Jumat, 25 Maret 2011

…Pertanyaan yang mempesona dari duta para wanita…

Dalam sejarah peradaban manusia, tidak ada yang bisa menyamai generasi para shahabat. Mereka adalah orang-orang pilihan Allah untuk menjadi sahabat Nabi-Nya, Muhammad ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ . Sungguh keistimewaan yang tidak akan tertandingi oleh apa pun. Mereka adalah generasi pilihan yang harus dijadikan panutan. Baik dari kalangan shahabat maupun shahabiyah. Membaca kisah mereka ibarat hidup di tengah-tengah mereka dan merasakan getaran kekuatan yang memasuki relung hati kita meski kita tidak pernah bertemu dengan mereka. Di antara kisah mereka yang membuat kita terhipnotis adalah pertanyaan yang mempesona dari duta para wanita, para shahabiyah ﻪﻠﻟﺍ ﻲﺿﺭ ﻦﻬﻨﻋ yang diwakili oleh Asma ’. Pertanyaan itu muncul karena kegelisahan dan keinginan mereka untuk mendapat pahala sebagaimana kaum pria, para shahabat. Lebih menghebohkan lagi, pertanyaan itu disampaikan ketika Nabi Muhammad bermajlis bersama para shahabatnya. Bagaimana kisahnya? Mungkin kita sudah pernah mendengarnya, atau bahkan menghafalnya. Ini sebagai pengingat saja dan menguatkan memori kita untuk mengingat kembali kisah fantastic tersebut. Pada suatu hari Rosululloh sedang mengajarkan al-Qur ’an dan as-Sunah kepada para Shahabatnya. Di tengah keasyikan mengajar, beliau dan para shahabat dikejutkan dengan datangnya seorang shohabiyah. Dia bernama Asma ’ binti Yazid bin Sakan ﺎﻬﻨﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻲﺿﺭ yang menjadi duta dari para shahabiyah di belakangnya. Di tengah keterjutan Rasululloh dan para shahabat, Asma ’ bertanya kepada beliau , ” Wahai Rasulullah , sesungguhnya aku adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah yang di belakangku. Seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan, dan semuanyanya berpendapat sebagaimana yang aku utarakan. ” Kemudian ia melanjutkan, “Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada semua kaum laki-laki dan kaum wanita, kemudian kami beriman kepadamu dan kepada Rabb mu. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum laki-laki, dan kami adalah tempat mereka menyalurkan syahwatnya. Kami pula yang mengandung anak-anak mereka. Akan tetapi kaum laki-laki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat Jum’at, mengantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kami lah yang menjaga harta mereka dan mendidik anak-anak mereka. ” Setelah mengutarakan semua hal yang mengganjal dalam benak semua shahabiyah, ia kemudian bertanya, “Lantas, apakah kami, kaum wanita, juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka ?” Coba kita baca sekali lagi, “Lantas, apakah kami, kaum wanita, juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka ?” Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah terkagum-kagum mendengar pertanyaan yang sangat luar biasa indahnya, sebagaimana kekaguman kita setiap kali membaca dan mengamati pertanyaan tersebut. Indah nian. Sungguh. Pertanyaan luar biasa yang terlontar karena ingin mendapatkan pahala berlimpah dari profesi ibu rumah tangga; wanita yang menjaga dirinya, harta suaminya dan mendidik anak-anaknya. Dengan wajah tersenyum karena mendapatkan pertanyaan yang sedemikian indahnya, Rasululloh menoleh kepada para sahabat dengan menghadapkan seluruh tubuhnya dan bersabda, “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan tentang agama dari seorang wanita yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan ?” Para sahabat yang belum hilang keterjutannya dengan pertanyaan Asma ’, sekarang juga terkejut lagi dengan pertanyaan Rasululloh. Pada saat itu para shahabat hanya bisa menjawab, “Belum, belum wahai Rasululloh. Bahkan, belum pernah terdetik dalam benak kami bahwa dia akan bertanya sedemikian bagusnya, wahai Rosululloh !” Rasululloh dan para shahabat sangat terkagum dan terpesona dengan pertanyaan yang demikian indahnya. Kemudian Rasulullah bersabda, “Kembalilah wahai Asma ’ dan beritahukan kepada para wanita yang berada di belakangmu; bahwa perlakuan baik salah seorang di antara mereka kepada suaminya, upayanya untuk mendapat keridhaan suaminya, dan ketundukkannya untuk senantiasa mentaati suami; itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum laki-laki. ” Subhanallah. Jawaban yang sejuk dan indah. Mengobati semua kegundahan para wanita, yang iri dengan berbagai pahala yang diperoleh kaum pria. Mendengar jawaban Rasululloh, Asma ’ berlalu dengan wajah berseri-seri dan mengucapkan tahlil sebagai tanda kemenangan karena mendapatkan apa yang mereka impikan sebagai kaum wanita. Tak lama setelah itu, para shahabiyah yang mendengar kabar Asma ’ selaku duta mereka pun mengumandangkan takbir setelah mendengar jawaban Rasululloh. Allahu Akbar !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar