Senin, 14 Maret 2011

RAHASIA SENYUM MUHAMMAD SAW

Ketika Anda membuka lembaran
sirah kehidupan Muhammad saw.,
Anda tidak akan pernah berhenti
kagum melihat kemuliaan dan
kebesaran pribadi beliau.
Sisi kebesaran itu terlihat dari sikap
seimbang dan selaras dalam setiap
perilakunya, sikap beliau dalam
menggunakan segala sarana untuk
meluluhkan kalbu setiap orang
dalam setiap kesempatan.
Sarana paling besar yang dilakukan
Muhammad saw. dalam dakwah
dan perilaku beliau adalah, gerakan
yang tidak membutuhkan biaya
besar, tidak membutuhkan energi
berlimpah, meluncur dari bibir
untuk selanjutnya masuk ke relung
kalbu yang sangat dalam.
Jangan Anda tanyakan
efektifitasnya dalam
mempengaruhi akal pikiran,
menghilangkan kesedihan,
membersihkan jiwa,
menghancurkan tembok
pengalang di antara anak
manusia!. Itulah ketulusan yang
mengalir dari dua bibir yang bersih,
itulah senyuman!
Itulah senyuman yang direkam Al
Qur ’an tentang kisah Nabi Sulaiman
as, ketika Ia berkata kepada
seekor semut,
“Maka dia tersenyum dengan
tertawa karena (mendengar)
perkataan semut itu. Dan dia
berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku
ilham untuk tetap mensyukuri
nikmat mu yang telah Engkau
anugerahkan kepadaku dan
kepada dua orang ibu bapakku dan
untuk mengerjakan amal saleh
yang Engkau ridhai; Dan
masukkanlah aku dengan rahmat-
Mu ke dalam golongan hamba-
hamba-Mu yang saleh ”. An
Naml:19
Senyuman itulah yang senantiasa
keluar dari bibir mulia Muhammad
saw., dalam setiap perilakunya.
Beliau tersenyum ketika bertemu
dengan sahabatnya. Saat beliau
menahan amarah atau ketika
beliau berada di majelis peradilan
sekalipun.
ﻓﻬﺬﺍ ﺟﺮﻳﺮ -ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ- ﻳﻘﻮﻝ -ﻛﻤﺎ
ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﻴﻦ-: ﻣﺎ ﺣَﺠَﺒﻨﻲ ﺭﺳﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪ -
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﻣﻨﺬُ ﺃﺳﻤﻠﺖُ، ﻭﻻ
ﺭﺁﻧﻲ ﺇﻻ ﺗَﺒَﺴَّﻢ ﻓﻲ ﻭﺟﻬﻲ .
Diriwayatkan dari Jabir dalam sahih
Bukhari dan Muslim, berkata, “Sejak
aku masuk Islam, Rasulullah saw
tidak pernah menghindar dariku.
Dan beliau tidak melihatku kecuali
beliau pasti tersenyum kepadaku. ”
Suatu ketika Muhammad saw.
didatangi seorang Arab Badui,
dengan serta merta ia berlaku
kasar dengan menarik selendang
Muhammad saw., sehingga leher
beliau membekas merah. Orang
Badui itu bersuara keras, “Wahai
Muhammad, perintahkan
sahabatmu memberikan harta dari
Baitul Maal! Muhammad saw.
menoleh kepadanya seraya
tersenyum. Kemudian beliau
menyuruh sahabatnya memberi
harta dari baitul maal kepadanya.”
Ketika beliau memberi hukuman
keras terhadap orang-orang yang
terlambat dan tidak ikut serta
dalam perang Tabuk, beliau masih
tersenyum mendengarkan alasan
mereka.
ﻳﻘﻮﻝ ﻛﻌﺐ -ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ- ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﺫﻛﺮ
ﺍﻋﺘﺬﺍﺭ ﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻘﻴﻦ ﻭﺣﻠﻔﻬﻢ ﺍﻟﻜﺎﺫﺏ:
ﻓَﺠِﺌْﺘُﻪُ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺳَﻠَّﻤْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺗَﺒَﺴَّﻢَ ﺗَﺒَﺴُّﻢَ
ﺍﻟْﻤُﻐْﻀَﺐِ، ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ »ﺗَﻌَﺎﻝَ« . ﻓَﺠِﺌْﺖُ ﺃَﻣْﺸِﻲ
ﺣَﺘَّﻰ ﺟَﻠَﺴْﺖُ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ .
Ka’ab ra. berkata setelah
mengungkapkan alasan orang-
orang munafik dan sumpah palsu
mereka:
“Saya mendatangi Muhammad
saw., ketika saya mengucapkan
salam kepadanya, beliau
tersenyum, senyuman orang yang
marah. Kemudian beliau berkata,
“ Kemari. Maka saya mendekati
beliau dan duduk di depan beliau.”
Suatu ketika Muhammad saw.
melintasi masjid yang di dalamnya
ada beberapa sahabat yang
sedang membicarakan masalah-
masalah jahiliyah terdahulu, beliau
lewat dan tersenyum kepada
mereka.
Beliau tersenyum dari bibir yang
lembut, mulia nan suci, sampai
akhir detik-detik hayat beliau.
- ﻳﻘﻮﻝ ﺃﻧﺲ -ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﻴﻦ-: ﺑﻴﻨﻤﺎ
ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ ﻓﻲ ﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﻣِﻦْ ﻳَﻮْﻡِ
ﺍﻹِﺛْﻨَﻴْﻦِ ﻭَﺃَﺑُﻮ ﺑَﻜْﺮٍ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺑَﻬُﻢْ ﻟَﻢْ ﻳَﻔْﺠَﺄْﻫُﻢْ
ﺇِﻻَّ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﻗَﺪْ
ﻛَﺸَﻒَ ﺳِﺘْﺮَ ﺣُﺠْﺮَﺓِ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ، ﻓَﻨَﻈَﺮَ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ
ﻭَﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﺻُﻔُﻮﻑِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ. ﺛُﻢَّ ﺗَﺒَﺴَّﻢَ
ﻳَﻀْﺤَﻚُ!
Anas bin Malik berkata
diriwayatkan dalam sahih Bukhari
dan Muslim, “Ketika kaum muslimin
berada dalam shalat fajar, di hari
Senin, sedangkan Abu Bakar
menjadi imam mereka, ketika itu
mereka dikejutkan oleh
Muhammad saw. yang membuka
hijab kamar Aisyah. Beliau melihat
kaum muslimin sedang dalam shaf
shalat, kemudian beliau tersenyum
kepada mereka !”
Sehingga tidak mengherankan
beliau mampu meluluhkan kalbu
sahabat-shabatnya, istri-istrinya
dan setiap orang yang berjumpa
dengannya!
Menyentuh Hati
Muhammad saw. telah meluluhkan
hati siapa saja dengan senyuman.
Beliau mampu “menyihir” hati
dengan senyuman. Beliau
menumbuhkan harapan dengan
senyuman. Beliau mampu
menghilangkan sikap keras hati
dengan senyuman. Dan beliau saw.
mensunnahkan dan
memerintahkan umatnya agar
menghiasi diri dengan akhlak mulia
ini. Bahkan beliau menjadikan
senyuman sebagai lahan berlomba
dalam kebaikan. Rasulullah saw.
bersabda,
ﻓﻘﺎﻝ: )ﻭﺗﺒﺴﻤﻚ ﻓﻲ ﻭﺟﻪ ﺃﺧﻴﻚ ﺻﺪﻗﺔ(
ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﺻﺤﺤﻪ ﺍﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ .
“Senyummu di depan saudaramu
adalah sedekah.” At Tirmidzi dalam
sahihnya.
Meskipun sudah sangat jelas dan
gamblang petunjuk Nabi dan
praktek beliau langsung ini, namun
Anda masih banyak melihat
sebagaian manusia masih berlaku
keras terhadap anggota
keluarganya, tehadap rumah
tangganya dengan tidak menebar
senyuman dari bibirnya dan dari
ketulusan hatinya.
Anda merasakan bahwa sebagian
manusia -karena bersikap
cemberut dan muka masam-
mengira bahwa giginya bagian dari
aurat yang harus ditutupi! Di mana
mereka di depan petunjuk Nabi
yang agung ini! Sungguh jauh
mereka dari contoh Nabi
muhammad saw.!
Ya, kadang Anda melewati jam-
jam Anda dengan dirundung duka,
atau disibukkan beragam
pekerjaan, akan tetapi Anda selalu
bermuka masam, cemberut dan
menahan senyuman yang
merupakan sedekah, maka demi
Allah, ini adalah perilaku keras hati,
yang semestinya tidak terjadi. Wal
iyadzubillah.
Pengaruh Senyum
Sebagian manusia ketika berbicara
tentang senyuman, mengaitkan
dengan pengaruh psikologis
terhadap orang yang tersenyum.
Mengkaitkannya boleh-boleh saja,
yang oleh kebanyakan orang
boleh jadi sepakat akan hal itu.
Namun, seorang muslim
memandang hal ini dengan kaca
mata lain, yaitu kaca mata ibadah,
bahwa tersenyum adalah bagian
dari mencontoh Nabi saw. yang
disunnahkan dan bernilai ibadah.
Para pakar dari kalangan muslim
maupun non muslim melihat
seuntai senyuman sangat besar
pengaruhnya.
Dale Carnegie dalam bukunya
yang terkenal, “Bagaimana Anda
Mendapatkan Teman dan
Mempengaruhi Manusia ”
menceritakan:
“Wajah merupakan cermin yang
tepat bagi perasaan hati seseorang.
Wajah yang ceria, penuh
senyuman alami, senyum tulus
adalah sebaik-baik sarana
memperoleh teman dan kerja
sama dengan pihak lain. Senyum
lebih berharga dibanding sebuah
pemberian yang dihadiahkan
seorang pria. Dan lebih menarik
dari lipstik dan bedak yang
menempel di wajah seorang
wanita. Senyum bukti cinta tulus
dan persahabatan yang murni.”
Ia melanjutkan, “Saya minta setiap
mahasiswa saya untuk tersenyum
kepada orang tertentu sekali setiap
pekannya. Salah seorang
mahasiswa datang bertemu
dengan pedagang, ia berkata
kepadanya, “Saya pilih tersenyum
kepada istriku, ia tidak tau sama
sekali perihal ini. Hasilnya adalah
saya menemukan kebahagiaan
baru yang sebelumnya tidak saya
rasakan sepanjang akhir tahun-
tahun ini. Yang demikian
menjadikan saya senang
tersenyum setiap kali bertemu
dengan orang. Setiap orang
membalas penghormatan kepada
saya dan bersegera melaksanakan
khidmat -pelayanan- kepada saya.
Karena itu saya merasakan hidup
lebih ceria dan lebih mudah. ”
Kegembiraan meluap ketika
Carnegie menambahkan, “Ingatlah,
bahwa senyum tidak
membutuhkan biaya sedikitpun,
bahkan membawa dampak yang
luar biasa. Tidak akan menjadi
miskin orang yang memberinya,
justeru akan menambah kaya bagi
orang yang mendapatkannya.
Senyum juga tidak memerlukan
waktu yang bertele-tele, namun
membekas kekal dalam ingatan
sampai akhir hayat. Tidak ada
seorang fakir yang tidak
memilikinya, dan tidak ada
seorang kaya pun yang tidak
membutuhkannya. ”
Betapa kita sangat membutuhkan
sosialisasi dan penyadaran
petunjuk Nabi yang mulia ini
kepada umat. Dengan niat
taqarrub ilallah -pendekatan diri
kepada Allah swt.- lewat
senyuman, dimulai dari diri kita,
rumah kita, bersama istri-istri kita,
anak-anak kita, teman sekantor
kita. Dan kita tidak pernah merasa
rugi sedikit pun! Bahkan kita akan
rugi, rugi dunia dan agama, ketika
kita menahan senyuman,
menahan sedekah ini, dengan
selalu bermuka masam dan
cemberut dalam kehidupan.
Pengalaman membuktikan bahwa
dampak positif dan efektif dari
senyuman, yaitu senyuman
menjadi pendahuluan ketika
hendak meluruskan orang yang
keliru, dan menjadi muqaddimah
ketika mengingkari yang munkar.
Orang yang selalu cemberut tidak
menyengsarakan kecuali dirinya
sendiri. Bermuka masam berarti
mengharamkan menikmati dunia
ini. Dan bagi siapa saja yang mau
menebar senyum, selamanya ia
akan senang dan gembira. Allahu
a ’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar