Jumat, 13 Mei 2011

Sejarah Para Khalifah: Al-Mustakfi Billah I, Khalifah Jago Memanah

Dia
dilahirkan pada
pertengahan
Muharram 684 H dan
dilantik sebagai khalifah pada Jumadil Ula 701 H
(1302-1334 M) berdasarkan wasiat
ayahnya. Kabar gembira tentang
diangkatnya sebagai khalifah
langsung tersebar ke seluruh
pelosok wilayah Islam. Pada 702 H, pasukan Tartar
menyerang Syam. Sultan Malik An-
Nashir Muhammad bin Qalawun yang
mendengar penyerangan ini keluar
menyongsong mereka bersama
Khalifah Al-Mustakfi Billah I. Kemenangan berada di pihak kaum
Muslimin. Orang-orang Tartar
terbunuh dalam jumlah yang besar,
sedangkan sisanya melarikan diri. Pada 706 H, Sultan Malik An-Nashir
bermaksud berangkat menunaikan
ibadah haji. Dia berangkat dari Mesir.
Beberapa orang pembesar keluar
bersamanya untuk
mengantarkannya, namun sultan menolak. Tatkala sampai di Karak,
dibentangkan untuknya jembatan
penyeberangan. Ketika berada di tengah jembatan,
ternyata jembatan buatan itu runtuh.
Dia dan orang-orang yang berada di
depannya selamat, karena kuda
yang dia tumpangi dapat melompat
tinggi. Sedangkan lima puluh yang berada di belakangnya berjatuhan.
Empat diantaranya meninggal,
sedangkan sebagian besar
pasukannya jatuh ke jurang. Setelah itu sultan menetap di Karak.
Dia lalu menulis surat ke Mesir yang
mengabarkan bahwa secara
sukarela dia mengundurkan diri dari
kesultanan. Hakim di Mesir
menyetujui keinginannya lalu mengabarkan pengunduran diri
sultan kepada hakim di Damaskus.
Barulah setelah itu diangkat
Ruknuddin Baybars Al-Jasyangkir
sebagai sultan pada 20 Syawwal. Dia
bergelar Al-Malik Al-Muzhaffar. Pada Rajab 709 H, Sultan Malik An-
Nashir kembali ke Mesir dan meminta
agar kekuasaan yang dulu pernah
dia pegang dikembalikan lagi
kepadanya. Untuk tujuan ini telah
banyak orang yang menyatakan dukungan kepadanya. Dia datang ke
Damaskus pada bulan Sya ’ban, kemudian ke Mesir pada Idul Fitri.
Sultan Malik naik ke atas benteng.
Sedangkan Al-Muzhaffar berada di
tengah-tengah sahabatnya sebelum
kedatangan Sultan Malik. Begitu
datang, Al-Muzhaffar ditangkap dan dibunuh tahun itu juga. Pada 736 H, terjadi perselisihan
antara sultan dan khalifah. Akhirnya
khalifah ditangkap, kemudian
dipenjarakan di sebuah benteng dan
tak seorang pun boleh menemuinya.
Setelah itu, pada Dzulhijjah 737 H, Khalifah Al-Mustakfi diasingkan ke
Qush. Selain khalifah, semua anak dan
keluarganya ikut pula diasingkan.
Sultan Malik menyediakan semua
kebutuhan khalifah. Semua keluarga
khalifah yang diasingkan kala itu
mendekati jumlah seratus orang. Al- Mustakfi sendiri berada di Qush
sebagai orang buangan hingga
wafat pada 740 H. Dia dimakamkan
di tempat itu. Saat meninggalnya, Al-
Mustakfi berusia 50 tahun lebih. Ibnu Hajar dalam Ad-Durr Al-
Kaminah menuliskan, Al-Mustakfi
dikenal sebagai seseorang yang
memiliki perilaku dan akhlak mulia,
dermawan, tulisannya indah dan
pemberani. Dia pandai bermain bola dan jago memanah. Dia selalu duduk
dengan para ulama dan ilmuwan.
Bahkan dalam beberapa hal dia
banyak melebihi mereka. Walaupun
secara resmi diasingkan, namun para
khatib masih tetap menyebutkan namanya dalam khutbah-khutbah
mereka. Di awal-awal kekuasaannya
terjalin hubungan erat antara dia dan
sultan. Mereka berdua sering keluar
ke alun-alun untuk bermain bola.
Bahkan dalam pandangan banyak orang, mereka laksana dua orang
saudara. Penyebab terjadinya konflik antara
keduanya adalah tatkala ada satu
panggilan yang di atasnya ada
tulisan khalifah yang meminta sultan
untuk menghadiri pengadilan. Sultan
sangat marah menerima surat panggilan itu. Peristiwa itu akhirnya
membuat sultan menangkap
khalifah dan mengasingkannya ke
Qush. Namun sultan tetap
memberikan pelayanan yang sebaik-
baiknya kepada khalifah, bahkan melebihi kadar yang ia berikan pada
saat khalifah berada di Mesir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar