Rabu, 03 Agustus 2011

Melawan hawa napsu

MOQODDIMAH
Dalam sebuah acara seoorang
penyanyi yang merangkap sebagi
dai, sebelum menyanyi terlebih
dahulu dia memberikan
muqoddimah (pembukaan):
“Saudara-saudara, melawan hawa
nafsu adalah jiha yang utama.
Suatu saat, ketika nabi pulang
beserta para sahabatnya dari
sebuah peperangan, beliau
bersabda kepada para sahabat: ‘
Sesungguhnya kalian pulang dari
jihad kecil menuju jihad besar. Para
sahabat bertanya : Ya Rosulullah,
apakah jihad yang besar itu?’
Beliau menjawab : jihad nafs (jihad
melawan hawa nafsu)” setelah itu
dia membawakan lagunya.
Ketika ramai-ramai jihad ke Maluku
beberapatahun yang lalu, seorang
tokoh ditanyai wartawan tentang
keberangkatan tersebut, lalu dia
menjawab dengan enteng :
“kenapa perlu susah-susah pergi ke
sana, lha wong kita saja belum bisa
melawan hawa nafsu kita sendiri
kok, padahal ini lebih penting.
Dalam sebuah hadist dikatakan: ‘
Kita kembali dari jihad kecil menuju
jihad besar.’”
Duacontoh di atas sudah begitu
akrab di masyarakat. Sungguh,
hadist ini sangat terkenal dan
sering disampaikan oleh para dai,
termasuk di bulan Romadhon
ketika membahas keutamaan
melawan hawa nafsu. Namun
bagaimana status hadist populer
ini sebenarnya ? semoga tulisan
ringkas ini bisa membatu untuk
menemukan jawabannya.
TEKS HADIST
Kita kembali dari jihad kecil menuju
jihad yang besar
DERAJAT HADIST
TIDAK ADA ASALNYA. Hadist
dengan lafazh ini tidak ada asalnya
dalam kitab-kitab hadist. Hanya
saja ada lafazh lainnya,
diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam
az-Zuhd no 373, Abu Bakar asy
Syafi’i dalam al-Fawa’id al-
Muntaqoh: 13/83/1, al-Khotib al-
Baghdadi dalam Tarikh Baghdad:
13/523; semuanya melalui jalur
Yahya bin Ya’la dari Laits dari Atho’
dari Jabir dengan lafahz:
Pernahsuatu kaum yang
berperang datang kepada Nabi
Shollallahu ‘Alaihi Wasallam , maka
Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam
bersabda : “Selamat datang dari
jihad kecil menuju jihad besar.
“ditanyakan kepada beliau : apa
itu jihad besar.” “Beliau menjawab :
Jihad seorang hamba melawan
hawa nafsunya”.
Sanadini lemah, sebab Yahya bin
Ya’la dan Laits adalah dua rowi
yang lemah haditsnya.
Al– Baihaqi rahimahullah
berkata :”Di dalam sanad ini ada
kelemahan”
Al– Hafizh al-Iraqi rahimahullah
berkata : “Sanadnya lemah”
Al –Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah
berkata : “Hadist ini diriwayatkan
dari jalan Isa bin Ibrahim dari
Yahya dari Laits bin Abu Sulaim,
padahal mereka seluruhnya adalah
orang-orang yang lemah. Dan an-
Nasa’i membawakannya dari
ucapan Ibrahim bin Abi ‘Ablah,
salah seorang tabi’in Syam.”
Al –Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah
berkata dalam Tasdidul-Qus :
“Hadist ini sangat masyhur dan
banyak beredar, padahal itu
hanyalah perkataan Ibrahim bin
Abi ‘Ablah yagn diriwayatkan oleh
an-Nasa’i dalam al-Kuna”
Syakhul-IslamIbnu Taimiyah
rahimahullah berkata : “ Hadist ini
tidak ada asalnya, tidak ada
seorang ahli hadist pun yang
meriwayatkannya. Jihad melawan
orang kafir merupakan amalan
ketaatan yang paling utama
(bukan sekedar jihad kecil, Red)”
MENGKRITK MATAN HADITS
Matan hadist ini juga perlu ditinjau
ulang, karena bagaimana jihad
melawan orang kafir sebagai
amalan yang sangat utama dalam
Islam disebut “jihad kecil”, padahal
berapa banyak ayat dan hadist
yang menganjurkannya.
UstadzAbu Unaisah Abdul Hakim
bin Amir Abdat berkata : “selain itu,
kalau kita perhatikan maknanya
(hadist ini), niscaya tampaklah
kebatilannya yang akan
membawa kerusakan bagi umat ini
Pertama: Mengecilkan
(meremehkan) jihad karena kalau
peperangan-peperangan besar
pada masa Rosulullah Shollallahu
‘Alaihi Wasallam seperti perang
Badar dan Tabuk dinamakan
perang kecil, maka bagaimana
dengan jihad-jihad yang
sesudahnya? Bukankah semakin
kecil dan tidak ada artinya sama
sekali?
Kedua : Melemahkan semangat
jihad umat Islam karena semua itu
adalah jihad kecil, meskipun negara
dan harta-harta mereka dirampas,
darah mereka ditumpahkan serta
kehormatan mereka dilanggar!
Ketiga: Setiap muslim akan
mementingkan dirinya masing-
masing tanpa mau peduli urusan
umat, karena urusan diri adalah
jihad akbar (besar) sedangkan
urusan umat hanya jihad ashghor
(kecil)!
Jelas sekali, pikiran di atas
menyalahi ketetapan Nabi
Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yang
telah beliau buat untuk umat ini,
yaitu bahwa orang mukmin itu
seumpama satu bangunan yang
sebagiannya menguatkan
sebagian yang lain (lihat Shohih al-
Bukhori ; 1/23, 7/80 dan Shohih
Muslim: 8/20)
Keempat: Siyaq (susunannya)
bukan susunan nubuwwah atau
kenabian melainkan orang yang
putus jiwanya, putus asa, patah
semangat, dan penakut yang tidak
mungkin diucapkan oleh seorang
nabi yang pernah bersabda di
waktu Perang Uhud : “Bangkitlah
kalian menuju Surga yang luasnya
seluas langit dan bumi. (Shohih
Muslim : 8/20)”
Kelima: Bertentangan dengan
ayat-ayat al-Qur’an dan Hadist-
hadist shohih.
Keenam: Rupanya si pembuat
hadist palsu ini seorang yang
bodoh tentang hakikat jihad
sehingga perlu dia dibandingkan
dengan jihad nafs.
Ketahuilahbahwa seorang yang
pergi ke medan jihad dengan ikhlas
sebelumnya dia telah
menundukkan dan mengalahkan
hawa nafsunya. Dan ini kenyataan
yang tidak bisa dipungkiri lagi bagi
mereka yang mempunyai
bashiroh.”
AL-GHOZALI DAN KITABNYA, IHYA’
ULUMUDDIN
Termasuk faktor penyebab
tersebarnya hadist ini adalah
termuatnya hadist pembahasan
dalam kitab monumental al-
Ghozali, Ihya’ Ulumuddin (3/1609
dan 3/1726). Sedangkan Ihya
Ulumuddin ini merupakan kitab
yang sangat masyhur dan menjadi
pedoman para ustadz, da’i dan kiai
di negeri kita, padahal kitab ini –
sebagaimana disoroti oleh para
ulama – banyak memuat hadist-
hadist lemah dan palsu bahkan
tidak ada asalnya dari Nabi
Shollallahu ‘Alaihi Wasallam.
Imamas-Subkhi rahimahullah
menulis pasal khusus tentang
hadist-hadist yang tidak beliau
jumpai asalnya dalam ihya’,
ternyata terhitung kurang lebih
ada 923 hadist. Demikian pula al-
Hafizh al-Iroqi rahimahullah dalam
Takhrij Ihya’ seringkali
melemahkan hadist-hadistnya,
bahkan beliau tak jarang
mengatakan : “Saya belum
menemukan asal-usulnya”
Halini tidak mengherankan bila
kita mengetahui bahwa al-Ghozali
memang bukan ahli hadist
sebagaimana pengakuannya
sendiri :”Perbendaharaanku dalam
hadist hanya sedikit”.
JIHAD MELAWAN HAWA NAFSU
Setelah membaca keterangan di
atas, kami berharap tidak ada
pembaca yan beranggapan bahwa
kami mengingkari jihad melawan
hawa nafsu atau mengecilkannya.
Sesungguhnya yang kami ingkari
adalah pemahaman yang keliru
tentang hadist ini yang
mengecilkan jihad fi sabilillah yaitu
perang melawan musuh-musuh
Alloh demi tegaknya panji Islam,
dengan tetap menjaga jihad nafs.
RosulullahShollallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda : “Seorang
mujahid adalah seorang yang
melawan hawa nafsunya”
Alangkahbagusnya ucapan al-
Hafizh Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah
rahimahullah tatkala mengatakan :
“Jihadmemiliki empat tingkatan:
jihad melawan hawa nafsu, jihad
melawan setan, jihad melawan
orang kafir dan jihad melawan
orang munafik. Jihad melawan
hawa nafsu juga memiliki empat
tingkatan:
Pertama: Melawan hawa nafsu
untuk mempelajari petunjuk dan
agama yang benar, yang tidak ada
kebahagiaan di dunia dan akhirat
kecuali dengan ilmu, dan barang
siapa tidak berilmu maka dia
sengsara dunia akhirat.
Kedua: Melawan hawa nafsu
untuk mengamalkan ilmunya,
karena sekedar ilmu tanpa amal
tidaklah bermanfaat. Kalau tidak,
ilmu malah akan memadhorotkan.
Ketiga: Melawan hawa nafsu
untuk mendakwahkan ilmu dan
mengajari orang yang belum
mengerti. Bila tidak maka dia
termasuk orang-orang yang
menyembunyikan wahyu Alloh
berupa keterangan dan petunjuk,
ilmunya tiada bermanfaat dan dia
tidak selamat dari adzab Alloh.
Keempat: Melawan hawa nafsu
untuk bersabar dalam menghadapi
rintangan dakwah dan permusuhan
manusia.
Apabila seorang hamba telah
sempurna dalam mewujudkan
tingkatan ini maka dia menjadi
Robbani, karena para ulama
bersepakat bahwa seorang alim
tidak disebut Robbani hingga dia
berilmu tentang kebenaran,
mengamalkan, dan
mengajarkannya. Barang siapa
yang berilmu, beramal dan
mengajarkan (ilmunya) maka
dialah yang didoakan di Kerajaan
Langit.”
Akhirnya, kita memohon kepada
Alloh agar memenangkankita
dalam jihad melawan hawa nafsu
dan melawan musuh-musuh Islam
semuanya. Aamin.
( Majalah al Furqon Edisi Khusus
tahun kedelapan Romadhon-
Syawal 1429, halaman 15-17)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar