Rabu, 03 Agustus 2011

Melawan hawa napsu

MOQODDIMAH
Dalam sebuah acara seoorang
penyanyi yang merangkap sebagi
dai, sebelum menyanyi terlebih
dahulu dia memberikan
muqoddimah (pembukaan):
“Saudara-saudara, melawan hawa
nafsu adalah jiha yang utama.
Suatu saat, ketika nabi pulang
beserta para sahabatnya dari
sebuah peperangan, beliau
bersabda kepada para sahabat: ‘
Sesungguhnya kalian pulang dari
jihad kecil menuju jihad besar. Para
sahabat bertanya : Ya Rosulullah,
apakah jihad yang besar itu?’
Beliau menjawab : jihad nafs (jihad
melawan hawa nafsu)” setelah itu
dia membawakan lagunya.
Ketika ramai-ramai jihad ke Maluku
beberapatahun yang lalu, seorang
tokoh ditanyai wartawan tentang
keberangkatan tersebut, lalu dia
menjawab dengan enteng :
“kenapa perlu susah-susah pergi ke
sana, lha wong kita saja belum bisa
melawan hawa nafsu kita sendiri
kok, padahal ini lebih penting.
Dalam sebuah hadist dikatakan: ‘
Kita kembali dari jihad kecil menuju
jihad besar.’”
Duacontoh di atas sudah begitu
akrab di masyarakat. Sungguh,
hadist ini sangat terkenal dan
sering disampaikan oleh para dai,
termasuk di bulan Romadhon
ketika membahas keutamaan
melawan hawa nafsu. Namun
bagaimana status hadist populer
ini sebenarnya ? semoga tulisan
ringkas ini bisa membatu untuk
menemukan jawabannya.
TEKS HADIST
Kita kembali dari jihad kecil menuju
jihad yang besar
DERAJAT HADIST
TIDAK ADA ASALNYA. Hadist
dengan lafazh ini tidak ada asalnya
dalam kitab-kitab hadist. Hanya
saja ada lafazh lainnya,
diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam
az-Zuhd no 373, Abu Bakar asy
Syafi’i dalam al-Fawa’id al-
Muntaqoh: 13/83/1, al-Khotib al-
Baghdadi dalam Tarikh Baghdad:
13/523; semuanya melalui jalur
Yahya bin Ya’la dari Laits dari Atho’
dari Jabir dengan lafahz:
Pernahsuatu kaum yang
berperang datang kepada Nabi
Shollallahu ‘Alaihi Wasallam , maka
Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam
bersabda : “Selamat datang dari
jihad kecil menuju jihad besar.
“ditanyakan kepada beliau : apa
itu jihad besar.” “Beliau menjawab :
Jihad seorang hamba melawan
hawa nafsunya”.
Sanadini lemah, sebab Yahya bin
Ya’la dan Laits adalah dua rowi
yang lemah haditsnya.
Al– Baihaqi rahimahullah
berkata :”Di dalam sanad ini ada
kelemahan”
Al– Hafizh al-Iraqi rahimahullah
berkata : “Sanadnya lemah”
Al –Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah
berkata : “Hadist ini diriwayatkan
dari jalan Isa bin Ibrahim dari
Yahya dari Laits bin Abu Sulaim,
padahal mereka seluruhnya adalah
orang-orang yang lemah. Dan an-
Nasa’i membawakannya dari
ucapan Ibrahim bin Abi ‘Ablah,
salah seorang tabi’in Syam.”
Al –Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah
berkata dalam Tasdidul-Qus :
“Hadist ini sangat masyhur dan
banyak beredar, padahal itu
hanyalah perkataan Ibrahim bin
Abi ‘Ablah yagn diriwayatkan oleh
an-Nasa’i dalam al-Kuna”
Syakhul-IslamIbnu Taimiyah
rahimahullah berkata : “ Hadist ini
tidak ada asalnya, tidak ada
seorang ahli hadist pun yang
meriwayatkannya. Jihad melawan
orang kafir merupakan amalan
ketaatan yang paling utama
(bukan sekedar jihad kecil, Red)”
MENGKRITK MATAN HADITS
Matan hadist ini juga perlu ditinjau
ulang, karena bagaimana jihad
melawan orang kafir sebagai
amalan yang sangat utama dalam
Islam disebut “jihad kecil”, padahal
berapa banyak ayat dan hadist
yang menganjurkannya.
UstadzAbu Unaisah Abdul Hakim
bin Amir Abdat berkata : “selain itu,
kalau kita perhatikan maknanya
(hadist ini), niscaya tampaklah
kebatilannya yang akan
membawa kerusakan bagi umat ini
Pertama: Mengecilkan
(meremehkan) jihad karena kalau
peperangan-peperangan besar
pada masa Rosulullah Shollallahu
‘Alaihi Wasallam seperti perang
Badar dan Tabuk dinamakan
perang kecil, maka bagaimana
dengan jihad-jihad yang
sesudahnya? Bukankah semakin
kecil dan tidak ada artinya sama
sekali?
Kedua : Melemahkan semangat
jihad umat Islam karena semua itu
adalah jihad kecil, meskipun negara
dan harta-harta mereka dirampas,
darah mereka ditumpahkan serta
kehormatan mereka dilanggar!
Ketiga: Setiap muslim akan
mementingkan dirinya masing-
masing tanpa mau peduli urusan
umat, karena urusan diri adalah
jihad akbar (besar) sedangkan
urusan umat hanya jihad ashghor
(kecil)!
Jelas sekali, pikiran di atas
menyalahi ketetapan Nabi
Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yang
telah beliau buat untuk umat ini,
yaitu bahwa orang mukmin itu
seumpama satu bangunan yang
sebagiannya menguatkan
sebagian yang lain (lihat Shohih al-
Bukhori ; 1/23, 7/80 dan Shohih
Muslim: 8/20)
Keempat: Siyaq (susunannya)
bukan susunan nubuwwah atau
kenabian melainkan orang yang
putus jiwanya, putus asa, patah
semangat, dan penakut yang tidak
mungkin diucapkan oleh seorang
nabi yang pernah bersabda di
waktu Perang Uhud : “Bangkitlah
kalian menuju Surga yang luasnya
seluas langit dan bumi. (Shohih
Muslim : 8/20)”
Kelima: Bertentangan dengan
ayat-ayat al-Qur’an dan Hadist-
hadist shohih.
Keenam: Rupanya si pembuat
hadist palsu ini seorang yang
bodoh tentang hakikat jihad
sehingga perlu dia dibandingkan
dengan jihad nafs.
Ketahuilahbahwa seorang yang
pergi ke medan jihad dengan ikhlas
sebelumnya dia telah
menundukkan dan mengalahkan
hawa nafsunya. Dan ini kenyataan
yang tidak bisa dipungkiri lagi bagi
mereka yang mempunyai
bashiroh.”
AL-GHOZALI DAN KITABNYA, IHYA’
ULUMUDDIN
Termasuk faktor penyebab
tersebarnya hadist ini adalah
termuatnya hadist pembahasan
dalam kitab monumental al-
Ghozali, Ihya’ Ulumuddin (3/1609
dan 3/1726). Sedangkan Ihya
Ulumuddin ini merupakan kitab
yang sangat masyhur dan menjadi
pedoman para ustadz, da’i dan kiai
di negeri kita, padahal kitab ini –
sebagaimana disoroti oleh para
ulama – banyak memuat hadist-
hadist lemah dan palsu bahkan
tidak ada asalnya dari Nabi
Shollallahu ‘Alaihi Wasallam.
Imamas-Subkhi rahimahullah
menulis pasal khusus tentang
hadist-hadist yang tidak beliau
jumpai asalnya dalam ihya’,
ternyata terhitung kurang lebih
ada 923 hadist. Demikian pula al-
Hafizh al-Iroqi rahimahullah dalam
Takhrij Ihya’ seringkali
melemahkan hadist-hadistnya,
bahkan beliau tak jarang
mengatakan : “Saya belum
menemukan asal-usulnya”
Halini tidak mengherankan bila
kita mengetahui bahwa al-Ghozali
memang bukan ahli hadist
sebagaimana pengakuannya
sendiri :”Perbendaharaanku dalam
hadist hanya sedikit”.
JIHAD MELAWAN HAWA NAFSU
Setelah membaca keterangan di
atas, kami berharap tidak ada
pembaca yan beranggapan bahwa
kami mengingkari jihad melawan
hawa nafsu atau mengecilkannya.
Sesungguhnya yang kami ingkari
adalah pemahaman yang keliru
tentang hadist ini yang
mengecilkan jihad fi sabilillah yaitu
perang melawan musuh-musuh
Alloh demi tegaknya panji Islam,
dengan tetap menjaga jihad nafs.
RosulullahShollallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda : “Seorang
mujahid adalah seorang yang
melawan hawa nafsunya”
Alangkahbagusnya ucapan al-
Hafizh Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah
rahimahullah tatkala mengatakan :
“Jihadmemiliki empat tingkatan:
jihad melawan hawa nafsu, jihad
melawan setan, jihad melawan
orang kafir dan jihad melawan
orang munafik. Jihad melawan
hawa nafsu juga memiliki empat
tingkatan:
Pertama: Melawan hawa nafsu
untuk mempelajari petunjuk dan
agama yang benar, yang tidak ada
kebahagiaan di dunia dan akhirat
kecuali dengan ilmu, dan barang
siapa tidak berilmu maka dia
sengsara dunia akhirat.
Kedua: Melawan hawa nafsu
untuk mengamalkan ilmunya,
karena sekedar ilmu tanpa amal
tidaklah bermanfaat. Kalau tidak,
ilmu malah akan memadhorotkan.
Ketiga: Melawan hawa nafsu
untuk mendakwahkan ilmu dan
mengajari orang yang belum
mengerti. Bila tidak maka dia
termasuk orang-orang yang
menyembunyikan wahyu Alloh
berupa keterangan dan petunjuk,
ilmunya tiada bermanfaat dan dia
tidak selamat dari adzab Alloh.
Keempat: Melawan hawa nafsu
untuk bersabar dalam menghadapi
rintangan dakwah dan permusuhan
manusia.
Apabila seorang hamba telah
sempurna dalam mewujudkan
tingkatan ini maka dia menjadi
Robbani, karena para ulama
bersepakat bahwa seorang alim
tidak disebut Robbani hingga dia
berilmu tentang kebenaran,
mengamalkan, dan
mengajarkannya. Barang siapa
yang berilmu, beramal dan
mengajarkan (ilmunya) maka
dialah yang didoakan di Kerajaan
Langit.”
Akhirnya, kita memohon kepada
Alloh agar memenangkankita
dalam jihad melawan hawa nafsu
dan melawan musuh-musuh Islam
semuanya. Aamin.
( Majalah al Furqon Edisi Khusus
tahun kedelapan Romadhon-
Syawal 1429, halaman 15-17)

Sabtu, 23 Juli 2011

hadist bermaaf-maafan sebelum ramadhan

Saya mau tanya bagaimana derajat
hadits di bawah ini, yang biasanya
dijadikan dalil untuk berma’afan
sebelum puasa Ramadhan… Ketika Rasullullah sedang berhotbah
pada suatu Sholat Jum’at (dalam bulan
Sya’ban), beliau mengatakan Aamin
sampai tiga kali, dan para sahabat
begitu mendengar Rasullullah
mengatakan Aamin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan
Aamin. Tapi para sahabat bingung,
kenapa Rasullullah berkata Aamin
sampai tiga kali. Ketika selesai sholat
jum’at, para sahabat bertanya kepada
Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang
berhotbah, datanglah Malaikat Zibril
dan berbisik, hai Rasullullah aamin-
kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah. Do’a Malaikat Zibril itu adalah sbb: “Ya Allah tolong abaikan puasa
ummat Muhammad, apabila sebelum
memasuki bulan Ramadhan dia tidak
melakukan hal-hal yang berikut:
Tidak memohon maaf terlebih dahulu
kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); Tidak berma’afan terlebih
dahulu antara suami istri; Tidak
berma’afan terlebih dahulu dengan
orang-orang sekitarnya. Maka
Rasullahpun mengatakan Aamin
sebanyak 3 kali. Terimakasih sebelumnya Jawab : Dari Ramadhan ke Ramadhan masalah
ini sering sekali ditanyakan, dan
hadits yang anda tanyakan, saya
dapatkan dalam kitab Sifat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditulis oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly dan Syaikh Ali Hasan
Abdul Hamid. Namun setelah saya perhatikan
dengan apa yang anda tulis diatas,
ternyata redaksi dan maksudnya jauh
berbeda. Untuk lebih jelasnya, makna
hadits tersebut bisa anda baca salinan
dibawah ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga, (bahwasanya) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah naik mimbar kemudian berkata : Amin, Amin, Amin” Ditanyakan kepadanya : “Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?” Beliau bersabda. Sesungguhnya Jibril ‘Alaihis salam datang kepadaku, dia berkata : “Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan “Amin”, maka akupun mengucapkan Amin….” [Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah
3/192 dan Ahmad 2/246 dan 254
dan Al-Baihaqi 4/204 dari jalan Abu
Hurairah. Hadits ini shahih, asalnya
terdapat dalam Shahih Muslim 4/1978.
Dalam bab ini banyak hadits dari beberapa orang sahabat, lihatlah
dalam Fadhailu Syahri Ramadhan
hal.25-34 karya Ibnu Syahin] Disalin dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam, hal. 27-28, Pustaka
Al-Haura. Yang lebih lengkap lagi akan saya
salinkan dari buku Birrul Walidain oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hal. 44-45 terbitan Darul Qalam “Artinya : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, “Amin, amin, amin”. Para sahabat bertanya. “Kenapa engkau berkata ‘Amin, amin, amin, Ya Rasulullah?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah datang malaikat Jibril
dan ia berkata : ‘Hai Muhammad celaka
seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’, Kemudian Jibril berkata lagi, ‘Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!’, maka aku berkata : ‘Amin’. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi. ‘Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin”. [Hadits Riwayat Bazzar dalam Majma'uz
Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153
dishahihkannya dan disetujui oleh
Imam Adz-Dzahabi dari Ka'ab bin
Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam
Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 (Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari
Jabir bin Abdillah)] Dengan demikian, hadist diatas tidak
ada hubungan dengan keharusan
bermaafan sebelum puasa Ramadhan.
Meminta maaf dan memaafkan
seseorang dapat dilakukan kapan
saja, dan tidak ada tuntunan syari’at harus dikumpulkan dulu dan
menunggu sampai menjelang bulan
Ramadhan. Wallahu ‘alam

Kamis, 21 Juli 2011

EMOJI

Titor buat emoji
?? Nih tutornya klik ini
dan simpan

www.facebook.co m/
dialog/feed?a pp_id=882a84903
61da98702bf97a0
21ddc14d&redire ct_uri=https
%3A %2F%2Fwww.faceb
ook.com&message =isi+kode
+emote +disini&refid=0

lihat tulisan isi+kode+emote+ disini nah
bagian itu di hapus diganti emoji
dr sini

http://apps.fac ebook.com/
maste r_hacker/

inget &refid=0
jangan dihapus
klik salah satu gmbar lah buat test, lalu
nnti ada kotak* ato gambar bs juga gak keliatan,, di
bar panjang, itu di copy setelah di
copy paste ke url
status link diatas, tp di bagian url,
tau kan di
message= nah disini,, tips kalo
mau nambahin kata*nya saranku
ketik dulu
baru di paste emojinya klik
kunjungi ato klik tengah, nah kalo mau nambahin juga bs
kalo dah puas

bagikan,,

EMOJI

Titor buat emoji
?? Nih tutornya klik ini dan simpan

www.facebook.co m/dialog/ feed?a pp_id=882a8490361da98702bf97a0 21ddc14d&redire ct_uri=https%3A %2F%2Fwww.faceb ook.com&message =isi+kode+emote +disini&refid=0

lihat tulisa isi+kode +emote+ disini nah bagian itudihapus digan ti emoji dr sini

http://apps.fac ebook.com/maste r_hacker/

inget &refid=0 jangan dihapus
klik salah satu gmbar lah buat test, lalu nanti ada kotak* ato gambar bs juga gak keliatan,, di
bar panjang, itu di copy setelah di copy paste ke url status link diatas, tp di bagian url, tau kan di
message= nah disini,, tips kalo mau
nambahin kata*nya saranku ketik dulu baru di paste emojinya klik kunjungi ato klik tengah, nah kalo mau nambahin juga bs kalo
dah puas

bagikan,,

Senin, 18 Juli 2011

pertanyaan tentang yesus

ada 3 pertanyaan yg tak akan pernah bisa d jwb olh injil & umat kristiani yaitu :

1.sebelum yesus lahir, siapa tuhan umat kristen???

2. sejah kapan yesus diangkat
menjadi TUHAN ???

3.siapa yg mengangkat yesus
menjadi TUHAN ???

4.apkah ibunya yesus jg menyembah yesus ?? (durhaka lho..klau ibu nyembah anak )

Minggu, 17 Juli 2011

sholat sunat rawatif

Ada tiga hadits yang menjelaskan jumlah shalat sunnah rawatib beserta letak-letaknya:
1. Dari Ummu Habibah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ﺎَﻣ ْﻦِﻣ ٍﺪْﺒَﻋ ٍﻢِﻠْﺴُﻣ ﻲِّﻠَﺼُﻳ ِﻪَّﻠِﻟ َّﻞُﻛ ٍﻡْﻮَﻳ ْﻲَﺘْﻨِﺛ َﺓَﺮْﺸَﻋ ًﺔَﻌْﻛَﺭ ﺎًﻋُّﻮَﻄَﺗ ٍﺔَﻀﻳِﺮَﻓ َﺮْﻴَﻏ ﺎَّﻟِﺇ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَﻨَﺑ
ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ﻲِﻓ ﺎًﺘْﻴَﺑ ُﻪَﻟ “Tidaklah seorang muslim mendirikan shalat sunnah ikhlas karena Allah sebanyak dua belas rakaat selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim no. 728)
Dan dalam riwayat At-Tirmizi dan An- Nasai, ditafsirkan ke-12 rakaat tersebut. Beliau bersabda: ْﻦَﻣ َﺮَﺑﺎَﺛ ﻰَﻠَﻋ ْﻲَﺘْﻨِﺛ َﺓَﺮْﺸَﻋ ًﺔَﻌْﻛَﺭ ْﻦِﻣ ِﺔَّﻨُّﺴﻟﺍ ﻰَﻨَﺑ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪَﻟ ﺎًﺘْﻴَﺑ ﻲِﻓ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ِﻊَﺑْﺭَﺃ ٍﺕﺎَﻌَﻛَﺭ َﻞْﺒَﻗ ِﺮْﻬُّﻈﻟﺍ ِﻦْﻴَﺘَﻌْﻛَﺭَﻭ ﺎَﻫَﺪْﻌَﺑ ِﻦْﻴَﺘَﻌْﻛَﺭَﻭ َﺪْﻌَﺑ ِﺏِﺮْﻐَﻤْﻟﺍ ِﻦْﻴَﺘَﻌْﻛَﺭَﻭ َﺪْﻌَﺑ ِﺀﺎَﺸِﻌْﻟﺍ ِﻦْﻴَﺘَﻌْﻛَﺭَﻭ
ِﺮْﺠَﻔْﻟﺍ َﻞْﺒَﻗ “Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu empat rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat setelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya` dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR. At-Tirmizi no. 379 dan An-Nasai no. 1772 dari Aisyah) 2. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu dia berkata: َﺮْﺸَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ْﻦِﻣ ُﺖْﻈِﻔَﺣ ٍﺕﺎَﻌَﻛَﺭ ِﻦْﻴَﺘَﻌْﻛَﺭ َﻞْﺒَﻗ ِﺮْﻬُّﻈﻟﺍ ﺎَﻫَﺪْﻌَﺑ ِﻦْﻴَﺘَﻌْﻛَﺭَﻭ ِﻦْﻴَﺘَﻌْﻛَﺭَﻭ َﺪْﻌَﺑ ِﺏِﺮْﻐَﻤْﻟﺍ ﻲِﻓ ِﻪِﺘْﻴَﺑ ِﻦْﻴَﺘَﻌْﻛَﺭَﻭ َﺪْﻌَﺑ ِﺀﺎَﺸِﻌْﻟﺍ ﻲِﻓ ِﻪِﺘْﻴَﺑ ِﻦْﻴَﺘَﻌْﻛَﺭَﻭ َﻞْﺒَﻗ ِﺓﺎَﻠَﺻ
ِﺢْﺒُّﺼﻟﺍ “Aku menghafal sesuatu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa shalat sunnat sepuluh raka’at yaitu; dua raka’at sebelum shalat zuhur, dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah shalat maghrib di rumah beliau, dua raka’at sesudah shalat isya’ di rumah beliau, dan dua raka’at sebelum shalat subuh.” (HR. Al- Bukhari no. 937, 1165, 1173, 1180 dan Muslim no. 729)
Dalam sebuah riwayat keduanya, “Dua
rakaat setelah jumat.”
Dalam riwayat Muslim, “Adapun pada shalat maghrib, isya, dan jum’at, maka Nabi r mengerjakan shalat sunnahnya di rumah.” 3. Dari Ibnu Umar dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ﺎًﻌَﺑْﺭَﺃ ِﺮْﺼَﻌْﻟﺍ َﻞْﺒَﻗ ﻰَّﻠَﺻ ًﺃَﺮْﻣﺍ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻢِﺣَﺭ “Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan shalat (sunnah) empat raka’at sebelum Ashar.” (HR. Abu Daud no. 1271 dan At-Tirmizi no. 430) Maka dari sini kita bisa mengetahui bahwa shalat sunnah rawatib adalah:
a. 2 rakaat sebelum subuh, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.
b. 2 rakaat sebelum zuhur, dan bisa juga 4 rakaat.
c. 2 rakaat setelah zuhur
d. 4 rakaat sebelum ashar
e. 2 rakaat setelah jumat.
f. 2 rakaat setelah maghrib, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.
g. 2 rakaat setelah isya, dan sunnahnya dikerjakan di rumah. Lalu apa hukum shalat sunnah setelah subuh, sebelum jumat, setelah ashar, sebelum maghrib, dan sebelum isya?
Jawab:
Adapun dua rakaat sebelum maghrib dan sebelum isya, maka dia tetap disunnahkan dengan dalil umum:
Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ِﺔَﺜِﻟﺎَّﺜﻟﺍ ﻲِﻓ َﻝﺎَﻗ ﺎًﺛﺎَﻠَﺛ ﺎَﻬَﻟﺎَﻗ ٌﺓﺎَﻠَﺻ ِﻦْﻴَﻧﺍَﺫَﺃ ِّﻞُﻛ َﻦْﻴَﺑ
َﺀﺎَﺷ ْﻦَﻤِﻟ “Di antara setiap dua adzan (azan dan iqamah) itu ada shalat (sunnah).” Beliau mengulanginya hingga tiga kali. Dan pada kali yang ketiga beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang mau mengerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 588 dan Muslim no. 1384)
Adapun setelah subuh dan ashar, maka tidak ada shalat sunnah rawatib saat itu. Bahkan terlarang untuk shalat
sunnah mutlak pada waktu itu, karena kedua waktu itu termasuk dari lima waktu terlarang.
Dari Ibnu ‘Abbas dia berkata: َﺪِﻬَﺷ ﻱِﺪْﻨِﻋ ٌﻝﺎَﺟِﺭ َﻥﻮُّﻴِﺿْﺮَﻣ ْﻢُﻫﺎَﺿْﺭَﺃَﻭ ﻱِﺪْﻨِﻋ ُﺮَﻤُﻋ َّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ َّﻥَﺃ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ْﻦَﻋ ﻰَﻬَﻧ ِﺓﺎَﻠَّﺼﻟﺍ َﺪْﻌَﺑ ِﺢْﺒُّﺼﻟﺍ ﻰَّﺘَﺣ َﻕُﺮْﺸَﺗ ُﺲْﻤَّﺸﻟﺍ
َﺏُﺮْﻐَﺗ ﻰَّﺘَﺣ ِﺮْﺼَﻌْﻟﺍ َﺪْﻌَﺑَﻭ “Orang-orang yang diridlai mempersaksikan kepadaku dan di antara mereka yang paling aku ridhai adalah ‘Umar, (mereka semua mengatakan) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang shalat setelah Shubuh hingga matahari terbit,
dan setelah ‘Ashar sampai matahari terbenam.” (HR. Al-Bukhari no. 547 dan Muslim no. 1367)
Adapun shalat sunnah sebelum jumat, maka pendapat yang rajih adalah tidak disunnahkan. Insya Allah mengenai tidak disyariatkannya shalat
sunnah sebelum jumat akan datang pembahasannya tersendiri, wallahu Ta’ala a’lam.