Kamis, 05 Mei 2011

Sekilas Hidup Usamah bin Ladin (2). Usama Remaja Berubah, Menangis Melihat Palestina

REPUBLIKA.CO.ID,
JAKARTA--Usamah
bin Ladin adalah
sosok yang
kontroversial di mata dunia. Bagi sebagian ia adalah teroris
tulen yang seakan berhati dingin
dan kejam. Tapi bagi sebagian lain,
Usamah adalah simbol perlawanan
atas hegemoni Amerika Serikat dan
Eropa atas kesewenang-wenangan mereka terhadap dunia Islam. Tak lupa, Usamah juga pernah
bekerja sama dengan AS di
Afghanistan untuk mengusir Sovyet.
Kini setelah dikabarkan tewas dalam
penyergapan di Abbottabad,
Pakistan, Usamah tetap menjadi sosok yang misterius. Republika
mencoba menguliti sedikit
kehidupan pribadi Usamah bin Ladin,
keturunan konglomerat Mohammed
bin Ladin asal Arab Saudi. Bagaimana masa kecilnya. Apa yang
mempengaruhi pergerakan Usamah.
Mengambil bahan dari buku
pemenang hadiah Pullitzer 2007, The
Looming Tower karangan Lawrence
Right, berikut cuplikan episode- episode kehidupan Usamah bin
Ladin. Selamat menikmati: Saat Usamah berusia 14 tahun, ia
mulai berubah. Kabarnya dia
mendapat penyadaran religius dan
politik. Sebagian rekan muda
Usamah menuding guru olah raga
Usamah lah yang mempengaruhi perkembangan remajanya. Sang
guru pengikut Ikhwanul Muslimin
asal Mesir. Mulai dari situ perilakunya perlahan-
lahan berubah. Ia tidak lagi
menonton film koboi Bonanza dan
menolak mengenakan baju model
barat di luar sekolah. Keluarganya
mengingat, Usamah kerap menonton siaran berita dan menangis saat
melihat penderitaan warga Palestina. "Usamah remaja sebenarnya tidak
berubah. Tapi dia menaruh
perhatian, sedih, dan frustasi
terhadap nasib di Palestina dan
negara-negara Timur tengah," kata
ibunya. "Usamah mengatakan kaum muslim
saat itu tidak dekat pada Allah.
Remaja muslim saat itu terlalu sibuk
bermain dan bersenang-senang,"
sambung Alia. Usamah mulai puasa Senin-Kamis.
Jadwal hidupnya berubah. Usai
shalat Isya, ia langsung tidur. Tengah
malah ia selalu shalat tahajud.
Usamah pun lebih disiplin pada adik-
adiknya, dengan meminta mereka shalat Subuh di masjid terdekat. Usamah juga membenci hal-hal yang
berbau seksual. Ketika ia
menangkap basah adiknya
menggoda pembantu mereka,
Usamah marah bukan main. Ia
menampar adiknya. Cerita lain, ketika ia bercengkerama
dengan rekannya di Beirut, kawan
adiknya menyodorkan majalah
porno. Usamah murka. Ia
menegaskan, ia dan keluarganya
tidak akan lagi berhubungan dengan anak tersebut. Alia Ghanem menyaksikan
perkembangan puteranya dengan
khawatir. Ia menuangkan
keresahannya pada saudaranya,
Leila Ghanem, yang mengatakan,
"Alia sangat khawatir terhadap nasib Usamah karena ia berubah. Alia tahu
perubahan anaknya itu sudah terlalu
dalam. Ia hanya sanggup berdoa
semoga Allah SWT melindungi
Usamah," katanya. Cerita lain soal Usamah terjadi saat
keluarga mereka naik mobil ke Siria,
mengunjungi kerabat. Di tengah
jalan, supir mereka memutar kaset
biduan Mesir terkena, Umm Kalthoum
(Umi Kultum). Usamah marah besar mendengar lagu itu. Ia meminta
supir mematikan musiknya. Supir
menolak. Usamah membentak,
"Ingat kalau gajimu kami yang
bayar. Kalau kamu tidak mematikan
kaset itu sekarang, bawa kami kembali ke Jeddah." Bahkan ayah
dan ibu Usamah hanya terdiam
melihat murka anak mereka. Soal musik, Usamah lebih memilih
nasyid. Ia membentuk grup nasyid
bersama beberapa rekannya. Ia
menolak memainkan alat musik.
Grup nasyid ini sempat merekam
sejumlah lagu perjuangan dan mengedarkan kasetnya secara
terbatas. Usamah juga masih bermain
sepak bola, namun menolak
mengenakan celana pendek.
Bersama teman-teman timnya
mereka kerap bertanding melawan anak-anak di permukiman miskin di
Jeddah. Usamah tak jarang
membawa bekal makanan bagi
seluruh anggota tim. Usamah remaja juga doyan olahraga
ekstrim macam mendaki gunung di
Turki dan berburu di Kenya. Usamah
belajar menunggang kuda dan
punya sekitar 20 kuda di selatan
Jeddah. Diam-diam ia masih mengenang film koboi kesukaannya
karena ia terbukti kerap berkuda
sembari menembak. Guru sains Usamah, Ahmed Badeeb,
mengatakan Usamah berusaha
menjadikan dirinya menonjol di
antara keturunan bin Ladin. Karena
saking banyaknya anak anak bin
Ladin, seseorang dianggap biasa saja kecuali ia cukup menarik perhatian. Suatu ketika, kata Badeeb, bin Ladin
grup punya proyek di Jizan,
perbatasan Yaman. Usamah ingin
ambil peran dalam proyek itu. Ia
memutuskan untuk berhenti sekolah
dan fokus ke proyek infrastruktur. Keluarganya menentang. Ibunya
menangis dan memohon Usamah
kembali ke sekolah. TAk tahan
melihat air mata ibunya, Usamah
akhirnya mengurungkan niatnya ke
Jizan. Pada 1974, saat masih sekolah
menengah atas, Usamah menikah
untuk pertama kalinya. Usianya baru
17 tahun, istrinya Najwa Ghanem
baru 14 tahun. Pesta pernikahan
merka sederhana. Di masa inilah Usamah akhirnya terjun dan aktif di
Ikhwanul Muslimin. Ketika itu
gerakan Ikhwanul Muslimin sangat
ditakuti rezim Timur Tengah
sehingga menjadi gerakan bawah
tanah dan mengundang simpati generasi muda. Pertemuan kelompok ini sangat
rahasia. Berlangsung di rumah para
anggotanya. Seringkali kelompok
bepergian ke Makkah untuk
beribadah. Rekan Usamah di
Ikhwanul Muslimin, Jamal Khashoggi, mengatakan, "Kami
memimpikan mendirikan negara
Islam dan bisa mengubah nasib
dunia dan umat muslim."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar