wajah (orang-orang
Mukmin) pada saat itu berseri-seri.
Kepada Rabbnyalah mereka
melihat. ” HR Tirmidzi
“Saya datang ke pintu surga, lalu
saya buka. Sang penjaga bertanya,
“ Siapakah Anda?” Saya menjawab,
“Saya Muhammad.” Penjaga pintu
lalu berkata, “Saya memang
diperintah agar pintu surga ini tidak
saya buka sebelum Anda terlebih
dulu masuk. ” Imam Muslim
Orang-orang yang dijanjikan Masuk
Surga
Rasulullah bersabda, “Jibril datang
kepada saya dan memberi
informasi tentang pintu surga yang
akan dimasuki oleh umatku. ”
Mendengar itu, Abu Bakar
bertanya, “Ya Rasulullah saw. aku
ingin bersamamu hingga dapat
melihat pintu surga. ” Rasulullah
menjawab, “Engkau wahai Abu
bakar, adalah orang pertama dari
umatku yang memasuki surga. ”
Imam Bukhari-Muslim
Pertama kali dari golongan umat
yang masuk surga tanpa melalui
proses hisab ialah mereka yang
berderajat tinggi dan agung dalam
iman dan taqwanya, beramal
shaleh dan istiqamah.
“ Mereka berbaris dalam satu regu,
wajah mereka memancarkan
kepuasan seperti rembulan saat
pertama. Tubuh mereka bersih dari
kotoran. Tidak meludah, tidak
berdahak dan tidak pula buang air.
Tempat-tempat singgahnya
terbuat dari emas, sisirnya terbuat
juga dari emas dan perak. Tempat
apinya adalah kayud, keringatnya
berupa minyak misyk, setiap lelaki
memiliki pasangan istri yang
kulitnya cemerlang seolah-olah
sumsumnya tampak dari balik
daging. Mereka tidak pernah
berselisih, tidak saling membenci
sebab mereka sehati. Bacaannya
tiap kali adalah tasbih, setiap pagi
maupun sore. ” Imam Bukhari
Rasulullah saw. Bersabda:
“ Pasti masuk surga di antara
umatku yang berjumlah tujuh
puluh ribu orang tanpa hisab atau
tujuh ratus ribu orang. Mereka
saling bergandeng hingga masuk
surga semuanya. Wajah mereka
seperti rembulan pada saat
pertama.” Imam Bukhari dan
Muslim
Ibnu Abas ra berkata bahwa
Rasulullah saw. Bersabda:
“Semua umat diperlihatkan
kepadaku kemudian aku lihat ada
nabi yang diikuti oleh sekelompok
orang pengikutnya. Ada nabi yang
diikuti oleh satu dan dua orang.
Ada nabi yang tidak diikuti oleh
sorangpun. Diangkat kepadaku
kumpulan manusia yang sangat
banyak lalu aku mengira bahwa
mereka adalah umatku lalu
dikatakan kepadaku, “Ini adalah
Musa dan kaumnya. Lihatlah ke
ufuk langit !” Lalu aku melihat ke
ufuk langit dan ternyata di sana
ada kumpulan manusia yang
sangat banyak. Dikatakan
kepadaku, “Ini adalah umatmu dan
di antara mereka ada tujuh puluh
ribu orang yang masuk surga
tanpa dihisab dan disiksa. Setelah
itu Rasulullah masuk ke dalam
rumah.
“ Sementara orang-orang sibuk
membicarakan siapa sebenarnya
mereka yang masuk ke dalam
surga tanpa hisab dan tanpa
disiksa. Sebagian mereka berkata,
“ Barangkali mereka adalah mereka
yang menemani Rasulullah saw.”
Sebagian yang lain berkata,
“ Barangkali mereka adalah yang
dilahirkan dalam keadaan Islam
dan tidak menyekutukan Allah
dengan sesuatupun. ” Mereka juga
menafsirkan dengan berbagai
macam tafsiran.
Lalu Rasulullah ke luar menemui
mereka dan bertanya, “Apa yang
kalian bicarakan?” Mereka pun
menceritakan hasil
pembicaraannya. Lantas Rasulullah
saw. bersabda, ” Mereka adalah
orang-orang yang meruqyah dan
tidak minta diruqyah, tidak jatuh
dalam tathayyur (mengaitkan
nasib dengan burung atau lainnya)
dan hanya kepada Allah mereka
bertawakkal. ”
Ukasyah bin Mihshan berdiri lalu
berkata, “Berdoalah kepada Allah
agar Ia menjadikan aku di antara
mereka. “Rasulullah saw.
menjawab, “Anda termasuk di
antara mereka!” Orang laki-laki
yang lain berdiri dan berkata,
“ Berdoalah kepada Allah agar Allah
menjadikanku di antara mereka!”
Rasulullah saw. menjawab, “Anda
kalah cepat dengan ‘Ukasyah.”
Orang Yang Terakhir Masuk Surga
Ibnul Atsir telah mengumpulkan
perawi-perawi hadits ini di dalam
Yamiil Ushul, dan di antara hadits
itu menceritakan bahwa Abdullah
bin Mas ’ud ra menyampaikan
bahwa Rasulullah saw. Bersabda:
“ Aku tahu orang terakhir yang ke
luar dari neraka dan terakhir
masuk surga. Ia ke luar dari neraka
sambil merangkak, lalu Allah
berfirman kepadanya, ” Pergi dan
masuklah ke surga!” Orang itu
kemudian pergi menuju surga,
namun terbayang olehnya bahwa
surga telah penuh, lalu ia kembali
kepada Allah dan berkata, ” Ya
Allah, surga sudah penuh.” Allah
berfirman kepadanya,
“ Pergilah dan masuklah ke dalam
surga, sebab di sana tidak seperti di
dunia melainkan sepuluh kali dunia.
Lalu ia berkata, “Apakah Engkau
ejek aku, atau Engkau tertawakan
aku, sedang Engkau adalah Raja ?”
Sebuah hadits riwayat Muslim
menyampaikan hal serupa.
Dikisahkan, Nabi bercerita tentang
laki-laki yang masuk ke surga
yang terakhir. Laki-laki itu berjalan
pelan-pelan. Allah menyuruhnya
segera masuk ke surga. Ia pun
berjalan ke arah surga dengan hati
yang bimbang. Ia angankan, setiap
orang di surga itu telah memiliki
rumah sendiri-sendiri. Dalam
hatinya ia bertanya, dengan
apakah ia akan bertempat
tinggal ?”
Maka untuk memastikan hatinya,
Allah bertanya, “Apakah engkau
masih ingat, setiap orang berada di
rumahnya sendiri-sendiri ?” Ingat
ya Allah…”jawabnya penuh dengan
angan harapan. “Sepuluh kali lipat
rumah dunia?” tanya Allah. Apakah
Engkau menghinaku ya Allah,
sedangkan Engkau adalah Raja?”
Dalam menceritakan itu Nabi
tertawa hingga terlihat gigi
gerahamnya. ”
Mudah-mudahan kita semua
diizinkan oleh Allah Ta ’ala menjadi
orang-orang yang senantiasa
istiqamah di dalam meniti hidup
dan kehidupan ini, sehingga ketika
ruh ini dicabut oleh-Nya kita
menerima anugerah husnul
khatimah. Sehingga kita termasuk
dan dimasukkan oleh Allah Ta’ala
ke dalam golongan hamba-hamba-
Nya yang dipanggil dengan penuh
kelembutan:
“ Yaa ayyathuna-nafsul muthma
innah, irji-i ila Rabbiki raadhiatan
mardhiyyah, fadkhulii fi ibadi
wadkhuli jannati. ”
Wassalam Wr.Wb.
BAU WANGI WANITA PENYISIR RAMBUT
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA,
dia berkata, Rasulullah SAW
bersabda, “Pada saat malam
terjadinya Isra’ saya mencium bau
harum, yang dijawab Jibril bahwa
itu adalah bau wangi wanita
penyisir rambut putri Fir ’aun yaitu
Masyithah dan anak-anaknya.”
Rosululloh bertanya, ”Bagaimana
bisa?”
Jibril bercerita, “Ketika dia menyisir
rambut putri Fir’aun suatu hari,
tiba-tiba sisirnya terjatuh. Dia
mengambilnya dengan membaca
” Bismillah (dengan nama Alloh)”
Putri Fir’aun berkata, “Hai, bukan
bismillah tapi dengan nama
bapakku.. !” Masyithah berkata,
“Bukan, Alloh adalah Tuhanku,
Tuhanmu dan juga Tuhan
bapakmu. Tiada Illah selain Alloh.”
Putri Fir’aun berkata, “Kamu punya
Tuhan yang bukan ayahku?”
Masyitah menjawab, “Ya. Tuhan
kita semua hanya satu, yaitu
Alloh. ” Anak putri Fir’aun berkata,
“Akan aku laporkan pada
ayahku…!”
Wanita tukang sisir menjawab,
‘ Silahkan!’
Putri Fir’aun kemudian melaporkan
pada bapaknya, dan Fir’aunpun
memanggil Masyithah.
Fir ’aun bertanya, “Ya Masyithah,
apakah kamu mempunyai Tuhan
yang bukan aku ?” Masyithah
menjawab, “Ya, Tuhanku dan
Tuhanmu adalah Alloh.”
Fir’aun-pun marah hingga
memerintahkan prajuritnya untuk
mempersiapkan periuk besar dari
tembaga untuk dipanaskan. Satu
persatu anak wanita tukang sisir
dilemparkan ke dalam periuk yang
mendidih.
Beberapa saat kemudian,
Masyithah berkata pada Fir’aun,
“Saya mempunyai satu
permohonan.”
Fir’aun menjawab, “Katakanlah.”
Masyithah berkata, “Saya ingin
engkau mengumpulkan tulang-
tulangku dan tulang-tulang anakku
dalam satu kantong untuk
kemudian dikuburkan. ”
Fir’aun menjawab, “Akan aku
penuhi permintaanmu.” Lalu satu
demi satu anaknya dilemparkan ke
dalam periuk mendidih itu di depan
matanya, sampai akhirnya tinggal
seorang bayi yang masih
menyusu. Karena iba melihat
bayinya yang tanpa dosa harus
menanggung kematian itu
Masyithah nampak ragu-ragu.
Atas izin Alloh tiba-tiba Si bayi
berbicara, “Terjunlah Ibu,
Terjunlah..! Adzab dunia jauh lebih
ringan daripada adzab Akhirat. ”
Mendengar anaknya berbicara si
ibupun langsung terjun bersama
bayinya.
Demikianlah sebuah kisah yang
tercantum dalam Musnad Imam
Ahmad, 4/291-295 dan juga
tercantum dalam Majma ’uz
Zawa’id, 1/65. Anisul Jalabi II, Ali Al-
Hazza’. Kisah dari seorang wanita
bernama Mashithah yang menjadi
penerang kegelapan istana Fir ’aun.
Dia mempertahankan kebenaran,
meskipun berat dan pahit terasa.
Lalu siapakah pembawa obor bagi
kita di kegelapan abad dua puluh
satu ini? “Sesungguhnya hanya
orang-orang yang bersabarlah
yang dicukupkan pahala tanpa
batas. ”
dia berkata, Rasulullah SAW
bersabda, “Pada saat malam
terjadinya Isra’ saya mencium bau
harum, yang dijawab Jibril bahwa
itu adalah bau wangi wanita
penyisir rambut putri Fir ’aun yaitu
Masyithah dan anak-anaknya.”
Rosululloh bertanya, ”Bagaimana
bisa?”
Jibril bercerita, “Ketika dia menyisir
rambut putri Fir’aun suatu hari,
tiba-tiba sisirnya terjatuh. Dia
mengambilnya dengan membaca
” Bismillah (dengan nama Alloh)”
Putri Fir’aun berkata, “Hai, bukan
bismillah tapi dengan nama
bapakku.. !” Masyithah berkata,
“Bukan, Alloh adalah Tuhanku,
Tuhanmu dan juga Tuhan
bapakmu. Tiada Illah selain Alloh.”
Putri Fir’aun berkata, “Kamu punya
Tuhan yang bukan ayahku?”
Masyitah menjawab, “Ya. Tuhan
kita semua hanya satu, yaitu
Alloh. ” Anak putri Fir’aun berkata,
“Akan aku laporkan pada
ayahku…!”
Wanita tukang sisir menjawab,
‘ Silahkan!’
Putri Fir’aun kemudian melaporkan
pada bapaknya, dan Fir’aunpun
memanggil Masyithah.
Fir ’aun bertanya, “Ya Masyithah,
apakah kamu mempunyai Tuhan
yang bukan aku ?” Masyithah
menjawab, “Ya, Tuhanku dan
Tuhanmu adalah Alloh.”
Fir’aun-pun marah hingga
memerintahkan prajuritnya untuk
mempersiapkan periuk besar dari
tembaga untuk dipanaskan. Satu
persatu anak wanita tukang sisir
dilemparkan ke dalam periuk yang
mendidih.
Beberapa saat kemudian,
Masyithah berkata pada Fir’aun,
“Saya mempunyai satu
permohonan.”
Fir’aun menjawab, “Katakanlah.”
Masyithah berkata, “Saya ingin
engkau mengumpulkan tulang-
tulangku dan tulang-tulang anakku
dalam satu kantong untuk
kemudian dikuburkan. ”
Fir’aun menjawab, “Akan aku
penuhi permintaanmu.” Lalu satu
demi satu anaknya dilemparkan ke
dalam periuk mendidih itu di depan
matanya, sampai akhirnya tinggal
seorang bayi yang masih
menyusu. Karena iba melihat
bayinya yang tanpa dosa harus
menanggung kematian itu
Masyithah nampak ragu-ragu.
Atas izin Alloh tiba-tiba Si bayi
berbicara, “Terjunlah Ibu,
Terjunlah..! Adzab dunia jauh lebih
ringan daripada adzab Akhirat. ”
Mendengar anaknya berbicara si
ibupun langsung terjun bersama
bayinya.
Demikianlah sebuah kisah yang
tercantum dalam Musnad Imam
Ahmad, 4/291-295 dan juga
tercantum dalam Majma ’uz
Zawa’id, 1/65. Anisul Jalabi II, Ali Al-
Hazza’. Kisah dari seorang wanita
bernama Mashithah yang menjadi
penerang kegelapan istana Fir ’aun.
Dia mempertahankan kebenaran,
meskipun berat dan pahit terasa.
Lalu siapakah pembawa obor bagi
kita di kegelapan abad dua puluh
satu ini? “Sesungguhnya hanya
orang-orang yang bersabarlah
yang dicukupkan pahala tanpa
batas. ”
RAHASIA SENYUM MUHAMMAD SAW
Ketika Anda membuka lembaran
sirah kehidupan Muhammad saw.,
Anda tidak akan pernah berhenti
kagum melihat kemuliaan dan
kebesaran pribadi beliau.
Sisi kebesaran itu terlihat dari sikap
seimbang dan selaras dalam setiap
perilakunya, sikap beliau dalam
menggunakan segala sarana untuk
meluluhkan kalbu setiap orang
dalam setiap kesempatan.
Sarana paling besar yang dilakukan
Muhammad saw. dalam dakwah
dan perilaku beliau adalah, gerakan
yang tidak membutuhkan biaya
besar, tidak membutuhkan energi
berlimpah, meluncur dari bibir
untuk selanjutnya masuk ke relung
kalbu yang sangat dalam.
Jangan Anda tanyakan
efektifitasnya dalam
mempengaruhi akal pikiran,
menghilangkan kesedihan,
membersihkan jiwa,
menghancurkan tembok
pengalang di antara anak
manusia!. Itulah ketulusan yang
mengalir dari dua bibir yang bersih,
itulah senyuman!
Itulah senyuman yang direkam Al
Qur ’an tentang kisah Nabi Sulaiman
as, ketika Ia berkata kepada
seekor semut,
“Maka dia tersenyum dengan
tertawa karena (mendengar)
perkataan semut itu. Dan dia
berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku
ilham untuk tetap mensyukuri
nikmat mu yang telah Engkau
anugerahkan kepadaku dan
kepada dua orang ibu bapakku dan
untuk mengerjakan amal saleh
yang Engkau ridhai; Dan
masukkanlah aku dengan rahmat-
Mu ke dalam golongan hamba-
hamba-Mu yang saleh ”. An
Naml:19
Senyuman itulah yang senantiasa
keluar dari bibir mulia Muhammad
saw., dalam setiap perilakunya.
Beliau tersenyum ketika bertemu
dengan sahabatnya. Saat beliau
menahan amarah atau ketika
beliau berada di majelis peradilan
sekalipun.
ﻓﻬﺬﺍ ﺟﺮﻳﺮ -ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ- ﻳﻘﻮﻝ -ﻛﻤﺎ
ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﻴﻦ-: ﻣﺎ ﺣَﺠَﺒﻨﻲ ﺭﺳﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪ -
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﻣﻨﺬُ ﺃﺳﻤﻠﺖُ، ﻭﻻ
ﺭﺁﻧﻲ ﺇﻻ ﺗَﺒَﺴَّﻢ ﻓﻲ ﻭﺟﻬﻲ .
Diriwayatkan dari Jabir dalam sahih
Bukhari dan Muslim, berkata, “Sejak
aku masuk Islam, Rasulullah saw
tidak pernah menghindar dariku.
Dan beliau tidak melihatku kecuali
beliau pasti tersenyum kepadaku. ”
Suatu ketika Muhammad saw.
didatangi seorang Arab Badui,
dengan serta merta ia berlaku
kasar dengan menarik selendang
Muhammad saw., sehingga leher
beliau membekas merah. Orang
Badui itu bersuara keras, “Wahai
Muhammad, perintahkan
sahabatmu memberikan harta dari
Baitul Maal! Muhammad saw.
menoleh kepadanya seraya
tersenyum. Kemudian beliau
menyuruh sahabatnya memberi
harta dari baitul maal kepadanya.”
Ketika beliau memberi hukuman
keras terhadap orang-orang yang
terlambat dan tidak ikut serta
dalam perang Tabuk, beliau masih
tersenyum mendengarkan alasan
mereka.
ﻳﻘﻮﻝ ﻛﻌﺐ -ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ- ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﺫﻛﺮ
ﺍﻋﺘﺬﺍﺭ ﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻘﻴﻦ ﻭﺣﻠﻔﻬﻢ ﺍﻟﻜﺎﺫﺏ:
ﻓَﺠِﺌْﺘُﻪُ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺳَﻠَّﻤْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺗَﺒَﺴَّﻢَ ﺗَﺒَﺴُّﻢَ
ﺍﻟْﻤُﻐْﻀَﺐِ، ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ »ﺗَﻌَﺎﻝَ« . ﻓَﺠِﺌْﺖُ ﺃَﻣْﺸِﻲ
ﺣَﺘَّﻰ ﺟَﻠَﺴْﺖُ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ .
Ka’ab ra. berkata setelah
mengungkapkan alasan orang-
orang munafik dan sumpah palsu
mereka:
“Saya mendatangi Muhammad
saw., ketika saya mengucapkan
salam kepadanya, beliau
tersenyum, senyuman orang yang
marah. Kemudian beliau berkata,
“ Kemari. Maka saya mendekati
beliau dan duduk di depan beliau.”
Suatu ketika Muhammad saw.
melintasi masjid yang di dalamnya
ada beberapa sahabat yang
sedang membicarakan masalah-
masalah jahiliyah terdahulu, beliau
lewat dan tersenyum kepada
mereka.
Beliau tersenyum dari bibir yang
lembut, mulia nan suci, sampai
akhir detik-detik hayat beliau.
- ﻳﻘﻮﻝ ﺃﻧﺲ -ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﻴﻦ-: ﺑﻴﻨﻤﺎ
ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ ﻓﻲ ﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﻣِﻦْ ﻳَﻮْﻡِ
ﺍﻹِﺛْﻨَﻴْﻦِ ﻭَﺃَﺑُﻮ ﺑَﻜْﺮٍ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺑَﻬُﻢْ ﻟَﻢْ ﻳَﻔْﺠَﺄْﻫُﻢْ
ﺇِﻻَّ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﻗَﺪْ
ﻛَﺸَﻒَ ﺳِﺘْﺮَ ﺣُﺠْﺮَﺓِ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ، ﻓَﻨَﻈَﺮَ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ
ﻭَﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﺻُﻔُﻮﻑِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ. ﺛُﻢَّ ﺗَﺒَﺴَّﻢَ
ﻳَﻀْﺤَﻚُ!
Anas bin Malik berkata
diriwayatkan dalam sahih Bukhari
dan Muslim, “Ketika kaum muslimin
berada dalam shalat fajar, di hari
Senin, sedangkan Abu Bakar
menjadi imam mereka, ketika itu
mereka dikejutkan oleh
Muhammad saw. yang membuka
hijab kamar Aisyah. Beliau melihat
kaum muslimin sedang dalam shaf
shalat, kemudian beliau tersenyum
kepada mereka !”
Sehingga tidak mengherankan
beliau mampu meluluhkan kalbu
sahabat-shabatnya, istri-istrinya
dan setiap orang yang berjumpa
dengannya!
Menyentuh Hati
Muhammad saw. telah meluluhkan
hati siapa saja dengan senyuman.
Beliau mampu “menyihir” hati
dengan senyuman. Beliau
menumbuhkan harapan dengan
senyuman. Beliau mampu
menghilangkan sikap keras hati
dengan senyuman. Dan beliau saw.
mensunnahkan dan
memerintahkan umatnya agar
menghiasi diri dengan akhlak mulia
ini. Bahkan beliau menjadikan
senyuman sebagai lahan berlomba
dalam kebaikan. Rasulullah saw.
bersabda,
ﻓﻘﺎﻝ: )ﻭﺗﺒﺴﻤﻚ ﻓﻲ ﻭﺟﻪ ﺃﺧﻴﻚ ﺻﺪﻗﺔ(
ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﺻﺤﺤﻪ ﺍﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ .
“Senyummu di depan saudaramu
adalah sedekah.” At Tirmidzi dalam
sahihnya.
Meskipun sudah sangat jelas dan
gamblang petunjuk Nabi dan
praktek beliau langsung ini, namun
Anda masih banyak melihat
sebagaian manusia masih berlaku
keras terhadap anggota
keluarganya, tehadap rumah
tangganya dengan tidak menebar
senyuman dari bibirnya dan dari
ketulusan hatinya.
Anda merasakan bahwa sebagian
manusia -karena bersikap
cemberut dan muka masam-
mengira bahwa giginya bagian dari
aurat yang harus ditutupi! Di mana
mereka di depan petunjuk Nabi
yang agung ini! Sungguh jauh
mereka dari contoh Nabi
muhammad saw.!
Ya, kadang Anda melewati jam-
jam Anda dengan dirundung duka,
atau disibukkan beragam
pekerjaan, akan tetapi Anda selalu
bermuka masam, cemberut dan
menahan senyuman yang
merupakan sedekah, maka demi
Allah, ini adalah perilaku keras hati,
yang semestinya tidak terjadi. Wal
iyadzubillah.
Pengaruh Senyum
Sebagian manusia ketika berbicara
tentang senyuman, mengaitkan
dengan pengaruh psikologis
terhadap orang yang tersenyum.
Mengkaitkannya boleh-boleh saja,
yang oleh kebanyakan orang
boleh jadi sepakat akan hal itu.
Namun, seorang muslim
memandang hal ini dengan kaca
mata lain, yaitu kaca mata ibadah,
bahwa tersenyum adalah bagian
dari mencontoh Nabi saw. yang
disunnahkan dan bernilai ibadah.
Para pakar dari kalangan muslim
maupun non muslim melihat
seuntai senyuman sangat besar
pengaruhnya.
Dale Carnegie dalam bukunya
yang terkenal, “Bagaimana Anda
Mendapatkan Teman dan
Mempengaruhi Manusia ”
menceritakan:
“Wajah merupakan cermin yang
tepat bagi perasaan hati seseorang.
Wajah yang ceria, penuh
senyuman alami, senyum tulus
adalah sebaik-baik sarana
memperoleh teman dan kerja
sama dengan pihak lain. Senyum
lebih berharga dibanding sebuah
pemberian yang dihadiahkan
seorang pria. Dan lebih menarik
dari lipstik dan bedak yang
menempel di wajah seorang
wanita. Senyum bukti cinta tulus
dan persahabatan yang murni.”
Ia melanjutkan, “Saya minta setiap
mahasiswa saya untuk tersenyum
kepada orang tertentu sekali setiap
pekannya. Salah seorang
mahasiswa datang bertemu
dengan pedagang, ia berkata
kepadanya, “Saya pilih tersenyum
kepada istriku, ia tidak tau sama
sekali perihal ini. Hasilnya adalah
saya menemukan kebahagiaan
baru yang sebelumnya tidak saya
rasakan sepanjang akhir tahun-
tahun ini. Yang demikian
menjadikan saya senang
tersenyum setiap kali bertemu
dengan orang. Setiap orang
membalas penghormatan kepada
saya dan bersegera melaksanakan
khidmat -pelayanan- kepada saya.
Karena itu saya merasakan hidup
lebih ceria dan lebih mudah. ”
Kegembiraan meluap ketika
Carnegie menambahkan, “Ingatlah,
bahwa senyum tidak
membutuhkan biaya sedikitpun,
bahkan membawa dampak yang
luar biasa. Tidak akan menjadi
miskin orang yang memberinya,
justeru akan menambah kaya bagi
orang yang mendapatkannya.
Senyum juga tidak memerlukan
waktu yang bertele-tele, namun
membekas kekal dalam ingatan
sampai akhir hayat. Tidak ada
seorang fakir yang tidak
memilikinya, dan tidak ada
seorang kaya pun yang tidak
membutuhkannya. ”
Betapa kita sangat membutuhkan
sosialisasi dan penyadaran
petunjuk Nabi yang mulia ini
kepada umat. Dengan niat
taqarrub ilallah -pendekatan diri
kepada Allah swt.- lewat
senyuman, dimulai dari diri kita,
rumah kita, bersama istri-istri kita,
anak-anak kita, teman sekantor
kita. Dan kita tidak pernah merasa
rugi sedikit pun! Bahkan kita akan
rugi, rugi dunia dan agama, ketika
kita menahan senyuman,
menahan sedekah ini, dengan
selalu bermuka masam dan
cemberut dalam kehidupan.
Pengalaman membuktikan bahwa
dampak positif dan efektif dari
senyuman, yaitu senyuman
menjadi pendahuluan ketika
hendak meluruskan orang yang
keliru, dan menjadi muqaddimah
ketika mengingkari yang munkar.
Orang yang selalu cemberut tidak
menyengsarakan kecuali dirinya
sendiri. Bermuka masam berarti
mengharamkan menikmati dunia
ini. Dan bagi siapa saja yang mau
menebar senyum, selamanya ia
akan senang dan gembira. Allahu
a ’lam
sirah kehidupan Muhammad saw.,
Anda tidak akan pernah berhenti
kagum melihat kemuliaan dan
kebesaran pribadi beliau.
Sisi kebesaran itu terlihat dari sikap
seimbang dan selaras dalam setiap
perilakunya, sikap beliau dalam
menggunakan segala sarana untuk
meluluhkan kalbu setiap orang
dalam setiap kesempatan.
Sarana paling besar yang dilakukan
Muhammad saw. dalam dakwah
dan perilaku beliau adalah, gerakan
yang tidak membutuhkan biaya
besar, tidak membutuhkan energi
berlimpah, meluncur dari bibir
untuk selanjutnya masuk ke relung
kalbu yang sangat dalam.
Jangan Anda tanyakan
efektifitasnya dalam
mempengaruhi akal pikiran,
menghilangkan kesedihan,
membersihkan jiwa,
menghancurkan tembok
pengalang di antara anak
manusia!. Itulah ketulusan yang
mengalir dari dua bibir yang bersih,
itulah senyuman!
Itulah senyuman yang direkam Al
Qur ’an tentang kisah Nabi Sulaiman
as, ketika Ia berkata kepada
seekor semut,
“Maka dia tersenyum dengan
tertawa karena (mendengar)
perkataan semut itu. Dan dia
berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku
ilham untuk tetap mensyukuri
nikmat mu yang telah Engkau
anugerahkan kepadaku dan
kepada dua orang ibu bapakku dan
untuk mengerjakan amal saleh
yang Engkau ridhai; Dan
masukkanlah aku dengan rahmat-
Mu ke dalam golongan hamba-
hamba-Mu yang saleh ”. An
Naml:19
Senyuman itulah yang senantiasa
keluar dari bibir mulia Muhammad
saw., dalam setiap perilakunya.
Beliau tersenyum ketika bertemu
dengan sahabatnya. Saat beliau
menahan amarah atau ketika
beliau berada di majelis peradilan
sekalipun.
ﻓﻬﺬﺍ ﺟﺮﻳﺮ -ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ- ﻳﻘﻮﻝ -ﻛﻤﺎ
ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﻴﻦ-: ﻣﺎ ﺣَﺠَﺒﻨﻲ ﺭﺳﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪ -
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﻣﻨﺬُ ﺃﺳﻤﻠﺖُ، ﻭﻻ
ﺭﺁﻧﻲ ﺇﻻ ﺗَﺒَﺴَّﻢ ﻓﻲ ﻭﺟﻬﻲ .
Diriwayatkan dari Jabir dalam sahih
Bukhari dan Muslim, berkata, “Sejak
aku masuk Islam, Rasulullah saw
tidak pernah menghindar dariku.
Dan beliau tidak melihatku kecuali
beliau pasti tersenyum kepadaku. ”
Suatu ketika Muhammad saw.
didatangi seorang Arab Badui,
dengan serta merta ia berlaku
kasar dengan menarik selendang
Muhammad saw., sehingga leher
beliau membekas merah. Orang
Badui itu bersuara keras, “Wahai
Muhammad, perintahkan
sahabatmu memberikan harta dari
Baitul Maal! Muhammad saw.
menoleh kepadanya seraya
tersenyum. Kemudian beliau
menyuruh sahabatnya memberi
harta dari baitul maal kepadanya.”
Ketika beliau memberi hukuman
keras terhadap orang-orang yang
terlambat dan tidak ikut serta
dalam perang Tabuk, beliau masih
tersenyum mendengarkan alasan
mereka.
ﻳﻘﻮﻝ ﻛﻌﺐ -ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ- ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﺫﻛﺮ
ﺍﻋﺘﺬﺍﺭ ﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻘﻴﻦ ﻭﺣﻠﻔﻬﻢ ﺍﻟﻜﺎﺫﺏ:
ﻓَﺠِﺌْﺘُﻪُ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺳَﻠَّﻤْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺗَﺒَﺴَّﻢَ ﺗَﺒَﺴُّﻢَ
ﺍﻟْﻤُﻐْﻀَﺐِ، ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ »ﺗَﻌَﺎﻝَ« . ﻓَﺠِﺌْﺖُ ﺃَﻣْﺸِﻲ
ﺣَﺘَّﻰ ﺟَﻠَﺴْﺖُ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ .
Ka’ab ra. berkata setelah
mengungkapkan alasan orang-
orang munafik dan sumpah palsu
mereka:
“Saya mendatangi Muhammad
saw., ketika saya mengucapkan
salam kepadanya, beliau
tersenyum, senyuman orang yang
marah. Kemudian beliau berkata,
“ Kemari. Maka saya mendekati
beliau dan duduk di depan beliau.”
Suatu ketika Muhammad saw.
melintasi masjid yang di dalamnya
ada beberapa sahabat yang
sedang membicarakan masalah-
masalah jahiliyah terdahulu, beliau
lewat dan tersenyum kepada
mereka.
Beliau tersenyum dari bibir yang
lembut, mulia nan suci, sampai
akhir detik-detik hayat beliau.
- ﻳﻘﻮﻝ ﺃﻧﺲ -ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﻴﻦ-: ﺑﻴﻨﻤﺎ
ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ ﻓﻲ ﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﻣِﻦْ ﻳَﻮْﻡِ
ﺍﻹِﺛْﻨَﻴْﻦِ ﻭَﺃَﺑُﻮ ﺑَﻜْﺮٍ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺑَﻬُﻢْ ﻟَﻢْ ﻳَﻔْﺠَﺄْﻫُﻢْ
ﺇِﻻَّ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﻗَﺪْ
ﻛَﺸَﻒَ ﺳِﺘْﺮَ ﺣُﺠْﺮَﺓِ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ، ﻓَﻨَﻈَﺮَ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ
ﻭَﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﺻُﻔُﻮﻑِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ. ﺛُﻢَّ ﺗَﺒَﺴَّﻢَ
ﻳَﻀْﺤَﻚُ!
Anas bin Malik berkata
diriwayatkan dalam sahih Bukhari
dan Muslim, “Ketika kaum muslimin
berada dalam shalat fajar, di hari
Senin, sedangkan Abu Bakar
menjadi imam mereka, ketika itu
mereka dikejutkan oleh
Muhammad saw. yang membuka
hijab kamar Aisyah. Beliau melihat
kaum muslimin sedang dalam shaf
shalat, kemudian beliau tersenyum
kepada mereka !”
Sehingga tidak mengherankan
beliau mampu meluluhkan kalbu
sahabat-shabatnya, istri-istrinya
dan setiap orang yang berjumpa
dengannya!
Menyentuh Hati
Muhammad saw. telah meluluhkan
hati siapa saja dengan senyuman.
Beliau mampu “menyihir” hati
dengan senyuman. Beliau
menumbuhkan harapan dengan
senyuman. Beliau mampu
menghilangkan sikap keras hati
dengan senyuman. Dan beliau saw.
mensunnahkan dan
memerintahkan umatnya agar
menghiasi diri dengan akhlak mulia
ini. Bahkan beliau menjadikan
senyuman sebagai lahan berlomba
dalam kebaikan. Rasulullah saw.
bersabda,
ﻓﻘﺎﻝ: )ﻭﺗﺒﺴﻤﻚ ﻓﻲ ﻭﺟﻪ ﺃﺧﻴﻚ ﺻﺪﻗﺔ(
ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﺻﺤﺤﻪ ﺍﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ .
“Senyummu di depan saudaramu
adalah sedekah.” At Tirmidzi dalam
sahihnya.
Meskipun sudah sangat jelas dan
gamblang petunjuk Nabi dan
praktek beliau langsung ini, namun
Anda masih banyak melihat
sebagaian manusia masih berlaku
keras terhadap anggota
keluarganya, tehadap rumah
tangganya dengan tidak menebar
senyuman dari bibirnya dan dari
ketulusan hatinya.
Anda merasakan bahwa sebagian
manusia -karena bersikap
cemberut dan muka masam-
mengira bahwa giginya bagian dari
aurat yang harus ditutupi! Di mana
mereka di depan petunjuk Nabi
yang agung ini! Sungguh jauh
mereka dari contoh Nabi
muhammad saw.!
Ya, kadang Anda melewati jam-
jam Anda dengan dirundung duka,
atau disibukkan beragam
pekerjaan, akan tetapi Anda selalu
bermuka masam, cemberut dan
menahan senyuman yang
merupakan sedekah, maka demi
Allah, ini adalah perilaku keras hati,
yang semestinya tidak terjadi. Wal
iyadzubillah.
Pengaruh Senyum
Sebagian manusia ketika berbicara
tentang senyuman, mengaitkan
dengan pengaruh psikologis
terhadap orang yang tersenyum.
Mengkaitkannya boleh-boleh saja,
yang oleh kebanyakan orang
boleh jadi sepakat akan hal itu.
Namun, seorang muslim
memandang hal ini dengan kaca
mata lain, yaitu kaca mata ibadah,
bahwa tersenyum adalah bagian
dari mencontoh Nabi saw. yang
disunnahkan dan bernilai ibadah.
Para pakar dari kalangan muslim
maupun non muslim melihat
seuntai senyuman sangat besar
pengaruhnya.
Dale Carnegie dalam bukunya
yang terkenal, “Bagaimana Anda
Mendapatkan Teman dan
Mempengaruhi Manusia ”
menceritakan:
“Wajah merupakan cermin yang
tepat bagi perasaan hati seseorang.
Wajah yang ceria, penuh
senyuman alami, senyum tulus
adalah sebaik-baik sarana
memperoleh teman dan kerja
sama dengan pihak lain. Senyum
lebih berharga dibanding sebuah
pemberian yang dihadiahkan
seorang pria. Dan lebih menarik
dari lipstik dan bedak yang
menempel di wajah seorang
wanita. Senyum bukti cinta tulus
dan persahabatan yang murni.”
Ia melanjutkan, “Saya minta setiap
mahasiswa saya untuk tersenyum
kepada orang tertentu sekali setiap
pekannya. Salah seorang
mahasiswa datang bertemu
dengan pedagang, ia berkata
kepadanya, “Saya pilih tersenyum
kepada istriku, ia tidak tau sama
sekali perihal ini. Hasilnya adalah
saya menemukan kebahagiaan
baru yang sebelumnya tidak saya
rasakan sepanjang akhir tahun-
tahun ini. Yang demikian
menjadikan saya senang
tersenyum setiap kali bertemu
dengan orang. Setiap orang
membalas penghormatan kepada
saya dan bersegera melaksanakan
khidmat -pelayanan- kepada saya.
Karena itu saya merasakan hidup
lebih ceria dan lebih mudah. ”
Kegembiraan meluap ketika
Carnegie menambahkan, “Ingatlah,
bahwa senyum tidak
membutuhkan biaya sedikitpun,
bahkan membawa dampak yang
luar biasa. Tidak akan menjadi
miskin orang yang memberinya,
justeru akan menambah kaya bagi
orang yang mendapatkannya.
Senyum juga tidak memerlukan
waktu yang bertele-tele, namun
membekas kekal dalam ingatan
sampai akhir hayat. Tidak ada
seorang fakir yang tidak
memilikinya, dan tidak ada
seorang kaya pun yang tidak
membutuhkannya. ”
Betapa kita sangat membutuhkan
sosialisasi dan penyadaran
petunjuk Nabi yang mulia ini
kepada umat. Dengan niat
taqarrub ilallah -pendekatan diri
kepada Allah swt.- lewat
senyuman, dimulai dari diri kita,
rumah kita, bersama istri-istri kita,
anak-anak kita, teman sekantor
kita. Dan kita tidak pernah merasa
rugi sedikit pun! Bahkan kita akan
rugi, rugi dunia dan agama, ketika
kita menahan senyuman,
menahan sedekah ini, dengan
selalu bermuka masam dan
cemberut dalam kehidupan.
Pengalaman membuktikan bahwa
dampak positif dan efektif dari
senyuman, yaitu senyuman
menjadi pendahuluan ketika
hendak meluruskan orang yang
keliru, dan menjadi muqaddimah
ketika mengingkari yang munkar.
Orang yang selalu cemberut tidak
menyengsarakan kecuali dirinya
sendiri. Bermuka masam berarti
mengharamkan menikmati dunia
ini. Dan bagi siapa saja yang mau
menebar senyum, selamanya ia
akan senang dan gembira. Allahu
a ’lam
KUMPULAN MUTIARA HADIST
Pintu-pintu kebaikan
Mu'adz bin Jabal r.a berkata, "Aku
pernah berkata, 'Wahai Rasulullah,
beritahukanlah kepadaku amal
yang dapat memasukkanku ke
surga dan menjauhkanku dari
neraka'."Beliau menjawab, "Engkau
menanyakan sesuatu yang besar,
namun hal itu menjadi ringan bagi
siapa saja yang diringankan oleh
Allah Swt. Kamu menyembah Allah
dan tidak menyekutukan- Nya
dengan sesuatu apapun,
mendirikan shalat, mengeluarkan
zakat, berpuasa Ramadhan, dan
berhaji ke Baitullah."Kemuadian
beliau bersabda, "Inginkah engaku
kuberitahukan mengenai pintu-
pintu kebaikan? Puasa adalah
perisai, shadaqah itu dapat
menghapus kesalahan
sebagaimana air dapat menghapus
api, dan shalatnya seseorang di
tengah malam." Kemudian beliau
membaca surat As-Sajdah ayat 16,
'Tatajaafaa junuubuhum 'anil
madhaaji'i.. ..hingga ya'maluun
(lambung-lambung mereka jauh
dari tempat tidurnya, sedang
mereka berdoa kepada Tuhannya
dengan harap-harap
cemas).'Kemudian beliau bersabda,
"Inginkah kalian kuberitahukan
pokok dari segala urusan dan
puncak mahkotanya?" Aku
menjawab, "Ingin, wahai
Rasulullah." Beliau bersabda,
"Pokok dari segala urusan adalah
Islam, tiangnya adalah shalat dan
puncaknya adalah jihad."Lalu
beliau bersabda, "Maukah kalian
kuberitahu kunci dari semua itu?"
Aku menjawab, "Mau, wahai
Rasulullah." Maka beliau menunjuk
lidahnya seraya bersabda,
"Kendalikan ini." Aku bertanya,
"Wahai Nabiyullah, apakah kami
akan dimintai pertanggungjawaban
dengan apa yang kami katakan?"
Beliau bersabda, "Celakalah engkau
hai Mu'adz! Bukanlah yang
menjerumuskan manusia ke dalam
api neraka dengan wajah
tersungkur adalah akibat lidah
mereka?" (HR Tirmidzi)
Mendamaikan orang dengan adil
Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah
Saw bersabda, "Setiap ruas tulang
tubuh manusia wajib dikeluarkan
shadaqahnya setiap hari ketika
matahari terbit. Mendamaikan
antara dua orang yang berselisih
adalah shadaqah, menolong
seseorang dengan membantunya
menaiki kendaraan atau
mengangkatkan barang ke atas
kendaraannya adalah shadaqah,
kata-kata yang baik adalah
shadaqah, tiap-tiap langkahmu
untuk mengerjakan shalat adalah
shadaqah, dan membersihkan
rintangan dari jalan adalah
shadaqah." (HR Bukhari dan
Muslim)
Menyingkirkan kemungkaran
Abu Sa'id Al-Khudriy r.a berkata,
aku mendengar Rasulullah Saw
bersabda, "Barangsiapa diantara
kalian melihat kemunkaran
hendaklah ia merubah dengan
tangannya; bila ia tidak mampu,
maka dengan lisannya; dan kalau
tidak mampu maka dengan
hatinya. Yang demikian itu adalah
selemah-lemah iman." (HR Muslim)
Rambu-Rambu Allah
Abu Tsa'labah Al-Khusyaniy
Jurtsum bin Nasyir r.a berkata,
Rasulullah Saw bersabda,
"Sesungguhnya Allah telah
menetapkan sejumlah kewajiban,
maka janganlah meremehkannya.
Dia telah meletakkan batasan-
batasan (hukum) maka janganlah
kalian melanggarnya; Dia telah
mengharamkan sejumlah perkara,
maka janganlah kalian jatuh
kedalamnya; Dia juga telah
mendiamkan beberapa perkara
sebagai rahmat untuk kalian dan
bukan karena lupa, maka
janganlah mempersoalkannya (apa
yang telah didiamkan oleh Allah
ini)." (Hadits hasan diriwayatkan
oleh Ad-Daruquthni dan lain-lain)
Jalan menuju Sorga
Abu Abdillah Jabir bin Abdillah Al-
Anshari r.a menerangkan bahwa
ada seorang lelaki yang bertanya
kepada Rasulullah Saw, ia berkata,
"Bagaimana pendapatmu, jika aku
telah mengerjakan shalat
maktubah (shalat fardhu lima
waktu), berpuasa Ramadhan,
menghalalkan yang halal dan
mengharamkan yang haram dan
aku tidak menambahnya dengan
suatu apapun. Apakah aku bisa
masuk surga?" Beliau menjawab,
"Ya." (HR Muslim)
Istiqamah dan Iman
Abu Amr Sufyan bin Abdillah Ats-
Tsaqafy r.a berkata, "Wahai
Rasulullah, beritahukan kepadaku
suatu ungkapan tentang Islam
yang tak akan kutanyakan kepada
seorang pun selain engkau!. Beliau
bersabda, 'Katakan, "Amantu
Billah" (aku beriman kepada Allah),
kemudian istiqamah-lah' ." (HR
Muslim)
Takwa kepada Allah dan akhlak
terpuji
Abu Dzar Jundub bin Junadah dan
Abu Abdurrahman Mu'adz bin Jabal
r.a menerangkan, Rasulullah Saw
bersabda, "Bertakwalah kepada
Allah dimanapun kamu berada.
Dan ikutilah kejelekan dengan
kebaikan, niscaya kebaikan itu
akan menghapusnya. Dan
pergaulilah manusia dengan akhlak
terpuji." (HR Tirmidzi)
Berakhlak baik
Rasulullah Saw bersabda,
"Sesungguhnya orang yang paling
aku sukai dari kalian dan orang
yang paling dekat kedudukannya
dari kalian denganku pada hari
kiamat ialah orang yang paling
baik akhlaqnya dari kalian." (HR
Tirmidzi)
Puasa
"Barangsiapa berpuasa pada bulan
Ramadhan, kemudian ia iringi
enam hari pada bulan Syawal,
maka ia seperti berpuasa satu
tahun." (HR Muslim)
Jiwa seorang muslim terpelihara
Ibnu Mas'ud r.a berkata, Rasulullah
Saw. bersabda, "Tidak halal darah
seorang muslim yang bersaksi
tidak ada Tuhan selain Allah dan
aku adalah Rasul-Nya, kecuali
disebabkan oleh salah satu dari tiga
hal: tsayyib (orang yang sudah
menikah/janda/ duda) yang
berzina, membunuh orang,
meninggalkan agamanya serta
memisahkan diri dari jamaah." (HR
Bukhari dan Muslim)
Ukhuwah islamiah
Abu Hamzah, Ans bin Malik ra.
menerangkan bahwa Rasulullah
Saw bersabda, "Tidak sempurna
iman seseorang diantara kalian
sehingga ia mencintai saudaranya
sebagaimana ia mencintai dirinya
sendiri." (HR Bukhari dan Muslim)
Menyibukkan diri dengan
sesuatu yang bermanfaat
Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah
Saw bersabda, "Diantara (tanda)
kebaikan keislaman seseorang
adalah ia meninggalkan perkara
yang tak berguna baginya." (HR
Tirmidzi)
Mu'adz bin Jabal r.a berkata, "Aku
pernah berkata, 'Wahai Rasulullah,
beritahukanlah kepadaku amal
yang dapat memasukkanku ke
surga dan menjauhkanku dari
neraka'."Beliau menjawab, "Engkau
menanyakan sesuatu yang besar,
namun hal itu menjadi ringan bagi
siapa saja yang diringankan oleh
Allah Swt. Kamu menyembah Allah
dan tidak menyekutukan- Nya
dengan sesuatu apapun,
mendirikan shalat, mengeluarkan
zakat, berpuasa Ramadhan, dan
berhaji ke Baitullah."Kemuadian
beliau bersabda, "Inginkah engaku
kuberitahukan mengenai pintu-
pintu kebaikan? Puasa adalah
perisai, shadaqah itu dapat
menghapus kesalahan
sebagaimana air dapat menghapus
api, dan shalatnya seseorang di
tengah malam." Kemudian beliau
membaca surat As-Sajdah ayat 16,
'Tatajaafaa junuubuhum 'anil
madhaaji'i.. ..hingga ya'maluun
(lambung-lambung mereka jauh
dari tempat tidurnya, sedang
mereka berdoa kepada Tuhannya
dengan harap-harap
cemas).'Kemudian beliau bersabda,
"Inginkah kalian kuberitahukan
pokok dari segala urusan dan
puncak mahkotanya?" Aku
menjawab, "Ingin, wahai
Rasulullah." Beliau bersabda,
"Pokok dari segala urusan adalah
Islam, tiangnya adalah shalat dan
puncaknya adalah jihad."Lalu
beliau bersabda, "Maukah kalian
kuberitahu kunci dari semua itu?"
Aku menjawab, "Mau, wahai
Rasulullah." Maka beliau menunjuk
lidahnya seraya bersabda,
"Kendalikan ini." Aku bertanya,
"Wahai Nabiyullah, apakah kami
akan dimintai pertanggungjawaban
dengan apa yang kami katakan?"
Beliau bersabda, "Celakalah engkau
hai Mu'adz! Bukanlah yang
menjerumuskan manusia ke dalam
api neraka dengan wajah
tersungkur adalah akibat lidah
mereka?" (HR Tirmidzi)
Mendamaikan orang dengan adil
Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah
Saw bersabda, "Setiap ruas tulang
tubuh manusia wajib dikeluarkan
shadaqahnya setiap hari ketika
matahari terbit. Mendamaikan
antara dua orang yang berselisih
adalah shadaqah, menolong
seseorang dengan membantunya
menaiki kendaraan atau
mengangkatkan barang ke atas
kendaraannya adalah shadaqah,
kata-kata yang baik adalah
shadaqah, tiap-tiap langkahmu
untuk mengerjakan shalat adalah
shadaqah, dan membersihkan
rintangan dari jalan adalah
shadaqah." (HR Bukhari dan
Muslim)
Menyingkirkan kemungkaran
Abu Sa'id Al-Khudriy r.a berkata,
aku mendengar Rasulullah Saw
bersabda, "Barangsiapa diantara
kalian melihat kemunkaran
hendaklah ia merubah dengan
tangannya; bila ia tidak mampu,
maka dengan lisannya; dan kalau
tidak mampu maka dengan
hatinya. Yang demikian itu adalah
selemah-lemah iman." (HR Muslim)
Rambu-Rambu Allah
Abu Tsa'labah Al-Khusyaniy
Jurtsum bin Nasyir r.a berkata,
Rasulullah Saw bersabda,
"Sesungguhnya Allah telah
menetapkan sejumlah kewajiban,
maka janganlah meremehkannya.
Dia telah meletakkan batasan-
batasan (hukum) maka janganlah
kalian melanggarnya; Dia telah
mengharamkan sejumlah perkara,
maka janganlah kalian jatuh
kedalamnya; Dia juga telah
mendiamkan beberapa perkara
sebagai rahmat untuk kalian dan
bukan karena lupa, maka
janganlah mempersoalkannya (apa
yang telah didiamkan oleh Allah
ini)." (Hadits hasan diriwayatkan
oleh Ad-Daruquthni dan lain-lain)
Jalan menuju Sorga
Abu Abdillah Jabir bin Abdillah Al-
Anshari r.a menerangkan bahwa
ada seorang lelaki yang bertanya
kepada Rasulullah Saw, ia berkata,
"Bagaimana pendapatmu, jika aku
telah mengerjakan shalat
maktubah (shalat fardhu lima
waktu), berpuasa Ramadhan,
menghalalkan yang halal dan
mengharamkan yang haram dan
aku tidak menambahnya dengan
suatu apapun. Apakah aku bisa
masuk surga?" Beliau menjawab,
"Ya." (HR Muslim)
Istiqamah dan Iman
Abu Amr Sufyan bin Abdillah Ats-
Tsaqafy r.a berkata, "Wahai
Rasulullah, beritahukan kepadaku
suatu ungkapan tentang Islam
yang tak akan kutanyakan kepada
seorang pun selain engkau!. Beliau
bersabda, 'Katakan, "Amantu
Billah" (aku beriman kepada Allah),
kemudian istiqamah-lah' ." (HR
Muslim)
Takwa kepada Allah dan akhlak
terpuji
Abu Dzar Jundub bin Junadah dan
Abu Abdurrahman Mu'adz bin Jabal
r.a menerangkan, Rasulullah Saw
bersabda, "Bertakwalah kepada
Allah dimanapun kamu berada.
Dan ikutilah kejelekan dengan
kebaikan, niscaya kebaikan itu
akan menghapusnya. Dan
pergaulilah manusia dengan akhlak
terpuji." (HR Tirmidzi)
Berakhlak baik
Rasulullah Saw bersabda,
"Sesungguhnya orang yang paling
aku sukai dari kalian dan orang
yang paling dekat kedudukannya
dari kalian denganku pada hari
kiamat ialah orang yang paling
baik akhlaqnya dari kalian." (HR
Tirmidzi)
Puasa
"Barangsiapa berpuasa pada bulan
Ramadhan, kemudian ia iringi
enam hari pada bulan Syawal,
maka ia seperti berpuasa satu
tahun." (HR Muslim)
Jiwa seorang muslim terpelihara
Ibnu Mas'ud r.a berkata, Rasulullah
Saw. bersabda, "Tidak halal darah
seorang muslim yang bersaksi
tidak ada Tuhan selain Allah dan
aku adalah Rasul-Nya, kecuali
disebabkan oleh salah satu dari tiga
hal: tsayyib (orang yang sudah
menikah/janda/ duda) yang
berzina, membunuh orang,
meninggalkan agamanya serta
memisahkan diri dari jamaah." (HR
Bukhari dan Muslim)
Ukhuwah islamiah
Abu Hamzah, Ans bin Malik ra.
menerangkan bahwa Rasulullah
Saw bersabda, "Tidak sempurna
iman seseorang diantara kalian
sehingga ia mencintai saudaranya
sebagaimana ia mencintai dirinya
sendiri." (HR Bukhari dan Muslim)
Menyibukkan diri dengan
sesuatu yang bermanfaat
Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah
Saw bersabda, "Diantara (tanda)
kebaikan keislaman seseorang
adalah ia meninggalkan perkara
yang tak berguna baginya." (HR
Tirmidzi)
Langganan:
Postingan (Atom)